
Selepas sholat, aku memutuskan untuk memberanikan bertanya ke ibu perihal Kevin.
"Bu, Kak Kevin sudah bangun belum?" tanyaku.
"Kurang tahu, Dek. Soalnya belum lihat dia keluar kamar, memangnya kenapa?" ujar ibu.
Aku mengernyitkan dahi untuk mencari alasan yang tepat, untuk menjawab pertanyaan dari ibu.
"Ehm, kemarin katanya mau ngajak jalan-jalan selepas subuh. Tapi nggak tahu juga, sih," ujarku.
"Urungkan niatmu saja. Lihatlah kondisi Kevin, dia perlu istirahat untuk memulihkan tubuhnya," ujar ibu.
Namun ternyata ibu melarangku, sebab melihat kondisi Kevin yang sedang luka seperti ini. Aku hanya mampu mengiyakan perkataan ibu, walaupun sebenarnya pengen untuk melakukan seperti anjuran Kevin. Namun apa boleh buat, memang keadaan kita berdua sama-sama tak memungkinkan.
Setelah itu, aku hanya menonton televisi hingga terlihat matahari menembus tirai kamarku. Namun, tiba-tiba lamat-lamat terdengar suara riuh dari luar kamarku. Terdengar suara ayah yang sedang berada di sana.
Aku ingin melihat, namun bingung harus bingung harus berbuat apa. Sehingga aku memutuskan menggerakkan kakiku perlahan, aku berdiri dengan tumpuan pinggiran kasur. Dan apa yang terjadi? Aku mampu mampu berdiri dengan sendirinya. Perasaan bahagia mengalihkan pendengaranku
"Ibu, Ayah!" teriakku.
Dengan cepat kedua orang tuaku membuka pintu dan di belakangnya diikuti semua orang yang berada di rumah ini. Mereka terbelalak kala melihat aku mampu berdiri lagi.
"Bu, aku bisa berdiri," ujarku dengan posisi berdiri.
Ibu pun berlari ke arahku dan tentunya ayah juga melakukan hal yang sama.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Doa kita dikabulkan, Bu," ujar ayah, lalu beliau sujud syukur.
Terlihat senyum sumringah dari semua anggota keluargaku, kemudian terlihat Kevin masuk ke dalam kamarku juga.
"Keyla, kami bisa berdiri?" ujar Kevin nampak terkejut.
__ADS_1
Aku hanya melemparkan senyum sembari mengangguk. Setelah itu, ibu memegang pergelangan tanganku. Sedangkan ayah, berdiri di belakang untuk berjaga-jaga.
"Coba berjalan perlahan, Dek. Ibu yakin kamu bisa," ujar ibu memberikan semangat.
Awalnya ragu, namun aku bertekad untuk bisa berjalan kembali, sehingga aku mencoba berjalan. Langkah pertama memang terlihat susah, sebab kakiku bekum bisa untuk diangkat lebih tinggi. Aku mampu berjalan namun masih terasa terseret kakiku.
"Hari ini kita melakukan syukuran kecil-kecilan, untuk Keyla yang sudah mampu berjalan," ujar nenek.
"Benarkah, Bu? Alhamdulillah," ujar ibu ke nenek.
"Iya, Al. Kaliankan punya nazar, jika Keyla pulih akan melakukan syukuran. Nah, izinkan ibu lakukan itu demi cucuku," ujar nenek.
Ibu yang awalnya memegang tanganku, saat ini beliau berlari kembali ke nenek. Tiba-tiba ibu tersungkur dan mencium kaki nenek. Entah sebahagia apa yang dirasakan ibu, sehingga saat nenek mengucapkan itu, mengekspresikannya seperti mendapatkan hadiah luar biasa.
"Om, Tante. Terus Papaku bagaimana?" tanya Kevin.
"Astagfirullah, maaf sampai lupa. Kita harus meminta bantuan pihak kepolisian juga, sebab wanita itu sangat licik," ujar ayah sembari menyuruhku untuk kembali duduk.
"Yah, ada apa dengan Papanya Kevin?" tanyaku merasa penasaran.
"Papanya Kevin disekap Candra. Bahkan mengancam akan membunuhnya, jika seseorang tak mengakui yang membawa ponsel Kevin saat ini," jawab ayah.
