Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
POV Dita kakaknya Dinar


__ADS_3

Namaku Anandita Selviani biasa dipanggil Dita. Malam ini seharusnya aku fitting baju pengantin dengan keluargaku dan Andre calon suamiku.


Aku dan Andre sudah cukup lama berpacaran, kurang lebih 4 tahun. Kami teman sewaktu SMA, kami memiliki perasaan yang sama tetapi tidak berani mengungkapkan.


Awalnya kami berteman baik sejak kelas satu SMA, ke mana saja selalu bersama bahkan kami masuk Universitas yang sama.


Jarak rumah kami memang jauh, tapi entah mengapa Andre selalu menyempatkan untuk menjemput ku.


Andre baru berani mengungkapkan perasaannya ketika kami sudah masuk Universitas pada semester kedua.


Ketika dia mengungkapkan perasaannya, tanpa berpikir lama aku pun mengiyakan. Aku sangat menyukainya sejak lama.


Pada tahun ke-4 kita pacaran, Andre memberanikan untuk melamarku, dan acara pernikahanku akan diadakan dua bulan lagi.


Maka dari itu tepat hari ini, kami akan fitting baju pengantin. Malam ini aku di temani Ibu, Dinar dan Keyla.


Sembari menunggu Andre datang, aku dan ibu memilih gaun yang cocok buatku, sedangkan Dinar dan Keyla menunggu di tempat duduk.


Aku lihat Keyla memutari satu gaun yang dipasang di manekin, aku berinisiatif mengajak ibuku untuk menghampirinya.


Entah kenapa aku tertarik melihatnya, ibuku pun mengiyakan. Aku mulai mencoba bajunya dan di bantu sama pemilik penyewaan baju ini.


Tetapi ketika aku keluar dari ruang ganti, si Keyla tiba-tiba teriak dan memalingkan wajahnya dariku. Aku melihat dia sangat ketakutan dan saat itu juga ibu menyuruhku untuk mengganti pakaianku.


Kami bertiga, Ibu, Dinar dan aku mencoba menenangkannya. Aku tahu Keyla dari kecil bisa melihat makhluk tak kasat mata.


Ibuku berinisiatif untuk menyewanya, untuk menguak kejadian pada gaun ini. Aku pun memiliki pikiran yang sama karena aku takut pakaian dari sini membahayakan pernikahan kami nantinya.


Setelah menyewanya, kami pun pulang ke rumah Keyla untuk mencoba melihat kejadian dibalik baju ini. Kami semua masih menunggu Andre untuk menemani.


Ketika Andre sudah datang, kami pun mulai. Bukan bermaksud buat menyakiti Keyla dengan melihat ini semua, tetapi akan lebih baik kita juga meminta pendapat kepadanya karena dia lebih tahu soal hal-hal yang berbau mistis.


Dan malam itu juga Keyla membantu kami. Ketika dia memegang baju pengantin itu, Keyla mencoba flashback kejadian pada baju ini. Keyla mulai mengatakan apa saja yang dia lihat di alam dimensi lain itu.


Kejadian demi kejadian di jelaskan Keyla, hingga kami semua terkejut ternyata gaun itu dulunya dimiliki seorang perempuan yang tidak di restui oleh ayahnya sendiri.


Perempuan itu nekat bunuh diri dengan menggoreskan pisau di pergelangan tangannya kata Keyla.


Aku melihat ibunya Keyla terus memeluk Keyla untuk menguatkannya, hingga aku tidak tega melihat ibu Keyla terus memohon agar anaknya tidak melanjutkan penglihatannya.


Keyla pun mengiyakan permohonan ibunya untuk tidak melanjutkannya. Aku meminta pendapat Keyla apa sebaiknya aku tidak menyewa baju di Wedding Organizer saat ini.


Ternyata Keyla berpendapat aku dan Andre tetap menyewa di tempat itu, tetapi jangan baju ini karena sepertinya arwah pemilik baju ini tidak menyukai jika baju ini di kenakan orang lain.


