Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Seutas tali (3)


__ADS_3

"Jawab aku, Pa!" Mama Kevin membentak.


"Iya, karena dia pewaris hartaku satu-satunya!" jawab Papa Kevin.


Wanita itu menyeringai sembari menatap ke arah Kevin yang sudah terkulai lemah.


"Bi." teriak Mama Kevin.


Dari kejauhan aku melihat wanita paruh baya berlari menuju ke arah kami.


"Iya, Nyonya," jawabnya.


"Bawa anak ini ke kamar, nanti biar di bantu Pak Joko," ucap Mama Kevin sembari berlalu pergi.


"Baik, Nyonya," jawab pak sopir.


Asisten rumah tangga dan sopir pun melaksanakan perintah majikannya. Mereka memapah Kevin menuju lantai atas, sedangkan aku melihat papa dan Mama Kevin yang berada di ruang tamu ini.


Mama Kevin memperlihatkan wajah sinis ke suaminya yang sedang berdiri. Lalu mereka berdua duduk di sofa yang sama secara bersamaan. Mama Kevin menghadap membelakangi suaminya itu.


"Maunya Mama gimana?" tanya Papa Kevin dengan suara lembut.


"Ikutkan anak itu ke Mamanya, kenapa harus ikut kita?" jawab Mama Kevin dengan ketus.


Papa Kevin tak langsung menjawabnya, beliau yang awalnya memperhatikan istrinya, saat ini mengalihkan pandangan ke lantai. Beliau menunduk, suasana kembali hening ketika mereka berdua sama-sama enggan berbicara.


Aku yang melihatnya, terlintas banyak pertanyaan di otakku. Entah saat ini yang aku sadari bahwa wanita ini adalah mama sambung dari kevin. Beliau menunjukan rasa tak sukanya kepada Kevin, lalu kenapa papanya hanya diam saja?


"Kenapa diam?" wanita itu kembali berkata dengan ketus terhadap suaminya.


"Aku capek! Malas debat sama kamu. Asal kamu tahu aku nggak akan pernah menyuruh Kevin pergi dari rumah ini sampai kapan pun," ucap papa Kevin sembari berlalu pergi.


Wanita yang di sebut mama oleh Kevin itu hanya mendengus kesal. Aku yang menyadari perihal Kevin, memutuskan untuk pergi kelantai atas. Sesampainya di kamar Kevin, aku melihat Pak sopir dan bibi sedang duduk di samping Kevin terbaring.


Mereka meneteskan air mata, di dalam kamar ini hanya terdengar isak tangis dari mereka berdua.


"Pak, aku ambil air hangat untuk menyeka Den Kevin," ucap bibi sembari beranjak dari tempat ia duduk.


"Iya, Bu," jawab Pak Joko si sopir.


Bibi pun berlalu meninggalkan mereka berdua, Pak Joko dengan lembut mengelus kepala Kevin.


"Den, kamu yang sabar. Mungkin kamu tidak akan kehilangan kebahagiaan kamu, jika wanita itu tidak merusak semuanya," ujar Pak Joko.


Tak begitu lama, pintu yang awalnya tertutup sepeninggalnya bibi, kini kembali terbuka. Di balik pintu itu, terlihat bibi menenteng baskom, mungkin terisi air hangat di dalamnya.

__ADS_1


"Pak, tolong lepas bajunya Den Kevin. Aku ambil baju ganti untuknya," ujar bibi.


Pak Joko tanpa menjawab bergegas melakukan perintah bibi. Walaupun dengan sulit Pak Joko melepas kaos yang di kenakan Kevin, beliau tetap dengan sabar dan tlaten melepasnya. Bibi dengan membawa kaos dan celana boxer jalan menghampiri, lalu beliau memberikan baju itu ke Pak Joko.


"Pak, ini pakaian Den Kevin. Tolong kamu gantiin celananya ya, nanti kalau sudah biar aku yang menyeka badannya," ujar bibi.


"Iya, Bu. Tolong buatkan susu dan makanan, kan sedari sore belum makan," ujar Pak Joko dengan penuh perhatian.


Bibi hanya mengangguk, lalu kembali pergi keluar kamar. Beliau tak lupa untuk kembali menutup pintu. Saat bibi menutup pintu, dari arah luar aku mendengar suara orang saling bertukar perkataan.


Seiring dengan hilangnya suara, aku melihat pintu kembali terbuka, namun bukan bibi yang masuk melainkan si mamanya.


"Pak, ngapain ngurusin anak ini," ucap Mama Kevin dengan nada ketus.


"Tapi, Nyonya ... kasian Den Kevin, izinkan kami untuk mengganti pakaiannya," pinta Pak Joko dengan memelas.


