Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Ego masing-masing


__ADS_3

Bu Heny pun menenangkan Ranti. Beliau menyuruh Ranti untuk lebih kuat, agar si Bu Sumi tak selalu merendahkannya


"Ranti, jangan diam saja! Bu Sumi itu, kalau kamu diam semakin merajalela," tegur Bu Heny.


"Tapi, Bu. Dia itu, seakan-akan tak ada habisnya untuk mencemooh hidup saya. Awalnya kukira dia bakal diam sendirinya, tak tahunya ada saja bahan perbincangan buat dia. Sebenarnya, salah saya itu apa, sih?" Ranti pun bertanya-tanya.


"Yang salah itu bukan kamu. Tapi, diri Bu Sumi yang salah. Dia menghadirkan rasa iri dalam dirinya, makanya dia tak pernah puas kalau belum mengeluarkan makian itu dalam dirinya. Lawan dia saja, jangan diam. Sampai kapan pun, dia akan tetap seperti itu. Dia biar tahu rasa, bagaimana rasanya orang yang selama ini ia rendahkan, akan membalas perkataannya." Bu Heny menyarankan itu.


Ranti pun mencoba mengiyakan saran dari Bu Heny. Saat itu, Bu Heny berpamitan dengan Ranti untuk berbelanja, sedangkan Ranti diminta beliau untuk tetap istirahat di rumah sebab Bu Heny tahu jika kandungan Ranti rentan saat ini.


Bu Heny melihat dari kejauhan tampak Nando memperhatikan rumahnya. Beliau tahu, jika ia merindukan istrinya, tapi gengsi untuk mengakuinya. Saat Bu Heny melewati rumahnya, si Nando pun berpura-pura seperti tak memperhatikan apapun.


"Mari, Nando," sapa Bu Heny dengan baik.


Nando pun melihat ke arah Bu Heny, "Iya, Bu. Ranti gimana?"


Bu Heny pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah rumahnya.


"Baik, kok. Jangan gengsi untuk meminta maaf, kalian itu salah paham. Bicarakan baik-baik dengan kepala dingin, jangan emosi dan keegoisan yang didahulukan. Kamu jemput dia, jangan sampai kamu menyesal sendiri." Bu Heny setelah mengucapkan itu segera melangkahkan kaki.


Nando ingin menjemput Ranti, entah kenapa rasa dia merasa ragu. Dalam hatinya berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan dan perkataan yang membuatnya semakin ragu. 'Kalau aku jemput dia, nggak tahunya perselingkuhan itu benar gimana? Enakin dia dong, bisa semena-mena. Tapi, kalau isu perselingkuhan itu bohong, gimana? Aku yang lebih memilih untuk mempercayakan orang lain, berarti menyia-nyiakan orang sebaik dia. Yang benar ini mana?'


Nando memilih untuk masuk ke dalam rumahnya kembali. Dia duduk di sofa ruang tamu. Biasanya, setiap pagi melihat Ranti berlalu lalang dengan aktivitasnya, saat ini terasa hening. 'Nando, kenapa kamu jadi cowok pengecut banget. Datengi dia, pertanyakan yang sebenarnya. Kamu nggak akan tahu, jika kamu tetap diam di rumah.'


Nando pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki keluar rumah lagi. Seperti biasa, pemandangan setiap pagi melihat ibu-ibu berkumpul di pedagang sayur yang dekat rumahnya. Bu Heny pun masih di sana, tentunya si kompor meleduk pun di sana. Dia terlihat mengoceh, tak tahu apa lagi yang menjadi bahan gunjingannya. Nando dengan tekat yang kuat, menghampiri Bu Heny dan berniat berbicara dengan istrinya.


"Bu Heny," sapa Nando.

__ADS_1


Bu Heny pun menoleh, tetapi yang menyahut sapaan Nando pun Bu Sumi.


"Eh, Nando. Belanja sendiri? Ih, kasihan, cowok setampan kamu disia-siakan. Memang benar deh, keputusanmu. Orang gampang selingkuh, pasti diulangi lagi. Biarkan dia pergi, orang selingkuh nggak bakal mau ngaku," ujar Bu Sumi dengan mulutnya yang nyinyir.


"Ayo, Nando. Nggak usah hiraukan mulutnya menggonggong. Nggak ada gunanya," ujar Bu Heny sembari mengajak Nando ke rumahnya.


