Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Misteri Penunggu Toilet


__ADS_3

Aku dan Dewi bergegas untuk makan.


"Dewi, tadi Tante sudah menghubungi Mamamu, tetapi kata Mamamu nanti beliau telat untuk menjemput!" Ibu memberitahu.


"Tidak apa-apa Tante, terimakasih," kata Dewi.


"Jangan sungkan-sungkan ya, Tante tinggal belanja dulu," ucap Ibu.


Aku dan Dewi menyalami ibuku.


"Oh iya Dek, tadi Ibu pesan Kue ke Ibu Risma, nanti jam satu mau diantar kalau Ibu belum pulang uangnya Ibu taruh di laci kamar ya," ucap Ibu lagi sembari berlalu meninggalkan kami berdua.


Kami berdua melanjutkan makan.


"Enak banget Key masakan Ibumu, Mamaku jarang masak soalnya sibuk di kantor terus," Ucap Dewi dengan ekspresi wajah lesu.


"Mamamu cari uang buat kamu, berterima kasih sana sama Mamamu,"


"Mamamu kan repot, jadi tidak sempat memasak," kataku.


Selepas makan, kami membereskan piring yang sudah kami gunakan.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum," terdengar suara salam dari luar pintu rumahku.


"Waalaikum salam, iya sebentar," jawabku sembari melangkahkan kaki menuju pintu.


Aku buka pintu rumahku, ternyata pesanan kue ibu datang lebih cepat dari perkiraan.


"Nak Keyla ya? ini kue pesanan Ibumu, tadi saya berpapasan dengan Ibumu di dekat gang depan arah ke sini," tanya Ibu Risma.


"Oh iya Tante mari masuk, silahkan duduk saya ambilkan uangnya dulu ya Tante," aku mempersilakan Ibu Risma duduk.


"Iya Nak," jawab Ibu Risma.


Aku berjalan menuju kamar Ibu untuk mengambil uangnya. Setelah itu aku berikan ke Ibu Risma.


"Tujuh puluh sembilan ribu ya Tante?" tanyaku sembari memberikan uangnya.


"Iya Nak, 79.000 ribu," jawab Ibu Risma.


"Ini kue nya ya Nak, saya pamit dulu," ucap Ibu Risma lagi.


"Iya Tante, terimakasih," ucapku sembari menjabat tangan Ibu Risma.


Ibu Risma berlalu pergi setelah bersalaman denganku. Aku berjalan menghampiri Dewi dengan menenteng kardus yang berisi kue.


"Banyak banget Ibumu kalau beli kue, kue apa saja Key?" tanya Dewi.


"Tidak tahu aku Wi, ayo di buka lah biar tidak penasaran," jawabku.


Kami berdua lekas membuka kardus yang berisikan kue.


"Wah.. Kue nastar, ada kue kacang juga kesukaanku itu," Ucap Dewi.


"Kamu pilih kasih Wi, kuenya empat yang kamu panggil cuma dua, nanti kuenya ngambek lho," Ucapku.


"Masa iya Key, kue bisa ngambek! dia jalan pulang ke penjualnya nanti hahaha," jawab Dewi sambil tertawa.


"Itu kamu tahu, coba deh Wi kamu bayangin kue ini jalan ke penjualnya haha," ucapku lagi sembari tertawa.


Aku melihat Dewi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Haduuh Wi tertawamu itu loh, kamu bayangin beneran kue ini jalan?" tanyaku.


"Iya Key, hahaha aku bayangin yang jual lari di kejar kue ini hahahaha," Dewi pun tertawa lepas.


Tok tok tok


"Ada yang mengetuk pintu deh key, coba kamu lihat!" Dewi menyuruhku.


"Iya sebentar," aku menjawab ketukan pintu sembari berjalan melangkahkan kakiku.


Aku buka pintu, ternyata yang datang Mama Dewi untuk menjemput.


"Dewi ada di sini Key?" tanya Mama Dewi.


"Iya Tante mari silakan duduk, saya panggil Dewi dulu Tante," jawabku.


Aku berjalan menghampiri Dewi yang masih di dapur.

__ADS_1


"Mamamu datang Wi, kalau kamu mau kuenya ambil saja, mau yang mana?" aku menawari Dewi.


"Aku mau kue kacangnya Key, minta kantong kreseknya ya, aku ambil sedikit sajalah Key," ucap Dewi.


"Bawa saja tidak apa-apa itu kan masih banyak kuenya Wi," ucapku.


"Nanti di cari Ibumu bagaimana?" tanya Dewi.


"Nanti aku bilangin Ibuku, lagian aku juga gak suka kue kacang, kamu bawa saja," jawabku sembari menyodorkan kue kacang ke tangan Dewi.


"Makasih ya, aku ambil tasku dulu di kamarmu," ucap Dewi lagi.


"Iya, buruan di tunggu Mamamu," kataku sembari melangkahkan kaki menuju ruang tamu.


