Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Jalan-jalan


__ADS_3

Setelah berpamitan, kami semua bergegas menuju mobil untuk segera pulang. Dari kejauhan aku melihat Esther melambaikan tangan ke arahku.


Aku hanya mampu membalas dengan senyuman. Dalam batinku berkata, Esteh tenang-tenang di sana ya, jangan nyangkut mulu di lemariku.


Aku mulai memasuk mobil, dengan perlahan ayah mulai melajukan mobilnya. Aku tetap tersenyum, ternyata ibuku menyadarinya.


"Dek, kenapa senyum-senyum? Esther masih sama kamu?" tanya Ibu.


"Tidak Bu, semoga Esteh bahagia ya Bu, biar enggak nyangkut lagi di lemariku," jawabku.


"Ada-ada saja kamu, Dek," ucap Ibu.


***


Butuh waktu lama untuk sampai ke rumahku. Karena Kami beda kota dengan keluarga wijaya.


Sesampainya di rumah, aku segera memasuki kamarku. Aku baringkan tubuhku sebentar, sebelum aku mandi dan melaksanakan kewajibanku.


Malam itu, kami laksanakan salat tarawih pertama kami bersama-sama.


Sepulangnya dari masjid, sengaja kami bertiga, aku, ayah dan ibu berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi.


"Ayah, kata orang kalau lagi puasa setannya lagi di kurung ya?" tanyaku.


"Iya Dek," jawab Ayah.


"Ayah percaya?" tanyaku.


"Iya dong, Ayah percaya," jawab Ayah lagi.


"Bohong itu Yah," ucapku.


"Kok gitu?" sahut Ibu.


"Lihat itu," ucapku sembari menunjuk ke arah jendela, tetapi aku memalingkan wajahku.


"Apa Dek?" tanya Ayah.


"Ada yang menguap tuh di sana," ucapku sembari menunjuk ke arah jendela lagi.



"Kapan di kurungnya itu?" tanyaku lagi.


"Ya, tidak tahu, Dek," jawab Ayah.


"Aku mau tidur sajalah, malam Ayah, Ibu" ucapku.


Aku pun berlalu pergi menuju kamarku. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur, dan gak butuh waktu lama, aku pun tertidur.


***


Keesokan Hari....


Ini sahur pertama di bulan puasa tahun ini. Sahur puasa pertama terasa lengkap, karena ayah masih di rumah.


Tetapi hari ini, ayah harus kembali kerja karena beliau tidak ada libur untuk awal puasa.


Biasa, setelah sahur dan melaksanakan salat subuh aku tertidur kembali, hingga terasa ada orang yang berbisik di telingaku.


"Keyla, Keyla," suara bisikan itu.


Aku pun segera membuka mata, aku begitu terkejut melihat Esther berada di dekatku.

__ADS_1


"Esteeeeeeh, kamu kok enggak di kurung, pergi sana! Ganggu orang tidur saja," ucapku dengan nada kesal.


"Aku di sini saja sama kamu" ucapnya.


"Ogaaaah," ucapku.


"Jahat banget kamu," ucapnya.


"Puasa-puasa kok kamu gak di kurung sih?" tanyaku.


"Emang aku di kurung di mana?" dia mencoba berganti bertanya.


"Ya enggak tahu lah," jawabku singkat dan aku berlalu ke kamar mandi.


Dalam batinku bertanya-tanya, "Itu Esteh kok bisa sampai sini lagi?"


Aku tak mau memikirkannya, aku segera bergegas untuk mandi. Setelah itu seperti biasa, aku segera berangkat sekolah.


Di sekolah pun semua tampak seperti biasa, hanya saja suasana saat puasa yang membedakan. Anak-anak tampak letih dan lesu.


Saat istirahat tiba, aku dan teman-teman hanya duduk-duduk di dalam kelas. Tadi pada jam pelajaran sebelum istirahat, memberitahukan bahwa sekolah selama puasa diliburkan.


Sontak murid-murid bersorak tampak kegirangan.


"Kalau puasa begini, enaknya habis sahur kita jalan-jalan," ucap Dewi.


"Mau jalan-jalan bagaimana? Rumahmu aja di ujung kulon sana hahaha," ucapku.


"Nah betul itu, kalau si Selly dan Bella gitu masih lumayan dekat, kalau kamu perlu berjuang untuk datang menemui kami," sahut si Dinar.


"Ya nanti bisa diantar Mamaku dong," jawab Dewi.


