Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
POV Esther


__ADS_3

POV Esther🌻


Saat itu juga tubuhku tertimbun tanah, aku sudah tidak bisa memikirkan keadaan tunangan yang aku sayangi. Terasa sesak dadaku, semakin lama semakin sesak sehingga aku merasakan tak dapat bernafas lagi.


Tiba-tiba aku kira, aku keluar dari timbunan tanah itu. Aku melihat orang yang berada di sekitar kejadian. Di sana terlihat ramai, aku mencari tunanganku.


"Bang, Bang Ismed," ucapku sembari menangis.


Aku mencoba menembus keramaian orang. Tapi entah kenapa, aku merasa mereka tidak ada yang menghiraukan aku.


Sampailah aku di bagian depan mereka. Aku melihat Bang Ismed tergeletak di sana tidak ada yang membantu. Aku berteriak kepada semua orang.


"Tolong, tolongin tunangan saya dulu," ucapku sembari air mataku menetes ke pipi.


Tak ada satupun orang yang meresponku.


Aku melihat Bang Ismed kepalanya keluar darah segar yang mengalir, dia terpental dari motornya. Sedangkan motornya tertimbun tanah bagian belakangnya, hinga hanya terlihat stang dan jok bagian depan saja.


Aku hampiri Bang Ismed.


"Bang," ucapku.


Aku mencoba menyentuhnya, tetapi tidak bisa. Seperti tubuhku tembus ketika menyentuh.


"Ada apa ini?" tanyaku sembari melihat telapak tanganku.


Dari kejauhan terdengar suara ambulance dan sirine mobil Polisi. Mereka dengan cepat memberikan garis melintang untuk memberikan jarak di tempat kejadian.


Orang-orang di sini melihat terlalu dekat korban, dari pihak kepolisian takut akan terjadi longsor susulan.


Para petugas medis mulai memberikan pertolongan kepada semua korban, termasuk Bang Ismed. Bang Ismed mulai di bawa menggunakan brankar, lalu di dorong dimasukkan ke dalam mobil ambulance bersama korban luka yang lain.


Mereka yang sudah meninggal di biarkan tergeletak di tempat kejadian. Aku ikut masuk ke dalam mobil. Aku duduk di samping petugas medis yang sedang memberikan pertolongan pertama.


"Kak, tolong selamatin tunangan saya," ucapku memohon.


Tak ada satupun petugas merespon ku. Saat itu aku berfikir, "Mungkin mereka lagi sibuk menolong Bang Ismed ku, sebaiknya aku tidak mengganggunya."


Mobil ambulance dilajukan sangat cepat. Tak perlu waktu lama, kami semua pun sampai rumah sakit. Petugas medis segera mendorong brankar menuju UGD. mereka segera memasang infus, memberikan obat entah itu apa aku tidak paham.


"Bang, bangun Bang, Esther di sini," ucapku sembari menangis.


Tak ada respon dari Bang Ismed. Ada dokter datang memeriksa.


"Pasien ini di pindahkan ke ruang ICU sekarang juga, nanti saya lakukan tindakan lanjutan di ruang ICU," ucap Dokter.

__ADS_1


"Siap Dok," ucap perawat.


Aku semakin bingung dengan semua orang yang berada di sini. Aku sedari tadi menemani, tak ada satupun orang yang meresponku.


Brankar Bang Ismed mulai di dorong menuju ruang ICU, aku berjalan tepat di belakang suster yang mendorongnya. Ketika sampai pintu ruangan, dengan cepat brankar di dorong dan pintu ruangan segera di tutup oleh suster.


Tanpa ku sadari sebelum aku masuk, pintu itu sudah di tutup. Dengan langkah gontai karena memikirkan Bang Ismed, tanpa ku sadari aku bisa menerobos pintu ruangan ini.


Aku melihat tindakan upaya penyelamatan terhadap Bang Ismed. Setalah semua selesai, aku mendengar ucapan dokter yang menanganinya.


"Suster, di mana keluarga pasien ini?" tanya Dokter.


"Pasien ini adalah korban kecelakaan, dan dari pihak kepolisian belum memberikan laporan perihal keluarganya, Dok," jawab perawat.


Aku yang mendengar jawaban perawat pun mencoba memberitahu.


"Aku Dok, aku tunangannya," kataku.


Tapi dokter tak melihat ke arahku. Bahkan sepertinya dia tidak mendengarku sama sekali.


