Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Akhir dari semuanya (Ending)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan walaupun terdiam hanya itu saja yang ada dalam pikiranku. Sesampainya di rumah, aku terkejut kala mendengar teriakan Jeje dari luar rumah.


"Jeje, Bu," ujarku.


Ibu bergegas lari menuju ke dalam rumah, sedangkan ayah masih membantuku untuk turun. Ketika masuk ke dalan rumah, aku terkejut kala Jeje terlihat terbang dan menempel di tembok. Sedangkan Tante Santi dan nenek hanya menangis tak tau harus berbuat apa.


"Al-Qur'an, Bu. Kok bisa seperti itu?" ujar ibu.


Tante Santi bergegas memeluk ibu, sedangkan nenek pergi ke kamarnya untuk mengambil Al-Qur'an. Tetapi kita terkejut kala niat nenek itu dihentikan oleh Jeje yang sedang kerasukan. Jeje dengan cepat menghalangi nenek dan melemparkan vas bunga ke arahnya, untung saja tak mengenai nenek.


"Kamu siapa? Dan maumu apa?" tanya ayah.


"Aku mau, dia membantuku," ujar Jeje dengan menujuk ke arahku.


"Maksud kamu apa?" sahutku.


Kemudia Jeje mendekat ke arahku dan memeluk kedua kakiku.


"Bunuh pria itu, balaskan semua dendamku ke dia," ujar Jeje dengan menunjuk ke arah pintu utama.


Tetapi setelah aku nalar, mungkin pria yang bertemu kita tadi dia yang memiliki rumah di seberang itu.


"Nggak akan. Aku nggak mau kejadian ini terulang, aku mau nutup ini semua!" teriakku.


"Kamu!" ujar Jeje dengan mengacungkan jarinya dihadapanku.


Dan saat itu juga kami mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari nenek. Saat Jeje menghampiriku, itu kesempatan nenek untuk mengambil Al-Quran yang ada di dalam kamarnya. Jeje terlihat meronta-ronta dan berteriak. Ayah dengan sigap memegang Jeje hingga dia tersadar. Dia celingukan dan menatap ke arah kami.


"Kenapa? Ada apa, Ma?" tanya Jeje.


"Alhamdulillah," ujar Tante Santi ketika memeluk Jeje.


Tak berselang lama setelah Jeje sadar, terdengar suara ketukan pintu dan teriakan suara laki-laki yang begitu kencang. Ibu bergegas membuka pintunya dan ternyata ada sosok pemuda datang menghampiriku.


"Kenzo, ada apa, Nak?" tanya nenek.


"Kenzo?" tanyaku sembari menatap ke arah nenek.


"Iya, dia Kenzo. Anak dari rumah seberang itu," jawab nenek.


Bantu aku, laporkan dia ke polisi. Kalau perlu bunuh saja dia.


Kami semua saling bertatap mata secara bergantian, aku tahu anak ini pasti kerasukan dengan hantu yang sama dengan Jeje. Tiba-tiba papa dari Kenzo datang menghampiri.


"Kenzo, pulang!" teriak papanya.


"Bunuh saja, dia! Aku nggak ingin anak-anakku bernasib sama denganku,' ujar Kenzo sembari berjalan menjauhi papanya.


Plak!!


Papanya dengan kasar menampar Kenzo.


"Heh, sama anak kok tangannya kasar banget," tegur ayah.

__ADS_1


"Diam!" ujar papanya Kenzo.


"Laporkan dia ke polisi, aku dibunuh dia. Dan mayatku dikubur di rumahku bagian belakang," ujar Kenzo sembari menunjuk papanya.


Kenzo pun setelah itu terkulai, dengan itu papanya dengan mudah membawanya pergi. Namun, saat itu juga aku melihat sosok wanita yang selama ini selalu menghantuiku saat berada di sini. Dia memohon dan menatapku dengan wajah terlihat sedih.


Namun, aku meresponnya dengan menggelengkan kepala. Kami saat ini hanya fokus ke Jeje yang baru saja kerasukan. Jeje dipindahkan di atas sofa.


"Jeje, kok bisa?" tanyaku.


"Aku juga nggak tahu. Saat aku mengganti pakaian dalamku di kamar, tiba-tiba terasa gelap dan ketika sadar aku sudah berada di sini," ujar Jeje.


"Maksud Kenzo apa ya, Bu? Apa iya, mamanya yang di kabarkan hilang selama ini dan tidak di temukan karena ulah papanya itu," ujar Tante Santi.


"Bisa jadi, Kak. Katanya Ibu setelah mereka dari kampung halamannya kabar itu tersebar di sini, kalau istrinya hilang dan tidak ditemukan," sahut ibu.


"Tapi istrinya hilang saat kecelakaan itu. Dan mayatnya pun tak ditemukan, loh," ujar nenek.


Kemudian aku teringat dengan mimpiku saat melihat orang yang sama dengan papanya Kenzo. Namun itu berada di rumah.


"Tapi aku mimpi, wanita itu di siksa di rumah. Dan pembantunya pun pergi pulang saat itu," ujarku.


"Tapi mereka kabarnya kecelakaan saat pulang itu, tapi juga nggak tahu juga sih. Sebab kabar itu cuma di berikan Pak Jonathan papanya Kenzo saja," ujar nenek.


