
Ibu beranjak dari tempatnya bersujud, lalu menghampiriku. Beliau tersenyum, tetapi meneteskan air matanya. Entah perasaan sedih atau bahagia aku tak bisa membedakannya.
Karena selama aku di sini, ayah dan ibu selalu menguatkan aku dengan senyuman mereka. Aku sudah tak bisa membedakannya.
"Alhamdulillah, Dek. Sebentar lagi dokter spesialis saraf yang menanganimu akan datang, semoga ada perkembangan yang signifikan dari tubuhmu," ucap ibu.
Aku mencoba bersuara kembali, tetapi karena tenaga yang begitu banyak yang sudah aku keluarkan, saat ini aku merasa capek. Sepertinya ibu memahami isi hatiku.
"Dedek, mau ngomong apa? Jangan di paksa ya, Nak. Yang penting sudah ada perkembangan, simpan tenagamu," ucap ibu.
Aku mengangguk, menuruti kemauan ibu. Pintu ruangan pun terbuka, terlihat dokter dan perawat menghampiri.
"Halo, siang cantik," ucap dokter menyapaku.
Aku hanya melemparkan senyumanku.
"Bagaimana, Bu? Ada perkembangan dari Dek Keyla?" tanya Dokter.
"Iya, Dok. Alhamdulillah, tadi Keyla sempat mengucapkan dua kata, Ayah sama bu," ujar ibu memberitahu.
"Oh, iya. Di bimbing pelan-pelan, nanti insyaallah akan pulih, tetapi jangan terlalu di paksakan," ucap Dokter.
Ibu mengelus kepalaku, lalu menyunggingkan senyumannya ke arahku.
"Baik, Dok." Jawab ibu.
"Keyla, yang semangat lagi, ya. Dari dalam hatimu harus yakin, kalau kamu bakal sembuh," tambah dokter.
Aku kembali membalas ucapan dokter dengan tersenyum. Dokter pun berbisik berbicara dengan perawat, lalu melenggang keluar. Sedangkan perawat masih mengecek infusku.
"Pasien saat ini sudah bisa pindah ke ruang perawatan, Ibu bisa berkemas sembari perawat yang lain datang untuk membatu," ujar perawat itu.
"Baik, semisal saya menunggu suami saya, bagaimana?" tanya ibu.
"Bisa, Bu. Kalau begitu saya tinggal dulu, nanti kalau sudah siap bisa panggil saya," jawab perawat.
Perawat pun juga melenggang pergi keluar. Saat ini hanya aku dan ibu yang berada di sini. Aku kembali memejamkan mataku, dengan elusan tangan ibu di kepala membuat aku cepat larut dalam mimpiku.
****
Tak tahu berapa lama aku tertidur, aku merasakan goncangan di tempat tidur yang aku tempati. Dengan rasa malas yang mendera, secara perlahan aku membuka mata. Aku melihat beberapa perawat dan ibu mendorong brankar ini.
__ADS_1
Setelah itu, aku dibawa masuk ke dalam satu ruangan yang cukup luas. Aku menatap kanan dan kiri, memutari ruangan ini dengan jangkauan penglihatanku.
ketika mataku melirik ke arah samping kanan, terlihat Esther berdiri di sana.
"Hallo, Key." Ucap Esther.
"Hai, Esteh," ucapku tetap dalam hati.
Hantu cantik itu tersenyum dengan manis. Tingkahnya yang centil, tak tampak tingkah yang seram sama sekali. Tempatku pun selesai disiapkan, kini ayah dan ibu bisa dengan leluasa menungguku.
"Sudah siap, Bu. Saya tinggal, apabila memerlukan apa-apa tinggal pencet tombol bel di situ," ucap perawat sembari menunjukan tombol bel yang tertempel di tembok.
"Baik, terimakasih sudah membantu," ucap ibu dengan menundukkan kepalanya tanda menghormati.
Perawat kembali melenggang ke arah pintu, bersamaan dengan perawat kala membuka pintu, tampak ayah menenteng tas keperluan kami selama di sini.
Ayah menghampiri, dengan wajah yang terlihat letih. Begitupun dengan ibu, mata yang sayu dan letih tampak di wajahnya.
"B-bu." Panggilku.
Ibu yang sedari tadi membereskan barang bawaan, sontak berdiri ketika kupanggil.
"Iya, Dek. Kamu mau apa? tanya ibu.
"Dinar dua hari yang lalu ke sini. Kata dia lagi ada les tambahan di sekolah, makanya belum bisa berkunjung lagi," jawab ibu.
