
"Bu," ucapku sembari melihat kearah ibu.
Ibu hanya mengangguk, beliau seperti mengerti ucapanku. Tante Sita hanya mampu menangis tanpa mengucapkan sepatah apapun.
"Saat ini jenazah sudah dibawa ke rumah sakit, Bu Sita beserta keluarga boleh menjemputnya," ucap pihak kepolisan.
Kami semua pun bersiap untuk segera menuju ke rumah sakit. Kami tetap didampingi oleh pihak kepolisian.
"Om Boby siapa, Key?" tanya Esther.
Aku melihat kearah Esther sembari melotot seakan-akan bola mataku hendak keluar.
"Yaelah, manusia satu ini nyeremin," ucapnya ketika melihat ekspresiku.
Ekspresiku berubah menjadi cemberut, sebenarnya dari dalam hati ingin tertawa ketika mendengar celotehnya. Selama ini aku selalu merasa terhibur kala berada di dekat Esther, setan yang satu ini menurutku lebih unik.
Di dalam mobil ini terasa tegang, jika semua orang bisa mendengar Esther mungkin mereka bisa sedikit merasa terhibur. Tapi sayang, hanya aku yang mampu.
Tak begitu jauh jarak dari rumah Tante Sita ke rumah sakit. Kami berjalan mengekor di belakang polisi menuju kamar jenazah.
"Bagaimana, Pak?" tanya Tante Sita.
"Peluru yang bersarang diperutnya sudah berhasil diambil, jenazah tinggal dibersihkan lalu bisa dibawa pulang," jelas pihak kepolisian.
"Baik, Pak. Terimakasih," ucap Ayahnya Tante Sita mewakili menjawab.
Kami yang berada di sini hanya mampu menenangkannya saja, sebab kami juga tidak habis pikir jika Om Boby mempunyai pikiran dangkal seperti itu.
Cukup lama kami harus menunggu, akhirnya tepat jam 04.35 WIB jenazah bisa dibawa pulang.
____________
Tante Sita beserta keluarga ikut naik di dalam mobil ambulance yang mengantarkan jenazah Om Boby. Sedangkan kami menaiki mobil dari Tante Sita.
Sesampainya di rumah, ternyata kabar kematian Om Boby dengan cepat terdengar. Bahkan desas desus kejahatan Om Boby dengan cepat di dengar orang di sekitar sini.
Rumah yang awalnya sepi, kali ini ramai dengan pelayat yang datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, aku melihat Esther yang berada di sampingku sedang tertunduk dan merenung.
"Esteh," ucapku berbisik.
Dia menoleh kearahku, aku melihat dia bersedih.
"Esteh, kenapa? Kamu kehilangan Om Boby?" tanyaku.
"Aku mengingat kematianku dulu," jawabnya.
Ketika aku mendengar jawaban Esther, sontak aku menoleh di sekelilingku. Mereka yang melayat secara bergerombol, tak jarang dari sebagian orang itu saling berbisik dan mengucapkan nama Om Boby.
Tak nampak kesedihan di wajah mereka, hanya tatapan sinis pada keluarga ini. Sedangkan dari kerabat Tante Sita mencoba menenangkan dan memberi dukungan.
__ADS_1
"Esteh, emangnya pas kematianmu juga banyak yang gosipin kamu?" tanyaku.
"Nggak tahu, aku hanya menangisi perpisahanku dengan keluargaku," jawab Esther.
Aku mendekat ke arah ibu yang berada di depanku, lalu duduk berada di sampingnya.
"Bu," panggilku dengan berbisik.
"Iya, Dek," jawab Ibu.
"Kok ada ya, orang meninggal masih di gosipin. Kenapa nggak didoain aja ya, biar jalannya mudah, Bu?" jawab Ibu.
"Namanya manusia ya gitu, Dek. Jangankan orang mati yang nggak bisa berbuat apa-apa, orang yang masih sehat, segar bugar aja suka digosipin yang tidak-tidak," jawab Ibu.
"Biar nggak digosipin apa harus jadi orang yang baik ya, Bu? Tapi Dedek nggak pernah merasa loh jahatin orang, berbuat buruk sama orang. Apa aku masih ada yang gosipin?" tanyaku penasaran.
Ibu hanya tersenyum mendengar ucapanku. Setelah itu, mengelus kepala lalu mencium keningku.
"Anak Ibu ini, terlalu polos kah?" tanya Ibu sembari menahan tawa.
"Bilang aja, Bu. Antara polos sama oon beda dikit," ucapku sembari cemberut.
"Ha-ha-ha, bukannya gitu Dek, kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda-beda watak dan kepribadian, nah kita kan nggak tahu mana orang yang tulus berucap sama orang hanya berbual belaka," jawab Ibu.
Tak hanya ibu yang tertawa, tetapi Esther yang berada di sampingku juga tertawa terbahak-bawah.
"Nah, Keyla oon juga kaya aku ha-ha-ha," ucap Esther.
"Maksudnya, Bu?" tanyaku karena merasa bingung mendengar ucapan Ibu.
"Jangankan yang jahat di omongin, yang benar-benar baik aja kadang dibilang pencitraan belaka, cari perhatian juga. Nah kadang orang benar saja menilaimu baik kala di depanmu, kalau di belakangmu apa kamu tahu Dek, mereka sebenarnya benar-benar memujimu atau tidak," jawab Ibu.
"Jadi gitu ya, Bu. Kita nggak boleh percaya sama ucapan orang?" tanyaku lagi.
"Boleh dong, bukan berarti semua orang memiliki sifat yang sama loh, Dek. Dan satu lagi, tetap jadi diri Dedek tanpa menginginkan pujian dari orang lain. Entah orang mau ngomong apapun tentang kamu, biarin saja. Yang penting tujuanmu hanya berbuat baik ke sesama," ucap Ibu.
Aku menatap mata ibu, aku lemparkan senyuman ke beliau.
"Oh, iya. Jangan pernah suudzon sama orang," ucap Ibu sembari memegang ujung hidungku.
Aku sontak memeluk Ibu, aku merasa bersyukur mendapatkan kedua orang tua yang perhatian dari segi apapun. Rasa sayangku ke mereka kian membesar.
Aku pun menoleh ke arah Esther, dia seperti meneteskan air mata.
"Teh, kamu nangis?" tanyaku.
"Akhirnya Keyla manggil aku si Teteh," ucapnya geringan.
"Esteh," ucapku ketus.
__ADS_1
"Baru aja bahagia dibuat down lagi, aku terharu dengan ucapan Ibumu," ucap Esther lagi.
_____________
Jenazah Om Boby pun siap di makamkan. Dari kerabat dan teman kantornya semua, mengantarkan ketempat peristirahatan terakhir. Dalam hatiku hanya berharap, semoga Om Boby sempat bertaubat sebelum bunuh diri itu dilakukan.
Aku menggandeng tangan Ibu, sedangkan ayah ikut membopong keranda Om Boby. Aku melihat solidaritas di tunjukan dari semua kantornya, walaupun perbuatan kejamnya mungkin tak bisa di maafkan. Tapi mereka menutupi kebenciannya karena masih menghargai Tante Sita sebagai istri Om Boby, agar tak larut dalam kesedihan.
Atasannya pun yang telah di dzalimi masih ikut mendonasikan uangnya untuk kebutuhan pemakamannya .
Cukup jauh tempat pemakamannya, akhirnya kami sampai. Ini hal yang sangat aku benci di pemakaman, walaupun siang hari banyak dedemit berkeliaran dalam berbagai bentuk.
(Sumber: google)
"Banyak orang," ucap Esther
Mendengar ucapan Esther, rasanya aku ingin menoyor kepalanya. Dia setan di bilangnya orang. Saat ini aku hanya bisa memeluk ibu, karena aku merasa ketakutan. Entah kenapa di siang hari bentuk mereka tetap menakutkan.
Tak perlu waktu lama pemakaman pun selesai. Dari kami satu persatu mulai meninggalkan tempat ini, sedangkan Tante Sita terlihat berat untuk berpindah.
"Tante," ucapku.
Dia menoleh kearahku, lalu berdiri dibantu ibu.
"Kak, kenapa kabar bunuh diri yang pertama tak merasakan sesedih ini?" ucap Tante Sita sembari berjalan.
"Memangnya apa bedanya?" tanya Ibu.
"Aku tahu banyak dosa yang ditanggung Mas Boby. Aku takut, dia belum bertaubat saat menjelang kematiannya, hiks-hiks-hiks!" ucap Tante Sita.
Ternyata Tante Sita memiliki pikiran yang sama denganku, beliau juga mengkhawatirkan Om Boby.
"Bantu doa ya, Sit. Semoga diampuni dan di beri jalan yang lurus," ucap Ibu.
Tante Sita hanya mengangguk.
________________
Sesampainya di rumah Tante Sita, kami segera berkemas untuk segera kembali ke kota kami.
"Yah, kita pulang?" tanyaku.
"Iya, Dek," jawab Ayah.
"Alhamdulillah, akhirnya," ucapku.
Perasaan lega semakin terasa, aku ingin menikmati suasana nyaman di rumahku sendiri.
__ADS_1
Bersambung....