
Terbuka mataku, aku kembali melihat sekelilingku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat banyak orang yang masih tergeletak. Saat itu aku tak sengaja melihat anak gadis tergeletak tepat di samping kakiku, dia tergeletak dalam posisi tengkurap.
Terlihat ada darah mengalir di sela-sela jilbab yang dikenakannya. Aku panik dan aku mencoba berteriak ke orang-orang yang sedang berkerumun di luaran sana.
"Tolong ... tolong, tolongin anak ini," ucapku.
Tak ada satupun orang yang menggubrisku, aku semakin panik. Aku sudah tak merasakan sakit yang tadi sempat aku rasakan.
"Keyla," terdengar suara Esther memanggilku.
"Esteh, kasian anak ini," ucapku sembari menunjuk anak yang tergeletak di bawahku.
Aku ingin menolong anak ini, tetapi entah kenapa terasa tak bisa menyentuhnya. Dalam batinku berkata, Ya Allah, bagaimana ini?
"Keyla," ucap Esther.
"Ibu dan Ayahku mana, hiks hiks!" ucapku sembari memeluk Esther.
Esther pun mencoba menenangkan aku dengan mengelus bahu. Lambat laun baruku sadari, ternyata aku dan Esther bisa saling bersentuhan. Aku melepas pelukanku.
"Esteh!" ucapku.
Aku melihat kedua telapak tanganku.
"Keyla!" terdengar suara ibu berteriak memanggilku.
Aku melihat ke arah sumber suara, dari kejauhan terlihat ayah berjalan sembari menyeret salah satu kakinya, sedangkan ibu menggandeng ayah dengan darah mengalir dari keningnya.
"Ibu," jawabku.
Aku merasa bahagia ketika melihat kedua orang tuaku selamat dari musibah ini.
"Terimakasih, Ya Allah," ucapku.
Ayah dan ibu berjalan menghampiriku, aku hanya berdiri di tempatku sedari tadi. Meski mereka terlihat kesakitan, tapi mereka tetap semangat untuk menghampiriku.
Saat mereka berada di dekatku, mereka berdiri tepat di depanku. Tetapi entah kenapa pandangan mereka tertuju ke anak yang berada di bawahku.
Tiba-tiba ibu duduk bersimpuh di sebelah anak ini, mengangkat kepala anak ini yang penuh dengan darah ke pangkuannya. Sedangkan ayah hanya mengelus kepala ibu untuk mencoba menenangkannya.
"Keyla, hiks hiks hiks," ucap ibu sembari terlihat mata yang tak kunjung berhenti meneteskan air matanya.
"Iya, Bu. Dedek ada di sini," jawabku.
Mereka berdua seakan-akan tak mendengarkanku. Mereka hanya terlihat fokus ke anak itu. Setelah itu, ibu membalik badan anak ini, tetapi aku melihat muka anak ini tak asing bagiku.
Wajah anak ini penuh dengan darah, ayah dan ibu semakin histeris menangisi anak ini.
__ADS_1
"Keyla!" teriak mereka hampir bersamaan, ayah kali ini ikut memeluk anak itu.
"Ayah, Ibu. Ini siapa? Kenapa pakaiannya sama denganku," tanyaku tampak bingung.
Anak ini dari atas, mulai jilbab, baju hingga sepatu sama persis dengan yang aku kenakan. Aku berjalan menghampiri mereka, aku mencoba memeluk ibu, tetapi aku tak bisa menyentuhnya.
Aku kembali melihat kedua telapak tanganku.
"Esteh, kenapa ini?" tanyaku ke Esther yang sedari tadi berdiri di sampingku.
Tiba-tiba Esther memelukku sembari berkata, "Keyla, yang sabar ya."
Aku mendorong Esther, lalu aku menatapnya dengan tatapan tajam.
"Maksudmu apa, pergi!" teriakku.
Tak terasa aku meneteskan air mata. Dalam hatiku bertanya-tanya, apa itu aku? Tidak mungkin ... tidak mungkin. Aku terus menggelengkan kepalaku.
"Ibu, Ayah ... Dedek di sini," terus-menerus aku mengucapkan seperti itu.
Dari kejauhan terdengar suara sirine berbunyi, mungkin dari pihak kepolisian atau ambulance.
"Ayah tunggu Keyla di sini, Ibu akan meminta bantuan ke mereka," ucap ibu tergesa-gesa.
Lalu dengan cepat ibu memindah ragaku ke pangkuan ayah. Aku melihat ragaku masih bernapas, tetapi kenapa jiwaku terlepas?
Sedangkan ayahku, terus mencium wajahku yang penuh dengan darah. Tetesan air matanya terus mengalir.
"Dek, yang kuat. Ayah menyayangimu, Dedek anak istimewa, Ayah percaya kamu kuat," ucap Ayah.