"Astagfirullah, kejam banget. Papanya kok bisa ketangkap mereka bagaimana dan maksud ayah bagaimana kok aku bingung?" tanyaku lagi,
"Kita ke kantor polisi saja dulu. Nanti, bisa cerita kalau dijalan," ujar Kevin.
Kami pun mengiyakan ucapan Kevin. Aku kekeh untuk ikut, sebab merasa sumber masalah awalnya dari aku. Mula-mula tak ada satu pun orang mengizinkan, namun dengan paksaan akhirnya mereka semua mengizinkan walaupun dengan berat hati.
Kami pun bersiap-siap untuk segera berangkat. Aku, ayah dan ibu yang sengaja mengantar Kevin karena kami sudah terjun ke masalah ini terlampau jauh. Jadi harus siap untuk membantunya sampai masalah ini benar-benar tuntas.
Kami segera berangkat, saat di perjalanan Kevin menepati ucapannya akan bercerita. Kata dia, pagi-pagi buta papanya mengabarkan akan segera terbang ke Indonesia. Namun, saat sampai di bandara, tepatnya saat menunggu kendaraan datang dan secara bersamaan telepon Kevin, tiba-tiba papanya dibekap dua orang dan dibawa entah ke mana.
__ADS_1
Saat kejadian itu, telepon masih terhubung dengan Kevin. Dia tahu ada dua orang dan ini semua ulah Candra, sebab Papanya mungkin sudah berada di dalam mobil dan memberikan info itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan.
"Hahaha, selamat pagi sayang. Maaf, jadi ketahuan jahat deh, gara-gara anak bangs*at itu," terdengar suara Candra di telepon dari cerita Kevin.
"Maumu apa? Siapa dua orang ini?" sahut papanya kala itu.
"Nggak perlu tahu mereka siapa. Oh, iya sampai lupa. Anak yang kau banggakan saat ini sudah hangus terbakar. Coba saja kalau nggak buat gara-gara, mungkin masih kubiarkan hidup itu anak, walaupun udah berkali-kali aku mencoba membunuhnya dan gagal," ujar Candra.
Ternyata dari cerita Kevin, Candra belum mengetahui kalau Kevin masih hidup.
"Sial*an kau ini, maumu apa? Di mana Kevin sekarang?" tanya papanya Kevin, walaupun sebenarnya beliau sudah tahu kalau Kevin masih dalam keadaan hidup dan sehat walafiat.
"Ups, keceplosan sayang. Mungkin, Asih pembantumu itu juga sudah mati. Coba saja kalau dia mengakui kalau memang dia yang melaporkan kami ke pihak kepolisian, pasti tidak akan serumit ini. Dan kita bisa hidup bahagia tanpa pengganggu sayang," ujar Candra dengan tawa.
Sampai di situ, Kevin memutuskan untuk mematikan ponselnya karena dia tak ingin persembunyiannya diketahui wanita ular itu.
"Aku memutuskan untuk segera mengakhiri panggilan itu, namun aku belum tahu di mana Papaku berada," ujar Kevin.
"Lalu, kok Candra bisa menghubungimu jika dia tidak tahu kalau kamu hidup?" tanyaku terus menerus sebab penasaranku lebih tinggi.
Kevin menjawab, mungkin si Candra berpikir kalau polisi atau pun orang lain yang menemukan ponsel Kevin. Sebab Candra pun tak menyadari saat membuang Kevin, dia membawa ponsel. si Candra beberapa kali telepon, namun enggan dijawab oleh Kevin. Sehingga Candra mengirimkan pesan singkat berisi ancaman itu.
Aku melihat Kevin segera mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya, lalu diberikan kepadaku. Kemudian aku membacanya tetapi dalam bentuk screenshot, aku terkejut saat melihat itu.
"Kok screenshot?" tanyaku.
"Iya, si Candra segera menghapusnya sesaat aku membacanya. Namun, entah kenapa sebelum benar-benar di hapus, aku sudah berhasil screenshot bukti itu," ujar Kevin.
"Kamu siapa? Nggak mungkin kalau kamu Kevin? Jawab pesanku atau papanya Kevin akan mati saat ini juga!" isi pesan singkat yang berisikan ancaman.
Kata Kevin setelah membaca pesan itu, si Candra menghubunginya lagi. Tapi dia kesekian kalinya enggan menjawab, sebab takut dirinya terluka lagi dan bahkan lebih ditakutkan kalau sampai berani melukai keluargaku juga.
__ADS_1
Bersambung ....