Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Bercerita (2)


__ADS_3

Aku terus bertanya ke Esther. Dengan kejadian ini sampai lupa kalau hari ini puasa pertamaku.


"Keyla, tadi kamu berhenti di restauran kan? Apa kamu nggak puasa?" tanya Esther.


"Astagfirullah, aku tadi makan di ajakin keluarganya Dinar," ucapku sembari menepuk keningku.


"Hayo loh Keyla, batal puasa pertamamu," ucap Esther.


"Gara-gara teror ini aku panik sampai lupa kalau hari ini puasa, kok bisa bagaimana aku ini?" kataku.


"Tidak apa-apalah besok kan masih bisa, oh iya kamu jadi tanya cewek itu tidak?" tanya Esther.


"Jadi dong, buruan cerita, salah kamu sih tanya ke yang lain," jawabku.


"Memang benar, setan itu selalu disalahin, jadi kalian ketemu dia itu di pom bensin" ucap Esther.


Aku mendengar ucapan Esther seketika memikirkannya. Yang ku tahu kami bertemu di pom bensin itu sahabatnya Kak Andre.


"Sahabatnya Kak Andre," ucapku.


"Aku nggak tahu kalau itu, yang pasti kalian pasti tahu dia di sana," ucap Esther.


Aku berpikiran memberitahukan ke Kak Dita saat itu juga. Ku langkahkan kaki keluar kamar.


"Oh iya mereka istirahat," ucapku sembari menepuk keningku lagi.


Aku kembali ke kamar, ku rebahkan kembali tubuh di atas kasur sembari melihat Esther yang berada di atas lemari sembari mengayunkan kakinya secara bergantian.


"Esteh, itukan temannya Kak Andre, kenapa bisa sejahat itu sih sama Kak Dita yang jelas-jelas calon istrinya Kak Andre?" tanyaku penasaran.


"Enggak tahu juga aku kalau itu, masalah perasaan beda orang beda pendapat," ucap Esther.


"Setan itu bisa tahu perasaan orang nggak sih?" tanyaku.


Aku melihat Esther menepuk keningnya sebelum menjawab pertanyaan dariku


"Kenapa? Salah ya?" tanyaku lagi.


"Kamu kira aku setan sambil jadi paranormal, kok lama-lama aku gemes ya sama kamu, Key," ucap Esther terlihat kesal.


"Hehehe, aku nggak paham, makanya tanya," ucapku sembari tertawa.


Gara-gara dari tadi mendengar ucapan Esther, aku pun tidak jadi tidur. Dari pada bosan, aku memutuskan untuk mengambil buku gambarku.


"Esteh, aku mau gambar kamu, tapi coba aja itu rambutmu pendek pasti bagus deh hehe," ucapku.


"Nggak ada salon di dunia perhantuan," ucap Esther.


Aku mencoba mencorat-coret di atas buku gambar. Aku gambar Esther, kubuat rambut dia yang sebelumnya berkepang dua sengaja aku buat pendek seperti keinginanku.


"Keyla, yang cantik ya," ucap Esther sembari melihat ke arah buku gambarku.


"Setan aja minta cantik, suka-suka aku dong hahaha, mau ku buat kamu ada tanduknya," ucapku mengejek Esther.


"Jahatnya kamu ini," ucap Esther sembari cemberut.

__ADS_1


"Idiiih, baru kali ini setan ngambekkan," ucapku sembari tertawa terbahak-bahak.


Aku tetap menggambar walaupun Esther mengomel dari tadi, sudah tidak heran sama dia dari awal di cerewet dan sedikit sengklek.


Setelah gambarannya selesai, aku tunjukan ke arah dia. Walaupun gambaran tanganku tidak bagus, tapi paling enggak masih bisa kelihat bentuk oranglah.


"Esteh, lihat ini," ucapku sembari menunjukan ke arah dia.



"Wah, bagus juga," ucap dia mendekat ke gambar.


"Nggak jadilah kamu ngeledek aku, bagus nggak usah gambarkan?" tanyaku.


Aku dengan cepat menutup buku gambarnya. Segera aku simpan buku gambar di dalam laci meja belajar. Aku kembali melangkahkan kaki keluar kamar.


"Keyla, mau ke mana?" tanya Esther.


"Mau lihat Kak Dita," ucapku tetap melangkahkan kaki.


Aku keluar kamar, di depan televisi melihat Kak Dita sudah bangun sedang memainkan ponselnya. Aku hampiri dia, dengan niat hati ingin memberitahukan tentang cerita Esther.


"Kak Dita, sudah bangun?" tanyaku.


"Sudah Key, kamu tidak tidur?" Kak Dita balik bertanya.


