
Mulai sejak itu, Ranti pun berani menentang ke Bu Sumi kala beliau membuat isu-isu baru kepada dirinya sendiri dan suaminya.
Bu Sumi merasa geregetan dan menjadi sakit hati karena balasan itu. Bu Sumi bahkan menghalalkan segara cara untuk membuat mereka berpisah. Hari ini, Bu Sumi pun menitipkan anaknya ke tetangganya, dia kata akan pergi ke tempat yang penting.
"Bu, aku nitip anakku, ya. Aku pergi bentar ke tempat penting untuk menyelesaikan masalah sebentar," ujar Bu Sumi sembari menitipkan anaknya.
"Iya, pulang jam berapa? Kenapa sore seperti ini baru ke sini, sih," ujar tetangganya itu.
"Mendadak, Bu. Sebentar doang, masa nggak boleh? Berangkat dulu, ya." Bu Sumi berjalan menjauh dari rumah tetangganya itu.
"Jangan lama-lama, Bu Sum!" teriak tangganya.
Bu Sumi hanya mengangkat jempolnya tanpa berkata apapun. Bu Sumi pun segera berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang akan membawanya pergi. Tak perlu menunggu lama, akhirnya mobil angkot pun datang.
Bu Sumi pun melambaikan tangan, untuk isyarat menghentikan angkot itu.
"Kemana, Bu?" tanya sopir angkot.
"Ke Jalan Panglima sudirman, Pak. Di gang anggrek, ya," jawab Bu Sumi.
"Iya, Bu. Ke rumah saudaranya?" tanya sopir angkot.
"Kenapa, sih? Bawel banget, diam bisa nggak?" jawab Bu Sumi dengan ketus.
Ketika mendengar jawaban Bu Sumi, si Sopir angkot pun membatin. 'Ih, ketus banget, sih? Nenek lampir banget!'
Jarak tempuh menuju alamat yang mereka tuju pun tak memakan waktu yang lama. Bu Sumi pun segera membayar dengan satu lembar uang lima ribuan dan bergegas untuk turun.
Bu Sumi berjalan menuju salah satu rumah di gang itu, yang letaknya paling ujung. Adzan magrib pun berkumandang dan rintik air hujan, tak memadamkan tekad Bu Sumi untuk menghentikan langkahnya.
Memakan waktu lima belas menit untuk sampai di rumah yang letaknya di ujung itu.
Tok! Tok!
__ADS_1
Bu Sumi pun mengetuk pintu rumah dengan bangunan kuno itu. Walaupun di zaman seperti ini, rumah dengan bilik bambu, bertiang empat menggunakan kayu dan lampu bohlam warna kuning menjadi ciri khas rumah ini.
"Masuk!" jawab suara yang terdengar berat di dalam rumah itu.
Bu Sumi secara perlahan pun membuka pintu kayu yang berjejer dua itu.
Krett!
Suara pintu itu memekakkan telinganya.
"Permisi," ujar Bu Sumi dengan ragu-ragu.
"Duduklah," pinta suara itu lagi.
Dengan disinari lampu bohlam berwana kuning dan hanya satu biji, membuat rumah ini terlihat gelap dan menyeramkan. Tak tampak seseorang yang menjadi sumber suara itu. Bu Sumi merasa takut, tetapi beliau merasa butuh.
"Ada perlu apa ke sini?" tiba-tiba dari balik tirai kelambu di tengah-tengah ruangan, tersibak dan memperlihatkan laki-laki tua, berjenggot panjang dan putih, muncul mengejutkannya.
Bu Sumi pun terperanjat karena tertegun melihatnya. Laki-laki tua itu pun, setelag itu segera duduk di kursi yang ada di dekat Bu Sumi.
Bu Sumi dengan wajah yang takut, segera mengatakan apa yang menjadi tujuannya ke sini.
"Gini, Mbah. Saya Sumi, berniat membuat salah satu tetanggaku hancur dan bahkan bercerai. Apa bisa, Mbah?" tanya Bu Sumi.
