Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Biar tahu rasa


__ADS_3

Tiba-tiba Nando bersujud ke kaki Rizal. Hal itu membuat Rizal dengan spontan membantunya untuk berdiri.


"Mas, jangan seperti ini," ajak Rizal berdiri.


"Rizal, maafkan aku. Aku malu terhadapmu atas segala perbuatanku." Nando tetap kekeh untuk mencium kaki Rizal.


"Iya, Mas. Ayo, bangun. Dilihat orang, aku nggak enak sama yang lain," ujar Rizal.


Nando pun segera bangun dan menitikkan air mata. Tentu, melihat kejadian yang seperti itu membuat Bu Sumi memikirkan isu baru.


"Ih, Rizal. Kok tega banget, sudah ngerebut istrinya, sekarang malah nyuruh si Nando nyium kakinya. Benar-benar nggak tahu diri," ujar Bu Sumi membuat ulah lagi.


Rizal pun mengajak Nando untuk masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu itu. Ia tahu, bakal ada hal baru lagi yang akan dibuat Bu Sumi untuk membuat gaduh kampung ini.


"Mas, kedatangan saya ke sini hanya ingin meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Maaf, jika baru ke sini, saya tahu jika langsung ke sini takutnya malah membuat masalah ini semakin runyam," ujar Rizal dengan tulus.


"Rizal, seharunya aku yang meminta maaf. Dengan omongan orang, malah mencelakai kamu. Maafkan aku, Rizal," ujar Nando menyesali perbuatannya.


Mereka dengan pikiran dewasa berembuk dengan masalah ini. Rizal kembali menjelaskan jika antara dia dan Ranti tak memiliki hubungan apapun. Selain itu, Rizal meminta Nando untuk berhati-hati dengan ucapan Bu Sumi.


"Mas, dengan perbuatan Mas yang barusan, mungkin bakal ada berita heboh baru lagi. Tadi, masi lihat sendirikan Bu Sumi berdiri melihat ke arah kita? Aku berharap, Mas Nando sabar dan lihat seperti apa dia mengarang kejadian tadi. Sebenarnya saya juga geram. Kok bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Ada maksud apa coba?" Rizal bertanya-tanya.


"Iya, Zal. Aku juga dengar tadi penjelasan dari Bu Heny masalah kalian. Memang beracun mulut wanita itu. Rasanya ingin buat perhitungan ke dia, tapu sayangnya dia perempuan." Nando geram dengan perlakuan Bu Sumi.


Setelah itu, Rizal memberikan saran jika sebaiknya saat ini Nando lebih memikirkan keadaan Ranti terlebih dahulu. Biarkan Bu Sumi ngomong hal busuk apa lagi, lebih baik tak tak dihiraukan. Fizal ingin, secara perlahan Nando menampakan rasa sayangya, perhatiannya terutama kepada janin yang di kandung oleh Ranti. Mungkin, dengan cara seperti itu, bisa membuat hati Ranti perlahan kembali luluh.


"Aku tahu, kalian orang yang kuat dan hebat. Berkali-kali Bu Sumi mencoba mengacaukannya, tetapi kalian tetap teguh dengan pendirian kalian. Mungkin, saat ini kalian ada di titik lelah, hingga kepercayaan kalian goyah. Saya harap, kalian kembali baik, sehingga semua itu membuat Bu Sumi semakin iri ke kalian. Biar dia merasa jika sekuat apapun badai menerpa, tak akan roboh rumah yang di bangun dengan rasa cinta dan kepercayaan itu. Bangun lagi lebih kuat dan saling mempercayai satu sama lain," ujar Rizal.

__ADS_1


"Zal, makasih, ya. Nggak tahu lagi apa yang harus saya katakan selain kata maaf dan terima kasih. Aku merasa tak enak hati kepada kamu," ujar Nando.


"Iya, Mas. Kalau begitu, saya pamit pulang terlebih dahulu, ya. Ingat selalu kata-kataku," ujar Rizal sembari beranjak dari tempat duduknya.


Nando pun mengantarkan Rizal keluar dari rumah. Masih terlihat jika Bu Sumi dengan betah di penjual sayur itu, beliau tak kunjung pulang, padahal di sana sejak pagi tadi.