"Enggak Kak, nggak bisa tidur," ucapku sembari duduk di samping Kak Dita.


Aku lihat Dinar dan Ibunya masih tidur. Saat itu ku urungkan niatku untuk bercerita karena masih ragu, jadi aku putuskan untuk menyalakan televisi.


"Loh Keyla, sudah bangun," sahut Ibunya Dinar yang juga ikut bangun.


"Iya Tante, istirahat saja kalau masih capek," ucapku.


"Iya Key," jawab Ibunya Dinar.


Aku beranjak dari tempat duduk, hendak pergi ke kamar Ibu.


Tok tok tok...


Aku mengetuk pintu kamar ibu.


"Aku masuk ya, Bu," ucapku.


"Iya," ucap Ibu dari dalam.


Aku masuk ke kamar Ibu, melihat beliau sedang merapikan baju-bajunya. Aku pun duduk di atas tempat tidur Ibu.


"Bu, repot? Aku mau cerita," tanyaku.


"Enggak kok, cerita aja Dek," jawab Ibu.


"Jadi gini Bu, si Esther tahu pelakunya yang neror tadi, tapi aku mau bilang ke keluarga Kak Dita nggak berani," ucapku.


"Loh gimana to Dek? Ya sudah Ibu antar sekarang," ucap Ibu sembari meletakkan sisa baju yang ditatanya tadi dia atas kasur.

__ADS_1


Aku mengekor di belakang Ibu. Kembali melihat keluarga Dinar sedang asik menonton televisi.


"Hai jeng, sudah bangun? Kalau mau mandi silakan biar tidak terasa capek lagi," ucap Ibu basa-basi.


"Oh iya, ini baru bangun jeng, mau mandi dulu kalau begitu," ucap Ibunya Dinar.


Ibunya Dinar berlalu pergi ke kamar mandi. Aku urungkan niatku bercerita sembari menunggu keluarga Dinar semua selesai mandi.


Setelah semua selesai dan berkumpul, ibu mulai mengawali obrolannya.


"Tadi si Keyla, katanya tahu siapa yang merornya tadi," ucap Ibu.


Sontak mereka melihat ke arahku. Seakan-akan mereka menyuruh untuk berbicara.


"Iya, jadi si Esteh mengikuti yang meneror kita tadi, bahkan dia tahu apa saja yang dia lakukan pas teror," ucapku.


"Esteh?" tanya Kak Dita.


Aku pun mengangguk.


"Jadi Esteh itu sebenarnya si Esther namanya, dia itu temannya Keyla yang tak terlihat Kak," sahut Dinar.


"Oh, gitu ya, lalu bagaimana?" tanya Ibunya Dinar.


Aku mulai bercerita yang di ketahui Esther. (Detail cerita baca part 60.Bercerita)


Mereka semua mendengarkan ceritaku, hingga Kak Dita di buat terkejut ketika mengetahui siapa pelakunya.


"Pelakunya itu sahabat Kak Andre," ucapku.


"Sahabat Andre kan Airin, dia kan tahu hubungan ini sudah lama," ucap Kak Dita.


"Terus maksud dia apa?" tanya Ibunya.


Kak Dita pun mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang. Sebelum dia memanggil aku menghentikannya.


"Kak Dita mau telepon siapa? Kalau mau telepon Kak Andre di urungkan dulu, mending kita cari bukti sekalian buat laporin dia ke polisi," usulku.


"Terus bagaimana kita cari buktinya? Kita keluar aja tidak berani, takut keluargamu kenapa-napa," ucap Dinar.


"Jangan hubungi Kak Andre dulu Kak, kalau Kak Andre ke sini dia ganti meneror rumah ini," ucapku.


"Yang bisa keluar rumah ini kan cuma aku dan Keyla mending nanti biar kami yang mengawasinya dan nanti aku bakal minta bantuan ke orang buat mengabadikan gambar kegiatannya," sahut Ibu.


Aku melihat ke Kak Dita, seperti dia memikirkan sesuatu hal tetapi tak mau mengungkapnya.


"Kenapa Kak?" tanyaku.


"Aku nggak habis pikir, selama ini dia selalu mensuport hubungan kami, dia saja kerja di luar negeri selama ini," jawab Kak Dita.


"Kita telusuri pelan-pelan biar semua pertanyaanmu terjawab Dita," ucap Ibunya.


Kami pun tetap mengobrol-ngobrol tentang siasat kami yang selanjutnya. Karena kami tidak ingin grusa-grusu membuat semuanya batal.


Bersambung....

__ADS_1


>>>Next Episode.


__ADS_2