"Bisa saja. Masalah gampang itu." Ternyata Bu Sumi mendatangi salah satu orang pintar untuk membuat rumah tangga Ranti dan Nando hancur. Tak hanya hatinya yang jelek suka memfitnah orang lain, tetapi juga otaknya yang janggal dengan mendatangi orang pintar untuk memisahkan hubungan orang.
Bu Sumi dan dukun itu pun berbincang-bincang, lalu segera melakukan sihir yang ia gunakan itu untuk membuat mereka terpisah. Dukun itu meminta Bu Sumi untuk mengambil foto mereka berdua dan kain hitam polos. Jika Bu Sumi menyanggupi, maka besok harus membawa barang-barang yang dibutuhkan dukun itu untuk melakukan ritual itu.
"Lalu, saya besok harus ke sini lagi?" tanya Bu Sumi.
"Iya, lebih cepat lebih baik. Jangan lupa bawakan tujuh bungan kantil untuk melengkapi syarat itu semua," perintah dukun itu.
"Baik, Mbah. Kalau begitu, saya pulang dahulu. Besok saya akan ke sini lagi." Bu Sumi pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian segera keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Rintik hujan sedari sore, masih membasahi. Bu Ranti kembali menempuh perjalanan lima belas menit untuk sampai ke jalan raya. Lingkungan di sini dominan sepi, bahkan belum jam tujuh pun pintunya sudah tertutup semua.
"Orang di sini pada nggak doyan gibah atau gimana, ya? Sepi amat. Pasti nggak seru hidup orang di sini," gumam Bu Sumi.
Walaupun bajunya basah terkena air hujan, tak menyulutkan semangatnya untuk berbuat jahat ke orang lain. 'Ranti, tak akan kubiarkan hidupmu tenang. Kamu nggak tahu, saat ini berurusan dengan siapa? Sumilah hapsari, wanita tercantik dan mempesona ini.'
Sesampainya di jalan raya, Bu Sumi sengaja duduk di pinggiran jalan untuk menunggu angkotan umum datang. Tetapi, hingga sepuluh menit lamanya, tak ada satupun kendaraan berlalu lalang di area ini.
"Pada ke mana, sih? Lama amat," gumam Bu Sumi.
Bu Sumi semakin jengkel, semakin malam suasana semakin sepi, hening dan hanya terdengar suara air yang jatuh mengenai dedaunan.
"Halah, jam berapa ini? Nggak ada angkot apa jam segini?" gumam Bu Sumi lagi.
Bu Sumi pun memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, nyicil jalan, siapa tahu di depan ada kendaraan yang lewat," ujar Bu Sumi.
Beliau pun melangkahkan kaki ke menjauhi area gang itu. Berjalan di tengah rintik dan hening, membuat bulu kuduk Bu Ranti merinding. Beliau menyanyikan tembang jawa untuk mengusir rasa takutnya.
namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang sangat dekat dengan telinganya.
"Fique quito." Suara bisikan itu.
Bu Sumi mendengarnya, tetapi terdengar asing di telinganya sehingga dia sama sekali tak menggubrisnya.
"Fique quito." Suara itu kembali terdengar di telinganya. Hembusan angin di bagian tangan kanannya terasa dingin seperti air es.
"Halah, ini telinga kenapa, sih? kuik kuik, apaan ini di telingan!" Bu Sumi bernada ketus kala mengatakan itu.
"Fique quito!" Suara kali ini terdengar marah dan penekanannya semakin kuat, tak seperti pertama kali terdengar. (Fique quito yang berarti diam dalam bahasa belanda)
"Nggak usah ganggu, aku nggak macam-macam!" Bu Sumi tetap menggunakan nada yang ketus. Ia seakan-akan melawanya.
__ADS_1
"Ga of sterf (Pergi atau mati)." Suara kali ini terdengar sedikit mengerang. Bahkan nadanya terdengar benar-benar marah terhadap Bu Sumi.
Bu Sumi orang yang kaku, dia malah tak menggubris suara itu. Beliau tetap kekeh menembang lagu jawa yang ia sukai tadi.