Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Bunga Matahari


__ADS_3

Aku tidak menghiraukan Esther karena mataku sudah sangat mengantuk. Aku putuskan untuk tidur, entah dia mau ke mana aku tidak peduli.


Aku pun terlelap dalam tidurku. Ku lewati malamku dengan mimpi yang indah.


***


Keesokan harinya....


Aku buka mata, lalu melihat jam di dinding baru menunjukkan pukul 04.45 pagi.


"Hoaaaaaam," aku menguap sembari beranjak dari tempat tidurku.


Ketika menguap, kebiasaan ku selalu menutup mata. Ketika aku mencoba membuka mata, betapa aku terkejut dan membuat aku terperanjat karena kaget.


"Pagi Keyla," ucap Esther tepat di depan mataku.


Dengan spontan aku mengambil bantal lalu ku lempar ke arah dia.


"Esteeeh, kebiasaan kamu," ucapku kesal.


Aku pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi tanpa menghiraukannya lagi.


"Keyla, mau ke mana?" tanya Esther.


"Ambil wudhu, mau sholat," jawabku singkat.


Aku mandi terlebih dahulu sebelum wudhu. Selesainya mandi, aku langkahkan kaki masuk kamar, di sana aku tak menemui Esther.


Aku laksanakan kewajiban ku terlebih dahulu. Setelah itu aku siapkan peralatan sekolah, baru keluar kamar menemui Orang tuaku.


Aku langkahkan kaki keluar kamar menuju ruang makan. Dan ternyata ayah dan ibuku sudah terlebih dahulu di sana.


"Pagi ayah, ibu," ucapku sembari duduk.


"Sarapan dulu Dek, nanti kamu ikut ke rumah Om Adi lagi?" tanya Ibu yang lagi mengambilkan makanan untukku.


"Tidak usah Bu," jawabku sembari mengambil makananku.


Aku mulai melahap makananku.


"Nanti aku pakai sepeda aja ya, Yah?" ucapku.


"Iya Dek," jawab Ayah.


Tak berselang lama kami pun selesai, aku bergegas mengambil tasku untuk segera berangkat sekolah.


"Aku berangkat dulu Yah," ucapku sembari bersalaman.


"Bu," bergantian bersalaman ke Ibu.


"Assalamualaikum," ucapku lagi.


"Waalaikumsalam," Jawab mereka bersamaan.


Aku mengambil sepedaku di garasi, dari rumahku terlihat Esther sedang berada di halaman rumah tetanggaku.


Aku bawa sepeda menuju keluar pagar rumah. Aku melihat Esther, tenyata dia di sana sedang berada di dekat bunga matahari.


"Esteh, Esteh," panggilku ke Esther.


Tetapi dia tidak mendengarkannya, terlihat nampak mata kesedihan di wajahnya. Aku pun bergegas berangkat sekolah.


Belum jauh aku dari rumah terdengar suara yang memanggilku.


"Keyla," teriaknya.


Aku pun sontak menoleh kebelakang, aku melihat Dinar dari kejauhan. Aku pun berhenti, Dinar menghampiri.

__ADS_1


"Hai, Key," sapa Dinar.


"Hai, Din," jawabku.


Kami berdua kembali mengayuh sepeda perlahan. Di sepanjang jalan kami bercerita-cerita.


"Key, nanti jam berapa ke rumah Kak Sasa?" tanya Dinar.


"Sekitar jam 11.00 Din," jawabku.


"Jadi nanti kita tidak bisa ikut ya?" tanya Dinar.


"Tidak Din, di rumah saja aku," jawabku lagi.


Saking asyiknya berbicara, tidak terasa kami pun sampai di depan sekolahan. Kami pun pergi ke parkiran untuk menaruh sepeda.


Kami berdua berjalan beriringan menuju kelas.


"Din, nanti tarawih bareng yuk," ucapku.


"Aku awal puasa nggak bisa ikut Key, biasa tanggal merah," kata Dinar.


"Oh, oke deh," jawabku.


Sesampainya di kelas seperti biasa, kami mengobrol bersama teman-teman di kelas. Sekarang semua tidak membedakan aku dengan tatapan yang membuatku merasa asing.


Kami semua bisa berteman dengan baik.


Tet tet tet....


Bel berbunyi, tanda jam pelajaran akan segera di mulai.


Pelajaran pun kami lalui seperti biasa. Jam pertama, kedua sampai selesai, sudah kami lewati. Bel akhir pelajaran pun berbunyi.


Satu persatu anak-anak sudah pada keluar kelas. Sedangkan aku dan Dinar, seperti biasa masih di kelas.


