
Selly dan Bella, membantu Bu Evi untuk mengobati luka mereka.
"Dewi, Dinar, apa yanga sebenarnya terjadi? Kok bisa?" tanya Bella tampak penasaran.
"Kami juga nggak tahu. Awalnya kita hanya cerita-cerita, tiba-tiba di papan tulisan ada coretan tulisan datang. Bahkan nggak hanya itu, Si Dinar mendengar bisikan yang mengatas namakan Keyla." Dewi menjelaskan.
Sedangkan Dinar, luka di kepalanya yang cukup banyak. Membuat dia memilih untuk diam dan mendengarkan mereka sembari diobati.
"Masa, sih. Memangnya kalian lagi bahas apa?" sahut Selly.
"Nggak bahas apa-apa, sih. Wajar aja, kalau bahas tentang Almarhum Keyla. Nggak tahu juga, tiba-tiba gitu," jawab Dewi lagi.
"Kalian jangan banyak melamun, pikiran kosong, jin apapun mampu memanfaatkan kalian. Dinar juga, jang suka menyendiri, jika sedih dibiasakan cerita sama yang lain. Takutnya, kejadian seperti ini kembali lagi saat kamu sendirian." Bu Evi menasehati.
Pagi itu, Bu Evi dan Pak Andi memilih untuk mengantarkan Dewi dan Dinar pulang. Mereka hanya ingin, Dinar dan Dewi istirahat.
"Bella atau selly, minta tolong salah satu dari kalian, ambilkan tasnya mereka berdua, ya. Biar Pak Andi dan Ibu yang mengantarkan pulang," perintah Bu Evi. "Dinar, tadi bawa sepeda, Nak?"
"Nggak, Bu. Kebetulan tadi diantar," jawabnya.
Selly segera beranjak dari tempat duduknya dan melaksanakan apa yang di perintah Bu Evi. Dia berlari dengan cepat menuju ruang kelas yang saat ini ramai di isi anak-anak yang lain. Dia dengan cepat merai tas keduanya dan kembali dibawa ke ruang uks.
"Sell, gimana keadaan mereka?" tanya salah satu teman sekelasnya.
"Sudah di obati, ini mereka mau diantarkan pulang, kok." Selly menjawab sembari melangkahkan kaki keluar dari kelas.
Sesampainya di uks. Mereka membantu untuk Dewi berjalan, sedangkan Pak Andi menggendong Dinar. Mereka tahu, kondisi Dinar seperti ini tak memungkinkan Dia untuk terus berjalan.
"Bella dan Selly kembali ke kelas. Kami mau mengantarkan mereka pulang." Pak Andi memberitahu.
"Baik, Pak" Selly mengelus bahu Dinar. "Cepat sembuh, Din. Nanti, kami pulang sekolah ke rumahmu, ya."
Selly dan Bella kembali ke kelas. Sedangkan Bu Evi dan Pak Andi naik ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke rumah Dinar. Tak ada obrolan apapun saat ini, sebab mereka tak ingin anak-anaknya istirahatnya terganggu. Jarak rumah Dinar yang memang dekat dengan sekolah, sehingga tak memakan waktu lama.
Pak Andi kembali menggendong Dinar, sedangkan Bu Evi turun dengan sigap turun dari mobil.
Tok! Tok!"
Bu Evi mengetuk pintu rumah Dinar. Tak berselang lama, pintu pun terbuka. Terlihat Kak Dita berdiri di sana.
"Ya Allah, Dinar. Mari masuk, Pak, Bu." Kak Dita mengajak mereka.
"Ini kenapa?" Kak Dita merasa khawatir.
Bu Evi sedikit menjelaskan, sebab mereka terburu mengingat Dewi sendirian di dala mobil.
__ADS_1
"Kami pamit dulu, ya. Soalnya Dewi sendirian di mobil." Bu Evi beranjak dari tempat duduknya, lalu berjabatan tangan.
Kak Dita mengantarkan mereka, hingga benar-benar pergi dari rumah itu. Setelah itu, dia kembali menghampiri Dinar yang ada di sofa ruang tamu.
"Dinar ... Dinar, kok bisa-bisanya, loh. Kakak sudah berkali-kali bilang, jangan suka bengong sendirian. Apalagi di dalam kelas, kita nggak tahu ada makhluk apa di sana. Mereka bisa kapan saja mempergunakan tubuhmu untuk media mereka." Kak Dita menegurnya.
"Maaf, Kak. Akukan nggak tahu, kalau bakal seperti ini. Hari ini, lagian terakhir masuk sekolah. Hari sabtu nanti jadwal kelulusan. Semoga luluslah," gumam Dinar sembari memejamkan mata.
"Kebiasaan, kalau diberitahu suka mengentengkan dengan kata lagian. Kamu mau lanjutin di mana?" tanya Kak Dita.
"Belum kepikiran." Dinar menjawab dengan singkat.
Hari minggu kita prepare, Kita rencana pindah ikut Ayah ke kota." Kak Dita memberitahukan.
Sontak Dinar membuka mata dan bergegas untuk duduk. "Kok mendadak sih, Kak. Itupun baru pengumuman doang, nilainya belum keluar.
