
"Sebenarnya apa, Bu?" tanyaku.
Ibu terlihat menundukkan kepala, beliau terlihat enggan untuk melanjutkan berbicara. Beliau malah terlihat menitikkan air mata.
"Yah, kenapa? Ada apa dengan rumah kita?" aku mendesak tanya ke ayah.
"Rumah dan mobil kita terpaksa Ayah jual, sebab Ayah terdesak, Dek. Semua demi kamu," ujar ayah memberitahu.
Lagi-lagi aku hanya bisa menitikkan air mata, semua yang diidam-idamkan oleh keluargaku harus musnah gara-gara aku.
"Aku memang anak yang nggak berguna, Yah. Aku pembawa sial, aku menghancurkan segala impian Ayah dan Ibu. Kenapa aku ada di dunia ini kalau hanya menghancurkan kebahagiaan seseorang," ujarku dengan memukul-mukul kepalaku dan menangis histeris.
Ibu memelukku semakin erat, beliau mencoba menenangkan aku. Sedangkan ayah memegangi tanganku agar tak terus-menerus memukul kepala.
"Keyla. Berhenti, Key. Jangan seperti itu," ujar Dinar dengan suara bergemetar.
"Aku nggak ada gunanya, aku hanya bisa menyusahkan semua orang. Aku pecundang!" ujarku dengan suara sesenggukan.
"Cukup, Dek. Semua bisa di cari, tapi nggak dengan kamu, kamu harta satu-satunya yang berharga buat kami. Jangan pernah ngomong gitu," ujar ibu dengan isak tangis saat memelukku.
Aku sudah tak mampu lagi untuk berbicara, aku merasa diriku sebagai pecundang. Aku merasa diriku tak berguna dan hanya bisa menyedihkan saja. Aku hancur, aku putus asa.
Saat itu juga datang menghampiri sembari menyerahkan segelas air putih untukku.
"Key, minum dulu. Yang tenang ya, harta bisa di raih bersama-sama. Insyaallah kamu sembuh, pasti rezeki yang lain mengikuti," ujar Jeje menasehati.
Aku menoleh ke arah Jeje yang masih membawa air, lalu dengan cepat aku memeluknya.
"Jangan pernah berucap seperti itu, kasihan orang tuamu. Berterima kasihlah kepada mereka, jangan buat mereka down. Yakinlah selesai musibah ini pasti ada jalan terbaik untuk kalian ke depannya," ujar Jeje lagi.
Aku melepas pelukan Jeje, lalu memegang erat tangannya. Aku mencoba tersenyum walaupun di hatiku masih kalut dengan semua ini.
"Ayah, Ibu. Maafkan Dedek, ya. Terima kasih untuk semuanya," ujarku kepada kedua orang tuaku.
Terlihat dari kejauhan ayah mengangguk, sedangkan ibu masih mencoba menghapus sisa tetesan air mata yang membasahi pipinya.
"Ayah, Ibu," ujarku sembari menengadahkan tangan ingin meminta peluk mereka.
Ayah dan ibu tahu apa maksudku, mereka bergegas memelukku dengan erat. Mereka membisikkan kata sayang dan kata-kata yang menguatkan aku saat merasa rapuh dan tak berguna seperti ini
"Dek, jangan pernah berbicara seperti itu lagi, ya. Nggak akan ada yang mampu menggantikan kamu dengan apa pun, kamu jauh lebih berharga," ujar ayah dengan suara serak mencoba menahan tangis.
__ADS_1
"Maafkan aku, Yah. Maafkan sudah buat kalian bersedih berkali-kali," ujarku.
"Dek, Ibu sayang kamu. Kamu sumber kekuatan kami, kamu rezeki yang pantas kami pertahankan. Kami siang malam rela melakukan apa pun demi kamu sembuh, jangan berpikir kamu menyusahkan kami," ujar ibu.
Aku hanya menganggukkan kepala, sebab merasa berdosa kenapa mulutku tak bisa mengontrol ucapan yang keluar.
"Maaf ya, Tante, Om. Kalau nggak gara-gara aku nggak bakal sedih-sedihan seperti ini," ujar Dinar.
"Nggak kok, Din. Aku sudah nggak apa-apa, kok," ujarku sembari menghapus air mata yang sedari tadi menetes.
"Sudah ya, sedih-sedihannya. Ayo kita makan, sampai lupa," ujar nenek mencoba mengalihkan perhatian kami semua.
