Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Part ini Tidak Ada Hantu


__ADS_3

Pov Dita


Andre melajukan mobilnya dengan perlahan, aku yang berada di sampingnya masih heran tentang baju itu.


"Mikirin apa, sayang?" tanya Andre.


"Kejadian tadi Ay, kok bisa gitu," jawabku.


"Sudahlah jangan di pikirkan, namanya juga hal mistis memang di luar nalar kita," ucap Andre.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum ke Andre. Tak berselang lama kami pun sampai di depan rumahku.


"Mampir dulu yuk Ay!" Ajakku.


"Aku langsung pulang saja ya sayang, ini sudah malam salam ke Ibu dan Adek ya," jawab Andre.


"Iya, kamu hati-hati ya," ucapku.


Andre pun melajukan mobil untuk pulang, sedangkan aku pun melangkahkan kaki ke pintu rumah.


Tok tok tok!


"Ibu, Dita pulang," ucapku.


"Iya," dari dalam terdengar suara Adekku yang menjawab.


Pintu pun dibuka oleh Dinar, aku melihat dia celingukan memandangi sekitarku.


"Eh, ni bocah lihatin apa? cari hantu? ga ada sudah ku pulangin!" celetukku.


"Huh, Kak Andre mana, Kak?" tanya Dinar.


"Sudah pulang!" jawabku berlalu memasuki rumah.


"Ga titip makan gitu hehehe, biasanya bawa jajan Kak," ucapnya.


"Kebiasaan bocah satu ini, Kak Andre sama Kakak aja berjuang pulangin baju berhantu itu, eh ni anak makanan mulu yang di pikirin," gerutuku.


"Kakak itu juga kebiasaan ngomel mulu, dasar Nenek lampir weeeeg," Dinar mengejekku.


Aku pun tidak menghiraukan tingkah Dinar, karena aku merasa lelah dengan kejadian ini.


Aku memutuskan untuk istirahat agar kejadian yang kami lewati terlupa dari dalam pikiranku.


***


Pov Keyla


Sepulangnya keluarga Dinar, aku masih terduduk di ruang tengah bersama ibu.


"Keyla sayang, Ibu tahu sekarang Dedek bisa menerima keadaan, tetapi Ibu mohon sama kamu, kamu jangan terlalu nekat Nak," ucap Ibu.


Aku pun mengangguk.


"Ayah, datang jam berapa Bu?" tanyaku.


"Mungkin sebentar lagi sampai, Dek," jawab Ibu.


Dan benar saja, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah kami.


"Mungkin, Ayah itu Bu yang datang" kataku.


"Mungkin saja," sahut Ibu.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum," terdengar suara Ayah dari balik pintu.


"Aku yang buka Bu," ucapku sembari beranjak dari tempat dudukku.


"Waalaikumsalam," aku menjawab salamnya.


Ku hampiri pintu dan kubuka, aku melihat laki-laki yang sangat ku sayangi berada di sana.


"Ayah," ucapku sembari memeluk Ayahku.


"Uluh, anak Ayah kangen ya?" tanya Ayah.


"Iya Yah," jawabku, masih dalam pelukkannya.


"Anak gadis, masih nemplok kalau Ayah datang," kata Ayah dengan sedikit mencubit hidungku.


Ayah mengajakku masuk ke dalam rumah. Dari ruang tengah, aku melihat ibu sedang tersenyum melihat kami berdua.


"Bayi gede Ayah, ada maunya pasti," ucap Ibu.


"Hehehehe, Ibu mah sudah di tebak," kataku dengan sedikit cemberut.


Ayah pun mengeluarkan bingkisan yang ada dalam tasnya dan memberikan kepadaku.


"Makasih Ayah, hafal banget deh Ayah," ucapku.


"Anak kesayangan Ayah, pasti hafal dong," kata Ayah.


Aku membuka bingkisan yang dibawa ayah, yang tentunya roti lapis kesukaanku.


"Sudah, Ayah biar membersihkan badan terlebih dahulu," ucap Ibu.


"Bu, nonton televisi yuk," ajakku.


Kami pun melangkah bersama menuju televisi, sesampainya kami pun duduk dan menonton chanel kesukaan sembari melahap roti kesukaanku.


Tak begitu lama, ayah pun datang menghampiri kami.


"Bagaiman sekolahnya Dek?" tanya Ayah.


"Biasa saja Yah lancar-lancar saja," jawabku.