Aku dan Andre pun berpamitan ke Keyla dan Ibunya untuk mengembalikan bajunya sebelum larut malam, sedangkan ibuku dan Dinar langsung pulang.


Sebelum berangkat, aku meletakan bajunya di jok belakang mobil Andre.


Aku mulai menaiki mobil, Andre pun langsung melajukan mobilnya ke arah tempat Wedding Organizer.


Entah ini perasaanku saja atau memang ada, aku merasa di mobil ini ada orang lain selain kita berdua. Aku hanya diam tanpa memberitahu Andre.


"Sayang, kok tumben diam, kenapa?" tanya Andre.


"Tidak apa-apa, buruan ya sayang melajukan mobilnya, keburu malam tutup tempat penyewaan bajunya," aku memberi alasan.


Jam baru menunjukan pukul 09:00 malam, tapi entah kenapa malam ini jalannya lenggang tidak terlalu ramai.


"Sayang, nanti berhenti cari makan gimana, setelah mengembalikan baju? kok kelihatan suntuk banget wajahmu," ucap Andre.

__ADS_1


"Iya boleh, yang penting kita kembalikan dulu saja ya Ay," jawabku dengan memanggil Andre pakai sebutan sayangku.


Tiba-tiba di gang depan sebelum tempat ini, mobil yang kita kendarai kaya menabrak sesuatu.


Braaak...


Andre bergegas mengeremnya.


"Ay, kita menabrak apa?" tanyaku.


"Aku pun juga tidak tahu, aku coba lihat dulu ya," jawabnya.


Aku menarik tangannya, untuk menahannya keluar mobil.


"Jangan keluar, takut kalau itu orang jahat, sebaiknya kamu mundurin mobilnya kalau memang ada korbannya kita mengetahuinya," usulku.


Andre pun menuruti perintahku. Dia langsung memundurkan mobilnya, dan kita dibuat kaget ternyata tidak ada seorang pun di sana.


"kok tidak ada apa-apa?" ucap Andre merasa heran.


Aku mulai berfikiran soal baju yang kami bawa.


"Sudah sayang, cepat kita kembalikan bajunya," ucapku.


Andre melajukan kembali mobilnya, setelah itu sampai kita ke tempat penyewaan baju.


"Alhamdulillah masih buka Ay," ucap Andre.


"Iya sayang, kamu ambil bajunya ya," pintaku.


Andre tanpa menjawab langsung mengambilnya.


"Sayang, bajunya di mana?" tanya Andre.


"Tidak ada ini," ucap Andre lagi.


"Beneran Ay, aku taruh di situ, kamu sendiri melihatnya kan?" tanyaku.


"Iya sih aku lihat sendiri kamu meletakkannya disini, terus bagaimana kita sudah terlanjur di sini?" tanya Andre balik.


"Kita berbicara dulu ke pemiliknya deh Ay kalau kita mau mengembalikannya, besok kita baru ambil ke rumah Keyla kalau memang ketinggalan," jawabku rada kebingungan.


Andre hanya mengangguk, kami pun melangkahkan kaki memasuki tempat penyewaan baju.


Tanpa melihat sekeliling, aku langsung menghampiri ibu penjaga. Aku melihat beliau duduk sembari menyeka pipinya seperti beliau sedang menangis.


"Ibu," aku memanggilnya sambil memegang bahu beliau, sedangkan Andre hanya berdiri di dekatku.


Beliau menoleh ke arahku, dan benar saja beliau menangis.


"Kenapa Bu? ada yang bisa kami bantu," ucapku.


"Adek yang tadi menyewa baju kan?" tanya Ibu itu.


Sebelum aku menjawab, aku mengambilkan air putih yang terletak di mejanya.


"Ini Bu, diminum dulu biar tenang,"


"Iya saya tadi yang menyewa baju," ucapku.

__ADS_1


Tiba-tiba ibu itu memelukku, aku hanya diam.


"Kenapa Bu?" tanya Andre.


"Maafkan Ibu ya Dek, jika merepotkan kalian berdua,"jawabnya.


