Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Orang itu (3)


__ADS_3

Kami terlebih dahulu ke tempat Om Deni. Mobil Pak Budi sengaja diparkirkan tidak jauh dari swalayan, kami hanya berjalan mengikuti ayah. Karena ayah khawatir jika orang itu, masih mengintai.


Sesampainya kami, aku melihat Om Deni tampak pucat pasi. Beliau menahan sakit dikakinya. Pak Budi dan Ayah, membopong Om Deni ketempat yang lebih nyaman.


Kami menunggu tim Medis datang. Tak begitu lama, tim Medis datang dengan membawa ambulance, kami bantu menaikan Om Deni ke mobil. Lalu, kami juga ikut masuk di dalamnya.


"Lalu, kenapa Ayah nyuruh kami segera ke sini, Yah?" tanyaku.


"Iya, kan Ayah sudah minta pertolongan dari tim Medis," sahut Ibu.


Ayah merangkul kami berdua kepelukannya.


"Orang itu membawa pistol, Bu. Dan dia pasti ke rumah Deni, aku takut dia mengenali mobil Pak Budi, lalu mencelakai kalian semua," ucap Ayah.


"Makasih, Pak Budi dan saya minta maaf kalau Bapak sudah kami ikutkan dalam masalah ini," ucap Ayah ke Pak Budi.


"Tidak perlu meminta maaf, Pak," ucap Pak Budi dengan santun.


Aku melihat ke arah Pak Budi, Beliau terlihat tulus membantu kami. Dalam batinku, Ya Allah, muliakan orang sepertinya. Cabut segala kesedihannya, berikanlah dia beserta keluarganya kesehatan.


Aku tak bisa membayangkan, masih ada orang baik di dunia ini. Beliau tanpa pamrih membantu kami, walaupun kondisi beliau juga lagi kesusahan.


Sampailah kami di klinik, dengan cepat pihak klinik melakukan tindakan ke Om Deni. Tim Medis mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di betisnya.


Kami hanya menunggunya di luar, dengan perasaan harap-harap cemas. Tiba-tiba, ponsel ayah pun berbunyi. Beliau melihat ke arah layar ponselnya.


"Siapa, Yah?" tanya Ibu.


"Sepertinya orang itu lagi, Bu," jawab Ayah.


Tak berselang lama, tim medis pun keluar.


"Keluarga Pak Deni," panggil Dokter.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaannya?" tanya Ayah tampak khawatir.


"Kami sudah berhasil mengambil pelurunya, sekarang sudah bisa di jenguk," ucap Dokter.


Kami pun masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Om Deni. Beliau tampak muram di wajahnya. Mungkin saat ini dia khawatir dengan istrinya.


"Den, aku bantu kok. Tapi kita nggak bisa bertindak tergesa-gesa," ucap Ayah.


"Iya, apalagi dia membawa barang berharga," sahut Ibu.


"Tapi aku tidak bisa tinggal diam, nanti malam kita ke rumahku," ucap Om Deni.


Ayah hanya mengangguk, mungkin ayah juga tidak tahu harus bagaimana. Dering telepon ibu berbunyi.

__ADS_1


Ibu menjawab panggilan itu, beliau tampak mendengar orang yang berada di seberang telepon.


"Iya siang, Pak. Baiklah kami akan segera ke lokasi," jawab Ibu.


Setelah panggilan terputus, sontak membuat ayah dan Om Deni bertanya-tanya.


"Siapa, Bu?" tanya Ayah.


"Pihak kepolisian," jawab Ibu.


____________


Singkat cerita, kita pun segera ke sana ke rumah Om Deni. Terlihat polisi di depan pagar rumahnya.


Kami turun dari mobil.


"Selamat siang. Apa ini dengan Ibu Alifia yang menelepon kami?" tanya Pak Polisi ketika melihat Ibu.


"Iya. Bagaimana, Pak?" tanya Ibu.


"Dari pihak kami, di dalam sudah dilakukan pengecekan. Tetapi tidak kami temui siapapun di sana," ucap salah satu pihak kepolisian.


"Tidak mungkin, Pak. Istri saya bagaimana?" tanya Om Deni.


Di sini, polisi tetap menjelaskan tidak ada satu orang pun di dalam rumah. Hanya dari pihak kepolisian menemukan satu samurai yang masih ada darah yang melekat, serta menemukan robekan baju dibuat sebagai barang bukti.


"Apakah saya boleh memegangnya?" tanyaku.


Kemudian Pak Polisi pergi dari rumah Om Deni. Saat ini Om Deni, meneteskan air matanya.