"Maksud Ayah, masih minder sama orang lain soal kelebihan Dedek?" tanya Ayah lagi.


"Tidak Yah, aku sekarang berlagak bodo amat hehehe, kayanya sih mereka juga sudah tidak memandang Dedek aneh kok," jawabku.


"Benarkan yang Ayah bilang, mereka hanya belum terbiasa," kata Ayah sembari mengelus kepalaku.


"Nanti SMA butuh adaptasi lagi, huuuft," aku mengeluh.


"Keyla kan sudah beranjak dewasa, pasti tau dong caranya adaptasi, gak perlu minder," kata Ayah lagi.


"Ingat Dek, kita semua sama, justru kamu harus bangga dan bersyukur karena ada nilai khusus dalam hidupnya," sahut Ibu.


"Iya Yah, Bu," ucapku.


"Yah, anakmu hari ini nekat buat flashback kejadian dari suatu gaun," Ibu memberitahu.


"Gaun? gaun apa Bu?" tanya Ayah.


"Itu, si Dita Kakaknya Dinar kan sebentar lagi akan menikah, nah ini si Dedek tadi ikut fitting baju,"

__ADS_1


"Dan dari salah satu baju, ada cerita misteri dibaliknya," jawab Ibu.


Ibu mulai bercerita satu persatu kejadian malam ini ke Ayah. Aku hanya menanggapi jika ayah bertanya saja.


Hari mulai larut malam, ayah dan ibu menyuruhku untuk segera beristirahat.


Aku pun menuruti dan bergegas pergi ke kamarku. Sesampainya di kamar, ku baringkan tubuhku di atas kasur.


Aku pun tertidur dan larut dalam mimpiku. Aku terbuai dalam mimpi indahku dan melupakan kejadian demi kejadian yang telah aku lewati.


***


Keesokan hari...


kukuruyuuuk...


suara ayam yang bersahabat, yang selalu ku dengar setiap pagi.


Aku beranjak bangun dari tempat tidurku, aku bergegas mandi lalu menunaikan kewajiban ku ke Allah SWT.


Setelah itu, ku ganti bajuku dengan baju seragam sekolahku dan menghampiri kedua orang tuaku.


Aku berjalan menuju dapur, dari kejauhan aku melihat ayah dan ibuku sudah duduk di sana.


"Pagi Tuan putri," ucap Ayah sembari tersenyum.


"Pagi Ayah, Ibu," ucapku.


"Sarapan Nak, makan yang banyak biar fokus sama pelajarannya," kata Ibu sembari mengambilkan nasi ke dalam piringku.


"Jangan banyak-banyak Bu, bukan fokus malah nanti yang ada aku mengantuk, karena kekenyangan hehehe," jawabku.


"Bisa aja jawabnya kamu ini," ucap Ayah.


"Ayah antar Dedek ke sekolah ya? ucap Ayah lagi.


"Iya Yah," jawabku.


"Bu, telfon Ibunya Dinar dong, nanti Dinar kalau berangkat suruh mampir sini, sekalian di antar Ayah hehehe," pintaku ke Ibu.


"Iya bentar, habis ini Ibu telfon," jawab Ibu.


Makanan kami di piring, satu persatu sudah habis. Ibu mulai mengambil telfon genggamnya untuk menghubungi Ibunya Dinar.


Dari kejauhan, aku mendengar ucapan ibu dan Ibunya Dinar.


"Hallo Bu, minta tolong sampaikan ke Dinar, nanti suruh mampir ke rumah dulu ya," ucap Ibu dengan Ibu Dinar di telfon.


Ibu berhenti sebentar mendengarkan Ibu Dinar di seberang telfon berbicara.


"Tidak ada apa-apa kok, si Keyla lagi pengen diantar Ayahnya, jadi Dinar mau di ajak berangkat bareng," ucap Ibu lagi.


"Baik Bu, nanti biar di tunggu di depan rumah sama si Keyla," jawabnya lagi.


Setelah telfon, ibu pun menghampiri aku dan ayah yang masih duduk di meja makan.


"Dek, kata Ibunya Dinar nanti dia ke sini di antar Dita, jadi kamu tunggu dia di depan rumah Ya," ucap Ibu memberitahu.


"Siap Bu, aku ambil tasku dulu," jawabku.


Aku beranjak dari tempat dudukku menuju kamar untuk mengambil tasku.


Setelah itu, aku menunggu Dinar di teras rumahku dengan di temani ayah duduk di kursi.

__ADS_1


__ADS_2