
Aku memeluk Papaku.
"Pa, yang sabar ya, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa sama Papa," ucapku.
"Kalau Papa tidak pulang, mungkin saja mimpiku akan terjadi Pa," ucapku lagi.
Seketika papa melihat ke arahku. Aku tatap matanya terlihat kesedihan dan amarah. Papa pun beranjak berdiri dan meninggalkan kami.
"Sayang, jangan ngomong soal mimpi tadi, Papamu pikirannya lagi kalut, takut Papamu semakin marah," kata Mama.
Aku merasa kecewa mendengarkan ucapannya. Dengan kejadian seperti ini, tak mengubah cara berpikir mereka.
Aku pergi meninggalkan Mama, aku berjalan mendekati tempat kejadian. Di sana aku masih melihat makhluk itu, tetapi saat itu dia tertawa seakan-akan dia merasa menang.
"Hahahaha, masih mau main-main denganku? lain kali Papamu tidak akan lolos dari maut," ucap Makhluk itu.
Aku tak menghiraukannya, aku pun berbalik arah menuju mobil.
"Adi bakalan mati," ucapnya lagi.
Aku tetap melangkahkan kaki menuju mobil. Sesampainya di dekat mobil aku bergegas masuk kedalamnya dan duduk di sana.
Ku mainkan Telepon genggam mamaku, karena handphone ku hancur karena ku banting tadi. Aku pun membuka satu persatu sosial mediaku. Ketika aku melihat aplikasi F berwarna biru itu, aku melihat teman sekelas ku yang selama ini tidak pernah, menyukaiku sedang mengaploud kebakaran.
Di foto kebakaran itu, terdapat Caption yang membuat aku sakit hati.
"Bye bye anak songong, syukurin usaha bokap lo habis, baru tau rasa," terdapat tulisan itu.
Aku merasa geram melihatnya. Ku tonjokan tanganku ke arah kursi mobil.
"Mau apa sih ni anak, cari gara-gara sama aku," kataku.
Saat itu bertepatan dengan Papa dan Mamaku datang dan memasuki mobil. Dan Papa bergegas mengendarainya.
"Bagaimana Pa? apa ada korsleting listrik?" tanyaku biar Papa tidak marah karena aku selalu mengungkit mimpi.
"Tidak ada Sasa, kaya ada yang sengaja bakar usaha Papa," aku tak menghiraukannya.
"Kalau pulang mampir ke counter handphone Pa, handphone ku pecah," ucapku.
"Iya, nanti beli dulu handphonenya," jawab Papa.
Aku mencolek bahu mama yang duduk di kursi depan mobil dan mama pun menoleh ke arahku.
"Apa?" tanya Mama.
Aku menunjukan postingan di sosial media tadi.
"Siapa? si sintia anak pak Bramono?" tanya Mama.
"Iya, ini malah nyukurin kita saat dapat musibah," jawabku.
"Memang anak sama Papanya sama saja, suka iri dengan kita," sahut Papa.
__ADS_1
"Iya, dari dulu paling ga suka lihat aku bahagia dia, selalu iri apa yang aku punya," ucapku.
"Biarin saja, toh keluarganya lagi bangkrut besar-besaran gara-gara investasi bodong," ucap Papa.
"Masa sih Pa?" tanya Mama.
"Iya, kemarin baru ketangkap pelaku penipuan itu Ma," jawab Papa.
"Pantas saja, biasanya aku lihat si sintia naik mobil, ini tumben tadi nebeng dengan teman satu geng nya," sahutku.
"Dengar-dengar semua perusahaan dan rumahnya di sita, buat ngelunasin utangnya," kata Papa.
" Terus mereka tinggal di mana Pa?" tanyaku.
"Di pondok melati, di sana tinggal di rumah kontrakan kecil," jawab Papa.
Kami pun tetap membahas keluarga teman Papa itu.Tak terasa kami sampai di counter HP, di sini aku langsung beli apa yang aku inginkan lalu pergi pulang.
Tak begitu lama kita sampai rumah. Saat kita turun dari mobil dari kejauhan kami melihat orang berdiri di seberang jalan sembari memakai helm.
" Siapa orang itu?" aku bertanya-tanya.
Orang itu berjalan semakin mendekat, sebelum Pak Diman belum menutup pintu dengan rapat, orang itu tiba-tiba lari ke arah Papa dan ingin menusuknya dengan pisau.
Aku yang melihat gerak-geriknya dari awal pun dengan cepat aku menghalanginya. Dan Naas pisau itu tertusuk di perutku.
"Aaa" ucapku dengan tubuh yang mulai melemas.
