Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Lift Hotel (2)


__ADS_3

Aku berjalan menghampiri Ibu, aku duduk di kursi tepat di dekatnya. Ibu memberikan buku menu yang sedari tadi di bawanya.


"Dek, mau makan apa?" tanya Ibu.


"Terserah Ibu aja, yang penting aku kenyang he-he-he," ucapku.


Ibu pun memesan makanan untuk sarapan kami berdua. Sembari menunggu kami pun mengobrol-ngobrol, aku pun ingin menanyakan perihal pintu lift yang berada di lantai empat tadi.


"Oh iya, Bu. Ayah udah sarapan?" tanyaku.


"Belum, Dek. Tadi katanya mau sarapan di kantor saja," jawab Ibu.


"Bu, tadi pas Ibu turun, lift yang ada di lantai empat terbuka nggak sih?" aku bertanya.


"Enggak, Dek. Kamu kan tahu sendiri di sana lagi di kosongkan, jadi ya nggak mungkin terbuka dong," jawab Ibu.



Di tengah obrolan kita, makanan pun datang. Makanan disajikan di atas meja kami. Aku yang melihatnya tergugah untuk segera menikmatinya. Perlahan tapi pasti kami mulai melahap makanannya, suasana hening di meja makan kami.


Setelah selesai makan, entah kenapa rasanya aku ingin untuk berenang. Aku ingin mencoba mengajak Ibu untuk berenang bersamaku.


"Ayo renang, Bu!" ajakku.


"Kamu kan nggak bawa baju renang, Dek. Nggak usah deh istirahat aja yuk di kamar," ucap Ibu.


"Ibu mah gitu, kalau diajakin," gumamku sembari memanyunkan mulutku.


"Bagaimana kalau kita berkeliling di sekitaran hotel ini?" usul Ibu.


"Iya, Bu," jawabku.


Aku mengiyakan usulan Ibu, karena aku ingin sekali merasakan suasana ketika berada di kota tempat Ayah bekerja.


Aku dan ibu beranjak dari tempat duduk kami. Kami berjalan mengelilingi halaman hotel ini yang luas. Hotel ini hotel bintang lima di sekitar perusahaan tempat ayah bekerja.


"Bu, Ayah tidur di mana biasanya?" aku bertanya.


"Di tempat kerja Ayah kan di sediakan tempat untuk tidur bagi yang rumahnya jauh, Dek," jawab Ibu.


"Kenapa kita nggak di ajak ke tempat Ayah saja?" tanyaku lagi.


"Kan tempatnya jadi satu sama yang lain Dek kamarnya," jawab Ibu.


Kami berjalan mengelilingi halaman hotel ini dengan terus mengobrol, suasana yang lama aku idamkan akhirnya tercapai. Rasanya aku tak ingin cepat pulang dari kota ini, aku ingin bisa setiap hari dekat dengan ayahku, karena sedari kecil Ayah selalu bekerja di sini. Tetapi apalah daya, kami beda kota jadi selalu ada jarak antara kami.


Cukup lama kami berjalan-jalan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kamar. Kami mulai masuk ke dalam hotel menuju lift agar cepat sampai di kamar kami.

__ADS_1


Kami masuk ke dalam lift, hanya kami berdua yang ada dalam lift ini. Lift mulai naik dari lantai ke lantai, tetapi sesampainya di lantai empat, lift pun kembali terbuka.


Udara yang pengap dan lorong kamar hotel yang gelap kembali terlihat.


"Bu, kebuka lagi," ucapku sembari memegang tangan Ibu.


Ibu mencoba memencet tombol lantai tujuh, berharap pintu lift tertutup dan kami segera menuju lantai tempat kamar kami berada. Tetapi pintu tak sedikitpun bergerak untuk menutup.


"Kita pakai tangga darurat aja ya Dek, lift -nya kayanya lagi rusak," ajak Ibu.


Aku hanya mengikuti ajakan Ibu, aku merasa ini ada yang tidak beres. Kami berdua pun keluar dari dalam lift, kami mulai melangkahkan kaki melewati lorong hotel lantai empat ini.


Tangga darurat terletak di ujung kamar di lorong ini. Perasaan was-was menyelimuti hatiku, tetapi tidak dengan ibu. Beliau terlihat santai berpikir positif atas kejadian ini.


Kami terus berjalan di kegelapan lorong lantai empat ini. Entah mengapa di pagi hari di lantai ini begitu gelap dan terlalu pengap udaranya.


Akhirnya kami pun sampai di dekat tangga, kita menaiki satu persatu anak tangga sampai atas hingga menuju lantai berikutnya.


Kami merasa sudah naik berada di lantai lima, tetapi di lantai ini kami masih terlihat sama seperti lantai sebelumnya. lorong yang gelap dan pengap tak ada bedanya.


"Bu, lantai lima juga kosong kah ini?" aku bertanya.


