Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Rumah Dinar


__ADS_3

Dinar hanya bisa melihat bunga matahari yang tampak melayang-layang. Entah apa yang membuat si Dinar tidak merasa takut walaupun dia tidak dapat melihatnya.


"Kamu enggak takut, Din?" tanyaku.


"Enggak, aku sudah lama temenan sama kamu, jadi aku merasa berani aja walaupun tak pernah melihatnya," jawabnya.


"Kalau yang di sekolahan tadi kok kamu lari?" tanyaku.


"Kamu saja yang temannya lari, apalagi aku," jawab Dinar lagi sembari tersenyum ke arahku.


"Enak saja, siapa juga yang temannya setan?" ucapku.


"Tuh," jawab Dinar sembari menunjuk ke arah bunga matahari yang melayang ketika di bawa Esther.


Aku pun sontak melihat ke arah Esther. Di sana Esther masih senyum-senyum sembari memeluk bunga itu.


"Esteh," aku memanggil.


"Esther lah Key namaku," katanya.


"Biarin, namamu belibet aku susah manggilnya," jawabku.


Dinar hanya melongo ke arahku, karena dia tidak bisa melihat maupun mendengar Esther. Dinar mengedikkan kepalanya tanda dia bertanya sembari memikirkan sesuatu.


"Aku bisa muncul enggak di hadapan Dinar?" tanya Esther.


Aku menggelengkan kepalaku. Tapi aku akan mencoba memberitahukan kehadiran Esther memang ada. Aku mencoba memikirkan sesuatu.


"Keyla, coba aku pegang Dinar siapa tahu dia bisa merasakannya," usul Esther.


Seketika aku tersenyum mendengar ucapannya.


"Kenapa Key, kok senyum-senyum?" tanya Dinar penasaran.


"Kamu coba pejamkan matamu, kamu fokus ya," ucapku.


Si Dinar mengikuti perintahku, dia mulai memejamkan matanya. Lalu aku menyuruh Esther untuk mendekatkan diri ke Dinar dan mencoba memegang Dinar.


"Kamu yang fokus Din, dan kamu Esteh sekarang pegang tangan Dinar ini," ucapku sembari mengarahkan tangan Dinar ke tangan Esther.


Mereka pun mencoba untuk bersentuhan, tapi entah itu bisa atau tidak aku juga belom bisa memastikan. Aku masih menunggu ekspresi dari Dinar.


"Bagaimana, Din?" tanyaku.


"Tubuhku bagian kiri rasanya udaranya aneh deh Key, gimana ya mau jelasin susah," jawabnya.


"Jelasin dong Din, soalnya setiap orang yang dirasakan mungkin beda-beda," kataku.


"Kaya gimana ya? udaranya itu berasa dingin, tapi dinginnya itu kaya campur sama lembab gitu ditambah lagi merindingnya ini," jelas Dinar.


"Oh iya-iya itu yang kamu rasakan," ucapku.


"Dinar buka mata sekarang dan Esteh kamu nangkring sana di tempatmu," ucapku lagi.


Mereka berdua tetap tetap saja menuruti perintahku. Saking asiknya ngobrol sampai kita lupa waktu dan belum mandi.


Aku melihat ke arah jam sudah mulai pukul 08.00 pagi. Mungkin perumahan ini sudah mulai sepi, karena penghuninya kebanyakan dari orang yang bekerja kantoran.


"Loh, sudah jam delapan aja, aku belum mandi," ucapku.

__ADS_1


"Sama, aku mau pulang saja deh," kata Dinar.


"Iya, mau diantar Ibuku tidak?" tanyaku.


"Enggak usahlah, nanti ngerepotin," jawab Dinar.


"Kalau gitu kamu tunggu sini saja, aku mandi dulu nanti aku anterin naik sepedaku," kataku.


"Siap," ucap Dinar.


Mendengar jawaban Dinar aku pun segera mandi dan bersiap-siap untuk ke rumah Dinar. Setelah itu, aku dan Dinar melangkahkan kaki keluar kamar menuju ruang menonton televisi.


"Ibu," panggilku.


Ibu menoleh ke arahku.


"Iya Dek," jawab Ibu.


"Aku mau main ke rumah Dinar ya Bu, nanti pulang sore saja ya," aku meminta izin.


"Iya Tante, hari ini tidak ada orang di rumah, Ibu sama Kak Dita lagi ada keperluan," sahut Dinar.


"Kenapa tidak di sini saja sih Din, kan ada Tante," ucap Ibu.


"Mau pulang saja Tante, nanti biar di temenin Keyla di rumah," kata Dinar.


"Oh iya, baik-baik ya di rumah,'" ucap Ibu.


Kami hanya mengangguk, lalu menjabat tangan ibu untuk berpamitan. Setelah itu kami pun berangkat ke rumah Dinar.


Kami berboncengan sepeda dan di sini Dinar yang membonceng ku. Di sepanjang jalan seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol apa saja yang saat itu terlintas di otak.


"Key, si Esteh iku enggak?" tanya Dinar.


"Emang enggak kelihatan?" tanya Dinar.


"Enggak Din, dia enggak ada di sini," jawabku.


"Emang nanti tahu rumahku kalau dia enggak barengan berangkatnya sama kita?" tanya Dinar penasaran.


"Kalau nanti nyasar ya biar panggil Dora the Explorer aja dia hahahah," ucapku sembari tertawa karena mendengar pertanyaan Dinar yang aneh itu.


"Kamu nih Key," ucapnya sembari cemberut.


"Kamu sih aneh-aneh saja, kok mikirin setan yang enggak tahu jalan," kataku.


Sesampainya di rumah Dinar, aku sudah melihat Esther di depan pintu. Dia tersenyum ke arahku. Aku dan Dinar pun bergegas memasuki rumah.


"Kamu mau mandi? Aku nungguin di mana?" tanyaku.


"Tunggu di kamarku aja ya," jawab Dinar.


Aku pun melenggang menuju kamar Dinar, sedangkan dia akan segera mandi. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur.


"Enak juga kamar ini anak, bawaannya mau tidur mulu," kataku.


Aku memejamkan mataku, entah kenapa aku terlelap dan terbuai dalam alam mimpiku. Aku tidak tahu, sejak kapan Dinar sudah selesai mandi. Dia memanggil-manggil namaku.


"Keyla," dia memanggilku.

__ADS_1


Aku pun menggeliatkan badanku sembari menguap.


"Hemmm," jawabku.


"Ngantuk banget kelihatannya?" tanya Dinar.


"Iya nih, mau numpang tidurlah Din," ucapku.


Dinar pun merebahkan badannya di sampingku. Aku pun kembali terbuai menuju alam mimpiku kembali.


***


Hari sudah beranjak siang. Aku pun memutuskan untuk bangun.


"Hoaaaaam," aku menguap.


"Din, bangun Din," panggilku sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Aku mengedarkan pandanganku mencari Esther, tetapi tak menemuinya.


Kring kring....


Terdengar suara telepon berbunyi.


"Din, telepon tuh," ucapku


Dinar tak kunjung bagun, aku segera melangkah keluar kamar untuk mengangkatnya.


"Halo," kataku.


"Halo," suara perempuan dengan nada serak-serak di seberang telepon.


"Ini siapa? Ada yang bisa di bantu?" tanyaku lagi.


"Hahahahaha," orang di seberang telepon hanya tertawa.


Aku pun memutuskan untuk menutup kembali teleponnya. Karena aku merasa ada yang aneh. Aku berjalan sedikit berlari menghampiri Dinar.


"Din, bangun," panggilku mencoba membangunkan.


Aku terus menerus menggoyangkan tubuhnya hingga dia benar-benar bangun.


"Buruan bangun, molor mulu," ucapku lagi.


"Iya," ucapnya.


Praaaaang....


Terdengar seperti suara pecahan kaca.


Aku dan Dinar sontak terperanjat karena kaget, karena suara itu sangat keras.


"Kaya ada yang pecahin kaca Din," ucapku.


"Lihat yuk," ajak Dinar.


Kami pun berjalan dengan tetap bergandengan tangan. Saat kami keluar kamar dan jalan menuju arah pintu, terlihat kaca jendela Dinar pecah bagian tengahnya.


"Kaca jendela," ucap kami berbarengan.

__ADS_1


Kami berjalan semakin mendekat menghampiri jendela. Tepat di dekat jendela, ada seperti batu yang cukup besar.


Kami semakin mendekat tetap dengan mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Kami takut jika ada yang sengaja berbuat jahat pada kami berdua. Atau lebih tepatnya di sasarkan untuk keluarga Dinar ini.


__ADS_2