"Enggak bisa Key, mau bantu Ibuku ada pesanan makanan buat nanti sore," jawabnya.


"Baik lah, ayo pulang," kataku.


Kami berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda, selepas itu kami bergegas untuk pulang.


Sesampainya di depan rumahku, Dinar melambaikan tangan tanda kami berpisah.


"Pulang dulu Key," ucap Dinar.


"Iya hati-hati," ucapku.


Aku kembali melihat Esther di halaman rumah tetanggaku itu.


"Esteeeh," aku memanggil.


Seketika Esther menoleh ke arahku. Dia seperti berjalan tetapi kaki tak napak ke tanah. Dengan cepat dia sampai di dekatku dengan wajah yang terlihat sedih.


Aku menoleh ke sekitarku takut ada yg melihat ketika aku berbicara dengan Esther.


"Kamu ngapain tiap hari di situ? masuk dulu yuk," ajakku.


Aku membuka pintu pagar ku lalu segera ku parkirkan sepedanya. Aku mengambil kunci cadangan rumahku di dalam tas, yang sedari tadi pagi sudah ku bawa, karena hari ini ibu dan ayahku harus membantu pengajian di rumah Kak Sasa.


Aku melihat kanan dan ke kiri tak ku temui Esther. Aku buka pintu dan mulai melangkahkan kaki menuju kamar.


Sesampainya di kamar, aku taruh dulu tasku di atas meja. Seperti biasa, aku melihat Esther di atas lemari ku. Dia duduk dengan kaki yang diayunkan secara bergantian.


Aku hampiri lemari untuk mengambil baju ganti sembari menanyai kenapa si Esther bisa sedih.


"Esteh," panggilku

__ADS_1


Esther melihat ke arahku.


"Kamu kenapa?" tanyaku.


Dia tak menjawab, dia kembali menundukkan kepalanya.


"Makan dulu yuk, aku lapar," ajak ku.


Esther menggelengkan kepalanya.


"Sakit maag nanti kamu kalau enggak makan," ucapku.


"Keyla, aku hantu ngapain sakit maag," jawabnya.


"Nah, kalau enggak gitu, kamu enggak bakal jawab ucapanku hehehe," kataku sembari tertawa.


Setelah mengganti pakaianku, aku kekamar mandi dulu untuk mengambil wudhu lalu salat. Selesai salat baru ku langkahkan kaki menuju ruang makan.


"Kamu enggak ikut aku? Temenin aku yuk di ruang makan," ajakku.


Baru saja keluar kamar, sudah ku lihat si Esther duduk di kursi di ruang makan.


"Ini orang cepet bener," pikirku.


Sesampainya di meja makan aku bergegas mengambil makanan. Tak lupa aku kembali memandangi wajah Esther.


"Kamu suka bunga matahari?" tanyaku sembari melahap makanan.


Dia hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaanku.


"Mau aku mintain?" tanyaku lagi.


Tiba-tiba aku melihat senyuman di wajahnya.


"Gitu dong senyum, nanti sore kalau sudah pulang kerja yang punya rumah aku mintain," ucapku.


"Makasih ya Key," ucapnya.


"Belum aku mintain jangan bilang makasih dulu, siapa tahu nanti sore aku mager mau minta hehehehe," ucapku mengejeknya.


"Keyla mah, jangan jahat sama aku," katanya sembari cemberut.


"Aku ngapain kamu, kok jahat? Kamu yang jahat, kenapa bisa ngikut aku sih?" tanyaku.


"Aku juga enggak tahu, kaya ada hal yang buat aku tertarik sama kamu," jawabnya.


"Idiiih, Esteh enggak normal, suka sama aku," kataku.


Aku melihat Esther cemberut.


"Siapa yang suka kamu bocah, aku setan normal tahu, suka laki-laki juga," ucapnya.


Aku tertawa terbahak-bahak.


"Ngomong-ngomong kalau kamu suka sama bunga matahari, kenapa bisa terlihat sesedih itu?" tanyaku penasaran.


"Ada kisah dari bunga matahari itu," jawabnya kembali bersedih.


"Kenapa? Kamu mati kesedak kwaci, jadi kamu keinget bunga matahari?" tanyaku.


"Keyla, aku serius ih," ucapnya terlihat kesal.


"Iya-iya," jawabku.


"Aku dari dulu suka bunga matahari, bahkan tunanganku pun menanamkan bunga matahari di sekitar rumahku," ucapnya.


"Kamu ke ingat tunanganmu?" tanyaku.

__ADS_1


Aku melihat dia semakin sedih, terlihat deraian air mata di pipinya.


__ADS_2