
Hari pertama ujian akhir sekolah, cukup rumit sebab semalam tak cukup untukku belajar. Apalagi, ditambah bangun kesiangan dan tak baca ulang pelajaran hari ini. Aku sedikit kesusahan untu hari pertama. Bel ujian akhir telah berbunyi, perasaan lega terasa.
"Huft, akhirnya," ujarku sembari menyenderkan tubuh ke kursi.
"Ujian pertama, langsung matematika. Uh, rasanya, puyeng banget," sahut Dewi.
"Sudahlah, pulang dulu. Ada janji, bye." Kulangkahkan kaki meninggalkan teman-temanku.
Aku berjalan cepat menuju parkiran, tentunya di susul teman-temanku yang lain.
"Mau ke mana?" tanya Selly.
Aku menoleh, sembari tersenyum tanpa menjawab pertanyaan mereka.
"Din, janjian sama siapa? Ikut, ya!" teriak Dewi.
"Nggak! Nggak usah ikut," ujarku, sembari mengayuh sepeda meninggalkan mereka.
Dari kejauhan terlihat Dandi sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Aku menghampirinya.
"Hai, maaf nunggu lama, ya?" tanyaku.
Dandi tersenyum sembari berkata, "Enggak, kok. Ini baru sampai."
"Ayo, kita ke mana?" tanyaku, terasa canggung. Jantungku terasa berdegup lebih kencang. Mungkin baru pertama kalinya dekat dan bareng sama cowok, jadi hal lumrah merasa seperti ini.
"A-aku, ikut kamu saja." Dandi menaiki sepedanya.
Sedangkan aku, bergegas mengayuh sepeda dan Dandi berjalan sejajar denganku. Sesekali kami saling bertatap mata, walaupun tak ada satu patah kata apapun keluar dari mulut kami.
"Kok kita jadi diam-diaman gini, ya," ujar Dandi sembari menggaruk kepalanya.
"Oh, iya. Bagaimana sekolahmu?" tanyaku dengan canggung.
"Hehehe, cukup sulit. Kan jadwal kita sama, matematika ya, kan? Oh iya, maaf ya soal tadi pagi. Aku buru-buru, sampai nggak melihat," ujar Dandi.
"Hehehe, iya nggak apa-apa." Dinar menjawab dengan malu-malu.
__ADS_1
Sorot mata Dandi membuat Dinar serasa terbang melayang. Dalam hatinya, 'Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini. Kenapa ini?'
Tanpa sengaja, Dinar menatap Dandi dengan sorot mata yang tajam. Senyum Dandi membuat Dinar terpesona dengannya.
"Hei, kenapa?" tanya Dandi sembari menepuk bahu Dinar.
Dinar terbelalak, lalu menjawab, "Eh, nggak apa-apa, kok. Kamu nggak pulang? Mau ikut ke rumahku? Belajar bareng?" tanya Dinar.
Dandi lagi-lagi tersenyum sembari menganggukkan kepala. Tak berselang lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah Dinar.
"Mari masuk," ajak Dinar kala masuk area halaman rumahnya.
"Ini rumah kamu? Nggak jauh juga dari rumah nenekku," ujar Dandi.
"Oh, iyakah? Memangnya di mana?" tanya Dinar.
"Perempatan jalan besar masih lurus, sih. Kapan-kapan aku ajak ke sana. Aku di sini sama Nenekku, soalnya kedua orang tuaku di kota," ujar Dandi, sembari mengekor dibelakang Dinar.
*****
Dandi di sini tinggal bersama neneknya. Sedangkan kedua orang tuanya berada di lain kota dengannya. Saat Dandi berusia lima tahun, kedua orang tuanya sengaja membawa dia ke sini. Dia tak tahu alasan yang mendasari kedua orang tuanya menelantarkan dia di desa. Jarang dikunjungi dan diberi kabar. Dandi selama sekolah di sini, sepeser pun tak pernah dibiayai kedua orang tuanya melainkan uang neneknya.
****
"Silakan, duduk. Aku ganti baju dulu," ujar Dinar.
