
Ken tetap mendekat ke arah wanita itu. Golok di acungkan ke atas, dengan sigap aku menutup mata. Suara golok itu mengenai sesuatu dan saat itu juga terdengar teriakan wanita itu.
"Aaaaaaaaaa, Ken sadar." Teriak wanita itu terdengar sembari menahan sakit.
Aku perlahan membuka mata, terlihat kaki wanita sebelah kanan putus seketika. Aku terperangah melihat kejadian itu, sontak perutku mual saat melihat darah yang terus mengucur dari bekas sabetan senjata tajam itu.
"Ken, bukan aku yang bunuh. Aku melihat Ayah sudah tergeletak dengan pisau yang tertancap di perutnya," wanita itu sembari menahan sakit tetap mencoba menjelaskan.
"Jangan banyak ngomong, bangs*t!" Dengan amarah yang menggebu-gebu, golok di tancapkan di bagian dada wanita itu.
Satu kali hentakan, golok menembus dada bagian kiri si wanita. Mata si wanita terbelalak terbuka lebar dan mulut menganga, dalam hitungan detik nyawa wanita itu pun melayang.
Saat itu juga aku melihat lentera yang dari awal aku lihat dipegang Ken, tiba-tiba jatuh dengan sendirinya. Warna merah terang yang semula dari lentera itu, secara perlahan keluar dari lentera itu. aku tetap mencoba melihatnya dan perlahan warna merah itu berubah menjadi sosok seorang wanita.
Namun saat itu juga aku melihat Ken seakan-akan terkejut melihat kondisi wanita itu.
"Kakak!" ujar Ken sembari memeluk kakak yang telah kehilangan nyawanya.
Saat itu juga dia melihat ke arah telapak tangan kanan yang penuh dengan darah segar. Dia seakan-akan menjadi seseorang yang berbeda saat tak memegang lentera itu.
Saat kesedihan melanda Ken, malah sosok wanita berbaju merah itu tertawa terbahak-bahak. Dari arah mulutnya mengalir darah segar dan lidah yang menjulur panjang.
"Darah segar," ucap sosok itu secara perlahan menghilang.
Ken terus menangis kepergian kakaknya karena ulah dia sendiri. Setelah itu, aku melihat dia melepaskan pelukannya lalu berlari tak tahu hendak pergi ke mana.
Aku sengaja mengikuti Ken, agar aku juga bisa keluar dari sini. Dia berlari cukup kencang dan jauh, perlahan dari kejauhan terlihat bangunan rumah yang besar dan menjulang tinggi.
Ken berlari ke arah rumah itu, aku memutuskan untuk tetap berhenti di seberang jalan rumah itu. Aku duduk di bawah pohon dan meluruskan kakiku yang terasa amat lelah. Namun terasa bagiku, jalanan ini tak terlalu asing. seakan-akan aku pernah melewatinya, tetapi kapan aku juga tak paham.
Aku menutup mata perlahan.
_____________
"Keyla." Terdengar suara memanggilku dan menggoyangkan badanku saat ini.
Aku membuka kembali mata, terlihat ibu berada tepat di samping tubuhku yang sedang terbaring di atas kasur. Aku lagi-lagi bingung karena berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Dan di sini pun langit masih terlihat cerah.
"Kok aku di sini?" tanyaku.
Ibu mengerutkan dahinya, beliau seolah-olah bingung dengan pertanyaan yang aku berikan.
__ADS_1
"Loh, kan memang Dedek berada di sini. Bangun yuk, ibu bantu mandiin ya, Dek," ujar ibu.
Ayah pun masuk ke dalam kamar, membantuku untuk duduk di atas kursi roda.
"Bu, airnya sudah Ayah siapkan," ujar ayah.
"Iya Yah, makasih," ucap ibu.
Saat ayah menggendongku, terasa jemari kakiku dapat aku gerakan.
"Yah, jariku." Aku menggerakan jari kakiku.
Ayah lantas bergegas melihatnya. Lagi-lagi ku lihat ayah dan ibuku melakukan sujud syukur. Berasa mimpi untuk saat ini, terasa bahagia dalam hatiku saat melihat jariku dapat bergerak lagi.
Setelah itu, ayah dan ibu memelukku. Terdengar ucapan syukur kepada sang maha kuasa tak henti-hentinya di panjatkan ibu.
"Di mandiin dulu, Bu. Nanti biar Dedek kasih tahu yang lain perihal kakinya ini," ujar ayah dengan senyum merekah di bibirnya.
Ibu pun bergegas membantuku untuk mandi, walaupun sulit mulai melepas baju hingga mengenakannya kembali. Ibu terlihat tekun dan sabar melakukannya.
Selesai mandi aku melihat keluargaku sudah berkumpul di ruang santai, mereka sedang menonton televisi. Sedangkan ayahku tak terlihat di sana.