Aku dan Andre saling bertatapan, kami merasa bingung dengan ucapan ibu ini.


"Maksudnya bagaimana ya Bu? kok kami bingung," tanyaku.


"Kalian mencari baju yang kalian sewa tadi kan?" tanya ibu itu lagi.


Aku kembali menatap Andre dengan tatapan bingung, yang aku pikirkan sekarang, bagaimana ibu ini tahu maksud kedatangan kami? padahal kami belum membicarakannya.


"Kok Ibu tahu? awalnya kami mau mengembalikannya Bu, tetapi sesampainya di sini kami tidak menemukan baju itu di mobil padahal kami rasa sudah memasukan baju itu ke mobil kita," ucap Andre.


"Kemungkinan tertinggal Bu, kami ke sini hendak berbicara terlebih dahulu soalnya sudah tanggung sampai sini, besok baru kami antar ya," sahutku.


"Tidak perlu Dek, baju itu sudah ada di tempatnya semula, sudah kesekian kali kejadian seperti ini," jawab ibu itu.


Aku pun kembali menatap Andre, aku merasa tambah bingung.


"Coba kamu lihat tempat baju tadi Dek, baju itu sudah tertata rapi di tempatnya," ucap ibu lagi.


Aku pun beranjak dari tempat dudukku, sedangkan andre mengekor di belakangku.


kami dibuat terkejut, benar saja baju itu sudah tertata rapi di tempatnya semula. Aku melangkah ke arah Andre lalu memegang tangannya erat.


"Ay, kok bisa?" aku berbisik ke Andre.


"Aku juga bingung, mana mungkin baju itu kembali ke tempatnya," jawab Andre dengan berbisik.


"Kalian pasti bingung kan? sini aku ceritain," ucap Ibu pemilik tempat.


Kami berdua melangkah ke arahnya, walaupun kami sudah tahu cerita dibalik baju itu, kami tetap menghargai beliau agar tidak menyinggung perasaanya.


"Baju ini tak pernah pergi dari tempatnya Dek, kalaupun ada yang menyewanya pasti akan seperti ini pasti kembali lagi," cerita Ibu itu.


"Kalian mau tahu ceritanya?" tanya Ibu lagi.


"Maaf Bu, sebenarnya kami sudah mengetahui cerita baju itu, kami menyewanya hanya ingin tahu ada apa dengan baju itu," jawabku.


"Sekali lagi kami meminta maaf Bu, bukan maksud kami menyinggung perasaan Ibu, tetapi kami juga ingin berjaga-jaga," ucapku lagi.


Ibu itu mengangguk sembari melihatkan senyumannya.


"Ibu yang seharusnya meminta maaf Dek, karena dari awal mengizinkan kalian menyewanya, baru kali ini ada yang berbicara halus kepada ibu padahal tahu hal mistis di baju itu,"


"Biasanya semua orang yang meminjam, kebingungan mencari baju itu dan tahu baju ini kembali lagi pasti berucap kasar dan tidak mau menyewa di tempat ibu," ucap ibu itu.


"Kami tetap menyewa di tempat Ibu, tetapi bukan baju itu lagi Bu, sepertinya anak Ibu tidak menyukai jika orang lain memakainya," kataku.


"Kamu tahu soal anakku? kalian tahu dari mana Dek?" tanya Ibu.


"Anak yang kami ajak ke sini salah satunya memiliki kelebihan untuk melihat hal-hal itu Bu, maaf ya kalau kami lancang menguak ceritanya," jawabku.


Ibu itu mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya Dek," ucap Ibu.

__ADS_1


"Kami pamit pulang dulu ya Bu, mungkin besok kita ke sini lagi untuk memilih baju pengantin lain, sekarang sudah malam Ibu sebaiknya beristirahat ya Bu," ucapku berpamitan.


Aku dan Andre pun pulang dari tempat itu, dan kami mengurungkan niat awal kami untuk mencari makan setelah pulang dari tempat itu.


__ADS_2