Bu Heny berjalan terlebih dahulu, sedangkan Nando mengekor di belakangnya. Perasaan ragu dan bimbang kembali mendera kala mereka berada di dekat rumah Bu Heny.


"Bu," panggil Nando.


Sontak Bu Heny menoleh ke arahnya, namun tetap berjalan.


"Iya," jawab Bu Heny.


"Saya balik ke rumah dulu saja, gimana? Kok saya ragu," ujar Nando apa adanya.


"Terserah, kamu. Jika kamu ingin menunda permasalahannya, silakan. Jika ingin cepat selesai, bicarakan. Semua itu tergantung kamu, saya nggak maksa," ujar Bu Heny.


"Nando, jangan lama-lama kalau berpikir. Dilihat orang sepertinya tampak tak pantas," tegur Bu Heny.


Nando tetap dengan langkahnya yang ragu, memutuskan untuk ikut bersama Bu Heny. Saat masuk rumah, melihat Ranti duduk berdua dengan anak bontot Bu Heny.


"Sayang, bisa kembali ke kamar dulu? Ibun ada hal penting yang harus di sampaikan," pinta Bu Heny.


Si bontot hanya tersenyum dan beranjak pergi dari tempat duduknya.


"Kenapa Bu Heny bawa dia?" tanya Ranti dengan ucapan sedikit ketus.

__ADS_1


"Ranti, lebih baik dibicarakan berdua, agar masalah lebih tenang," nasihat Bu Heny.


Ranti menatap Bu Heny dengan lekat.


"Ranti, bukan bermaksud membelanya, tetapi semata-mata demi kebaikan anak yang di kandunganmu itu," ujar Heny lagi.


"Untuk apa, Bu? Sebelumnya ia menanyakan hal itu, tetapi lihatlah. Dia sama sekali tak mempercayaiku, percuma saya bilang yang jujur dan baik, kalau ujung-ujungnya dia lebih mendengar perkataan orang lain," ujar Ranti menggunakan nada tinggi.


"Bukan gitu, Bu. Ayah bimbang, harus percaya yang mana. Aku ingin mempercayaimu sebab kamu istriku, tetapi di luar sana tak hanya satu orang yang mengatakan hak sama, sehingga membuatku emosi seperti itu," jelas Nando.


"Sama aja! Kau lebih mementingkan perasaanmu saja, tanpa memikirkan perasaanku. Seharusnya kau mendukungku dengan cari tahu, bukan malah tersulut emosi. Kau sama saja mengiyakan fitnahan mereka, jika perlakuanmu seperti ini. Untuk apa gunanya ke dokter ke sana kemari, jika kau masih mempertanyakannya. Kau dianggap mandul, aku membelamu dengan sekuat tenagaku. Mereka hanya mampu menghakimi tanpa mampu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," cerca Ranti.


Adu mulut terus terjadi, hingga Bu Heny yang awalnya tidak ingin campur tangan, akhirnya angkat bicara. Bu Heny mengira, jika mereka berkata dengan kepala dingin akan lebih mampu menerima satu sama lain. Namun, ternyata perkiraannya salah, mereka berdua saling adu mulut dan tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Memang benar, jika nila setitik merusak susu sebelanga. Karena permasalahan bermulai dari rasa iri Bu Sumi, membuat semua berantakan.


Keluarga harmonis, bertahun-tahun tanpa terpaan isu miring selain tak memiliki anak. Saat ini berubah menjadi runyam gara-gara kehadiran calon anak juga. Fitnahan Bu Sumi memang kejam, tanpa melihat dirinya sendiri.


"Kenapa jadi ribut? Saya, ngajak Nando untuk bersilahturahmi, agar orang di sini tak curiga dengan kalian. Apa hidup kalian lebih menyenangkan kala setelah duka," ujar Bu Heny.


Saat ini, mereka hanga saling pandang memandang. Tak ada satupun dari mereka, buka suara kembali.


***


Bersambung ....


Hai gaes, bukan melupakan kalian. Maaf, malam ini baru bisa update, sebab ada kabar duka dari kakekku. Sore tadi meninggal, sehingga hanya sempet up jam segini dan hanya 1rb kata pula...


Makasih ya, atas dukungan kalian...

__ADS_1


Salam sayang.


Lina Agustin


__ADS_2