
Ibu masih terus mengelus kepalaku, beliau mencoba menenangkan aku.
"Sudah nggak perlu dipikirkan, sekarang kita nonton televisi aja ya, Dek," ucap Ibu.
"Iya, Bu," jawabku.
Aku dan ibu siang itu hanya di dalam kamar, sehingga kami menggunakan jasa room service.
****
Hari berganti dari pagi ke siang. Kami hanya bisa menunggu ke datangan ayah di kamar saja. Sengaja tidak ingin ke mana-mana takut kejadian pagi tadi terulang kembali.
Tok-tok-tok!
Terdengar suara ketukan pintu.
"Ini Ayah, Bu," ucap suara dari luar.
Ibu dengan segera membuka pintunya. Ketika ayah masuk terlihat wajahnya yang panik.
"Cepat beresin barang-barang, sebelum malam kita harus pergi dari sini," ujar Ayah.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
Beda dengan ibu, beliau tidak bertanya apapun. Beliau hanya menuruti perintah dari ayah.
"Nanti Ayah jelaskan, saat ini kita harus segera pindah," ucap Ayah lagi.
Kami tidak perlu menata barang lagi, karena barang-barang bawaan kami sudah tertata sedari kita masuk di sini.
Dengan tergesa-gesa ibu menggandengku, sedangkan ayah membawa barang bawaan kami. Aku dan Ibu hanya berjalan mengekor di belakang ayah.
Kami mulai memasuki lift dan saat ini debar jantungku semakin tak menentu. Esther pun ikut serta di dalam lift ini.
Lift mulai turun dari lantai ke lantai hingga lantai dasar. Perasaan lega yang aku rasakan ketika kami bisa lolos dari lantai empat itu. Aku dan ibu berada di lobi hotel ini, karena sengaja menunggu ayah yang sedang check out.
Setelah ayah selesai, beliau menghampiri kami.
"Ayo, Bu," ajak Ayah.
"Kita mau tinggal di mana, Yah?" tanya Ibu.
"Kita tinggal di hotel yang tepat bersebelahan dengan kantor Ayah saja," ucap Ayah.
Kami menaiki taxi online yang sedari awal sudah mengantar ayah menuju hotel ini.
"Ada apa, Yah?" tanya Ibu.
"Ibu dan Keyla ada yang mengalami hal aneh nggak selama di dalam hotel itu?" Ayah ganti bertanya.
__ADS_1
Ayah menatap ke arahku, aku hanya menganggukkan kepalaku. Jarak antara hotel sebelumnya dengan hotel yang berada di samping kantor ayah cukup dekat.
Kami pun sampai, ayah sepertinya memang sengaja tak menjawab pertanyaanku saat di dalam taxi. Beliau pun dengan segera membayar tarif taxi ini.
Sebelum kami turun, sopir taxi berkata sesuatu ke pada kami.
"Mending menginap di sini saja, Pak. Setelah ada kejadian pembunuhan waktu itu, hotel yang tadi keluarga Bapak tempati banyak rumor yang mengatakan kalau banyak gangguan di sana," ucap Pak sopir.
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Ayah.
Kami turun dari taxi ini. Kami melangkahkan kaki menuju dalam gedung hotel saat ini. Kami menunggu ayah lagi yang sedang chek in.
Ayah datang menghampiri kami.
"Kita dapat kamar di lantai satu kok Bu, tenang saja," ucap Ayah sembari mengajak kami menuju kamar.
Memang bangunan hotel ini tak semegah hotel yang sebelumnya. Hotel ini hanya memiliki empat lantai, tapi di sini lebih terlihat ramai.
Setelah sampai di kamar, kita segera masuk. Bed di hotel ini memang ada satu, tetapi ruangannya cukup luas.
Setelah ayah meletakkan barang bawaannya, ayah mengajak kami duduk di sofa.
"Sini, Ibu sama Dedek," kata Ayah.
Kami berdua hanya menuruti perintah ayah. Kami duduk bertiga sembari menunggu room service datang membawakan pesanan kami.
"Apa, Yah?" tanyaku.
"Banyak," jawabku spontan.
"Ayah mau bercerita ke kalian berdua, kenapa ayah buru-buru ngajak kalian segera pindah," ujar Ayah.
"Kenapa?" sahut Ibu.
****
Ayah mulai bercerita, kalau semalem saat kami sudah tertidur pulas ada suara ketukan pintu di kamar kami. Awalnya ayah mengira itu room service, tetapi ketika ayah membuka pintu tak menemui seorang pun berada di sana.