Setelah itu, ibu datang bersama orang-orang mungkin dari pihak rumah sakit dan kepolisian.
"Ini, tolong anak kami. Dia masih bernapas, kami mohon lakukan yang terbaik," ucap Ibu.
Mereka segera mengevakuasi badanku, untuk mendapatkan tindakan dari pihak medis. Ibu mengekor di belakang mereka sembari menggandeng ayahku, yang berjalan tertatih-tatih.
"Ibu ... Ayah!" teriakku.
Tanganku pun di tarik oleh Esther dengan kuat. Aku kembali menatapnya, lalu menghempaskan tangannya dengan kuat.
"Lepas! Aku harus ikut mereka," ucapku dengan ketus.
Aku pun berjalan terasa lebih cepat dari biasanya, aku mengikuti ke arah mereka yang membawa ragaku. Isak tangis mengiringi tubuhku yang terkulai lemas.
Tubuhku di masukkan mobil ambulance, dari pihak medis mulai memberikan tindakan. Ayah dan ibuku tak henti-hetinya berdoa untuk keselamatanku.
Wajahku saat ini sebagian mulai bersih dari darah, kemudian sopir melajukan mobil ambulance-nya. Terlihat tubuhku tergoncang ke kiri dan kanan mengikuti goncangan mobil yang melewati jalanan yang tak rata.
__ADS_1
Saat ini aku melihat ke arah ibu dan ayah, mereka saling menguatkan satu sama lain. Tak terasa hati ini terasa teriris kala melihat tetesan air mata yang tak ada hentinya menetes.
"Ya Allah, berikan aku hidup. Aku tidak tega melihat Ayah dan Ibuku hancur seperti ini," ucapku.
"Keyla," panggil Esther.
Aku menoleh ke arahnya, lalu bergegas memeluknya.
"Mungkin ini yang kamu rasakan saat terpisah dari ragamu," ucapku sembari menangis tersedu-sedu.
"Iya, tapi mungkin kamu lebih beruntung karena masih melihat ragamu bernapas. Semoga ada kesempatan untukmu hidup kembali," ucap Esther.
Aku memeluknya semakin erat, saat ini hanya dia yang mampu mendengar apa yang aku rasakan. Aku berdiri, lalu mencoba baring di atas tubuhku, saat ini aku berharap jiwaku masuk ke dalam ragaku kembali.
"Ayo masuk! Masuk," ucapku dengan kesal.
Aku duduk lagi, lalu seakan-akan membanting jiwaku dengan kuat agar masuk ke dalam ragaku.
"Aku mohon Ya Allah, masuk lagi!" kataku.
Aku terus menerus memaksakan jiwaku. Esther yang melihatku, dia sontak merengkuhku ke dalam pelukannya.
"Keyla, berhenti," ucapnya dengan halus sembari menahanku yang sedang meronta-ronta.
"Ayolah, masuk saat ini!" ucapku tetap kekeh mencoba.
Aku ingin marah, kesal, sedih sudah menjadi satu. Aku tak tahu bagaimana rasanya melampiaskan semua ini. Aku tetap bersikukuh untuk mencoba.
"Keyla!" teriak Esther.
Dia mengangkat wajahku sehingga berhadapan dengan wajahnya. Dia menatap mataku, dari sorot matanya dia bersedih kala melihatku.
"Aku mohon, jangan seperti ini. Kamu harus yakin," ucap Esther menenangkan aku.
Esther tak henti-hentinya mencoba menenangkan dan menguatkan aku saat ini. Hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah sakit.
Dengan langkah cepat mereka mendorong brankar menuju salah satu ruangan, tetapi pihak medis tidak mengizinkan kedua orang tuaku untuk masuk.
Aku ingin sekali memeluk kedua orang tua, aku ingin mereka dapat melihatku saat ini. Tetapi apalah daya, semua hanya terasa sia-sia usahaku saat ini.
Aku langkahkan kaki menuju pintu ruangan tempat ragaku dibawa. Di sana terdapat tulisan besar yang bertuliskan ruangan ICU, aku tetap melangkahkan kaki ke sana.
Tak terasa jiwaku menembus pintu, aku saat ini dapat melihat dokter dan perawat dengan cepat memberikan tindakan ke tubuhku. Yang awalnya aku masih mengenakan pakaian, tetapi saat ini mereka menggunting bajuku, hingga tak ada sehelai benang yang menutupi tubuhku bagian atas itu.
Jika aku bisa berbicara, mungkin kata pertama yang aku ucapkan adalah malu. Lalu entah kabel apa yang dokter tempelkan ke badanku, jari jempol dicapit, dan hidungku dipasang selang oksigen.
Bersambung....
__ADS_1