"Tapi kan sebelumnya terlihat Pak Jonathan pulang sendiri tanpa anak-anak dan istrinya, Bu," sahut Tante Santi.


"Sudahlah, itu bukan hak kita. Kita segera mandi, hari sudah menjelang ashar," tegur nenek


Sore kita jalani seperti halnya biasa, berkumpul, makan dan nonton televisi bersama. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu utama rumah ini.


Tante Santi segera membukanya dan ternyata terlihat Kenzo anak kedua Pak Jonathan yang datang.


"Kenzo, ada apa?" tanya nenek sembari beranjak dari tempat duduknya.


Kami semua pun mengikuti nenek, sebab juga merasa penasaran. Kenzo yang tak pernah terlihat dan terdengar kabarnya olehku mendatangi kami.


"Aku kok nggak pernah lihat dia, ya," ujarku ke Jeje.


"Dia dulunya anaknya ramah banget. Entah sejak kabar mamanya hilang itu, dia menjadi bungkam dan tak pernah mau interaksi sama orang siapa pun," jawab Jeje.


Kami duduk bersama di ruang tamu menemani Kenzo, dia terlihat sedih.


"Kenapa, Nak?" tanya nenek.


Kenzo menatap nenek sembari meneteskan air mata.


"Kami itu nggak pernah kecelakaan bersama mama seperti yang diucapkan Papa. Yang ada mama hilang saat Papa membawanya untuk pulang terlebih dahulu," ujar Kenzo sembari menarik napas panjang.


"Mama selalu di siksa oleh Papa, tapi kami nggak bisa apa-apa. Aku takut, Papa mengancam akan membunuh kami saat buka suara," ujar Kenzo lagi.


Sontak kami terkejut kala mendengar pengakuan Kenzo.


"Kami memang kecelakaan, tapi itu posisi mama sudah hilang Om, Tante," ujar Kenzo.

__ADS_1


Kenzo bercerita terlalu memutar, sehingga mempersulit kita untuk mengerti. Tiba-tiba terdengar teriakan papanya Kenzo dari luar rumah.


"Kenzo! Pulang!" teriak papanya.


Kenzo pun beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


"Aku mohon, bantu aku dan kakaku. Kami takut untuk itu," ujar Kenzo berbisik sembari berlalu pergi.


Dia di tarik papanya untuk segera pulang. Sedangkan kami bingung, harus berbuat apa. Kami tidak bisa asal lapor pihak kepolisian tanpa bukti apa pun ditangan kami.


"Kita harus bagaimana?" tanyaku.


"Kita tidur saja, nggak ada yang bisa kita perbuat, Dek," ujar ayah.


Aku memutuskan untuk nurut ke ayah, sebab kejadian Kevin tak ingin terjadi ke Kenzo juga. Kami memutuskan untuk segera tidur lebih awal dari biasanya. Kami pun terlelap, namun tak berselang lama terdengar seperti air di lemparkan ke jendela, gemercik terdengar jelas.


Namun bodohnya aku, kembali tidur. Sebab seperti biasanya gangguan makhluk halus menjadikan aku cuek terhadap apa pun. Terasa baru saja memejamkan mata, aku batuk tersengal-sengal. Hidungku ketika bernapas penuh dengan asap.


Aku membuka mata dan saat itu juga ayah dan ibu terbangun.


"Ya Allah, Yah. Kebakaran," teriak ibu.


Sontak kami pun panik, rumah ini terbakar, api begitu besar.


"Tolong!" terdengar suara nenek, Tante dan Jeje secara bersamaa.


Kami pun keluar, ternyata seluruh rumah ini pun sudah terkepung dengan api seluruhnya.


"Kenapa nggak dibuka pintunya," ujar ayah sembari membuka pintu.


Namun, naasnya nasih kami. Pintu saat di buka dalam posisi di rantai dari luar, kami pun tak bisa keluar dari jendela karena pagar besi yang di pasang setiap jendelanya.


"Keluar dari belakang," ujar nenek dengan napas memburu.


Terasa tak ada oksigen di hidung kami, napas kami pun terbatas hingga saat ini. Ayah berusaha mendorongku menuju pintu belakang, namun rumah bagian belakang sudah terbakar hampir separohnya.


Terdengar jelas teriakan dari luar, "Kalian pasti akan mati! Siapa pun yang berani masuk ranah hidupku tak akan selamat."


Namun saat ayah mencoba menyibakkan jendela, terlihat Pak Jonathan berdiri di sana tanpa belas kasian terhadap kami.


"Bu, maafkan aku yang sudah menyusahkan," ujarku.


Kami semua hanya bisa pasrah, ayah menelpon pemadam kebakaran pun saat sampai pasti kami sudah mati karena kehabisan napas.


___________


Satu persatu dari kami tergeletak dan tak sadarkan diri. Aku pun sama, saat mataku terpejam, aku melihat seberkas cahaya putih.


Aku berjalan di sana, terlihat Kevin dan mamanya menunggu kami di pintu yang tak jauh dari sana. Terlihat mereka melambaikan tangan, dengan senangnya aku menghampiri.


Di belakang seluruh keluargaku yang bersamaku pun ikut menghampiri. Kami berkumpul bersama-sama tak merasakan sesak napas dan kesakitan lagi.


_______

__ADS_1


End


__ADS_2