Ayah hanya berpikir ada orang iseng terhadap kami. Terdengar lagi suara ketukan pintu untuk yang kedua kalinya. Ayah masih tetap ingin membuka pintunya.
Lagi-lagi beliau tak menemui siapa pun di sana. Ketika, ketiga kali suara ketukan itu terdengar, ayah tak menghiraukannya.
Ayah biarkan pintu itu di ketuk, karena kata beliau tak ingin menggubris orang yang tujuannya iseng saja.
Malam itu pun ayah tertidur.
_________
Keesokan harinya, ayah bangun untuk menunaikan kewajibannya. Setelah selesai salat, beliau bersiap-siap untuk segera berangkat kerja karena ada meeting pagi ini.
__ADS_1
Tenyata ayah juga mengalami hal sama seperti aku. Kala menaiki lift, pintunya juga terbuka di lantai empat. Tetapi beruntungnya ayah tak mengalami hal janggal di sana.
Sesampainya ayah di kantor, meeting pun segera dilaksanakan. Karena klien perusahaan ayah bekerja adalah dari warga negara asing, klien tersebut mengejar waktu untuk kembali ke negaranya. Makanya mengadakan pertemuan di pagi hari.
Kata ayah, selesainya meeting seperti biasa para karyawan saling bertukar sapa.
"Hai, Dim. Bagaimana liburannya di Malang?" tanya teman Ayah.
Mau ngingetin lagi, nama ayahku Dimas Handoko biasa di panggil Dimas.
"Alhamdulillah, lancar aja bro. Kalau nggak gara-gara meeting dadakan ini mungkin aku belum balik ke sini," jawab Ayah.
"Lha terus anak dan istrimu pulang duluan?" tanya teman Ayah lagi.
"Enggak. Mereka ikut ke sini, sekarang di hotel bintang lima itu," jawab Ayahku.
Teman ayah yang mendengar jawaban dari ayah sontak kaget.
"Kamu belum mendengar rumor tentang pembunuhan di sana?" tanya teman Ayah lagi.
"Belum, masa sih? Aku beneran baru denger dari kamu," ucap Ayah.
"Katanya masih ada satu psychopath yang masih berada di sana. Salah satu dari mereka sudah tertangkap kala kasus pembunuhan satu keluarga beberapa hari yang lalu," ucap teman Ayah.
"Katanya mereka mengetuk pintu kamar dari para korban selama tiga kali, jika kamar itu berhasil di buka ke yang ketiga kali, maka saat itu juga korban akan di habisi," ucap teman Ayah lagi.
"Ya Allah, lalu bagaimana dengan keluargaku?" tanya Ayah dengan gelisah.
Kata ayah, temannya bercerita kalau salah satu dari mereka tertangkap di lantai empat itu, dan salah satu dari mereka belum diketahui.
Katanya lagi, mereka sengaja memesan beberapa kamar di sana menggunakan nick name dari beberapa korban yang telah mereka habisi. Agar para korban selanjutnya bisa memesan kamar lebih dekat dengan kamar salah satu dari mereka.
Ayah pun juga bercerita ketemannya, kalau beliau juga mendengar ketukan pintu itu. Tetapi ayah hanya membuka pintunya saat ketukan sampai dua kali.
Kata ayah, para psycho itu melancarkan aksinya ketika malam tiba. Makanya ketika ayah mendengar cerita dari temannya itu segera menjemput kami untuk segera pergi dari sana dengan cepat.
Mungkin pihak hotel ingin tetap hotelnya ramai dengan memberikan alasan kepada para tamu, kalau lantai nomor empat itu sedang di renovasi.
__________
Kami bertiga pun tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena masih di beri perlindungan sama yang Maha Kuasa.
"Aku dan Ibu tadi malah dapat gangguan di lantai empat, Yah," ucapku.
"Iya, Yah. Kami masuk dimensi lain, sehingga saat kami coba untuk menaiki anak tangga hanya berputar-putar saja di lantai itu," sahut Ibu.
"Apa korban pembunuhan itu sebenarnya meminta pertolongan untuk menguak misteri itu, agar bisa menangkap pelaku yang satunya?" Aku pun hanya bisa menduga-duga.
Ayah dan ibu saling bertatapan ketika mendengar ucapanku. Lalu mereka secara bersamaan juga menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung....