Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Flashback (2)


__ADS_3

Ibu membawaku masuk ke dalam rumah, berjalan menuju wastafel tempat cuci piring.


"Cuci tangan dulu," ucap ibu sembari didendangkan cara bicaranya.


Ibu menyuruh mengulurkan tanganku ke air ketika kerannya di nyalakan. Aku yang masih kecil, hanya tau bermain sehingga air yang aku buat cuci tangan aku buat maina.


Air terciprat ke mana-mana dan dengan sabarnya ibu tetap membasuh tanganku secara bergantian.


"Ayo, sudah selesai belum, keburu dihasbikan ayah loh ya," ucap ayah.


Aku mendengar ucapan ayah, mengajak ibu segera ke meja makan.


"Ayo, Bu," rengekku.


"Keyla, nurut dulu. Jangan dibuat mainan airnya, biar cepat selesai, ya," ucap ibu sembari membasuh tanganku yang satunya.


Cuci tangan pun selesai, ibu menggendongku lalu meletakkan di kursi.


"Makan," ucapku.


Ibu mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piringku. Kami menyantap makanan secara bersamaan, diusiaku yang masih lima tahun sudah tak mau lagi disuapin ibu.


Walaupun makanan tercecer di mana-mana, mulutku yang belepotan, tetap membuat ibu dan ayah tersenyum.


"Anak pinter, makan sendiri. Kalau besar mau jadi apa?" tanya ayah.


"Silver queen," ucapku tetap kekeh ingin jadi itu. (Baca part 13- Ceritaku)


Aku yang saat ini mengingatnya, tetap tertawa ketika mengingat cita-citaku ingin menjadi coklat itu. Niatku ingin menjadi ratu saat kecil, tetapi malah melenceng jauh.


Makan pun selesai, aku segera turun dari kursi dan berlari menuju teras rumahku. Aku menghampiri kembali mainan yang aku letakkan secara berserakan tadi.


Saat ini kedua orang tuaku menemani aku bermain, aku tetap kembali melanjutkan cerita yang mungkin pamali saat ini.


"Dedek, mainan apa?" tanya ibu, yang sedari tadi tak tahu apa yang aku perbuat.


"Mainan, Keyla naik mobil rumah sakit," ucapku.


Aku saat itu seolah-olah merawat boneka kecil itu yang ku anggap diriku sendiri.


"Keyla, bobok ya. Nanti bangun, bobok yang nyenyak," celetukku berbicara sendiri.


Aku mengambil stroller mainanku, yang biasa aku gunakan untuk mendorongi bonekaku.


"Bu, ambil dorongan itu. Keyla naik dorongan," ucapku.


"Nggak kuat dong, kalau Dedek naik sini. Nanti patah," ucap ibu yang mengira aku naik itu.


"Bukan, Dedek. Tapi Keyla ini," ucapku sembari menunjukan boneka yang aku pegang.


Ibu pun tanpa menjawab segera meraih mainan yang aku minta, beliau memberikan mainan itu kepadaku.

__ADS_1


"Duduk ya, Dek," ucapku.


Namun boneka itu tidak bisa duduk, boneka itu terus tergelincir. Ibu memberikan bantal kecil yang ada di atas kasur mainanku.


"Dipakain ini, biar bisa duduk. Nggak jatuh-jatuh bonekanya," ucap ibu sembari menata bantal dan boneka itu biar tetap seimbang.


Aku yang melihat bonekaku bisa duduk hanya tertawa bahagia.


Flashback off


****


Ternyata apa yang pernah aku lakuin saat masih kecil, benar-benar terjadi saat ini.


"Yah, ingatkan?" tanyaku.


Ayah dan ibu seketika memberhentikan kursi roda yang aku tempati. Mereka duduk di kursi kosong di koridor ini. Mereka tertunduk tetapi tetap memegang kursi rodaku.


"Iya, Ayah ingat. Padahal waktu itu juga mengingatkan kamu bahwa itu pamali," ucap ayah.


"Tapi, saat itu dia masih kecil, Yah. Memang kita hanya menganggap celotehan anak kecil semata," sahut ibu.


Aku menatap mata mereka, seolah-olah ada sesal di benak mereka.


"Maafkan aku, Bu. Ayah jangan sedih, mungkin itu sebagian takdir kita, yang tak sengaja sama dengan hal yang dulunya dianggap sepele," ucapku.


Aku mencoba kembali menyemangati mereka, aku tak ingin mereka tertunduk menyesali yang memang bukan kesalahannya.


Aku tersenyum ke arah mereka, aku ingin menguatkan mereka. Tak ada orang yang ingin bernasib buruk, apalagi hanya karena celotehan yang asal diucapkan di masa kecilnya.


