Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Seutas tali (2)


__ADS_3

Kevin berteriak sembari mengetuk dengan keras setir mobil. Lalu terdengar dering dari ponselnya. Dia bergegas mengambil ponsel yang sedari tadi berada di saku celana.


"Iya, ada apa?" tanya dia ke orang yang berada di seberang telepon.


Dia terlihat mendengar ucapan orang yang berada di seberang.


"Ketemu besok saja, aku males," ucapnya sembari mematikan teleponnya.


Dia meletakkan ponselnya di dashboard mobil. Setelah itu, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lagi. Aku yang merasa ketakutan pun menutup mata.


"Ya Allah, ni orang turunannya nyamuk kali ya, cepat banget mengendarainya. Ya kali aku di mimpi mati lagi," ucapku dengan ketakutan.


Kalau bisa menyentuh si Kevin, mungkin pertama kali yang aku lakukan adalah menoyor kepalanya. Tak begitu jauh dari tempat tadi, mobil ini kembali berhenti. Aku kembali membuka mataku, pertama kali yang aku lihat adalah tulisan besar di papan yang berada di atas bangunan itu.


"Diskotik?" aku bertanya-tanya.


"Eh, bang. Diskotik apaan?" aku mencoba bertanya lagi.


Kevin beranjak keluar dari dalam mobil. Aku pun mengikuti dengan cara menembus pintu mobil ini.


"Wiih, keren. Aku bisa menembus pintu kaya casper," ucapku sembari tertawa.


Dengan tingkah konyolku, sampai aku lupa tujuan pertama untuk mengikuti kevin. Aku dengan senangnya menembus pintu mobil berulang kali. Ketika aku tersadar, dengan segera aku hendak masuk ke dalam bangunan ini. Tapi saat berasa di dekat pintu masuk, aku kembali berhenti.


Bangunan yang tidak terlalu besar, suara musik yang keras, lampu remang-remang membuat aku terasa enggan memasuki bangunan ini. Orang yang terlihat penuh, semakin menambah semakin sesak ruangan di dalamnya.


Banyak wanita berpakaian minim di kala udara sedingin ini. Di peluk pria ke sana dan kemari, mereka hanya tertawa.


"Masuk angin nanti, Mbak," celetukku ketika berada di depan satu perempuan.


Parasnya yang cantik, putih, tinggi semampai membuat dia banyak di kerumuni laki-laki hidung belang di sini.


"Mbak, ingat Allah maha melihat. Dosa, sana pulang," ujarku.


Lalu aku melewati perempuan itu, untuk segera masuk ke dalam mencari Kevin. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ku temui. Pandanganku yang terbatas, karena penerangan hanya menggunakan lampu kerlap-kerlip saja.


Di dalam ruangan ini terlihat penuh, orang yang berjoget dengan rasa tak punya malu. Mereka di kerumuni banyak orang. Aku sebagai wanita merasa malu melihat kelakuan wanita yang lainnya.


Mereka menampakkan auratnya ke lelaki yang bukan muhrimnya. Pakaian yang mereka kenakan terlalu terbuka. Rok mini panjangnya yang hanya menutupi setengah pahanya, baju yang layak di pakai anak kecil pun di kenakan.

__ADS_1


Pusar terlihat dengan jelas, bahkan belahan dada mereka pun tampak.


"Ya Allah, ampuni aku yang melihat ini semua. Kak Kevin ke mana lagi itu orang," ujarku.


Aku kembali mencari Kevin, terlihat di ujung ruangan ini, dia duduk di sofa. Botol minuman berdiri tegak di mejanya.


Aku mencoba menghampirinya, aku melihat apa yang sedang ia lakukan. Ketika aku berada di dekatnya, dengan santainya dia menenggak minuman yang ada di botol itu.


"Minum apa sih?" aku bertanya-tanya.


Aku membaca tulisan yang ada dalam botol itu, aku tahu ini minuman keras, minuman beralkohol.


"Eh, Kakak ini ganteng-ganteng sia-siain hidupnya. Nggak takut apa, mati dalam keadaan maksiat?" ucapku ketus.


