
"Ya Allah, Kak. Lukamu sebanyak ini?" ujarku tampak khawatir.
Kak Kevin hanya tersenyum ke arahku.
"Gimana, Yah? Apa mama tirinya sudah tertangkap?" tanyaku.
"Belum, Dek. Tadi dapat kabar dari pihak kepolisian, wanita itu kabur dari rumah keluarga Kevin," ujar ayah.
"Wanita itu licik, Key. Aku bersyukur akhirnya Papaku sudah sadar kalau selama ini wanita yang selalu dibanggakan itu seorang pembunuh dan jahat," ujar Kevin dengan nada penekanan.
Terlihat amarah yang begitu membara di dalam tubuhnya saat ini. Ayah pun saat ini bercerita bahwa wanita itu sempat dihalangi Pak Joko dan Bi Asih saat ingin pergi, namun malah mereka berdua berhasil dilukai oleh dua orang yang bersama wanita itu.
Kevin terlihat sangat murka, kala mendengar kabar yang baru ia dengar dari pihak kepolisian itu. Namun apa mau di kata, pihak kepolisian menyarankan Kevin untuk sementara bersembunyi dulu di tempat yang dirasa aman.
Maka dari itu, ayah memutuskan untuk membawa Kevin ke sini. Dari segi keluarga Kevin atau pun wanita itu, tidak akan tahu keberadaannya.
"Lalu bagaimana keadaan Bi Asih dan Pak Joko, Yah?" tanyaku mencoba memastikan.
Mereka sudah di bawa ke rumah sakit karena Bi Asih mengalami pendarahan karena tusukan benda tajam di bagian perutnya, sedangkan Pak Joko hanya lecet di bagian bahu dan pelipisnya karena sabetan senjata itu.
Mereka bergegas melarikan diri setelah berhasil melukai keduanya, pihak kepolisian berusaha untuk mengejarnya, namun mereka kehilangan jejaknya hingga mereka berhasil kabur. Untuk saat ini dari penjelasan ayah, rumah keluarga Kevin dibentangkan garis polisi, untuk mengusut kejadian perkara kepada Bi Asih dan Pak Joko.
Beberapa pihak kepolisian juga menjaga rumah itu, takut sewaktu-waktu ada orang yang sengaja melenyapkan harta benda keluarga itu.
"Kita nggak menjenguk Bi Asih dan Pak Joko?" tanyaku lagi.
"Nggak, Dek. Lagi bahaya untuk keluar dan menjenguk saat ini, mereka bisa saja mengintai pergerakan kita," jawab ayah.
__ADS_1
"Sial*an memang tuh wanita, kalau tertangkap ingin hukuman mati sekalian yang diterimanya," ujar Kevin.
Ayah dan Kak Andre yang berada di samping Kevin, hanya mencoba untuk menenangkannya. Mereka tak ingin Kevin salah langkah dan hal itu yang membuat dia terluka. Ungkapan kata kasar beberapa kali dilontarkan oleh Kevin untuk wanita itu, namun kami hanya memaklumi karena dia lagi di fase kebencian dan amarahnya lebih besar.
Tetapi aku sedari tadi tak menemukan jawaban, kalau papanya Kevin tahu tetapi di mana sekarang keberadaannya.
"Papamu ke mana, Kak?" tanyaku.
"Papa masih di luar negeri, jadi tadi saat papa telepon beliau menjelaskan kalau wanita itu kemarin sengaja tidak ikut. Sebab dia beralasan kasian terhadap Kevin, dia nggak bakal tahu kalau kejadiannya akan seperti ini," ujar Kevin.
Namun penjelasan Kevin membuat aku paham, aku masih merasa bingung.
"Maksudnya gimana, Kak?" tanyaku.
Kak Kevin terlihat menggaruk kepalanya, mungkin dia jengkel harus menjelaskan ke aku yang lama untuk memahaminya.
"Jadi gini, kemarin tenyata waktu mereka berdua hendak berangkat keluar negeri, saat berada di bandara wanita itu beralasan ke papa kalau mendadak tak bisa ikut. Sebab dia merasa kasian ke aku yang ada di rumah sendirian, bahkan dia beralasan lain-lainnya," ujar Kevin mencoba u tuk sabar menjelaskan kepadaku.
