Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Terlena di dunia lain


__ADS_3

"Mana janjimu, kalau pulang mau bercerita denganku? Aku sudah menunggu saat-saat ini, tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini," ucap Dinar.


Aku ingin menyeka air mata yang terus mengalir di pipi Dinar. Dinar tetap bercerita dengan ragaku, walaupun aku tidak meresponnya.


"Kamu tahu nggak sih hiks hiks, Kak Dita dan Kak Andre sudah menikah walaupun nggak di ramein. Satu lagi, Kak Airin sudah tiada Key, Kak Dita dan Kak Andre bisa hidup tenang sekarang," cerita Dinar.


"Aku menunggu kamu untuk memberi tahukan kabar ini, apa kamu sudah melupakan rasa traumamu karena teror itu? Apa kamu senang saat berada di kota Malang? Key, jawab aku," ujarnya lagi.


Dia memelukku, saat itu juga aku melihat seperti bayangan masuk ke dalam tubuhku.


"Loh, apa itu? Esteh!" Aku bingung melihat bayangan sekelebat dengan cepat masuk ke dalam ragaku. Tetapi karena kesalah pahaman tadi membuat Esther pergi dariku.


Ragaku mulai menggerakkan tangan, Dinar yang merasakan gerakanku segera berlalu keluar untuk memberi tahukan ke ibu. Sedangkan aku hanya mampu melihat tubuhku bergerak, tetapi aku tak tahu itu kenapa?


Ibu, ayah dan Dinar menghampiriku secara bersamaan, lalu dibelakangnya terlihat Dokter dan perawat yang mengikuti.


"Dok, anak saya," ucap Ibu.


"Sebentar ya, Bu." Ujar Dokter.


Secara perlahan ragaku mulai membuka mata, sedangkan aku merasa bingung seolah-olah ragaku itu di pergunakan makhluk lain untuk hidup.


"Bu, itu bukan aku. Aku di sini," ucapku menghampiri ayah dan ibu secara bergantian.


Aku melihat senyuman menghiasi wajah ketiga orang yang aku sayangi. Sebaliknya dengan aku yang merasa sedih karena ragaku diperalat oleh makhluk lain.


"Lihat perkembangan sampai besok pagi, jika kondisinya mulai membaik nanti bisa di pindah ke ruang perawatan saja," ucap Dokter memberitahu.


Ragaku menatapku dengan tajam, lalu menyunggingkan senyumannya.


"Alhamdulillah, Dek akhirnya kamu bangun. Cepat sembuh, Nak," ucap ibu sembari mencium keningku.


Aku tetap berusaha memberitahu ibu, tetapi mereka tetap saja tak mendengarnya. Tiba-tiba, jiwaku ketarik dengan kuat, "Aaaaaaaaa." Teriakku.


Aku terbawa ke lorong yang gelap, hanya terdengar suara tertawa yang menggema.


"Hahahaha." Terdengar suara tawa itu.


"Di mana, aku? Keluar!" teriakku.

__ADS_1


Lagi-lagi hanya suara tawa yang terdengar, aku mencoba tak menggubrisnya tetapi suara itu kian nyaring di telingaku. Aku berjalan menyurusi tempat ini, hanya gelap dan hening saat ini.


"Ya Allah, aku harus bagaimana lagi? Aku berserah kepadamu," ucapku dengan pasrah.


"Keyla." Terdengar suara Esther.


"Esteh, kamu di mana? teriakku.


"Aku di depanmu," jawabnya.


Aku berlari seperti arahan suara itu, aku tak bisa melihat apapun di sini. Aku berlari sekuat tenagaku, terasa jauh tapi tak pernah sampai.


"Keyla!" terdengar suara itu lagi.


"Di mana? Esteh, kamu di mana?" aku mencoba bertanya lagi.


"Di sampingmu," jawab suara Esther.


Suara terdengar dekat di sebelah telingaku, spontan aku mencoba meraba-raba. Tapi tak dapat menyentuh apapun, aku mencoba langkahkan kaki kian jauh dari tempatku semula.


"Esteh!" teriakku.


"Terus maju Keyla, aku di sini menantimu," jawabnya.


"Keyla, jangan!" terdengar suara Esther lagi tapi terdengar jauh.


