
Ibu ku menuruti kemauanku, beliau beranjak dari tempat duduknya. Beliau melangkahkan kaki menuju pintu utama.
"Jangan macem-macam ya Dek, kita cuma sekedar melihatnya tidak lebih," ucap Ibu.
"Iya Bu," jawabku.
Aku pun mengekor di belakang Ibu, kami bersama-sama keluar dari rumah ini. Kami berjalan ke tempat tujuan yaitu rumah kosong belakang perumahan.
Kalau ingin sampai di sana, kami harus memutar cukup jauh karena tidak ada jalan pintas untuk cepat ke sana.
"Jauh juga ya Bu," ucapku.
"Iya Dek, mending kita tanya-tanya ke warga sekitaran rumah itu bagaimana?" tanya Ibu.
"Langsung ke rumah itu aja, Bu," aku mengeyel ingin tetap pergi ke sana.
Ibu hanya mengiyakan permintaanku, ibu tahu aku seperti apa. Aku orangnya semakin di tentang, semakin nekat. Ketika kami hendak sampai di dekat rumah kosong itu, kami bertemu dengan salah satu warga sekitaran rumah itu.
"Mari, Bu" ucap Ibu.
Kalau orang jawa biasa setiap kalau bertemu walaupun tidak kenal mereka saling bertegur sapa.
"Monggo (silakan)," ucap warga.
"Badhe dateng pundi, Bu (Mau ke mana, Bu)?" tanya warga itu lagi.
"Mau ke rumah kosong itu Bu, anak saya ngeyel pengen tahu rumah itu," jawab Ibu.
Ibuku tahu kalau di ajak bicara bahasa jawa, tetapi beliau hanya tidak bisa cara penggunaannya yang tepat. Sedangkan aku sama sekali tidak paham bahasa jawa.
"Ingkang hati-hati nggih Bu, amergi griyane angker (Yang hati-hati ya Bu, karena rumahnya angker)," ucap Warga lagi.
"Iya Bu, makasih, mari," ucap Ibu.
"Inggih, mongo-monggo (Iya, silakan-silakan)," jawab warga.
Aku hanya diam tidak tahu apa yang sedari tadi mereka bicarakan. Kami kembali melangkahkan kaki menuju rumah kosong itu. Aku merasa penasaran apa yang sedari tadi ibu bicarakan.
"Bu, tadi orang itu bicara apa?" tanyaku.
"Ibu yang tadi bertanya kita mau ke mana sama sekalian ngasih tahu kalau rumah kosong itu angker, jadi Dedek nggak usah ke sana ya?" ucap Ibu.
"Ayo Bu, kita tetap ke sana," ucapku merengek.
"Kamu lihat apa lagi, kok sampai kekeh mau ke sana?" tanya Ibu.
"Hehehe, aku melihat gadis kecil di sana, tatapannya sendu Bu, dia kelihatan sedih," jawabku.
__ADS_1
"Jangan mulai Dek, itu hanya tipu daya setan," ucap Ibu.
Aku terus melangkahkan kaki ke rumah kosong yang jaraknya semakin dekat denganku. Aku tak menghiraukan ucapan ibu lagi, aku hanya penasaran sama sosok yang aku lihat semalam.
Ketika aku sudah berada di depan pintu masuk rumah itu, aku berhenti sebentar. Aku melihat sosok itu tepat di depanku.
"Apa Dek?" tanya Ibu.
Entah kenapa penglihatanku fokus ke anak itu, sehingga aku tak menghiraukan ucapan Ibu. Tangan anak itu di acungkan ke arahku, aku pun bertingkah sama seperti dia.
****
Flashback on
Tanganku berhasil bersentuhan dengan dia, tiba-tiba aku masuk dalam dunianya. Aku melihat anak kecil itu sedang bermain di dalam rumahnya.
Dia sendiri memainkan boneka, mungkin boneka itu kesayangannya. Dari kejauhan terdengar suara orang bertengkar hebat, aku melihat ke arah sumber suara.
Di sana ada dua orang yang sedang bertengkar. Entah apa yang mereka ributkan aku tidak terlalu mengerti, karena mereka menggunakan bahasa jawa.
Wanita itu, melempar semua yang ada di dekatnya. Teriakan demi teriakan terus terdengar, aku melihat ke arah gadis kecil itu yang masih terduduk di tempatnya yang semula. Lalu aku kembali melihat kedua orang yang bertengkar lagi, pria itu pergi dari rumah ini dengan menenteng tas besar.
Dengan perginya pria itu, si wanita berucap dengan nada berteriak keras.