Saat Dandi duduk sendiri dan Dinar berjalan menuju kamarnya, saat itu juga Kak Dita datang menghampiri
"Eh, ada tamu. Dinarnya ke mana? Kok ditinggal sendirian?" tanya Kak Dita.
"Katanya masih ganti baju. Aku Dandi, Kak." Dandi menjabat tangan Kak Dita.
"Aku Dita, Kakaknya Dinar. Kamu bukan teman sekolahnya Dinar, kan? Soalnya seragamnya beda," ujar Kak Dita.
Dinar pun datang dan menyahut ucapan Kakaknya.
"Bukan, dia beda sekolah. Tadi pagi kita nggak sengaja tabrakan waktu di persimpangan jalan. Sekalian aja, aku ajak main ke sini. Anggap aja, tanda maaf dariku," ujar Dinar, sembari menenteng buku.
__ADS_1
Kak Dita pun berjalan hendak ke dapur.
"Saya buatkan minum dulu, tunggu ya," ujar Kak Dita.
"Nggak perlu repot-repot, Kak," jawab Dandi.
Saat Kak Dita berjalan bersimpangan dengan Dinar, Kak Dita menatap Dinar dengan lekat.
"Cie, pacaran. Aku aduin ke Mama," ejek Kak Dita dengan lirih.
Dinar cemberut sembari menahan ingin membalas kakaknya. "Awas aja, Kak. Nggak mau beliin seblak di depan."
Dinar pun menghampiri Dandi dengan senyum malu-malu.
"Ma-maaf, ya. Kakakku memang rada resek," ujar Dinar sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Dinar.
"Enggak apa-apa, kok. Rame ya, kalau ada temennya di rumah. Sayangnya, aku hanya sama Nenekku aja," ujar Dandi sembari tersenyum terpaksa.
"Orang tuamu?" tanya Dinar yang tak tahu seluk beluk keluarga Dandi sebelumnya.
"Di kota, Nenekku single mom. Kakekku sudah Meninggal kala Papaku masih sekolah," jelas Dandi.
"Maaf, ya," ujar Dinar, saat itu bersamaan dengan Kak Dita memberikan minuman dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Nggak apa-apa, kok," ujar Dandi. Dia pun memutuskan untuk bercerita tentang keluarganya ke Dinar. Dia juga tak paham, entah kenapa dia merasa percaya dengan Dinar. Dia yakin, jika orang yang berada di hadapannya akan menjaga segala hal yang ia ucapkan saat ini. Selama ini, Dandi sosok pribadi yang pendiam. Dia enggan berinteraksi dengan orang lain. Dia memilih memendam segala masalah dalam hidupnya sendirian. Namun, dia tak mengerti entah kenapa dia baru kali ini mengatakan kepada orang hang baru ia kenal.
"Yang sabar, ya. Kalau kamu mau main ke sini lagi, boleh, kok. Kita bertemankan sekarang?" ujar Dinar.
"Makasih, ya. Kamu sudah mau mendengar ceritaku. Eh, kenapa aku jadi cengeng. Malu tahu," ujar Dandi.
"Dandi, nggak apa-apa, kok. wajarlah kalau kita punya rasa sedih, kita itu hanya sebatas manusia. Biasa sedih, senang dengan tiba-tiba. Kalau mau cerita, silahkan. Dengan senang hati aku mendengarkanmu. Oh iya, minum dulu. Sampai lupa," ujar Dinar.
"Eh, makasih. Jadi ngerepotin, maaf soal tadi ya. Aku meleng malah nabrak kamu," ujar Dandi.
"Hallah, aku pun sama. Bangun kesiangan ditambah lagi makan waktu di jalan. Hahaha," Dinar tertawa terbahak-bahak.
Dandi tersenyum kala melihat Dinar bisa tertawa lepas. Dia tak menyangka, mendapatkan teman baru yang terlihat asik. Batin Dandi, 'Apa aku selama ini terlalu asik dengan duniaku, hingga tak menyadari di luaran masih orang yang baik dan peduli terhadapku. Baru kali ini, aku mendapatkan teman yang mengerti aku.'
__ADS_1
Bersambung ....