
"Kesetanan kali ya orang sampai tega begitu," celetuk Jeje.
Tampak wajah kesal mereka saat melihat sekilas berita ini.
"Aku tahu pembunuhan itu," ujarku.
Ibu pun menghampiri sembari menatapku.
"Jangan mengada-ngada kamu, Dek," ucap ibu.
Aku sudah tahu pasti ibu tidak akan percaya dengan semua hal yang aku bicarakan. Aku memutuskan untuk diam saja tanpa menjawab pertanyaan ibu.
Kami kembali menonton televisi, tak terasa senja pun mulai tiba. Sinar mentari pun menembus dari celah-celah kaca yang tak tertutup gorden.
"Mama masak dulu, untuk makan malam nanti," ujar Tante Santi ke Jeje.
Lalu di belakangnya mengekor ibu dan nenek berjalan beriringan.
"Key." Panggil Jeje.
Aku menoleh ke arahnya.
"Kamu dapat penglihatan soal pembunuhan tadi?" tanya Jeje sembari celingukan memastikan tak ada orang lain.
Aku hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan Jeje.
"Cerita dong, Key," pintanya.
"Nggak usahlah, nanti kamu nggak percaya juga," ujarku.
"Percaya kok, ceritalah. Kumohon, Key," Jeje memaksa.
Aku pun melihat kondisi sekitarku juga, untuk memastikan tak ada orang lain selain kita berdua. Setelah itu aku bercerita seperti yang aku lihat di mimpi. Aku bercerita mulai aku terbaring di jalan setapak hingga berjalan cukup jauh itu, hingga aku tak sengaja melihat lentera merah yang menuntunku ke arah pembunuhan yang kejam itu.
Saat aku bercerita, melihat ekspresi Jeje yang selalu berubah-ubah selayaknya orang ketakutan.
"Ih, gak bisa bayangin aku kalau aku dalam posisi kamu," ujar Jeje.
"Kan cuma mimpi," jawabku.
Jeje mengernyitkan dahinya.
"Mimpi ya mimpi, tapi mimpimu jadi nyata. Iiih serem," ujar Jeje.
Aku pun tertawa saat mendengar ucapan Jeje.
"Keyla malah ketawa," ucap Jeje dengan mulut cemberut.
"Memangnya mimpimu selalu indah ya? Nggak pernah gitu mimpi pembunuhan atau hantu gitu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Sebab aku pun tak pernah mendengar dari orang lain perihal mimpi mereka.
"Ya nggak sih, tapi mimpi orang seperti aku begini ya cuma sebatas bunga tidur. Nah kamu kebanyakan jadi nyata, kan kalau jadi kamu pasti was-was," ujar Jeje.
Aku pun menunduk.
"Iya, aku takut jika dalam penglihatanku atau mimpiku bertemu orang tuaku. Aku takut mimpiku jadi nyata," ujarku dengan wajah murung.
Jeje mengelus tanganku.
"Ikut masak yuk," ajak Jeje sembari mendorongku menuju dapur.
Mungkin itu cara Jeje untuk mengalihkan pikiranku yang tadi. Di dapur aku melihat tiga wanita hebat sedang sibuk dengan aktivitasnya.
Ibu membantu mengupas bawang, nenek memotong-motong sayuran. Sedangkan Tante Santi menggoreng ikan. Mereka menoleh saat mendengar suara kursi rodaku.
"Hai Jeje, Keyla," ujar nenek.
Entah kenapa kita secara bersamaan hanya tersenyum. Jeje menemaniku saat yang lain sedang sibuk.
Tak berselang lama masakan pun matang semua. Ibu dan yang lain menata makanan di atas meja makan, sedangkan Jeje tetap membantuku untuk mendorong. Saat ini ayah pun datang menemani kami.
"Dari mana, Yah?" tanyaku, sebab sedari sore tak melihat ayah hingga magrib tiba.
"Itu, Dek ... Ayah ikut gabung dengan orang-orang di jalanan depan itu. Lagi heboh sama Mbak Rasni katanya," jawab ayah.
"Apa Mbak Rasni yang rumahnya di ujung jalan sebelum belokan itu, Dim?" sahut Tante Santi.
"Iya, Mbak. Aku nggak ngedengerin sih apa yang mereka omongin, tetapi cuma nggak salah denger soal Mbak Rasni," ujar ayah.