"Ngrepotin Mama nanti, Wi," kataku.


"Terus mau bagaimana lagi? Rumahku jauh," ucap Dewi sembari cemberut.


"Oke, jam berapa?" tanya Bella.


"Jam setengah empat saja, kan sudah hampir subuh," Dewi memberi usulan.


"Oke-oke, besok ketemu di jalan masuk gang ya," kataku.


"Siap," keempat temanku menjawab secara bersamaan.


Hari itu aku lewati layaknya seperti biasa. Di rumah aku pun sudah memberitahukan ke ibuku perihal keinginanku dan teman-teman untuk jalan-jalan setelah sahur, dan ibuku mengizinkan.


***


Keesokan hari....


Ting tung....


terdengar suara bel rumahku.


"Itu paling Dinar, Bu," ucapku ke Ibu.


Aku dan ibu masih di ruang makan setelah sahur. Setelah mendengar bel rumah, aku segera berpamitan ke ibu untuk segera berangkat jalan-jalan.


"Berangkat dulu ya Bu, assalamualaikum," ucapku sembari menjabat tangan Ibu.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya, Nak," ucap Ibu.


"Iya Bu," jawabku sembari berlalu pergi.

__ADS_1


Aku mulai membuka pintu rumahku, dari kejauhan tampak Dinar di depan pintu pagar.


"Buruan Key," teriak Dinar.


"Iya, kok kamu jalan kaki?" tanyaku sembari menghampiri Dinar.


"Namanya jalan-jalan ya jalan kaki lah," ucap Dinar.


"Hehehe, iya-iya," ucapku.


Kami mulai melangkahkan kaki menuju jalan depan gang masuk ke perumahan ini. Setelah sampainya di sana kami harus menunggu kedatangan Selly, Bella dan Dewi.


Tak begitu lama, Selly dan Bella pun datang.


"Sepedahnya di taruh mana ini?" tanya Bella.


"Sana, taruh saja di depan emperan toko," jawab Dinar.


Tak berselang lama Dewi pun datang dengan diantar Mamanya.


"Hai, teman-teman," ucapnya.


"Hai," jawab kami berbarengan.


"Pagi, Tante," ucapku ke Mamanya Dewi.


"Pagi Key, nanti Dewi biar di rumah kamu saja ya, nanti biar Tante enak menjemputnya," kata Mamanya Dewi.


"Iya Tante," ucapku.


Mamanya Dewi pun berpamitan untuk pulang, sedangkan kami semua mulai berjalan berkeliling kampung.


"Enaknya jalan pagi-pagi, udaranya segar banget," ucap Selly.


"Ketahuan kalau kerjaannya molor terus," sahut Dewi.


"Hehehe, sedikit," jawab Selly sembari tertawa.


Sepanjang jalan kami cerita-cerita, di jalanan tampak ramai orang berlalu lalang. Puasa kali ini terlihat ramai.


"Ramai banget ya jalanan, kali ini kayanya orang-orang banyak berantusias untuk jalan-jalan pagi setelah sahur," ucapku.


"Kayanya bukan orang-orang yang berantusias deh, tetapi kita yang baru berantusias punya pikiran untuk jalan hahaha," sahut Dinar sembari tertawa terbahak-bahak.


"Kita jalan kemana ini?" tanya Dewi.


"Ke gang depan nanti," ucap Bella.


"Eh, itu bukannya ada rumor soal sekolahan TK yang angker itu?" tanya Selly.


"Tenang, ada temannya setan di sini hehe," jawab Dewi.


"Oh iya, suka lupa," jawab Dinar.


"Lah, yang kalian maksud temannya setan, aku?" tanyaku.


"Siapa lagi," jawab Dewi.


"Kejamnya kalian, berarti kalian temanku juga termasuk setan dong hahahaha," ucapku sembari tertawa terbahak-bahak.


Kami tak henti-hentinya untuk terus tertawa di sepanjang jalan. Kami semakin dekat dengan gang yang dimaksud teman-temanku.


Di gang ini terlihat tidak terlalu ramai seperti jalan utama. Ini yang membuat kami merasa rada takut untuk melanjutkan perjalanan kami.

__ADS_1


Apalagi mengingat adanya rumor soal sekolahan TK yang penunggunya suka mengganggu. Walaupun sekolahan itu setiap harinya masih terpakai sampai saat ini.


>>Next Episode


__ADS_2