
Perkenalkan namaku Keysa Nilam Arnetasya, Orang tuaku biasa memanggilku Sasa. Dengan kebiasaan orang tuaku sedari aku kecil memanggil dengan sebutan itu, sehingga semua orang di sekitarku pun mengikutinya.
Usiaku sekarang 16 tahun dan sekarang aku masih duduk di bangku SMA kelas 1. Aku adalah anak tunggal, dan kata orang tuaku anak kesayangannya.
Tetapi aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari mereka, karena bagi mereka kebahagiaanku dari kecukupan materi yang mereka berikan.
Memang semua yang aku inginkan selalu di berikannya. Aku ingin liburan kemanapun pasti di turutinya meski aku hanya bisa berangkat sendirian.
Sebenarnya yang aku ingin bukan itu, tetapi aku ingin kebersamaan dengan mereka.
Perkenalkan mamaku bernama Ayu Nilamsari, biasa di panggil Ayu. Beliau bekerja di salah satu perusahaan ternama, dan di sana mendapatkan bagian yang cukup penting. Maka dari itu, mamaku tidak akan pernah mau untuk resign dari pekerjaannya.
Papaku bernama Aditama Nugroho. Beliau memiliki perusahan sendiri dan memiliki beberapa usaha. Walaupun perusahaan papaku lebih besar tidak mengubah mamaku untuk pindah ke perusahaan papah.
Karena menurut mama, beliau berjuang untuk sampai ke bagian sekarang cukup lama dan susah.
Dengan kesibukan mereka, keseharian ku sedari kecil hanya di temani oleh asisten rumah tangga ini.
Hanya dia yang mengerti perasaanku. Namanya Bibi sumarsih biasa ku panggil Bi Asih, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri.
Hari ini, di rumahku terlihat ramai ada kedua orang tuaku, Pak Kyai, teman papaku beserta anak dan istrinya.
Kebetulan hari ini Bi Asih lagi tidak ada di rumah, beliau sedang pulang kampung dari seminggu yang lalu, karena anaknya sedang sakit.
Kata orang-orang di sekitarku, aku baru saja mengalami kesurupan dan lebih kejamnya lagi aku ingin membunuh papaku sendiri.
Entah aku tidak menyadari itu, yang aku tahu sepulangnya teman papaku yang tadi membantunya mengantarkan lukisan. Yang aku tahu, aku hanya tidur di kamarku, tiba-tiba setelah aku bangun, aku sudah berada di dapur dan rumah sudah berantakan.
Anak teman papaku bernama Keyla, hampir sama kan dengan namaku. Dan dia memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata.
Hari ini dia, bertanya apa aku bisa melihat mereka (Hantu) ? Aku tentu menjawabnya iya, karena memang aku bisa.
Ternyata kedua orang tuaku masih tidak mempercayainya. Memang aku sedari kecil melihatnya dan tidak jarang pula aku mengalami hal mistis, tetapi ketika aku mencoba bicara dengan kedua orang tuaku, aku dibilang hanya berhalusinasi.
Waktu aku masih kecil, aku hanya luapkan apa yang aku lihat dengan cara menggambar di buku ini. karena tak satupun orang yang akan mempercayaiku.
Aku mendapatkan buku ini, dari kakek-kakek yang aku temui di suatu rumah berbangunan kuno dan lumayan menyeramkan waktu aku pulang sekolah.
__ADS_1
Dia bilang, aku bisa berteman dan meluapkan apa saja di buku ini, entah aku senang, aku marah,sedih bahkan melihat hal yang mengerikan ya di buku ini.
Pernah ada, suatu kejadian yang membuat Papah ku murka dan ingin membuangnya, tetapi berhasil aku halangi.
Saat itu, aku pulang sekolah di ajak papah ku ke salah satu tempat usahanya, aku ingin memberitahu papah sesuatu yang aku lihat dengan ucapan ku, tetapi papah tak pernah mau mendengarkannya. Dan akhirnya aku menggambar di buku, aku ingin memberitahu papah bahwa di usahanya itu ada makhluk besar banget dan menyala seperti bara api.
Makhluk itu seakan ingin membakar dan melahap habis usaha papah itu, setelah selesai menggambar, aku berikan ke papa.
"Papa, lihat ini, ini yang aku lihat Pah," kataku sembari menunjukan lukisanku.