Kevin hanya terlihat menyenderkan badannya ke sofa, ini pun percobaan pembunuhan yang dilakukan wanita itu ke Kevin. Ini menurutnya yang paling kejam, sebab dia benar-benar dibawa oleh Candra dan dua orang pria yang sama sekali tak dikenalinya.
"Yah, tadi ceritanya gimana bisa menemukan Kevin?" tanyaku.
*********
Ayah pun bercerita jika mereka bertiga segera melajukan mobilnya, saat di pertengahan jalan mendapat panggilan dari si Kevin. Dia memberitahukan bahwa sudah berada di tempat yang lebih aman dari sebelumnya.
Si Kevin menjelaskan bahwa dia mencoba berdiri dan memaksa berjalan hingga cukup jauh dari lokasi yang di bakar. Dia sudah tak memikirkan keadaan kakinya yang nantinya bisa lebih parah, yang ia tahu dia ingin hidup saat itu.
__ADS_1
Dia mengabarkan bahwa dia akan segera mengirim lokasi barunya walaupun tak jauh dari tempat itu, namun rerimbunan semak yang membuat dia takut tak diketemukan oleh ayah. Kevin pun segera memutuskan sambungan teleponnya agar cepat bisa mengirim lokasinya saat ini.
Kak Dita memutuskan untuk segera menghubungi pihak kepolisian dan memberitahukan tempat kejadian yang telah di kirim oleh Kevin sebelumnnya.
Mereka bertiga melihat situasi jalanan, memastikan tak ada mobil lain selain mereka. Bahkan di sana mereka pun tak menemui orang satu pun yang lewat saat itu, mereka berpikir lebih aman sebab mereka bertiga tak ingin jika orang yang berada di sana Candra dan dua orang itu.
Saat setelah sampai di lokasi yang ditentukan Kevin, Kak Andre segera turun sedangkan ayah dan Kak Dita berada di atas. Kak Andre membawa gunting rumput yang ada di rumah untuk menebas semak-semak yang mengganggu jalannya saat turun. Kak Andre turun menggunakan tali tambang yang sedari tadi sudah di bawanya, dari atas di bantu ayah mengikatkan tali itu dengan kuat di saah satu pohon yang terdekat.
Walaupun perlahan dan tertatih, itu tak menyudutkan niatnya Kak Andre untuk menolong keselamatan orang lain. Hingga saat sampai di dasar jurang, dia menemukan Kevin sedang duduk selonjoran kaki dan di bagian dahinya terlihat darah yang mengucur hingga sampai ke dagu.
"Andre, gimana!" teriak ayah dari atas.
"Alhamdulillah, ketemu Om. Tolong air putih dulu!" jawab Kak Andre dengan nada yang sama tinggi dengan ayah.
Dari atas kata Kak Andre waktu itu terlihat tali tambang lagi namun lebih kecil yang diikatannya terdapat sebotol air mineral. Kak Andre pun mengambil airnya dan memberi kode yang di atas bahwa air telah diambil. Mereka bertiga pun dapat berkomunikasi dengan baik walaupun dengan isyarat.
Saat di bawah Kak Andre segera menyuruh Kevin untuk minum dan menanyakan kesiapan Kevin untuk segera naik ke atas.
"Kevin, kamu kuat untuk naik?" tanya Kak Andre.
"Iya, Kak. Aku kuat kok, makasih ya atas bantuannya," ujar Kevin.
Kak Andre tanpa menjawab langsung bergegas membopong Kevin dan mengikatkan tali tambang itu ke tubuh Kevin.
"Om, satu tali tambang lagi. Ini kami mau naik!" teriak Kak Andre lagi.
Yang berada di atas dengan sigap segera melemparkan tali tambang itu yang sebelumnya juga sudah diikatkan ke pohon. Saat ini mereka berdua dengan langkah yang tertatih terutama Kevin, ingin segera cepat naik ke atas. Mereka bersusah payah untuk naik, dari atas pun mereka berdua juga membatu untuk menarik talinya.
__ADS_1
Saat akan sampai di atas, mereka mendengar suara sirine dari mobil polisi datang menghampiri ayah. Pihak ke polisian juga segera membantu ayah dan Kak Dita untuk menarik mereka berdua.
Bersambung ....