"Eh, mereka udah keluar, tuh. Nggak dengar mereka berantem, kok cepat banget selesainya. Ih, nggak seru, deh," gumam Bu Sumi.


Ibu-ibu yang lain hanya mampu menggelengkan kepala saat mendengar ocehan Bu Sumi itu.


"Heh, Nando, Rizal!" teriak Bu Sumi.


Sontak Nando dan Rizal menatap ke arahnya.


"Apalagi, Bu?" ujar Rizal dengan halus.


"Nggak ada, Bu. Kami membela wanita yang tepat dan berwibawa, bukan wanita yang mulutnya lemes dan suka menghasut orang lain,"sahut Nando yang berdiri di depan rumahnya.


"Ih, nggak malu! Mau aja di suruh sujud di kaki Rizal. Ganteng-ganteng, nggak ada harga dirinya. Iuh." Bu Sumi seakan-akan mengejek Nando.


Rizal kembali menoleh ke arah Nando.


"Benarkan, Mas. Apa yang kubilang. Udah buruan masuk, mulutnya licin nggak usah ditanggepin," pinta Rizal.


Nando pun menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah.


"Bu, sesekali kalau ngomong mulutnya di filter, ya. Kasihan kalau yang diajak ngobrol orangnya gampang sakit hati. Ganti dijulitin orang baru tahu rasa," ujar Rizal sembari masuk ke halaman rumahnya.

__ADS_1


Ibu-ibu dan pedagang sayur pun tersenyum kala dua orang yang selama ini diam, saat ini membalas ucapannya tak kalah pahitnya.


***


Mulai hari itu, Nando dan Rizal pun diisukan dengan kejadian itu. Tapi, Nando dan Rizal bersikap biasa saja dan bahkan memilih untuk melawan Bu Sumi. Nando hanya bertekad membawa istrinya pulang kembali ke rumah. Ia sengaja menjalankan seperti saran Rizal untuk perhatian dan memperlakukan Ranti penuh dengan kasih sayang. Walaupun awalnya Ranti kaku dengan pendiriannya, akhirnya luluh dengan sikap Nando yang lembut.


Dari kejauhan, terlihat Ranti dan Nando bergandeng tangan menuju rumahnya. Dua hari setelah kepergiannya daru rumah, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kembali.


"Ih, nggak bisa dibiarkan ini. Kenapa mereka bisa akur kembali. Seharusnya mereka kan pisah. Nando bener-bener bod*oh kamu," gumam Bu Sumi saat melihat mereka.


Bu Sumi pun segera menggendong anaknya mendekat ke arah mereka. Dia seakan-akan menunggu mereka untuk menjadi bahan omongannya.


"Sayang, sabar, ya. Nenek lampir lagi di depan. Sepertinya dia mau mengeluarkan jurus julidnya lagi." Nando mengingatkan istrinya.


"Iya, Yah. Memang Bu Sumi itu, nggak bahagia kalau hidupnya sehari saja tanpa membuat fitnahan baru. Sudah jadi gula, garam omongannya dalam kehidupanku," jawab Ranti sembari tersenyum.


Dengan memperlihatkan senyumnya, membuat Nando merasa bahagia.


"Hei, Ranti. Nggak malu jilat ludah sendiri?" tegur Bu Sumi.


Ranti dan Nando pun tertawa terbahak-bahak.


"Mending jilat ludah sendiri, dari ada ludah mulut busuk sepertimu!" cecar Ranti.


Bu Sumi terbelalak kala mendengar ucapan Ranti. Dia tak menyangka jika ia berani membalasnya. Bu Heny yang mengekor di belakang mereka, sontak tertawa.


"Rasanya gimana, Bu? Akhirnya selama ini yang kamu tindas membalasnya. Nggak selamanya mereka diam, ingat mulutmu akan menanggung hisab dari yang Maha Kuasa. Sesekali ingat dosa kenapa, biar kalau bicara di saring dulu," ujar Bu Heny.

__ADS_1


Bu Sumi wajahnya seketika berubah masam, dia merasa tertindas saat ini. Dia benar-benar, nggak menyangka.


__ADS_2