
"Loh, Dedek ada di situ? Sejak kapan? Kenapa nggak ikut gabung?" tanya ayah.
Aku menatap tajam ke mereka satu persatu. Aku merasa di anggap tidak penting sehingga harus diomongin di belakangku.
"Kenapa dengan aku? Apa yang harus di buka lagi? Kenapa nggak langsung ngomong saja ke aku yang bersangkutan? Kenapa harus di belakang?" ucapku penuh pertanyaan.
Nenek menghampiriku, kemudian diikuti ayah dan ibu yang mengekor di belakangnya.
"Bukannya nggak mau ngajak ngomong, tadi kebetulankan kamu pas masih di depan dan Ibu, ayahmu berada di sini," alasan nenek.
"Tapi kenapa nggak bicara waktu ada aku saja?" tanyaku lagi.
Ibu mendorong kursi rodaku, sebelum yang lain menjawabnya.
"Kita jalan-jalan yuk, Dek. Cari udara segar di luar," ibu mengalihkan pembicaraanku.
Aku enggan menjawab ucapan ibu, aku sedikit merasa kecewa. Beliau tetap sabar mengajakku bicara walaupun tanpa respon dariku.
Ibu mengajakku keluar, saat ini berjalan di jalan depan rumah nenek, tepat sebelum jalan terlihat orang bergerombol di sana. Kebanyakan kaum ibu dan anak-anaknya.
"Ada apa, Bu?" tanyaku.
Sebelumnya saat aku berkunjung ke sini tak pernah tahu, jika ada aktivitas di ujung jalan yang tak jauh dari rumah nenek.
"Itu ibu-ibu sedang belanja, Dek. Kan tiap pagi ada di sana," jawab ibu.
"Kok aku nggak pernah tahu, Bu? Baru, ya?" tanyaku lagi.
"Enggak, Dek. Sudah lama, kan tiap kamu ke sini nggak pernah jalan sepagi ini," jawab ibu.
"Loh, kan aku biasanya matahari terbit jalan-jalan sama Jeje, bu. Tapi nggak pernah lihat," ujarku, sembari semakin dekat dengan kerumunan orang belanja.
Ibu tersenyum sembari mengelus kepalaku.
"Yang jual kalau matahari terbit udah pindah ke tempat lain, Dek. Kan pedagangnya aslinya dari kampung sebelah," ujar ibu.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku tanda mengerti. Kami pun sampai di tempat kami akan belanja, ibu-ibu yang ngerumpi dan mengambil sayuran yang akan di beli.
"Nanti tanya aja deh ke wulan, Tantenya jadi aneh," ujar salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
__ADS_1
"Pagi, Bu. Mau masak apa ini?" tanya ibu mencoba ramah ke mereka.
Mereka menoleh dan menatapku dari ujung kepala hingga kaki.
"Eh, Alifia. Sudah sembuh anaknya, kapan pulang dari rumah sakit?" tanya salah satu dari mereka.
Ibu tersenyum ke mereka sebelum menjawabnya.
"Alhamdulillah, kemarin baru pulang," jawab ibu sembari memilih sayuran yang akan di masak.
"Lama ya, Mbak. Satu bulan lebih ya, habis berapa duit, Mbak?" tanya salah satu ibu-ibu yang lainnya.
Dalam hatiku berkata, 'Ya Allah ini orang, kok telisik banget sih.' Sebelum ibu menjawabnya, tiba-tiba ada seorang gadis, mungkin berusia dua puluh tahunan. Dia datang menghampiri, mungkin hendak berbelanja.
"Eh, Wulan. Si Rasni beneran sikapnya berbeda sejak Anton meninggal?" telisik salah satu dari mereka.
"Iya, Bu. Dia tetap menganggap Om Anton belum meninggal, bahkan saya sering mendengarnya bicara sendiri di kamarnya," jawan Kak Wulan.
Ibu terkejut mendengar ucapan Kak Wulan.
"Inalillahi waina ilaihi rojiun, Anton meninggal?" tanya ibu.
Ibu mengelus dadanya.