"Bagaimana dengan Istriku, Dim?" tanya Om Deni.


"Kita masuk rumahmu dulu, siapa tahu ada barang bukti yang tertinggal," ucap Ayah.


Kami pun segera masuk ke dalam rumah. Sebelum kami duduk di sofa, tiba-tiba terdengar ponsel bergetar


Drrrtttt....


Terdengar suara ponsel bergetar.


Om Deni segera meraih ponselnya yang berada di saku bajunya.


"Halo, bajing*n kamu! Di mana istriku?" ucap Om Deni.


"Ha-ha-ha, sepertinya aku tertarik dengan Istrimu. Akan ku nikmati kemolekan tubuhnya sebelum ku bunuh!" ucap Orang itu dari seberang telepon.


"Sial*n, berani kau menyentuh Istriku akan ku bunuh kau!" ucap Om Deni dengan wajah yang tampak memerah.

__ADS_1


"Ha-ha-ha," orang itu hanya tertawa terbahak-bahak sebelum mematikan teleponnya.


Setelah itu, Om Deni membenturkan tangannya ke tembok hingga terluka. Terlihat amarah begitu memuncak, sampai-sampai aku merasa takut. Aku memeluk ibuku.


"Aaaaaa! Sial*n, Brengs*k. Sebenarnya dia itu siapa?" ucap Om Deni dengan umpatan-umpatan.


Ayah dan Pak Budi membawa Om Deni duduk di atas sofa. Aku hanya diam mematung tak bergerak, ketika ibu pergi kebelakang untuk mengambilkan air minum.


"Pak, saya kira ini orang terdekat dari kalian berdua," ucap Pak Budi.


Ibu pun kembali dengan membawa air lalu diberikan ke Om Deni. Aku pun duduk ketika ibu sudah duduk.


"Terus siapa? Apa Kalian berdua berbuat sesuatu ke seseorang," ucap Ibu.


"Apa hubungannya dengan kami, Bu? Tahu sendiri rumor psychopath itu di hotel waktu itu, lalu kenapa menjalar ke kami?" tanya Ayah nampak bingung.


Om Deni tiba-tiba nampak mengingat sesuatu.


"Oh, iya. Ada CCTV di setiap sudut rumahku, ayo kita cek sekarang," ucap Om Deni.


Beliau pun berjalan sembari di papah oleh Ayah. Beliau mengajak kami kesatu ruangan, mungkin tempat beliau bekerja. Ketika kami masuk, tampak buku-buku berserakan, berkas, dan semua alat kerja Om Deni dihamburkan ke lantai.


Om Deni mengecek komputer yang berada di sana. Kami melihat dari CCTV depan dari beberapa hari sebelum kejadian ini, tampak orang yang sama selalu mengintai saat Om Deni pulang kerja.


Hingga Kejadian ini terjadi, kami hanya tahu orang itu selalu memakai penutup wajah dan hoodie berwarna hitam.


Saat mengecek CCTV yang berada di rumah. Om Deni terkejut, kala dia melihat orang itu tega menampar istrinya hingga beberapa kali. Dan istrinya pun saat itu tidak bisa melakukan perlawanan, karena tangan dan kakinya sudah diikat dengan tali yang sudah dibawanya.


Orang itu pun berteriak dalam rekaman itu.


"Kalau tidak gara-gara suamimu dan teman-temannya, ini semua tidak akan pernah terjadi! ucap Orang itu dengan penekanan kata penuh amarah.


Lalu orang itu terlihat berjalan ke ruangan ini. Dia membuka dengan kasar pintu ruangan ini.


Braaaaak!


Terlihat dia tertawa terbahak-bahak. Lalu satu-satu barang di ambil orang itu, di lemparkan ke lantai.


Orang itu lagi-lagi berteriak kala melihat poto yang ada di meja ini.


"Bangs*t, kamu dan teman-temanmu merusak segalanya. Kalian pembunuh," ucap orang itu.


Aku pun dengan spontan menatap ke arah poto yang berada di atas meja kerja Om Deni. Tampak gambar Om Deni dan istrinya.


"Den, maksud orang itu apa? Teman-teman?" tanya Ayah.


"Otomatis termasuk kamu dong?" ucap Om Deni.

__ADS_1


Mereka pun saling menatap. Mereka tampak bingung dengan semua ini. Selama ini, mereka tidak pernah ada musuh di kantor. Semua berjalan dengan baik-baik saja, menurut mereka berdua.


Bersambung....


__ADS_2