Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Ninis


__ADS_3

Dinar pun terlelap dalam tidurnya. Istirahat tak jadi mereka lakukan selama belum keluar dari sepanjang hutan ini. Hingga, sudah masuk perkampungan pertama, membuat mereka memberanikan diri untuk beristirahat. Rasa lelah, kantuk pun mengantarkan mereka untuk berhenti.


Dita sengaja tak membangunkan Dinar. Dita dan Dinar sengaja tetap di dalam mobil, sedangan Andre dan yang lain menghampiri beberapa orang yang sedang berjaga malam di pos ronda.


"Dari mana hendak ke mana, Pak?" tanya salah satu yang ronda.


Ayahnya Dinar pun menjawab asal dan tujuannya. Lalu, beliau juga meminta izin untuk menumpang istirahat. Dengan senang hati, ternyata penduduk sana menampungnya.


"Masih lama, sampainya ini. Ngomong-ngomong, lancar ajakan?" tanya salah satu dari penduduk.


"Biasalah, Pak. Ada gangguan sedikit," jawab salah satu sopir mobil angkutan.


"Kenapa nggak lewat kota besar saja? Memang sih, cenderung cepat kalau lewat sini, bisa empat sampai lima jam kalau lewat kota. Tapi ya gitu, tiap malam pasti salah satu dari kalian sudah mendengar rumor yang beredar lima tahun belakangan ini, kan?" tanya penduduk lagi.


"Rumor?" tanya ibunya Dinar.


"Iya, Bu. Kalau lewat sana, di salah satu belokan sebelum kuburan di pinggir jalan itu, biasakan membunyikan klakson. Kalau orang sekitar sini sih percaya, jika itu tanda untuk mengucapkan permisi," jelas penduduk.


Ibu dan Ayahnya Dinar saling memandang. "Jadi?"


"Kenapa, Bu, Pak? Kalian melihatnya?" tanya penduduk.


Mereka menjelaskan jika di sepanjang perjalanan tak melihat kuburan di tengah jalan, justru melihat pondok yang ada warungnya dan di huni wanita mudah dan wanita paruh baya. Hingga mereka pergi pun, pondok itu pun masih ada meski ada kejadian janggal yang di alami Dinar dan Dita.


Ternyata, selama perjalanan hingga sampai di sini, si Dita menceritakan apa yang ia rasakan dan di lihat juga bersama Dinar. Hal itu di dengar jelas dan sangat dipahami oleh Andre. Sehingga Andre menjelaskan apa yang di alami mereka berdua tadi. Mulai Dinar yang mencium bau anyir, Dinar yang seakan-akan di tatap gadi itu dan gelas yang penuh akan darah segar. Mereka belum mendengar jelas dari Dinar apa yang ia alami sebelum pergi dari sana.


"Nah itu, Pak. Kalau di sama, sejak kejadian lima tahu silam melarang warga yang melewati daerah itu untuk tidak membatin atau berpikir suatu hal. Entah baik atau pun buruk, pasti ada kejadian yang menyapanya." Penduduk kembali menjelaskan.


"Maksudnya?" tanya Andre yang tak paham dengan penjelasnnya.

__ADS_1


"Misal, mungkin kalian saat di sana berpikir untuk istirahatlah, mengantuklah jadi berpikir jika ada warung ataupun kopilah pasti bisa menyegarkan mata," jelas penduduk lagi


"Iya, saya berpikir untuk menepi sebab ingin istirahat awalnya. Eh, tiba-tiba otak terbesit jika hujan, ada warung pasti enak kalau berhenti untuk sekedar menenggak segelas kopi panas," terang ayahnya Dinar.


"Nah itu makanya, apa yang ada dalam hati atau pikiran kalian pasti penampakan sesuai dengan yang kalian harapkan itu. Makanya, lebih baik kalau lewat sana banyak berdoa atau bersholawat pasti menampakan dengan wujud aslinya. Kalau yang kuat pasti tak akan terkecoh dengannya," jelas penduduk.


***


Lima tahun yang lalu tepatnya. Segerombolan pesinden dan anggotanya melewati daerah sana untuk pergi ke kota waktu siang hari. Mereka ada acara yang diadakan oleh bupati kota itu.


Mereka melakukan tugasnya seperi biasa hingga acara itu selesai. Beberapa orang pulang dijemput dengan orang tuanya, atau bahkan ada yang menyewa penginapan di sana semata-mata untuk bermalam, sebab jalanan yang jauh dan melewati hutan tak memungkinkan mereka untuk pulang.


Tapi, beberapa anak yang membawa mobil pun memutuskan untuk pulang. Diantaranya tiga wanita dan empat laki-laki. Mereka menerobos gelapnya malam dan kesunyian hutan belantara yang mereka lewati.


Mereka membawa botol minuman keras. Enam diantaranya menenggak minuman itu dengan masih mengendarai mobil. Satu perempuan di sana dia anak baru dalam komunitasnya, dia anak pendiam dan tak mengenal minuman ataupun obat-obatan terlarang itu. Entah kenapa, dia malam itu tergoda kala ajakan mereka untuk pulang bersama. Dia tak tahu, jika hal seperti ini yang akan mereka lakukan.


"Jangan minum gitu, dong. Kalian lagi mengendarai mobil, nanti malah mencelakakan diri sendiri dan orang lain," tegur Ninis, gadis yang pendiam itu.


"Diam, Nis. Kau itu jangan pura-pura lugu, kau bisa masuk komunitas karena tubuhmu sudah kau gadaikan dengan tempatmu yang sekarang kan?" ujar salah satu wanita yang ada di sana.