Aku yang merasa heran memberanikan diri untuk bertanya ke ibu.


"Mungkin iya, Dek. Ayo naik lagi menuju lantai berikutnya, Dek," ajak Ibu masih dengan pikiran yang positif.


Di sini kami tidak ada inisiatif untuk kembali menaiki lift, karena sedari tadi kami mencoba untuk menggunakan dua lift di sini tetapi mendadak tak dapat di gunakan.


Kami tetap naik, hingga satu tangga menuju lantai kamar kami. Kami naik ke anak tangga berikutnya hingga anak tangga yang paling atas. Sesampainya di atas, tetap sama suasana seperti lantai sebelumnya.


"Bu, kok lantai di kamar kita gelap juga?" tanyaku.


Tetapi kali ini ibu terasa menggandeng tanganku dengan erat. Ibu tak menjawab satu pun pertanyaan yang aku lemparkan.


Kami mulai berjalan menyusuri lorong ini berharap kami segera sampai di kamar kami, yang letaknya di ujung dekat pintu lift.


Kami berjalan dengan langkah yang cepat, mungkin ibu kali ini merasa ada yang tidak beres. Sesampainya kami di kamar yang paling ujung, kita tercengang dengan huruf di dekat pintu lift.


Huruf yang seharusnya kami harapkan bertuliskan angka tujuh, tetapi angka ini bertuliskan angka empat. Kami merasa sudah menaiki anak tangga menuju lantai ke lantai, tetapi apa kita dapatkan hanya lelah tak berubah lantai ini.


Ibu dengan keras mencoba memencet tombol lift berharap bisa digunakan menuju lantai di kamar kami. Tetapi sedari tadi pintu lift tak kunjung terbuka.


"Ibu," ucapku.


Tangan Ibu yang semula terasa hangat, sekian lama berubah berkeringat menjadi dingin. Mungkin sekarang ibuku tampak gelisah, tetapi tak ingin anaknya tahu.


"Baca ayat kursi ya, Nak," ucap Ibu.

__ADS_1


Aku mencoba menuruti kemauan ibu. Saat kami mulai mengucapkan kata bismillahirrahmanirrahim, terdengar suara teriakan yang melengking.


Membuat suasana semakin mencekam.


"Ibu," ucapku ketakutan.


Ibu tak menjawabku, beliau terus melantunkan bacaan ayat suci alquran. Entah mengapa aku mengedarkan pandanganku di sekelilingku.



Betapa aku terkejut ketika pandanganku bertemu makhluk itu. Aku mencoba berteriak, dia malah mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak.


Ibu mencoba menenangkan aku dengan memelukku sembari terus melantunkan ayat suci alquran. Di benamkan wajahku dalam pelukannya, hingga pintu lift mulai terbuka.


Dengan langkah cepat ibu mengajakku masuk dan beliau segera memencet tombol lantai tujuh menuju kamar kami. Pintu pun segera tertutup, lift dapat di gunakan dengan baik.


Kami naik mulai lantai lima menuju lantai tujuh. Pintu mulai terbuka, ibu segera mengajakku keluar menuju kamar kami.


Sesampainya di kamar, ibu mengajakku duduk di atas kasur. Lalu beliau mengambilkan aku air putih untuk diminum.


"Dek, minum dulu yuk," ucap Ibu dengan lembut.


Aku pun meraih gelas ibu dengan tangan yang terus bergetar. Ibu membelai kepalaku, mencoba menenangkan ketakutanku.


Tiba-tiba aku melihat Esther datang dengan melemparkan senyuman manisnya.


"Esteh, kamu ke mana aja?" ucapku ketus.


Sebelum Esther menjawab, terlebih dulu ibu bertanya kepadaku.


"Dek, ngomong sama Esther?" tanya Ibu.


Aku hanya menganggukan kepalaku.


"Aku ada kok, kamu aja yang masuk ke dunia mereka, aku tadi mau masuk ke dalamnya susah," ucap Esther mengetahui maksud pertanyaanku.


"Maksud kamu, aku dan Ibu masuk dimensi lain?" aku bertanya ke Esther.


"Iya, makanya aku susah untuk menembus pintu masuk dimensi mereka, terlalu kuat," jawab Esther.


Aku yang mendengar ucapan Esther pun di buat bingung. Aku takut untuk pergi menuju lantai dasar, karena tidak mungkin kami bisa melewati lantai itu.


"Ibu," aku memanggil Ibu yang sedang mengambil air.


"Iya, Dek," jawab Ibu.


"Kita bagaimana kalau pergi dari sini? Nggak mungkin kan kita bisa melewati lantai itu?" aku bertanya.

__ADS_1


Ibu nampak memikirkan jawaban untuk pertanyaanku. Beliau tak memilih untuk menjawabnya, beliau hanya mendekati aku lalu memelukku kembali.


Bersambung....


__ADS_2