Aku ingin segera sembuh agar bisa bersekolah seperti biasanya. Aku takut jika aku tak dapat kembali seperti dulu lagi. Untuk yang kesekian kali, air mata menetes dari mataku.
"Kok nangis?" tanya ayah.
Beliau menunggu jawaban atau pun isyaratku.
"Dedek, jangan sedih. Kamu pasti sembuh, nanti bisa mengejar cita-cita Dedek untuk jadi dokter," tambah ayah.
Tetap dengan meneteskan air mata, aku lemparkan senyumku ke arah kedua orang tuaku. Mereka yakin, anak kebanggaannya ini dapat sembuh seperti sediakala.
"Dek, Ayah keluar dari tempat kerjaannya ingin menemani kamu untuk saat ini." Ibu memberitahu.
aku yang mendengar ucapan ibu, rasanya ingin bertanya. Kenapa?
Aku menatap ayah dengan tajam, aku ingin menanyakan alasan ayah dengan jelas. Tetapi lagi-lagi keterbatasanku saat ini yang menghambatnya.
__ADS_1
"Dek, Ayah keluar dari kerjaan untuk pindah ke perusahaan milik Nenek. Jadi untuk sementara sampai kamu benar-benar sembuh, Ayah akan menemanimu," ucap ayah.
Ada perasaan senang kala ayah berbicara seperti itu, tetapi juga ada rasa sedih. Terlihat di balik ucapan ayah, ada sesuatu yang di sembunyikan. Dan aku pun tak tahu kapan aku akan sembuh total, tidak mungkin ayah keluar dari kerjaannya di saat beliau banyak mengeluarkan uang untuk pengobatanku saat ini.
"A-a-a-yah." Panggilku.
Ayah tersenyum ke arahku.
"Iya, Dek," jawab ayah.
Ayah dan ibu tampak menunggu aku berbicara, tetapi apa daya satu kata saja itu membuat aku merasa kelelahan. Aku terlihat seperti bayi, yang hanya mampu mengucapkan dua kata saja.
Aku takut, kalau semakin membebani kedua orang tuaku. Aku merasa menjadi anak yang tak berguna, selalu merepotkan. Perasaan sedih dan down terasa kembali menyerang hatiku.
Aku terus mencoba menggerakkan tubuhku, mulai kepala hingga ke kaki. Kalau suara aku tak ingin mencoba terlalu memaksa, takut pita suaraku terganggu. Entah itu ngefek atau enggaknya aku nggak terlalu paham, tapi untuk suara aku tak ingin memaksa.
Ayah yang saat ini berada di dekatku mungkin melihat usahaku. Beliau kembali mengelus kepalaku dengan lembut.
"Dek, jangan terlalu dipaksakan. Semua butuh proses ya sayang, satu persatu dulu," ujar ayah.
Aku bingung, kenapa ayah bisa tahu. Usahaku aja tak membuahkan hasil sama sekali, untuk bergeser satu mili pun aku tak sanggup. Aku hanya diam di tempat, tetapi keringat terasa bercucuran.
"Dedek, mungkin bingung ya, kenapa Ayah bisa tahu?" ucap Ayah.
Aku tersenyum ke ayah, agar beliau tahu pertanyaanku.
"Muka Dedek terlihat merah nih," ucap Ayah sembari menyentuh ujung hidungku.
Ayah tersenyum kembali, tetapi mata yang sayu dan wajah yang terlihat letih tak dapat di bohongi. Merasa bersalah dan terasa menjadi beban yang begitu berat untuk mereka.
Mereka mencoba menyembunyikan rasa sedihnya di balik senyuman, yang semata-mata untuk menguatkan jiwaku yang rapuh saat ini.
"Dedek, anak kebanggan Ayah dan Ibu. Seperti apapun keadaanmu, kamu tetap anak terhebat jadi jangan pernah sedih ya, Dek," ucap ayah.
Aku menatap mata ayah yang tampak berbinar, air mata yang menggenang tak dapat membohongi.
"Kami tak ingin kehilangan kamu, Nak," sahut ibu.
Perasaan sedih ibu tampak terlihat jelas, kala air mata jatuh ke pipinya. Mereka orang terhebat dalam hidup, tak tahu sebenarnya kondisi psikologis mereka seperti apa.
Mungkin perasaan capek, sedih, stress dengan masalah lain mencoba mereka tutupi, demi anak yang tak berguna seperti aku.
__ADS_1
Aku mencoba memejamkan mataku, aku tak ingin menambah kesedihan mereka dengan melihat aku meneteskan air mata.
Bersambung ....