"Sasa, bangun Nak," ucap Papa dan Mamaku
Bi Asih yang sedari tadi sudah menunggu di depan pintu pun berlari ke arahku ketika ke jadian itu.
"Non Sasa," ucapnya sembari menangis.
Saat itu aku sudah tidak tahu apa-apa, kata orang-orang di sekitarku saat itu juga aku di bawa ke rumah sakit dan aku koma selama lima hari.
Tetapi, saat aku koma yang aku lihat duniaku hanya ada siang. Aku bermain ke sana, kemari penuh dengan kebahagiaan.
Aku kira Papa dan Mamaku selalu ada buat aku, mereka tidak pernah meninggalkanku walaupun hanya sedetik.
Selain kebahagiaan, aku melihat di dunia bawah sadar ku, aku kira waktu itu aku sedang bersekolah. Hari ku lewati dengan biasa, jam pertama kedua masih biasa saja.
Tiba-tiba hari yang masih pagi, mendadak berubah jadi gelap gulita, aku melihat ke sekelilingku.
Semua temanku duduk di bangku masing-masing dengan posisi kepala tertunduk, saat itu aku merasa kebingungan.
Aku memanggil orang-orang yang berada di sekitar yaitu teman-teman baikku. Tak ada satupun sahutan dari mereka.
Aku berdiri dari tempat dudukku hendak keluar pintu dari kelasku yang mencekam.
"BERHENTI," terdengar suara laki-laki yang terdengar berat.
Aku pun dengan spontan menoleh, saat itu aku dibuat terkejut.
__ADS_1
"Aaaaa!" teriakku sembari berjalan mundur.
Teman-temanku yang awalnya seperti manusia biasa, sekarang berubah menjadi beberapa makhluk yang mengerikan.
Mulai dari genderuwo, kuntilanak, pocong, kuntilanak berwarna merah bahkan yang paling mengerikan bagiku adalah teman-temanku berubah menjadi zombi yang haus akan darah segar.
Aku pun berlari sekencang-kencangnya dan mereka semua mengejarku.
"Tolong, tolong!" aku berteriak minta pertolongan. Tetapi tak ada satupun orang yang berwujud manusia biasa yang berada di dalam mimpiku ini.
Yang ada semua berubah menjadi makhluk yang mengerikan. Aku kira saat itu, aku mati karena di mangsanya.
Karena ada satu Zombi yang datang menghampiriku dan berhasil menangkap ku, dia mencoba ingin menggigitku.
Tiba-tiba saat mataku pun terbuka, yang aku lihat saat ini aku berada di dalam ruangan. Mataku melihat di sekelilingku, aku melihat Bi Asih sedang tertidur di kursi dekat tempat tidurku.
Aku mencoba memegang tangannya untuk membangunkan Bibi. Saat aku pegang, bibi pun terperanjat karena kaget.
"Astagfirullah," ucapnya.
Seketika Bibi melihat ke arahku.
"Non Sasa bangun," ucap Bibi dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Bibi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat menuju ke arah pintu.
"Dokter, dokter," panggil Bibi.
Padahal ada tombol untuk memanggil suster tapi bibi memanggilnya dengan teriakan. Suster pun mendatanginya, aku mendengar mereka berbicara.
"Suster, Non Sasa sadar," ucap Bibi Asih.
Salah satu suster pergi memanggil dokter dan salah satu suster menghampiriku mengecek keadaanku.
Tidak perlu waktu lama dokter pun datang dan memeriksaku.
"Adek Sasa, sudah melewati masa kritisnya ya Bu, nanti siang sudah mulai bisa di pindah ke ruangan perawatan," ucap Dokter ke Bi Asih.
"Alhamdulillah makasih Dok," ucap Bi Asih.
Dokter dan suster pergi meninggalkan kami.
"Alhamdulillah Non, semoga cepat sehat dan bisa segera pulang," ucap Bibi.
"Mama dan Papa mana?" tanyaku.
"Tuan dan Nyonya bekerja Non," jawab Bibi.
Aku sudah menduganya, kenapa aku tak meninggal sekalian. Dalam kondisi sakit aja mereka masih bisa mementingkan kerjaannya.
Beberapa hari aku di rawat di rumah sakit, setelah itu baru bisa pulang. Dalam kejadian itu, papa dan mama memutuskan untuk pindah tempat ke rumah yang sekarang, alasannya agar aku tidak bahaya.
Dan saat itu pula aku tidak pernah melihat buku yang biasa aku buat nulis, beberapa kali aku menanyakan ke papa alasannya selalu dibuang.
__ADS_1