"Mau gimana lagi, kemarin Ayah telepon suruh ke sana. Sebab, Kak Andre pun mulai minggu depan dipindahkan ke sana. Mau nggak maulah, Dek," jawab Kak Dita.
"Terserahlah, Kak. Aku mah, ngikut aja. Nggak mungkin aku tinggal di sini sendirian." Dinar mengiyakan ajakannya.
"Iya, makanya kamu juga sudah prepare dari sekarang. Apa yang kamu butuhkan di bawa," perintah Kak Dita lagi.
Dinar hanya menganggukkan kepala. "Rumah ini, gimana?"
"Kata Ibu dijual, sih. Sambil jalan, yang terpenting kita sudah dapat rumah di sana," jawab Kak Dita.
"Iya, rumah. Ayah sudah membelikan rumah untuk kita. Meski dulunya milik orang, terpenting sudah ada tempat tinggal pasti," jawab Kak Dita.
"Rumah tua, Kak?" Dinar tampak penasaran.
"Nggak tahulah, Dek. Minggu depan juga bakal tahu sendiri. Sana, pindah ke kamar!" perintah Kak Dita.
Dinar beranjak dari tempat duduknya dengan dibantu Kak Dita. Bahkan, dia pun di bantu untuk berjalan menuju kemarnya.
"Istirahat dulu, ya. Jangan macam-macam, awas aja," ujar Kak Dita.
"Hem, Iya." Dinar membalikkan badan membelakangi kakaknya ketika berbaring.
Dita memilih untuk keluar kamar. Sedangkan Dinar, kembali memejamkan mata sebab dirasa kepalanya sedikit pusing.
***
Dinar pun membuka mata, sebab terasa badannya diguncang. Terlihat ibunya duduk di pinggir kasur menemaninya.
"Bangun, Nak. Makan dan minum obat, yuk," pinta Ibunya Dinar.
__ADS_1
Dinar pun duduk dan meraih makanan yang dibawa ibunya beserta obatnya.
"Kepalanya masih sakit, Nak?" tanya Ibu Dinar.
"Sudah agak mendingan kok, Bu. Oh iya, katanya kita minggu nanti pindah, ya?" tanya Dinar.
"Iya, Nak. Kemarin ayah memberitahukan.Saat ingin memberitahukan kamu, ternyata kamu membawa berita duka dari Dandi semalam. Kamu mau, kan?" tanya Ibunya Dinar.
"Iya, Bu. Aku mau banget," jawab Dinar, lalu melahap makanannya.
"Ibu keluar dulu, ya. Kamu buth kardus untuk tempat barang-barangmu, nggak?" tanya ibunya.
"Iya, Ma. Aku rencana mau siap-siap dari sekarang," jawab Dinar.
Lalu, ibunya melenggang keluar kamar meninggalkan Dinar sendirian.Selesainya makan, Dinar menjaungkau barang-barang yang ada di dekatnya. Dia merapikan dan memasukannya ke dalam kardus yang diberikan ibunya tadi. Dia sengaja mencicil untuk merapikan barang-barangnya, apalagi beberapa yang diberikan Keyla kepadanya. Dia tak ingin, ada yang ketinggalan.
Dinar meraih foto Keyla, "Key, aku mau pindah dari sini. Aku janji, pasti tetep ke makam kamu, kok. Lumayan dekat juga dari tempat ayahku kerja," gumam Dinar sembari menatap foto Keyla, lalu dia masukkan ke dalam kardus juga.
Tok! Tok!
"Din, kakak masuk, ya," pinta Kak Dita.
"Iya," jawab Dinar.
Kak Dita membuka pintu dan segera masuk ke dalam kamar.
"Apa, Kak?" tanya Dinar.
"Jangan terlalu dipaksakan kalau kepalanya sakit. Kakak cuma mau lihat kamu aja," jawab Kak Dita.
"Oh, aku nggak apa-apa, kok. Biar nanti nggak ada yang ketinggalan satu barang apapun, Kak." Dinar tetap kekeh menata barangnya.
Kak Dita duduk di ketnya, lalu membantu memaaukkan barang menggunakan kardus yang lain.
"Kak, kira-kira nyaman nggak ya, di rumah baru?" tanya Dinar.
"Dek, rasa nyaman kita hadirkan sendiri. Jika di dalam hatimu tak pernah merasakan berat untuk menerima keadaan yang baru, pasti tak perlu waktu lama kamu akan merasa nyaman di kehidupan barumu." Kak Dita menjawab sembari beberes.
"Iya, juga. Semoga tenang, nyaman dan tentunya nggak ada penunggunya," gumam Dinar.
"Hallah, semua rumah ada penunggunya sayangku, cintaku. Tinggal si penunggu itu suka mengganggu atau tidak. Yang penting, jangan lupakan sholatmu, maka Allah akan senantiasa melindungimu," jawab Kak Dita.
Dinar menatap kakaknya, lau tersenyum lebar.
"Heh, apa senyum-senyum. Mencurigakan," ejek kakaknya.
__ADS_1
"Sejak kapan Kakak jadi ustadzah? Hahaha, Alhamdulillah, akhirnya Kakak di jalan yang benar." Dinar mengejeknya juga.