"Ngaliho, ojo sampek mbesok koe getun mergo ninggalno aku (Pergi, jangan sampai nanti kamu menyesal karena meninggalkan aku)," ucap wanita itu.
Wanita itu berteriak, menangis dengan sekencang-kencangnya. Perempuan itu terlihat seperti orang depresi, rumahnya dibuat berantakan, sembari terus berteriak-teriak.
Hari di dalam penglihatanku dengan cepat berganti ke senja, aku melihat wanita itu pergi ke satu rumah. Rumah itu tak terlalu besar, di sana ada gadis kecil itu bersama sang ayah.
Wanita ini, melihatnya dari balik pohon yang berada dekat rumah itu.
"Bapak iyam, sampean dolanan ning kene ae ojo nandi-nandi yo, Nduk (Bapak mandi, kamu di sini aja ya, jangan ke mana-mana, Nduk)," pesan bapak itu.
Gadis itu tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Ketika pria itu pergi, dengan cepat wanita itu menghampiri gadis kecil itu, lalu menggendongnya.
"Ibu," ucap gadis kecil.
"Sssst, menengo (Diam)," ucap si wanita.
Gadis itu hanya menuruti kemauan ibunya, dia dibawa kesatu rumah yang menurutku tidak asing lagi. Iya, wanita itu membawa gadis kecil itu ke rumah kosong yang berada di belakang perumahan Kak Ega.
"Iki nandi, Bu (ini di mana, Bu)?" tanya Gadis kecil itu.
"Iki kabeh goro-goro koe enek ning dunyo iki (Ini semua gara-gara kamu ada di dunia ini)," ucap wanita itu.
Wanita itu menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya. Dia pukul gadis kecil yang malang itu.
__ADS_1
"Ampun Bu, ampun," ucap gadis itu sembari menahan sakit karena pukulan.
Aku yang melihatnya spontan berteriak, "Ayo pergi, pergi dari sini."
Tapi apalah dayaku, mereka tidak akan bisa mendengarku. Gadis kecil itu meneteskan air matanya, si wanita hanya tertawa ketika melihat gadis kecil kesakitan.
Wanita itu semakin nekat, dia meraih leher gadis kecil sampai dia susah untuk bernapas. Napas gadis kecil itu semakin terengah-engah.
"A-ampun Bu," ucap gadis kecil terbata-bata.
"Gak onok ampun kanggo koe (nggak ada ampun buat kamu)," ucap si wanita.
Wanita itu terus tertawa terbahak-bahak hingga gadis kecil itu kehilangan nyawanya. Aku melihat wanita itu tak ada rasa bersalah sama sekali.
"Hahaha, akhir e koe mati, bakal tak wenehi hadiah kanggo Bapakmu tekan koe (Akhirnya kamu meninggal, bakal aku kasih hadiah buat Bapakmu dari kamu)," ucap wanita itu lagi.
Dia meletakkan mayat gadis kecil itu di atas lantai, lalu wanita itu mengambil pisau di dekatnya yang sudah sedari tadi di bawanya. Dia dengan kejam mencongkel kedua mata gadis itu. Ketika kejadian ini aku hanya bisa menutup mataku, aku nggak tega melihatnya.
Setelah dia berhasil mengambilnya, dia menaruh bola mata itu di dalam kantong kresek yang berada di dekatnya. Lalu wanita itu menggali sebuah lubang di dekat pohon tepat di samping rumah kosong ini.
Lalu wanita itu mengubur jasad gadis kecil di sana. Setelah itu dia membawa kantong kresek itu ke rumah Bapak gadis kecil. Dia menaruhnya di gagang pintu rumah. Tetapi tak ku temui Bapak gadis kecil itu, mungkin si Bapak tengah mencari anak kesayangannya.
Flashback off
***
Sampai di situ aku kembali ke duniaku, ibu memanggil-manggil namaku.
"Keyla, sadar Nak sadar," ucap Ibu sembari menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Ibu, kuburan," ucapku.
"Kuburan apa, Nak? Ayo pulang," ajak Ibu.
"Itu Bu," ucapku sembari menarik tangan Ibu ke pohon yang aku lihat di alam bawah sadarku.
"Itu kuburan gadis kecil itu," ucapku.
"Iya, kita pulang dulu ya Nak, kita bicara sama Ayah," ucap Ibu sembari mengajakku kembali ke rumah.
Aku hanya menuruti kemauan ibu, mungkin dengan cara ini aku bisa membantu anak gadis kecil.
Bersambung....
Apa yang akan dilakukan Keyla? Tunggu selanjutnya ya.
>>>Next Episode
__ADS_1