Sambil menata dan mengobrol, akhirnya makanan pun siap di hidangkan.
"Ya sudah, kita makan dulu saja," ujar nenek.
Kita pun berkumpul di meja makan, lalu makan. Aku di bantu ayah untuk duduk di kursi, agar bisa makan bersama-sama. Perasaan bahagia bisa merasakan kehidupan yang sedikit normal bagiku. Walaupun belum bisa bergerak sepenuhnya seperti sedia kala, namun ini sudah mampu membuat aku bahagia.
Malam ini, kami lalui dengan suka cita. Kami berkumpul bersama, ngobrol bersama dan ini semua hal yang aku rindukan saat aku berada di rumah sakit lalu.
"Dek dua hari lagi kita harus check up seperti anjuran dokter," ujar ayah memberitahu saat kami asik menonton televisi.
"Iya, Yah. Oh iya, aku boleh minta sesuatu nggak?" tanyaku dengan ucap sedikit ragu.
"Jangan bilang kamu mau mampir ke rumah Kevin." Sahut ibu.
Aku tersenyum ke arah ibu yang ternyata sudah mengerti keinginanku.
"Nggak!" ucap ibu yang terdenger sedikit ketus.
"Yah." rengekku.
__ADS_1
Saat itu juga ibu dan ayah saling memandang, lalu ayah kembali memandangku.
"Mau apa?" tanya ayah dengan lembut.
Aku melirik ibu sebelum menjawab pertanyaanya, tanpa ku sadari aku menyatukan tangan lalu mengadu kedua jempolku. Aku ragu untuk berbicara, aku takut kejadian yang aku alami dengan ayah saat ini terjadi lagi dengan ibu.
"Cuma mau cerita doang kok, perihal Mamanya. Tapi kalau Ibu nggak mengizinkan, ya sudah gak jadi," ujarku sembari menunduk.
Ibu menggeser duduknya mendekat ke arahku, lalu beliau memegang daguku untuk mengarahkan wajahku melihatnya.
"Boleh, asal cuma sebatas cerita. Nggak boleh melakukan yang lebih dari itu. Ingat, kami semua ingin kamu sembuh," ucap ibu dengan tegas.
Aku tersenyum ke ibu, lalu berkata, "Baik, Bu. Makasih, ya."
Ibu pun bergegas memelukku, sesekali beliau mencium keningku dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Dek. Nanti coba ibu mengubungi Bi Asih untuk mengatur kita bertemu, siapa tahu kita bisa bertemu dengan Kevin sekalian," ujar ibu.
"Kenapa nggak coba sekarang saja, Al," sahut Tante Santi.
"Oke deh. Ambil ponselku bentar." Ibu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar yang aku tempati.
Selama keadaanku seperti ini, aku, ayah dan ibu tidur di kamar yang sama. Agar saat aku perlu sesuatu tak perlu aku susah payah untuk memanggilnya.
Ibu pun segera datang dengan ponsel di genggamannya. Ibu duduk lagi bersama kami, saat ini beliau yang menjadi pusat perhatian.
"Bu, mau telepon?" tanyaku.
"Kirim pesan singkat dulu kayanya. Takut majikannya yang terlihat resek itu ada di rumah, takut Bi Asih di marahin," jawab ibu.
"Iya, lebih baik seperti itu. Nanti kalau di saat waktu yang tepat biar Bi Asih telepon kita," sahut nenek.
Ibu pun mengetik pesan singkatnya, mula-mula beliau mengingatkan kalau ibu yang memanggilnya itu. Lalu ibu bertanya kesiapan Bi Asih untuk kami hubungin.
Cukup lama Bi Asih meresponnya, sehingga kami tetap memutuskan untuk kembali menonton televisi. Saat kami sedang asik tertawa bersama, tiba-tiba ponsel ibu berdering.
Ibu segera mengambil ponselnya.
"Siapa, Bu?" tanya ayah.
Ibu menoleh sembari berkata, "Bi Asih."
"Halo, Assalamualaikum." ucap ibu.
Ibu pun segera me- loud speaker panggilannya.
"Halo, waalaikumsalam. Iya, Bu. Ada perlu apa?" tanya Bi Asih.
Bersambung ....
__ADS_1