Jika aku bisa mengetahui nasib dari kecil, mungkin selalu kebahagiaan yang aku ucapkan di masa itu. Tapi sayang, itu semua hanya garis takdir yang mungkin kebetulan sama pada saat ini.


Tak ada yang tahu nasib kita di masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Semua hanya ada di tangan Allah. Kebanyakan orang bilang, takdir bisa dirubah. Tetapi menurutku itu salah, mungkin jalan takdir kita memang di garis seperti itu. Jika memang benar bisa di rubah, aku juga mau merubah sesuai keinginanku.


Tapi menurutku statemen mereka salah, mereka hanya terlena di garis jalan mereka sendiri sehingga tak mampu memperbaiki, atau bahkan mengingat Allah SWT.


Mereka hanya mampu mengingat bahkan menyalahkan saat mereka berada di jurang takdir yang terdalam. Kenapa mereka tak mengingat ketika mereka berada di atas?


"Ayah, jangan berpikir men-judge diri sendiri, bahkan dengan ayah tidak sadar, itu juga men-judge yang Maha pencipta," ucapku.


Entah kenapa sejak aku bangun dari tidur panjangku, ucapanku seolah-olah layaknya orang dewasa. Aku pun tak menyadari dengan diriku sendiri.


"Iya, sayang. Kita bersyukur saja ya," sahut ibu.


Ayah kembali mendorong kursi roda menuju halaman rumah sakit, kembali melewati beberapa orang yang ada di koridor ini. Dari kejauhan aku melihat, orang yang menangis di dekat sisi pintu salah satu kamar.


Tetapi anehnya tak ada satu orang pun menemani. Malah kebanyakan orang hanya berlalu lalang melewatinya.


"Ayah, orang itu kenapa?" tanyaku.


Aku menunjuk ke arah orang yang berada di dekat kamar itu.

__ADS_1


"Yang mana, Dek?" tanya ayah.


"Di samping kamar itu, Yah," ucapku.


Memang banyak orang di dekat kamar itu, tapi tak ada satu pun yang memperhatikannya.


Orang itu, berambut panjang terurai. Dia menangis, dan mengenakan dress berwana merah. Tinggi, tetapi terlihat tinggi dari orang pada umumnya, bahkan dari pinggang sampai bahu terlihat lebih panjang.


Aku tetap kekeh mengajak kedua orang tuaku untuk mengajaknya menghampiri orang itu. Orang tuaku mengiyakan, sebab mereka tahu memang di sana banyak orang.


Tak jauh orang yang aku lihat itu, kira-kira jaraknya empat kamar dari tempat kami berdiri saat ini. Selama berjalan menghampiri, aku merasa heran, terus bertanya kepada kedua orang tuaku.


"Kenapa ya, Bu, Yah kok nggak ada yang mendekati dia?" tanyaku penasaran.


"Yang mana sih, Dek. Ibu malah nggak paham yang kamu maksud," ucap ibu.


"Itu loh, Bu. Dia pakai gaun warna merah," ujarku.


"Gaun?" tanya ayah dan ibu secara bersamaan.


"Iya, itu loh Mbak yang tinggi besar dan pakai gaun berwarna merah itu.


Aku tetap kekeh menjelaskan seperti apa yang aku lihat saat ini. Memang kenyataannya seperti itu. Tiba-tiba, ayahku memberhentikan lagi kursi rodaku.


"Kenapa, Yah?" tanyaku sembari mendongak melihat ke arah ibu dan ayah yang berada di belakang kursi rodaku.


"Kita balik aja ya, Dek," ucap ayah.


Aku lebih heran ke ayahku, kenapa secara tiba-tiba mengajakku kembali, sedangkan niatku baik.


"Aku ke sana sendiri, ya," ucapku sembari mencoba meraih roda kursi yang ku kenakan.


"Turuti saja, Yah. Nanti kalau tahu juga ngajak balik lagi," sahut ibu.


Ayah pun kembali mendorongnya, semakin dekat jarakku dengan perempuan itu.


"Mbak." Aku mencoba memanggil.


Dia tak merespon ucapanku.


"Mbak." Panggilku lagi.


Dia sedikit menoleh, tetapi tak sepenuhnya.


"Mbaknya capek, kita kembali ya," ajak ayah.



Wanita itu tiba-tiba menoleh saat ayah menarik kursi rodaku untuk berbalik arah. Dia menampakkan wajahnya yang putih pucat, rambut tergerai ke wajah dan lebih parahnya wajah dia terlihat samar.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2