
Sesampainya di atas, dengan bersusah payah Kevin kembali duduk. Terlihat darah mengucur dari dahi hingga ke dagu.
"Astagfirullah, Dek Kevin. Kita segera ke rumah sakit," ujar ayah tambak khawatir.
Namun, saat ayah hendak membantu Kevin untuk berdiri, salah satu pihak kepolisian menghampiri.
"Selamat siang, Pak. Semua akan kami proses sesuai aduan, kami minta kerjasamanya ke kalian semua. Mari, saya jaga hingga sampai ke rumah sakit," ujar pak polisi.
Ternyata pak polisi datang untuk membatu mengawal mereka. Namun beliau melarang ayah untuk tidak mengangkat Kevin terlebih dahulu, lalu polisi pergi ke arah mobil Kepolisian.
Kata ayah, dari kejauhan terlihat polisi itu kembali dengan membawa tandu bersama salah seorang temannya. Tandu itu di letakkan tepat di samping Kevin, kemudian dengan arahan polisi, ayah dan Kak Andre bisa membawa Kevin menggunakan tandu itu.
Kevin di masukan mobil terlebih dahulu, lalu salah seorang dari polisi itu kembali ke tempat kejadian. Setelah itu, mereka segera masuk mobil dan Kak Andre yang mengemudikannya.
"Perkenalkan, saya Dimas, Pak." Ayah menjabat tangan polisi.
"Oh, iya. Saya David," jawab pak polisi sembari tersenyum.
___________________
Di sepanjang kami semua yang ada di mobil saling mengobrol, terutama untuk menanyakan kejadian itu. Ternyata dari pengakuan Kevin, setelah aku dan keluargaku pulang, si Candra curiga dengan laptop Kevin yang di letakkan di atas meja.
Si Candra mencoba untuk mengambilnya, namun Kevin berhasil mengambil laptop itu terlebih dahulu. Itu awal Candra mempunyai niatan licik untuk membunuh Kevin kesekian kalinya. Candra murka kala melihat perlakuan Kevin terhadapnya.
"Hei, anak nggak tahu diri. Bawa sini laptopmu atau ...." Belom sampai selesai berbicara, si Kevin memotong ucapan Candra.
"Atau, apa? Atau kau mendekam di penjara dan membusuk di sana? Dasar wanita iblis," hujat Kevin.
"Sial*an! Cepat bawa ke sini. Pak Joko, Bi Asih, tolong ambil laptop itu dari tangan anak nggak tau diri itu!" perintah Candra.
__ADS_1
Kedua orang itu pun ragu, harus membela siapa. Mereka memutuskan hanya diam saja, tak membantu Kevin atau pun Candra. Saat itu, Candra semakin murka. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya, sedangkan Kevin berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Kevin sengaja pergi ke kamar karena dia teringat kunci mobil berada di sana, namun sayang dia lupa saat menaruhnya.
"Aduh, kutaruh mana tadi?" ucap Kevin tampak panik.
Kevin sangat hafal dengan gelagat Candra, dia tahu kalau wanita licik itu akan melukainya lagi. Untuk berjaga diri, Kevin memutuskan untuk mengunci kamarnya sembari mencari kunci mobil. Dia mencari satu persatu ke tempat yang baru ia gunakan, hingga dia mulai ingat kalau sebelumnya dia juga ke toilet.
Dia berlari ke toilet yang ada di kamarnya. Benar saja, kunci mobil Kevin berada di gantungan kamar mandi. Setelah itu, dia dengan menenteng laptop bergegas untuk segera keluar dari rumah itu. Dia berlari menuju lantai dasar, namun si Candra dan dua pria tersebut sedang berjalan menuju lantai dua itu.
Kevin bingung harus bagaimana, sebab tak ada jalan lain, selain tangga itu. Jika dia lewat balkon, mungkin waktu dia terlalu mepet untuk mencari tali. Sehingga, dia memutuskan untuk tetap melewati jalan satu-satunya itu.
Candra dan pria itu oun melihat saat Kevin tak jauh dari mereka.
