Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
POV SASA Part 3


__ADS_3

Papa pun dengan amarahnya tetap melangkahkan kaki ke arahku yang berada di meja makan.


"Sasa!" panggil Papaku.


Aku sengaja diam tak mau meresponnya.


"Sasa!" Papaku memanggil lagi.


"Hmmm," jawabku sembari mengunyah makanan.


Papa pun semakin mendekat, dan menghampiriku. Papa menggebrak meja makan.


Braaakk....


"Mau mu apa?" tanya Papa menggunakan nada tinggi.


"Sudah Pa, kan bisa ngobrol baik-baik," Sahut Mama.


Aku tetap santai menyuapi makanan ke mulutku, sembari mendengarkan mereka.


"Anakmu keterlaluan, dia tidak tahu apa kalau tadi klien sangat penting buat perusahaan Papa itu!" ucap Papa.


"Sasa, kamu tidak mendengar ucapan Papa?" tanya Papaku.


Aku menatap wajah Papaku yang penuh amarah. Matanya melotot.


Aku pun berdiri menatap Papaku.


"Sudah bicaranya?" tanyaku.


"Dasar, anak ga tahu tata krama!" ucap Papa sembari mengangkat tangannya untuk menamparku, tetapi beliau berhasil menahannya.


Aku dengan spontan menutup wajahku dengan lenganku.


"Papa," Teriak Mama.


Bibi bergegas menghampiriku dan memelukku.


"Sudah tuan," ucap Bibi.


Aku melihat ke arah Papa.


"Papa tanya soal tata krama? apa Papa ingat kapan Papa mengajariku tata krama ha!" ucapku dengan nada tinggi.


Tak terasa air mataku pun menetes. Aku melihat papaku memalingkan wajahnya.


"Sudah Pa, duduk dulu" ucap Mama sembari mengelus punggung Papaku.


Aku memeluk Bi Asih dengan bercucuran air mataku.


"Sabar Non, ga baik melawan orang tua," Bibi menasehatiku.


Mama menghampiriku.


"Sasa, ada apa sebenarnya? kok kamu mendadak nyuruh Papa pulang dan bicara seperti itu?" tanya Mama.


Mama mengelus kepalaku, sedangkan aku segera melihat mama.


"Ma, aku mimpi usaha Papa terbakar dan di sana aku melihat Papa meninggal terpanggang di kobaran api," ucapku.


Papa seketika melihat ke arahku.


"Jangan dengarkan dia, tadi di usaha Papa dia juga buat gara-gara dia katanya melihat makhluk yang akan membakar usaha Papa," ucap Papa.


"Aku benar melihatnya Ma, percaya sama Sasa," ucapku sembari menatap Mama.


"Sayang, itu takhayul, kamu cuma berhalusinasi," jawab Mama.


Aku menghempaskan tangan mamaku yang berada di atas kepalaku.


"Sasa!" Teriak Mamaku.


"Mama sama saja kaya Papa, ga ada yang mau mendengarkan aku," ucapku.


"Beberapa kali Papa bilang, itu semua takhayul, jangan mengada-ngada kamu, kamu mau usaha Papamu ini bangkrut!" kata Papaku.


"Aku benar-benar melihat mereka, tapi kalian saja tidak pernah mau mendengarkan ku, memang aku bukan anak kalian," kataku.

__ADS_1


Plaaaaak!


Mama menamparku.


"Sudah Nyonya," Bibi mencoba menghentikan Mama.


"Biarkan saja Bi, memang mau mereka aku mati, baru mereka bahagia," jawabku.


"Kurang usaha apa Papa dan Mama buat bahagiain kamu? semua yang kamu ingin selalu kami turuti," tanya Mama.


"Memang Mama dan Papa selalu mengukur kebahagian ku dengan materi, kalau boleh milih mending aku hidup menjadi orang miskin tetapi selalu bersama kalian," jawabku


Handphone Papa berbunyi, papaku bergegas merogoh saku kemejanya.


"Siapa Pa?" tanya Mama.


"Kantor Ma," jawab Papa sembari mengangkat telepon nya.


"Halo," ucap Papa.


Ayah mendengarkan orang di seberang teleponnya.


"Apa?" ucap Papa lagi kali ini dia tampak terkejut.


"Oke sekarang saya segera ke sana," jawabnya lagi.


Papa menutup teleponnya dan tampak panik.


"Kenapa Pa?" tanya Mama.


"Usahaku Ma, usahaku," jawab Papa menggantung.


"Kenapa Pa? jangan buat Mama panik," tanya Mama lagi.


"Usahaku terbakar," jawab Papa sembari menjatuhkan tubuhnya dan terduduk di kursi.


Aku mendengar ucapan papa seketika mengingat mimpiku.


"Papa, mau ke sana sekarang, Mama temani Sasa di rumah saja," ucap Papa memerintah.


"Pa, maafin Sasa, aku mohon, Papa jangan ke sana sekarang," ucapku.


Aku menangis lagi.


