Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Stevia (2)


__ADS_3

"Ada apa, Bunda?" tanya Kak Zaky.


"Ayo, ke kamar dulu. Mak, tolong ambilkan air," ucap bunda menyuruh Mak Ety, sembari terburu masuk ke dalam kamar Kak Zaky.


Bunda tetap berlari kecil masuk ke kamar kakak, sesampainya di dalam dengan dekapan yang kuat bunda mengajakku duduk.


"Ada apa, Bun? Kenapa? Ayah mana?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Kak Zaky.


Namun tak ada satu pun pertanyaan yang di jawab bunda. Terdengar napas bunda yang terengah-engah, karena mungkin lelah menggendongku dengan berlari menuju lantai dasar.


Setelah itu, aku melihat Mak Ety masuk ke dalam kamar sembari membawa satu teko air beserta gelasnya. Lalu Mak Ety sekalian menuang airnya ke dalam gelas itu.


"Ini, Bu." Mak Ety memberikan satu gelas air ke bunda.


Bunda pun meraihnya, lalu menyuruhku untuk minum.


"Minum dulu," ujar bunda.


Aku hanya menurutinya, setelah itu bergantian ibu yang minum. Ibu mulai mengatir napasnya, mungkin beliau akan bercerita.


"Kenapa, Bu?" tanya Mak Ety.


Ibu menatap tajam ke arah Mak Ety.


"Nanti aja, Mak. Nunggu Bapak datang," jawab bunda.


Tampak ekspresi gelisah di wajah bunda, mungkin beliau merasa khawatir. Namun yak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekat.


Kami bukannya senang, malah kami yang berada di dalam ikut tegang karena melihat wajah bunda. Kami juga was-was, walaupun belum tau langkah itu dari siapa.


Ceklek!


Pintu pun terbuka, terlihat ayah di sana. Bunda yang menghembuskan napas lega.


"Gimana, Yah?" tanya bunda.


Ayah hanya menggelengkan kepala, lalu ayah duduk tepat di sebelah bunda.


"Dia tetap kekeh ingin bermain sama si Pia. Bahkan tadi dia pun tak melawan aku sekali pun, Bun," jelas ayah.


"Kenapa sih, Yah?" tanya Kak Zaky tampak bingung.


Ayah menatap ke arahku sembari berkata, "Biasa, itu adekmu."


Semua orang yang berada di ruangan ini, sontak menatapku.


"Hantu? Pia diapain, Yah?" tanya Kak Zaky yang penasaran.


Memang aku terlahir dari keluarga yang seluruhnya memiliki kemampuan yang sama. Namun cara mendapatkannya berbeda-beda.


Bundalah yang sebenarnya memiliki kemampuan bawaan dari lahir, sedangkan ayah memiliki kemampuan karena memang dipelajarinya.

__ADS_1


Aku dan Kakakku kebetulan memiliki kemampuan karena turunan dari bunda, namun kemampuan kami berbeda. Aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, mampu berinteraksi dengan mereka dan dapat melakukan kilas balik masa lalu orang maupun makhluk tak kasat mata.


Sedangkan Kakakku, memang kita bisa melihat hantu. Namun kakakku tak bisa berinteraksi ke mereka, dia juga bisa melihat beberapa menit ke depan tentang hal yang akan terjadi. Bahkan dia memiliki insting yang kuat juga.


Kak Zaky berjarak delapan tahun dengan usiaku. Dia kelas satu SMP, dia termasuk cowok terkeren di sekolahnya, kata dia sendiri.


"Iya, Ada makhluk tinggi besar masuk ke kamar Bunda dan makhluk itu mencoba menyerang Pia," ucap bunda.


Aku mengernyitkan dahiku.


"Salah, aku denger suara. Kakak sama Mak Ety aku panggil nggak dengar," ucapku dengan polos.


Mereka terlihat mendengarkan ceritaku dengan seksama. Aku pun ikut terdiam, kala melihat mereka.


"Coba, lanjutin ceritanya, Dek," suruh Kak Zaky.


"Cerita apa?" tanyaku yang sudah mulai kembali ngantuk.


"Iya, cerita kamu pas ketemu hantu itu," desak kakak.