"Ambil laptop itu dari tangannya!" perintah Candra ke mereka berdua.
Di lantai dasar ada Bi Asih dan Pak Joko, mereka merasa khawatir saat orang itu memperlakukan Kevin dengan kasar. Mereka bingung harus berbuat apa. Kevin mendekap laptop itu dengan kuat, dia di bawa kedua pria itu untuk turun ke lantai dasar.
"Den, berikan saja. Ingat keselamatan, Den Kevin," ucap Bi Asih dengan suara bergemetar, karena menangis melihat mereka semua.
"Nyonya, saya mohon. Kasihani, Den Kevin." Bi Asih memohon ke wanita itu.
"Diam!" teriak Candra.
Kevin di tampar, di tarik rambutnya juga oleh kedua orang itu. Bi Asih dan Pak Jok datang menghampiri dua pria itu, untuk memohon melepaskannya.
"Saya mohon, lepaskan, Den Kevin," ujar Bi asih.
"Biarkan saja, Bi. Mereka tak pantas untuk mendapatkan laptop ini." Kevin bersikeras untuk mempertahankannya.
__ADS_1
"Eh, pembokat. Laptop itu isinya apa?" tanya Candra ke Bi Asih.
"Saya nggak tahu, Nyonya," jawab Bi Asih merahasiakannya.
Kevin tetao di tarik-tarik dan di sakiti. Itu semua membuat Pak Joko dan Bi asih geram dan memutuskan untuk membantu Kevin lepas dari mereka. Bi Asih menarik lengan Pak Joko, untuk mengajaknya mengambil barang yang dapat melukai mereka.
Pak Joko mengambil tongkat baseball, lalu berniat dipukulkan kepada dua pria tersebut. Namun, lagi-lagi nasib kurang beruntung. Dua pria itu berhasil mengelaknya, dengan langkah cepat satu pria diantaranya berhasir melukai tangan Pak Joko.
Bi Asih berteriak dan segera menarik Pak Joko agar menjauh dari mereka semua. Sekuat apapun tenaga Kevin, tetap kalah dengan dua pria tersebut. Mereka berdua memegang tangan Kevin dengan kuat, sedangkan Candra berusaha mengambil laptop itu.
Setelah berhasil, Candra menenteng laptop itu sembari menyunggingkan senyumnya yang sinis. Saat itu juga Kevin di bawa kedua orang tersebut ke dalam mobil, dia tak tahu akan di bawa kemana. Dia tak dapat memberontak lagi, tentunya si Candra juga ikut di dalam mobil itu sebagai pengemudinya.
"Beri ucapan terakhir dong, Sayang. Anak tiri kesayanganku, lebih baik kamu mati dari pada menyusahkan," ujar Candra, tetap sembari menyunggingkan senyumnya. Candra membawa Kevin ke jalanan yang jauh dari pemukiman, dia sengaja agar bisa menghilangkan jejak.
"Kalian buang saja ke Jurang. Nanti, kita bakal sekalian itu anak biar tak tampak lagi di dunia ini," ujar Candra.
"Baik, Bos. Serahkan semua pada kita berdua," ujar salah satu dari mereka
Candra hanya tertawa bahagia kala melihat Kevin terluka. Sesampainya di tepi jurang, Kevin mencoba untuk meronta namun lagi-lagi tak dapat melawannya. Tanpa basa-basi, Candra dengan menyuruh anak buahnya itu untuk membuang Kevin.
"Kalian buang saja, barang nggak penting mending di buang." Candra mengejekku dengan sebutan barang.
"Sial*an! Dasar licik," hardik Kevin.
Candra hanya menampar salah satu pipi Kevin, tanpa banyak kata kedua pria tersebut segera melemparkan Kevin ke jurang. Wanita itu seakan-akan lupa, bahwa Kevin tetap membawa ponsel saat itu.
"Bye-bye, Kevin. Semoga cepat bertemu dengan Mamamu di alam sana," ujar Candra dengan tawa terbahak-bahak.
Bersambung ....
__ADS_1