"Astagfirullah, Mbak Alif ikut berduka ya wulan," ujar ibu sembari mengelus pundak Kak Wulan.
Kak Wulan tersenyum menanggapinya.
"Eh Al, Anton dulu temanmu sekolah, ya?" tanya satu ibu-ibu.
"Iya, dia satu sekolahan sama aku dari SD hingga SMP. Kalau SMA beda sekolahan," jawab ibu.
Masih banyak pertanyaan yang mereka lontarkan ke Mbak Wulan. Denger dari ceritanya, kalau yang bernama Mbak Rasni itu semenjak suaminya meninggal jadi nggak pernah keluar rumah atau pun ngobrol dengan orang lain.
Dia saat selepas ashar suka duduk sendirian di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon asem yang besar hingga hampir magrib. Setelah itu apa yang dilakukan Mbak Wulan tidak tahu, sebab menjelang magrib hingga selesai isya Mbak Wulan mengajar ngaji di masjid.
Dengar-dengar lagi Mbak Rasni itu saat ini suka mandi saat magrib tiba. Padahal sebelumnya dia selalu ceria, rajin ibadahnya, bahkan mandi pun saat hendak salat ashar. Berbeda dengan sekarang, saat suaminya meninggal.
Setelah itu tak tahu lagi, sebab ibu mengajakku pulang sebab belanjanya sudah selesai.
__ADS_1
"Mari, Bu." Ujar ibu berpamitan.
Mereka pun mengiyakan ucapan ibu secara bersamaan. Mereka yang belanjaan terlebih dahulu pun belum selesai, hanya untuk ngerumpi. Aku yang ada di sana tadi hanya diam, karena tak tahu harus bicara apa.
Ibu kembali mendorongku untuk pulang ke rumah.
"Bu, emang mandi magrib-magrib nggak boleh ya?" tanyaku.
"Dalam ilmu kedokterankan sudah dijelaskan mandi saat magrib atau pukul 18.00 tidak di perbolehkan dan di hadist pun juga di terangkan bahwa mandi waktu senja seperti itu tidak di perbolehkan," jawab ibu.
"Lalu yang bagus mandi saat kapan, Bu?" tanyaku penasaran.
"Mandi yang bagus itu saat waktu ashar tiba, sebab jika kalau kita mandi saat setelah ashar meningkatkan kematian secara mendadak, apalagi pukul 18.00-19.00 itu jantung pada tahap selemah-lemahnya," jawab ibu.
Aku menganggukkan kepalaku, merasa mendapat ilmu baru dari ibu.
"Katanya juga kalau mandi saat menjelang magrib itu waktu setan berkeliaran jadi kita banyak gangguan saat itu, dalam hadist di jelaskan :
ذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ
Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian. Karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam, silahkan biarkanlah mereka. (HR. Bukhari 5623 dan Muslim 3756). Begitu, Dek," jelas ibu.
Aku menoleh ke ibu sembari melemparkan senyumanku. Aku merasa beruntung memiliki orang tua yang paham sedikit-sedikit tentang agama. Tanpa kami sadari ternyata sudah sampai di depan pintu gerbang rumah nenek lagi.
Ibu membukanya secara perlahan, lalu kembali mendorong kursiku. Kami masuk ke dalam rumah, aku melihat Jeje sedang bersiap-siap hendak mandi.
"Je, mau ke mana?" tanyaku.
"Mau mandi, kan aku masuk sekolah," jawab Jeje sembari melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku ikut ibu ke dapur aja, ya," ujarku.
Ibu tanpa menjawab, bergegas mendorong kembali menuju dapur. Terlihat Tante Santi dan nenek sedang mengupas bahan-bahan yang sebelumnya sudah ada. Dan saat ini ketambahan barang belanjaan dari ibu.
Kami ikut bergabung bersama mereka.
"Bu, Anton ternyata sudah meninggal ya? Aku tadi dengar-dengar dari ibu-ibu dan Wulan," ujar ibu memberitahu.
"Iya, Al. Enam harian yang lalu kalau nggak salah ya, Bu," jawab Tante Santi.
__ADS_1
Bersambung ....