"Aku dengar suara, terus bangun jalan ke tangga. Tapi di bawah gelap, aku takut. Jadi aku mainan di tangga aja," ujarku.


"Terus?" sahut ayah.


Aku celingukkan melihat sati persatu dari mereka. Setelah itu, aku kembali meminta minum ke bunda.


"Mbak tadi datang, pakai penutup muka. Aku kira bunda, jasi aku anterin masuk kamar," ujarku lagi.


_________


Setelah kejadian itu, kerap kali aku melihat makhluk itu. Dia selalu mendekatiku saat kedua orang tua tak ada di dekatku.


Dia menampakkan diri dari kejauhan, namun aku malah memanggilnya.


"Sini, katanya mau mainan." Aku melambaikan tangan ke arahnya.


Aku waktu itu sedang mainan boneka di ruang tamu sendirian.


Dia melayang menghampiri.


"Mainan, yuk," ucapku memberikan satu boneka yang aku bawa.


Dia mengambilnya, lalu menemani aku bermain. Dia menanggapi semua celotehku, selayaknya orang sedang mengasuh. Tak ada sikap buruk yang di perlihatkan kepadaku.


"Kamu nggak takut? Aku jelek, namaku Desy," ucap makhluk itu.


Aku menatap ke arahnya, lalu menggeleng.


"Tante, nggak jahat," ucapku memanggil itu dengan sebutan tante.


Entah apa lagi yang ada di otakku saat itu, terkadang memang selucu itu hidupku.

__ADS_1


"Tante?" dia bertanya saat mendengar caraku memanggilnya.


"Iya, Tante. Kamu sudah besar, nggak sopan kata bunda kalau memanggil dengan nama ke orang tua," ucapku.


Makhluk itu hanya mengelus kepalaku, lalu tertawa nyaring banget. Saat itu juga aku malah ikut dia tersenyum. Bunda dan ayah mungkin mendengarnya, sehingga mereka datang menghampiri. Bunda dengan cepat meraihku, lalu memelukku dengan erat.


"Apa mau mu?" tanya ayah dengan nada tinggi.


"Aku bermain sama Tante, Yah," ucapku.


Seketika kedua orang tua menatap ke arahku dan saat itu juga makhluk itu menghilang.


"Pia, apa-apaan. Siapa Tante?" tanya bunda.


"Tadi Tante, Bun. Aku mainan sama dia," jawabku.


Saat itu juga ayah menghampiri melihat seluruh badanku.


"Apa ada yang luka, Nak? Kamu diapain?" tanya ayah.


Aku menjawabnya dengan menggeleng.


"Kata Tante, aku seperti anaknya," ucapku dengan polos.


Ayah dan Bunda saling bertatapan, lalu membawaku ke taman di halaman belakang rumah ini.


"Bunda, Kakak di mana?" tanyaku.


"Kak Zaky lagi ikut Mak Ety ke pasar, sebentar lagi pulang kok," jawab bunda.


Ayah dan bunda menemani aku bermain, sesekali aku melihat keberadaan makhluk tadi berada jauh tempatnya, namun menatap ke arahku.


"Yah, aneh nggak sih dengan hantu itu?" ucap bunda saat menemani aku bermain.


"Iya, tapi tak tahu lah, Bun. Biarlah yang penting tak menyakiti anak kita," jawab ayah.


Alu yang sedang asik bermain, sehingga hanya itu yang aku dengar dari perkataan ayah dan bunda. Mereka tetap berbicara soal keanehan makhluk itu, namun aku tak paham. Hingga ayah bertanya sesuatu kepadaku.


"Pia, selain di sebut anaknya, Tante bilang apa lagi?" tanya ayah dengan lembut.


Beliau memanggilkan dengan sebutan yang sama denganku, mungkin itu cara ayah agar aku memahaminya.


"Dia cuma bilang aku seperti anaknya, sama bilang dia juga sering menemani anaknya bermain. Tetapi saat ini kata Tante nggak bisa," jawabku sembari tetap memainkan boneka.


"Bun." panggil ayah.


Aku menatap ke arah makhluk itu sembari menunjuk.


"Itu, Tante. Dia mau bermain, Ayah dan Bunda nggak boleh jahat sama orang. Tante baik kok," ucapku.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2