"Aku tidak mau kehilangan Papa, aku sayang Papa," ucapku.


Aku beranjak berdiri dan memeluk tubuh Papa.


"Sasa, Papa juga sayang sama kamu, tapi Papa harus ke sana sekarang," ucap Papa sembari melepas pelukanku.


"Tidak mau, Papa ga boleh pergi," ucapku lagi.


"Sasa, jangan buat Papa marah lagi!" gertak Papa.


"Ma, bujuk Papa, kejadian di mimpiku sudah kenyataan kalau usaha Papa terbakar, aku tidak mau Papa meninggal juga seperti di mimpiku," ucapku ke Mama.


Mama terlihat berfikir sejenak, lalu menatapku.


"Pa, bagaimana kalau Mama dan Sasa ikut Papa ke tempat usaha Papa?" tanya Mama.


"Okelah, cepat buruan," Jawab Papa menyetujui.


"Aku belum ganti pakaianku Ma," ucapku.


Mama melihatku.


"Bi, tolong ambilkan jaket Sasa," perintah Mama.


"Baik Nyonya," jawab Bi Asih.


Aku menepuk bahu Bi Asih sembari mengatakan, "Ga usah Bi, biar aku ambil sendiri."


"Papa tunggu di luar," kata Papa.


Aku bergegas menaiki anak tangga menuju kamarku. Setelah itu, aku ambil jaket yang berada di dalam almari.


Kembali aku berjalan sedikit berlari menuju lantai bawah. Sampainya di bawah aku melihat Bi Asih.

__ADS_1


"Bi, Sasa berangkat ya," ucapku sembari menjabat tangan Bibi.


"Iya Non, hati-hati," jawab Bibi.


Aku berlalu meninggalkan Bibi dan menghampiri mama dan papaku yang sudah berada di dalam mobil.


"Pak Diman, aku tinggal dulu ya," ucapku Ke Pak Diman yang berada di dekat pintu pagar.


"Iya Non, hati-hati," jawab Pak Diman.


Aku memasuki mobil, lalu Papaku melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sudah ada mobil pemadam yang datang belum Pa?" tanya Mama.


"Tadi si Hamid sudah telepon pemadam, tetapi Papa tidak tahu sekarang sudah datang belum," jawab Papa.


"Telepon lagi pegawainya," kataku singkat.


"Coba Mama langsung telepon ke nomor Hamid," perintah Papa.


Mama mengambil handphone Papa dan mencari nomor yang di perintahkan.


Tuuuuut tuuuuut....


Sambungan telepon pun terputus.


"Ga di angkat Pa," kata Mama.


Di jalanan terlihat padat merayap dan macet.


"Sial! pakai macet segala," kata Papa.


Tuuuut tuuuuut...


Mama kembali mencoba menelpon.


Kali ini diangkat.


"Halo, Hamid," ucap Mama sembari loud speaker suaranya.


"Halo, iya Bu," jawab Hamid pegawai Papa.


"Bagaimana? apa mobil pemadam nya sudah sampai?" tanya Mama.


"Sudah Bu, tetapi baru 2 unit mobil dan kebakarannya belum teratasi, ini kemungkinan sudah ada 4 unit mobil pemadam yang di kerahkan, tetapi masih belum sampai," jawab Hamid lagi.


"Oh iya, kami juga sudah di perjalanan tetapi ini masih macet, kami titip semuanya ke kamu, kamu handle semuanya" kata Mama.


"Baik Bu," jawab Hamid lagi.


Mama pun mematikan teleponnya. Di kemacetan ini, mobil kita tidak bisa bergerak sama sekali.


"Macet banget, kapan jalannya," ucap papaku gelisah.


"Sudah Pa sabar, kan sudah ada Hamid," kata Mama.


Aku yang melihat kemacetan pun agak merasa bahagia. Mungkin dengan cara ini, nyawa papaku tertolong.


Hampir 1 jam kami terjebak macet, baru bisa jalan lagi.


"Akhirnya, lenggang juga ini jalan," ucap Ayah.


Tak begitu lama kami pun sampai di tempat usaha Papa, di sana kami melihat tempat usaha hangus terbakar bahkan hampir tak tersisa. Tinggal puing puing bangunan.


Ayah bergegas turun dari mobil.


"Ya Allah, habis usahaku," ucap Papa sembari tangannya memegang kepala dan seketika papa menjatuhkan tubuhnya di tanah dan hanya bertumpu dengan lutut.


Aku dan mama menghampirinya.


"Pa, yang sabar, kan masih ada usaha yang lain, mungkin ini bukan rejeki kita," kataku.


"Bangkrut kita," ucap Papa.


Aku dan Mamaku saat itu mencoba menenangkan papa. Aku bersyukur papaku masih ada di sampingku.


Mungkin tadi, kalau papa tidak pulang aku tidak tahu akan terjadi seperti apa. Dan satu lagi kalau kita tidak terjebak macet juga, entah musibah itu datang di saat seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2