"Tidak perlu! Biarkan anak tak berguna ini, kamu pergi keluar!" perintah Mama Kevin dengan nada tinggi.


Pak Joko pun berlalu, beliau menuruti perintah yang diucapkan majikannya. Pintu kembali tertutup, lalu wanita ini berjalan ke arah Kevin yang sedang berbaring.


Dia ambil ember yang berisi air di meja dekat kasur, lalu menyiramkan air itu tepat di wajah Kevin. Aku yang melihatnya sontak geram dengan perlakuan wanita ini.


"Eh, mak lampir." Cecarku.


"Mau mu apa? Jal*ang!" hardik Kevin ke wanita itu.


Aku mendengar perkataan Kevin sangat tidak sopan ke Mamanya, lebih tepatnya tidak pantas diucapkan walaupun hanya mama tiri.


Plakk!


Tamparan keras mendarat ke pipi kanan Kevin.


Saat itu juga, tangan kevin dengan spontan memegangi bekas tamparan itu. Mata Kevin yang awalnya sayu, kini terbuka lebar dengan bola mata seolah-olah ingin keluar dari tempatnya.


"Bangs*at!" umpat Kevin.


Wanita itu dengan mata yang melotot menambah aura sinis di wajahnya kian kental.


Plakk!


Tamparan kedua pun kembali mendarat di pipi yang sama.


"Jaga ucapanmu! Kamu tak pantas tinggal di rumah ini, pergi!" ujar wanita itu dengan marah.


"Hahahaha, hei wanita jal*ang. Kamu siapa berani-beraninya menyuruhku pergi dari rumah ini!" ucap Kevin dengan nada tinggi.

__ADS_1


Malam ini, suasana yang begitu hening berubah menjadi riuh karena pertengkaran mereka. Saling sahut menyahut tak ada yang mau mengalah, hingga pintu kamar Kevin kembali terbuka. Terlihat papa dan kedua orang yaitu bibi dan Pak Joko yang berada di belakang papa Kevin.


"Apa-apaan ini? Tak tahu waktu kalian berdua. Lihat, jam sudah menunjukan tengah malam, bisa tidak sih sekali saja untuk tidak berdebat," ujar Papa Kevin dengan nada tinggi.


Wanita itu menyunggingkan senyuman setengah bibirnya. Mata yang melirik memalingkan pandangan ketempat lain, kembali terlihat wajah sinis si wanita ini.


"Anak macam ini kok dibanggakan, enggak salah?" ucap wanita ini terdengar mengejek.


"Kamu ...." ucap Kevin dengan geram dan ucapan yang menggantung, sembari mengepalkan tangan dan diacungkan ke wanita ini.


Wanita itu dengan santai malah mendekatkan wajahnya ke tangan Kevin. Wanita itu tampak mempersilahkan si Kevin untuk memukulnya. Tetapi Kevin menghempaskan tangan itu, dia urungkan niat untuk memukul wanita ini.


"Kevin di DO dari kampusnya," ujar wanita itu.


Aku melihat ekspresi wajah terkejut di papanya.


"Apa itu benar, Kevin?" tanya Papa Kevin dengan tegas.


"Ya," jawab Kevin dengan singkat.


Wanita itu tersenyum.


"Bi, ambilkan kertas di atas meja sebelah televisi ya!" perintah Mama Kevin ini.


Bibi membungkukkan badan sembari berkata, "Baik, Nyonya."


Setelah itu, bibi pergi keluar kamar. Tinggal kami berlima di ruangan ini, tetapi tetap sama aku tak terlihat. Aku hanya bayangan semu di ruangan ini.


"Maksud kamu, apa? Kenapa sampai bisa di keluarkan?" tanya Papa Kevin.


"Malas, Pa. Aku nggak suka dengan jurusannya, bukan yang aku ingin," jawab Kevin dengan santai.


Wajah Papa Kevin mulai memerah, tampak beliau sedang menahan amarahnya. Lalu, Apa Kevin menarik napas panjangnya.


"Oke. Kamu pindah sekolah ke luar negeri saja, pilih sesuai bidang yang kamu inginkan," ucap Papa Kevin.


"Nggak!" jawab Kevin dengan cepat.


Tangan Papa Kevin terlihat mengepal di samping badannya. Mungkin amarah yang sudah tidak dapat dibendung lagi di benak Papa Kevin saat ini.


"Aku tetap kuliah di sini, aku tak ingin wanita ular ini menguras harta Papa," ujar Kevin sembari menatap ke arah mamanya itu.


Di saat ucapan Kevin itu, bibi kembali sembari memberikan kertas ke Papa Kevin. Papanya membaca dengan seksama isi kertas itu. Bibi sengaja berdiri di samping Kevin, seolah-olah beliau ingin melindungi Kevin ketika papanya gelap mata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2