"Astagfirullah, enggak. Aku nggak pernah seperti itu." Ninis membela diri.


"Masa, buktikan kalau memang keperawananmu masih utuh di sana," sahut salah satu lelaki di sana.


Mereka mengkode yang bagian nyopir mobil itu untuk berhenti di tepi jalan. Mereka berhenti tepat di jalanan yang saat ini ada kuburan di tepi jalannya.


Dua cewek itu dengan erat mencengkeram tangan Ninis yang kebetulan duduk di tengah. Sedangkan dua pria membantunya untuk memegangi kakinya.


Satu pria itu mencekoki Ninis dengan minuman keras hingga beberapa tengguk. Mereka tertawa terbahak-bahak kala Ninis mulai kehilangan setengah kesadarannya karena efek obat dan minuman itu. Tak hanya puas dengan itu saja, mereka melakukan perbuatan keji. Mereka menyetubuhi Ninis hingga bergilir, suntikan dan minuman keras terus menerus mereka berikan ke Ninis. Hingga, lambat laun mulut Ninis berbusa dan benar-benar kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Napas Ninis terdengar berat dan bahkan tersengal-sengal. Minuman keras itu tak ada hentinya mereka berikan. Baru di masukan mulut, mereka terus memberikannya hingga meluber ke tubuhnya.


Mereka yang sakit pikirannya, bahkan ada yang tega menyayat buah d*da Ninis dengan pisau kecil yang mereka bawa. Darah mengucur dari dadanya. Saat mereka puas dan menyadari jika Ninis akan melaporkan ini kepihak berwajib ketika sadar, mereka segera memakaikan kemben yang ada di tas Ninis. Mereka lilitkan kemben itu ke tubuh Ninis dari dada hingga ke lutut. Setelah itu, salah satu lelaki itu membopong tubuh Ninis untuk keluar dari mobil.


Mereka meletakkan di tengah jalan dalam posisi terlentang menghadap ke langit yang sedang hujan lebat.


"Woy, cepat! Cari mati kau!" gertak perempuan yang ada di dalam mobil itu.


Saat pria itu sudah masuk ke dalam mobil, dengan teganya mobil di lajukan dengan kencang hingga melindas sebagian tubuh Ninis. Wajahnya remuk setengahnya. Saat itu, mereka malah tertawa terbahak-bahak setelah melakukan kejadian itu.


____


Keesokan hari, seperti biasa pagi-pagi buta sudah banyak yang berlalu lalang. Mereka menemukan mayat Ninis di jalanan. Mereka segera melaporkan kejadian itu kepihak yang berwajib. Awalnya polisi menyangka jika itu korban tabrak lari saja. Polisi mencari identitas dari korban. Saat semua jelas, mayat itu segera dibersihkan dan di bawa pulang, namun keanehan terjadi saat hendak di makamkan. Keranda yang terasa enteng, awalnya mereka menganggap jika Ninis orang yang baik jadi hal wajar jika keranda itu terasa enteng.


Tetapi, betapa mereka terkejut kala hendak dikuburkan, mayatnya ternyata tak ada di sana. Orang tua Ninis menangis dan bingung harus bagaimana. Hingga, ada warga yang mengabarkan jika pocongan tubuh Ninis berada di tempat pertama kali ia temukan. Merek bergegas untuk membawanya pulang, tetapi kejadian yang sama terjadi dan dengan cepat ada yang mengabarkan jika tubuh itu kembali ke sana.


"Sebagian dari kalian tolong tunggu di temat Ninis di temukan, yang lain jaga di rumah dan makam. Paham?" perintah kepala desa di sana.


Hal itu pun di lakukan, hingga pemakaman ketiga kali, ternyata tubuh Ninis tetap saja masih kembali ke tempat yang sama. Hingga, lurah di saja mengusulkan jika jenazah Ninis lebih baik di makamkan di tepi jalan ia di temukan. Betapa mereka terkejut, kala prosesi pemakaman berjalan lancar tanpa kendala apapun.


Orang tuanya dengan sengaja membuatkan rumah kecil untuk makam itu. Awalnya, kasus Ninis di tutupi, hingga setengah bulan setelah kematiannya, Ninis mendatangi ibunya lewat mimpi. Beliau menjelaskan jika Ninis mengatakan kalau kematiannya memang di sengaja. Dia dibunuh dan di dzolimi. Mereka pun percaya dan kembali mengusut kejadian itu. Cukup kesulitan sebab bukti memang sulit di dapat. Hingga polisi masih mengingat dengan jelas jika ada bukti kemben itu, mereka segera mengusut sidik jari yang melekat di sana.


Satu persatu daru mereka pun di tangkap, bahkan salah satu dari mereka di hukum mati, sebab dengan terang-terangan sebagai pengedar narkoba. Mulai sejak itu, rumor hantu Ninis menyebar hingga ke pelosok desa. Jalanan setelah kejadian itu cenderung sepi, sehingga orang di sekitar sana menyebutkan jika Ninis mencari teman makanya sering menampakan diri sesuai isi hatinya.


****


Tanpa mereka sadari, mendengar cerita itu berlalu hingga satu jam lamanya. Mereka memutuskan untuk berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan itu.


"Makasih, Pak. Sudah menampung kami dan bahkan dengan baik menghidangkan kopi untuk kami," ujar Ayah Dinar.

__ADS_1


"Iya, Pak. Sama-sama, jika melewati daerah sini tolong mampir, ya. Saran saja, kalau bisa saat siang saja," ujar penduduk.


Mereka pun berpamitan lalu masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan.


__ADS_2