Aku di situ tidak hanya melihat makhluk itu tapi juga melihat usaha papaku ini hancur, habis terbakar. Papaku mengambil lukisanku.
Ketika beliau melihatnya, dia marah dan murka.
"Sasa, mau mu apa? Kamu mau usaha Papa bangkrut? Jangan mengada-ngada kamu," ucapnya sembari membuang buku itu.
Aku mendengarnya seketika menangis, aku hanya ingin memberitahu ayahku kenapa malah marah seperti ini.
Aku bergegas mengambil bukuku dan berlari ke arah jalan untuk mencari taxi.
Aku tak menghiraukannya terus berlalu menaiki taxi yang sudah aku berhentikan, Aku memasukinya. Dari kejauhan, aku melihat Papa mengejarku.
"Lebih cepat Pak, kita pergi ke jalan Anggrek berhenti di depan perumahan nomor empat belas," ucapku ke sopir taxi sembari air mataku terus menetes.
Hingga sudah tak terlihat papaku. Dalam hatiku terus berucap, "Papa jahat, Papa ga sayang aku," hatiku berucap seperti itu selama perjalanan menuju rumahku.
Sesampainya di depan rumahku, aku pencet bel yang berada di dekat pintu gerbang.
Ting tung... Ting tung.
Tak berselang lama Bi Asih keluar, untuk membukakan pintu gerbang.
"Mari masuk, Non," ucapnya.
Aku berjalan memasuki rumahku, Bibi pun menghampiri.
__ADS_1
"Non Sasa, kenapa?" tanya Bi Asih.
Aku hempaskan tubuhku di atas sofa ruang tamu, aku menangis sejadi-jadinya.
"Aku benci Papa Bi, aku benci mereka, mereka orang tua macam apa yang tak pernah mengerti anaknya hiks hiks," ucapku.
"Saya ambilkan minum dulu, Non," ucap Bi Asih lagi sembari berlalu pergi ke dapur.
Setelah itu, beliau memberikan airnya ke aku.
"Minum dulu, Non. Biar Non Sasa tenang, sebenarnya ada apa? Cerita ke Bibi saja," tanya Bi Asih.
"Aku ini anak siapa Bi? Apa aku anak pungut? Kenapa Papa dan Mamaku tak pernah menyayangiku?" kataku.
Bi Asih pun seketika memelukku untuk menenangkan.
"Non Sasa, orang tua Non sayang banget sama Non. Tetapi mereka hanya sibuk jadi tidak bisa berkumpul dengan Non Sasa," ucap Bi Asih mencoba menenangkan ku.
"Bukan hanya uang yang aku ingin Bi, aku ingin mereka ada buat aku, aku ingin mereka mendengarkan ucapan ku Bi," kataku.
"Ga ada artinya uang buat aku, kalau tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, yang mereka mengerti hanya uang, uang,uang," kataku lagi.
Bibi Asih mengelus kepalaku.
"Non yang sabar, kan ada Bi Asih buat Non, kalau Non pengen cerita monggo silakan," ucap Bi Asih.
Aku mendengar ucapan Bi Asih, sedikit membuat aku merasa tenang.
"Bi, jangan pulang ke jawa, nanti aku temannya siapa? Apa aku harus sakit parah dulu biar Papa dan Mama ada buat aku?" ucapku.
"Husst, ga boleh gitu Non, pamali kalau kata orang jawa kalau ada wali lewat dan ucapan Non ke dengar bakal kenyataan loh, gak boleh bilang kaya gitu," nasihat Bibi.
"Terus aku harus bagaimana Bi?" tanyaku.
"Non, sebaiknya istirahat dulu, ingat kata Bibi orang tua Non, sangat menyayangi Non hanya saja mereka tidak pernah menu menunjukan itu,"jawab Bibi.
"Dan Satu lagi, Bibi sangat sayang sama Non, seperti anak Bibi sendiri," kata Bibi Asih lagi.
Aku pun memandangi wajahnya yang kalem, aku lemparkan senyumanku. Beliau pun juga tersenyum sembari mengangguk.
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke kamarku. Aku dengan tubuh bergontai menaiki satu persatu anak tangga hingga sampai kamarku.
Sesampainya di kamar, ku rebahkan tubuhku di atas kasur masih mengenakan kaos kaki dan seragam yang lengkap, aku pejamkan mata dan terlelap dalam tidurku.