Aku melihat Mama Dewi duduk sambil memainkan Hp. Tidak begitu lama Dewi datang menghampiri kami.


"Ma... Ayo pulang, Key makasih ya kuenya nanti salam buat Ibumu," kata Dewi.


Pintu rumahku tiba-tiba terbuka, ternyata Ibuku yang datang.


"Eh Mama Dewi, mau jemput Dewi ya Bu?" tanya Ibuku sambil mengajak Mama Dewi bersalaman.


"Iya Bu, ini mau pulang, maaf jika Dewi di sini merepotkan," ucap Mama Dewi sambil membalas salaman Ibuku.


"Keyla kalau kuenya sudah datang ambilkan kuenya 1, Dewi mau yang mana?" ucap Ibuku.


"Sudah Tante, ini aku bawa kue kacangnya, terima kasih banyak Tante,"


"Keyla, Tante, mari saya pulang dulu," Dewi berpamitan ke aku dan Ibuku sambil berjabat tangan.


"Mari Bu," sahut Mama Dewi dengan melangkahkan kakinya keluar rumahku.


Setelah Dewi pulang aku membantu Ibuku untuk menaruh barang bawaannya ke dapur. Sembari meletakkan belanjaan di kulkas, aku mencoba bertanya ke ibu soal kue tadi.


"Ibu, tumben beli kue banyak banget? dua hari lagi kan baru puasa Bu belum lebaran," tanyaku merasa heran.


"Iya Dek, kemarin Ibu waktu ke pasar ketemu sama Bu Risma, beliau cerita kalau anaknya yang ikut kakeknya di kampung lagi sakit perlu biaya banyak,"


"Jadi Ibu beli ini berniat untuk memberikan sedikit rezeki kita ke beliau," jawab Ibu.


"Kenapa Ibu tidak langsung memberinya uang Bu?" tanyaku lagi.


"Ibu takut menyinggung perasaan Bu Risma dek kalau langsung memberi beliau uang, kalau dengan cara membeli dagangannya kan Ibu Risma pasti menerimanya tanpa merasa tersinggung," jawab Ibu lagi.


Keesokan harinya, Aku hendak berangkat sekolah.


"Dek, Ibu bawain bekal kamu kue, nanti biar bisa dimakan bersama teman-temanmu!" ucap Ibu sambil memasukan kue ke dalam tasku.


Sesampainya di sekolah, aku melihat teman-temanku sudah duduk ditempatnya masing-masing.


"Hai teman-teman, ini tadi aku dibawain bekal kue sama Ibuku," ucapku sambil meletakkan kue di atas meja.


Selly bergegas membuka kotak bekalku.


"waaah.. Enak ini, Buatan Ibumu Key?" tanya Selly.


"Tidak, Ibuku kemarin beli.. Enak loh kuenya, cobain deh," ucapku.


Bella,Selly dan Dinar mencicipinya, mereka memberikan komentar masing-masing. Dari arah pintu aku melihat Dewi baru datang.


"Apa ya? kok aku ketinggalan," ucap Dewi.


"Kue dibawain Ibunya Keyla," jawab Bella.


"Aku sudah di kasih duluan sama Keyla, satu toples penuh kue kacang," ucap dewi lagi.


Saat kita lagi enak-enak berbincang dan melahap kue tiba-tiba, dari luar kelas ada anak teriak-teriak.


Aku dan teman-temanku pun berlari menghampiri.


"Ada apa ini kok ramai-ramai?" tanyaku ke salah satu anak dari kelas sebelah.


"Itu di toilet, ada salah satu anak dari kelas 9b lagi kesurupan," jawabnya.


Memang di toilet sekolahanku ini selain terkenal angker, sering juga penunggunya mengganggu para murid di sini.


Bahkan siswi dari salah satu kelas 9b itu adalah anak yang cukup sering kerasukan. Anak 9b itu , dia perempuan terkenal sebagai anak cupu dan pendiam.


Dia di sekolahan ini tidak ada satupun anak yang berteman dengan dia. Bukan tidak mau menemani tetapi, anak itu pergi ketika ada yang mendekati.


Kami berlima pergi ke toilet untuk melihat anak itu. Toilet sekarang keadaanya ramai karena banyak anak yang datang untuk sekedar melihat.

__ADS_1


"Key, kamu lihat sesuatu tidak?" tanya Dinar sedikit berbisik.


"Jangan tanya sekarang Din, nanti saja dia sedang melihat kearahku," jawabku sambil menarik Dinar pergi dari toilet.


Tiba-tiba anak itu berteriak "BERHENTI,"


Aku dan Dinar tetap melangkahkan kaki karena tidak merasa dia menyuruh kita berhenti.


Anak itu berteriak lagi "AKU BILANG KAMU BERHENTI."


Seketika aku dan Dinar berhenti. Aku menoleh kebelakang ke arah anak yang kesurupan tadi.


"Aku?" aku bertanya.


Seketika satu sekolahan melihat ke arahku.