"Iya, ayo. Sampai lupa, ngajak makan gara-gara ikut sedih," sahut Tante Santi dengan senyuman merekah di bibirnya.
Semua orang beranjak dari tempat duduknya, Dinar saat ini mendorongku mengikuti nenek menuju meja makan.
Rumah terlihat ramai karena kedatangan Kak Dita, Kak Andre dan Dinar. Pengen rasanya setiap hari seperti ini.
"Jadi rame, ya. Tambah nikmat nanti makannya, hehehe," ujar Jeje.
"Makasih, loh. Jadi ngerepotin," ujar Kak Dita.
"Mari di makan," ajak Tante Santi.
"Wah, pasti nikmat ini," ujarku.
Semua orang tertawa, bahkan seolah-olah tak ada kejadian salung menangis seperti tadi. Entah mereka melupa itu dengan cepat atau mereka pintar utuk menutupi kesedihannya.
Walaupun saat ini makanan terhidang, hatiku tetap tak bisa melupakan itu dengan mudahnya. Masih terngiang jelas di otakku, masih tertancap erat di hatiku kata-kata pecundang itu.
"Keyla, kok bengong," ujar ibu sembari menyentuh tanganku.
"Eh, enggak, Bu," ujarku memberi alasan.
Ternyata tanpa kusadari aku terpaku dengan pikiranku sehingga aku terlihat bengong. Kami semua untuk segera melahap makanan yang sudah terhidang di hadapan kami. Tak jarang pula kami mengobrol seperlunya.
"Dari mana, Key. Kok barubpulang check upnya?" tanya nenek.
"Tadi nggak sengaja ketemu Kevin, Nek. Kita cari bukti di rumah lamanya," ujarku memberitahu.
"Kevin? Yang kalian obrolin kemarin kan?" tanya nenek.
__ADS_1
""Iya, Bu. Tadi tidak sengaja ketemu di jalan, sekalian aja ngajak ngobrol, eh dianya percaya. Tadi sempet ke rumah lamanya untuk mengumpulkan bukti," sahut ibu.
Dinar bingung dengan ucapan kami, sehingga dia menoel bahuku.
"Apa, Din?" tanyaku.
"Kevin, siapa?" tanya Dinar.
"Oh, ada lah pokoknya. Kita lanjut makan dulu, nanti bakal aku ceritain deh," ujarku.
Kami dengan cepat segera melahap makanannya hingga habis. Seakan-akan kami berlomba-lomba untuk menghabiskannya terlebih dahulu. Tak berselang lama, akhirnya makanan kami sudah habis. Kemudian ibu, nenek, Tante Santi dan Kak Dita membereskan piring yang sudah kami kenakan untuk makanan untuk di cuci.
Sedangkan sisanya kami berkumpul di sofa depan televisi. Kami mengobrol bercerita-cerita yang sudah kami lalui selama berjauhan. Kami ngobrol panjang lebar hingga pembicaraan kami menuju ke Kevin.
Aku bercerita awal mula aku tahu perihal Kevin dari mimpi, hingga kejadian yang sudah aku alamai tadi.
"Jadi Mama Kevin dibunuh sahabatnya sendiri yang pelakor itu?" tanya Dinar tampak heran.
Aku pun menganggukan kepala.
"Kok bisa ya, sahabatan tapi tega. Sudah nambil suaminya dan tega lagi membunuhnya," ujad Jeje tampak geregetan.
"Iya tuh nggak puny hati," sahut Dinar.
Kami pun bercerita dengan wajah yang geregetan.
"Tahu nggak, Din. Bahkan dengan kejadian ini sampai-samapi berpikir tentang kita berdua," ujarku.
"Ih, apaan sih. Amit-amit deh, kaya nggak ada laki-laki lain," ujar Dinar.
Aku melihat ekspresi Dinar sontak tertawa, dia terdengar ketus saat mengucapkannya namun malah terlihat lucu di hadapanku.
"Kalian ini sahabat dari kecil?" tanya Jeje yang tampak penasaran.
"Iya, dari Mama Papa kita belum nikah sudah jadi bersahabat. Hahaha," ejek Dinar.
Jeje pun cemberut kala mendengar jawaban Dinar.
"Ih, Jeje manyun kamu. Eh iya Key, aku sebenarnya ke sini juga mau cerita soal Kak Airin loh," ujar Dinar.
Bersambung ....
__ADS_1