Tetapi di depanku juga ada suara yang sama tapi terdengar lebih dekat.


"Maju Keyla, bertemanlah denganku," ucap suara itu


"Jangan! Aku di sini," ucap suara yang terdengar jauh.


Aku bingung dengan suara itu, kedua suara itu terus-menerus berbicara.


"Diaaaaaaam!" teriakku.


"Keyla, jangan ke sana. Aku di sini, kamu masuk dunia mereka dan aku tidak dapat masuk untuk menolongmu," ucap suara yang berada di kejauhan, suara itu terdengar lirih namun tulus saat mengucapkannya.


Aku duduk bersimpuh, tak tahu lagi harus berbuat apa?

__ADS_1


****


Dari kejauhan aku melihat cahaya terang. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu berjalan menghampiri sumber cahaya itu.


Terdengar suara tawa dari sana, aku semakin mendekat dengan suara dan cahaya itu. Aku melihat semua teman-temanku di sana, mereka terlihat riang berkumpul bersama.


"Dinar, Dewi, Bella, Selly," ucapku.


Mereka pun melihat ke arahku, lalu melemparkan senyumnya. Mereka melambaikan tangannya ke arahku.


"Sini, Key. Kita main," ucap Dewi saat ini.


Aku dengan hati bergembira menghampirinya. Aku bermain layaknya anak seumuranku, kami berkumpul dan bercerita banyak hal.


Terasa cukup lama aku di sini, tapi kami hanya bermain sepanjang waktu. Kami juga hanya tahu siang saja, hari terasa lama karena tak kunjung beranjak berganti.


Kami berlari-lari, jalan-jalan bersama. Aku di sini hanya tahu senang bersama teman-temanku.


Tanpa ku sadari tak ada aktivitas lain di sini, kami hanya tau bermain, bersenang-senang. Makan, tidur, atau pun aktivitas layaknya orang biasa tidak kulakukan di sini. Lalu, terdengar lirih suara orang mengaji, seketika kami yang awalnya tertawa sontak terdiam.


Entah kenapa aku terasa ingin menghampiri sumber suara itu. Aku memutuskan untuk berjalan, suara yang terdengar lirih perlahan semakin kencang. Terlihat di depanku ada seberkas cahaya dari atas, aku berjalan dan saat ini aku berdiri di bawah cahaya itu.


Aku mendongak ke atas, menatap arah sumber cahaya itu. Tiba-tiba sorot cahaya dengan cepat menghalangi penglihatanku, dan saat itu pun aku spontan menutup mata dan mengangkat tanganku tepat di depan wajah.


****


Terasa hilang cahaya itu, aku secara perlahan membuka mata. Samar-sama terlihat ibu, ayah dan nenekku berada di sampingku.


"Alhamdulillah, Ya Allah," suara ayah dan ibu sembari memelukku.


Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat ini aku ingin memeluk mereka, tetapi entah kenapa terasa berat kala aku menggerakkan tubuhku.


Aku mencoba mengucapkan sesuatu, tetapi kenyataannya tak ada satu katapun yang terucap. Dalam hatiku berkata, kenapa?


Aku mencoba menggerakan tanganku, tetapi lagi-lagi semua terasa berat. Saat itu juga, ayahku pergi menghampiri perawat yang berada di ruangan ini, lalu setelah itu menghampiriku lagi.


Tak berselang lama, dokter dan perawat datang menghampiri. Yang aku pikirkan saat ini hanya pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk di nalar, kenapa aku terbaring di rumah sakit lagi? Apa semua yang ku alami adalah mimpi? Apa aku tadi mati? Dan sekarang apa aku sudah kembali ke ragaku lagi? Lalu sejak kapan nenekku berada di sini?


Banyak pertanyaan yang tersirat dalam hatiku, aku menatap mata orang-orang yang sekarang berada di sini. Ayah, ibu dan nenekku terlihat menunggu kata-kata dari dokter.

__ADS_1


Dokter mengangkat tanganku, lalu di jatuhkan secara perlahan. Tanganku seakan-akan tidak ada tenaga untuk bergerak. Kakiku mulai di tes dengan ketukan kecil di bagian lututnya, tetapi lagi-lagi tubuh tak memberikan respon sama sekali.


Bersambung....


__ADS_2