"Keyla, ajak bicara saja,"


"Iya ajak bicara kalau kamu melihatnya," ucapan dari beberapa anak yang berada di sana.


Bu Indah menghampiriku dan mengajakku ke arah anak perempuan yang kesurupan.


"Keyla, ajak interaksi saja dia tahu kalau kamu lihat dia," ucap Pak Andi yang sedang memegangi kakak kelas yang kesurupan.


"Aku tanya apa Pak, Bu?" tanyaku Ke Bu Indah dan Pak Andi.


"Kamu jelaskan dulu bagaimana bentuk dan rupa dia key!" jawab Pak Andi.


Sebelum aku berbicara, aku melihat sekelilingku, semua orang memperhatikanku.


Dalam fikiranku bertanya-tanya, aku tanya apa ke makhluk ini? ini setan mau apa sama aku? aku takut gusti.


"Keyla jangan bengong," ucap Bu Indah dengan sedikit menepuk bahu aku.


"Yang aku lihat, Dia perempuan kira-kira umur 20 tahun, Dia rambutnya panjang sepinggang, lidahnya sedikit menjulur," ucapku mencoba menjelaskan.


"KAMU TAHU AKU, KAMU BISA MELIHATKU HAHAHAHA," ucap kakak kelasku yang kerasukan sembari tertawa.


"Aku tanya apa Bu guru? aku pergi ke kelas ya, keyla takut," tanyaku ke Bu Indah.


"KENAPA KAMU TAKUT, AKU CANTIK, MEREKA SEMUA TERTARIK KE AKU," ucapnya lagi.


"Kamu mau apa? kalau mau bicara, bicaralah kami semua mendengarkan kamu tetapi aku mohon jangan ganggu kami semua di sini," ucapku sedikit memohon.


"Kamu meninggal karena apa? yang tertarik ke kamu mereka siapa?" tanyaku penasaran.


Aku lihat wajah anak perempuan itu yang semula terlihat garang tiba-tiba menjadi sendu.


"Kamu kenapa? ceritalah! tapi kami hanya sebatas mendengarkan tak bisa membantu," ucapku lagi.


Kakak kelasku tiba-tiba menangis, tetap dengan suara yang menggema dia berkata,


"MEREKA MENODAIKU, MEREKA MEMBUNUHKU, MEREKA MEMFITNAHKU,"


"MALAM ITU AKU DIAJAK TEMANKU PERGI KE ULANG TAHUN SALAH SATU TEMAN KAMI, KAMI BERANGKAT BEREMPAT TETAPI HANYA AKU YANG PEREMPUAN,"


"MEREKA BERBOHONG, MEREKA MENGHENTIKAN MOBILNYA DI LAHAN KOSONG DI SINI," ucap anak perempuan itu sembari menangis tersedu-sedu.


Kami menunggu lama sampai dia benar-benar agak tenang, untuk melanjutkan ceritanya.


"Kamu cerita saja, mungkin kami semua tidak pernah tahu apa yang kamu rasakan, tapi mungkin kita semua mencoba untuk memahami kamu," kataku.


Aku melihatnya, ekspresi dia berubah dari wajah sendu menjadi wajah yang terlihat marah.


"*MEREKA MEMPERK*SAKU DI SINI, MEREKA MENGGANTUNG TUBUHKU DI POHON SEOLAH-OLAH AKU MATI KARENA BUNUH DIRI*,"


"ORANG TUAKU MENCARIKU DENGAN SALAH SATU DARI MEREKA, ORANG TUAKU MENEMUKANKU DI SINI, DENGAN KEADAANKU YANG MASIH MENGGANTUNG DI POHON,"


"DIA BILANG AKU MENINGGAL KARENA CINTAKU DI TOLAK OLEH SESEORANG, DIA TAK MENJELASKAN SIAPA ITU ORANGNYA,"cerita setan itu tetap di tubuh anak perempuan itu.


"Pak Andi, memang di sini dulunya lahan kosong? apa dulu ada anak gantung diri di sini?" tanyaku ke Pak Andi.


"Iya Key, kejadian itu sudah lama 1 tahun sebelum sekolahan ini dibangun," jawab Pak Andi.


"AKU TAK TERIMA PERLAKUAN MEREKA," Ucap setan itu.


"Kami semua doakan kamu ya, nama kamu siapa? semoga segala perbuatanmu saat masih hidup di terima oleh Allah SWT," tanyaku.


"NAMAKU SELVY, TERIMA KASIH KALIAN SEMUA MAU MENDENGARKANKU," dia mengucapkan terima kasih.


"Kamu keluar ya," Ucapku.

__ADS_1


anak perempuan itu pun hanya mengangguk. Perlahan aku lihat anak perempuan itu sudah mulai sadar.


Hari itu, di sekolahan kami diadakan pengajian untuk Selvy si penunggu toilet. Tidak ada pelajaran sama sekali bahkan kita dengan kejadian itu di pulangkan lebih awal.


__ADS_2