"Ayah di mana, Bu?" tanyaku.
"Nggak tahu, Dek. Kita ikut yang lain nonton televisi ya," ujar ibu.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan ibu. Ibu pun kembali mendorong kursi rodanya menghampiri keluargaku yang lain.
"Sore Jeje," Sapaku.
Lantas mereka bertiga, Nenek, Jeje dan Tante Santi menoleh secara bersamaan. Jeje yang melihatku segera beranjak dan menghampiriku, lalu memelukku dengan erat.
"Keyla, sini nonton televisi," ujar Jeje sembari melepas pelukanku.
Jeje mendorong kursi rodaku secara perlahan. Entah kenapa malah aku tertawa terbahak-bahak.
"Lah kenapa? Kok ketawa?" tanya Tante Santi.
Aku mengingat sekilas waktu usia Sd dulu, ketika melihat orang memakai kursi roda ku anggap orang yang malas berjalan. Eh tak tahunya aku sendiri pun mengalaminya.
"Ku kira dulu orang yang naik kursi roda orang yang malas berjalan, eh nggak tahunya karena memang mereka membutuhkannya. Lucu kadang hidupku ini, semua yang aku anggap sepele ternyata menakutkan," ujarku sembari menutup mata dengan telapak tanganku.
__ADS_1
Jeje mendorong kursiku hingga berada di samping Nenek yang duduk di sofa, beliau mengelus kepalaku dengan lembut.
"Buat Jeje dan Keyla, makanya mulai saat ini nggak boleh menganggap remeh sesuatu yang terlihat sepele bagi kalian. Dan satu lagi jangan berkata buruk akan itu, ingat perkataan adalah doa yang paling mujarab," nenek menasehati aku dan Jeje.
Jeje mengiyakan ucapan Nek Rahmah, sedangkan aku hanya tersenyum. Kami mulai menonton televisi, kebiasaan Jeje saat iklan pasti segera di cari channel yang lainnya.
Awalnya kami menikmati saja, namun saat Jeje hendak mengganti channelnya aku melihat sekilas info berita.
"Je, jangan di ganti." Aku mengambil remote televisi yang sebelumnya dibawa Jeje.
Mereka hanya menuruti kemauanku. Di berita terlihat polisi sedang memasang garis polisi dan terlihat banyak orang yang berkerumun di dekat kejadian itu. Di layar televisi terdapat tulisan, Pembunuhan keji terhadap seorang wanita.
"Ya Allah, manusia saat ini kehilangan akal. Sampai tega membunuh seorang wanita," ujar nenek yang mungkin sudah selesai membaca tulisan itu.
Saat jenazah wanita itu disorot memang di blur tapi aku nggak asing melihatnya.
"Kok kayak pernah melihat pembunuhan ini, ya?" ujarku sembari mengingatnya.
Sontak semua yang berada di sini melihatku.
"Wah, kamu calon detektif handal ini," ujar Jeje.
"Beneran tahu," aku mengeyel.
Berita menjelaskan, bahwa pembunuhan sadis diikuti dengan mutilasi dibagian kaki wanita tersebut.
Aku sontak mengernyitkan dahiku. Saat di sorot barang bukti memang lentera yang baru aku lihat.
"Kok lentera?" ujar Jeje.
"Lentera jahat!" celetukku.
Lalu sekilas berita itu berpindah tempat ke bangunan besar yang barusan aku lihat juga. Diberita dijelaskan pembunuhan keji itu dilakukan adik laki-lakinya. Adik dari wanita tersebut sudah menyerahkan dirinya ke pihak yang berwajib dan menjelaskan bahwa pembunuhan itu dia yang melakukannya.
Disebutkan inisial K untuk pelakunya dan korban bernama Depita kakak dari pelaku. Pembunuhan itu didasari kesalah pahaman yang dilakukan pelaku K.
Setelah itu berita memperlihatkan video pengakuan pelaku K yang tak lain aku lihat itu Ken. Si K menjelaskan dia mengira Depita yang membunuh ayahnya, sebab saat di temukan jenazah ayahnya, si Depita menggenggam pisau yang masih berlumuran darah.
Namun, saat polisi mengecek dari CCTV rumahnya, menemukan pembunuh yang asli. Dia tak lain dan tak bukan adalah asisten rumah tangganya keluarga tersebut.
Dan polisi saat itu juga menjelaskan kalau pembunuhan terhadap ayah mereka mungkin sudah di rencanakan. Sebab terlihat pelaku pembunuhan ayahnya menggunakan sarung tangan.
__ADS_1
Dalam video juga si Ken mengaku menyesal telah membunuh kakaknya tanpa mendengar penjelas kakaknya tersebut.
Bersambung...