"Baik, selalu di cek keadaan pasien, semoga cepat melalui masa kritisnya," ucap Dokter ke perawat.


"Baik Dok," jawab perawat lagi.


Ketika semua orang pergi, ku duduk di kursi samping tempat tidur.


"Bang, cepat sadar, aku sayang kamu," ucapku sembari meneteskan air mata.


Sedari tadi baru aku merasakan keanehan yang aku alami.


"Kenapa mereka tidak melihatku? Lalu, tadi bagaimana caraku masuk ke dalam rungan ini, aku ingat betul pintunya sudah di tutup perawat?" pertanyaan di Benakku.


Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku menangis sejadi-jadinya.


"Apa Aku ini beda dunia sama kamu, Bang?" ucapku sembari mencoba menyentuh pipi Bang Ismed.


Tanganku masih tidak dapat menyentuhnya. Aku berlalu keluar meninggalkan Bang Ismed sendirian, aku melangkahkan kakiku keluar ruangan tanpa membuka pintunya, iya aku menembus pintu ini.


Ketika aku mencoba menjauh, aku mendengar berita dari televisi di ruang tunggu, perihal tanah longsor yang kami alami tadi pagi.


Aku berhenti berjalan dan aku mulai memandangi berita yang di sampaikan pembawa acara di televisi. Aku melihat banyak korban di sana.


Bahkan, banyak dari mereka yang tertimbun tanah. Satu persatu korban mulai di evakuasi, di dalam berita aku melihat evakuasi motor Bang Ismed juga.


"Motormu, Bang," ucapku lirih.

__ADS_1


Tak lama dari evakuasi motor, aku melihat pihak kepolisian mencoba mengevakuasi seorang perempuan.


"Ya allah, kasian sekali," ucapku.


Wanita itu, tertimbun tanah seluruh tubuhnya. Wanita itu berkuncir kepang dua khas anak desa. Kaos yang awalnya berwarna putih, seketika berubah warna menjadi kecoklatan.


"Pasti cewek itu sudah meninggal," aku menduga-duga.


Entah kenapa, aku merasa tidak asing dengan tubuhnya yang mungil, gayanya yang khas itu. Dia terlihat seperti aku, tapi mana mungkin, aku sekarang sudah berada di sini.


Tak begitu lama, aku melihat pihak kepolisian datang ke rumah sakit. Aku segera bergegas mencari informasi soal tanah longsor tadi.


karena sudah tidak tahu keberadaan hanphoneku untuk mengabari keluarga kami.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya resepsionis.


"Di mana ruangan korban yang bernama Ismed?" tanya Pak Polisi.


"Berada di ruang ICU pak, sebentar saya hubungi dulu dokter yang menanganinya," ucap petugas resepsionis.


Pak Polisi hanya mengangguk tanda mengiyakan. Setelah petugas selesai menelpon segera memberitahu keberadaan dokter.


"Dokter berada di depan ruangan ICU, silakan Bapak ke sana saja," ucap Resepsionis.


Aku mengekor di belakang pihak kepolisian. Setelah bertemu dengan dokter, mereka berbincang-bincang.


"Pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.


"Saya hanya memberitahukan, bahwa keluarga korban sudah berhasil kami hubungi, katanya sudah menuju rumah sakit ini," Pak Polisi mencoba memberitahukan.


"Baik Pak, sudah kami tangani semaksimal mungkin, semoga saja pasien cepat segera sadar," kata Dokter.


"Oh Iya, mungkin nanti kalau pihak kepolisian sudah tidak berada di sini dan keluarga korban sudah sampai di sini, mohon diberitahu kalau perempuan yang bersamanya sudah meninggal dunia," tegas Polisi.


"Baik Pak, nanti saya sampaikan," kata Dokter.


Seketika mendengar ucapan polisi, dadaku kembali sesak.


"Apa? jadi yang aku lihat di televisi itu mungkin benar-benar aku?" tanyaku dalam batin.


"Aku sudah meninggal?" tanyaku masih tidak percaya.


Saat itu juga tangisku pecah. Aku merasa ingin cepat bangun dari mimpi burukku ini. Aku tepok-tepok pipiku agar aku cepat bangun. Tapi kenyataan pahit yang aku rasa, aku memang di takdirkan tidak berjodoh dengan Bang Ismed.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2