Tapi sayang ucapanku tak bakal di dengarnya. Kala dia sedang asyik menenggak minuman itu, terlihat ponsel yang diletakkan di meja sedang berdering.


Aku melihat nama yang tertera di ponsel itu, di belakang nama itu tampak foto seorang wanita cantik, berambut sebahu dan putih.


"Devi? Cantiknya, ini pacarmu, Kak?" aku sontak bertanya kala melihatnya.


"Eh, iya lupa, aku nggak bakalan kedengaran ya," ucapku sembari menutup mulutku.


"Bregs*ek, pulang!" ucap pria itu.


Seketika Kevin dan pria itu menjadi fokus perhatian orang yang berada di sini. Kevin menghempaskan pegangan orang itu.


"Lepas, kau tak berhak mengatur hidupku," ucap kevin dengan suara melantur.


Pria itu tetap kekeh menarik tangan Kevin, hingga ia berdiri. Lalu, di lemparkan uang di atas meja mungkin untuk membayar minuman yang sudah di minum Kevin.


Pria itu menggandeng Kevin hingga keluar ruangan ini. Sesampainya di luar, dengan tega Kevin kembali menghempaskan tangan dan mendorong pria itu.


Pria itu terjatuh, tersungkur ke tanah. Kemeja pria itu yang awalnya terlihat bersih, kini kotor dengan tanah.


"Anak sialan! Pulang!" teriak itu dengan nada tinggi.


"Papa yang pulang, pergi ke wanita jal*ang itu lagi, hahaha," ucap kevin sembari tertawa.


Dari sini aku kembali mengetahui bahwa pria itu adalah papanya. Papanya dengan paksa memasukkan Kevin ke mobilnya dengan di bantu seorang sopir milik papanya.

__ADS_1


"Pak, antar si Kevin pulang. Saya akan kendarai mobilnya!" perintah Papa Kevin.


"Baik, Tuan," jawab sopir.


Aku ikut masuk ke dalam mobil yang ada Kevin di dalamnya. Aku melihat Kevin memejamkan mata, mungkin saat ini akan terlelap dalam tidurnya.


"Kak Kevin, Kak Kevin. Ganteng-ganteng suka sia-siain hidup, pengen getok kepalamu rasanya," ucapku.


Aku melihat sopir yang sesekali menoleh ke arah Kevin.


"Den, kasian kamu. Semenjak kejadian itu, kamu jadi berubah jadi anak badung seperti ini," ucap sopir.


Aku bingung dengan ucapan pak sopir, sehingga saat ini aku menyimpulkan kalau Kevin dulunya anak yang baik. Tapi semenjak kejadian yang menimpanya membuat dia berubah menjadi seperti ini.


Aku semakin penasaran dengan si Kevin ini. Bagiku banyak teka-teki dalam hidupnya. Apa penyebab dia berubah, papanya atau mungkin mamanya? Atau bisa jadi si Devi yang menelponnya tadi.


Entah berapa banyak pertanyaan yang tersirat di pikiranku. Tak begitu lama, kami sampai di depan rumahnya. Pak sopir dengan sabar memapah Kevin berjalan untuk memasuki rumah, terlihat di depan pintu wanita yang di sebut mama olehnya.


Dari kejauhan terdengar suara mobil mendekat, mungkin mobil yang dikendarai papanya tadi.


"Kenapa Kevin, Pak?" tanya mamanya.


"Den Kevin, mabuk nyonya," jawab sopir.


"Anak wanita tak berpendidikan ya gini, tak tau di untung!" hardik mamanya.


Kembali pertanyaan terbesit di otakku.


"Lah, Kak Kevin bukan anak wanita ini dong?" tanyaku.


Pak Sopir tetap memapahnya masuk ke dalam rumah, lalu di letakkan di sofa ruang tamu rumah ini. Dari belakang papanya pun menghampiri.


Wajah sinis wanita itu diperlihatkan ke suaminya.


"Ini anak yang kamu banggakan?" tanya wanita itu dengan nada tinggi.


Papa Kevin hanya menatap wanita itu tanpa menjawabnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2