Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Tertangkap


__ADS_3

Setelah mendapat pesan itu, ekspresi Tante Sita berubah drastis. Beliau menatap kami dengan mata yang yang terbuka lebar.


"Kenapa, Ta?" tanya Clara.


"Lihat nih, Apa sih maksudnya kekasih abadi?" ucap Tante Sita sembari memberikan ponselnya ke Clara.


Clara yang membacanya, sontak berpikir sejenak.


"Bahas urusan itu nanti saja, kita sudah sampai sini. Ayo cari keluarga Hendra dulu," sahut Ayah.


Kami pun kembali bertanya-tanya perihal keluarga Om Hendra ke bapak yang tadi. Bapak itu pun memberikan satu alamat ke kami. Dan kebetulan alamat itu tidak jauh dari mushola ini.


Kami sengaja parkirkan mobilnya di depan mushola, lalu kami berjalan menuju rumah keluarga Hendra.


Tok-tok-tok!


Salah satu dari kami mengetuk pintu rumah.


"Nuhun, antosan sakedap (Iya, tunggu sebentar)," terdengar suara orang di dalam.


Pintu perlahan mulai terbuka, terlihat wanita dari balik pintu. Beliau tampak bingung ketika melihat kami semua yang datang secara beramai-ramai.


"Kunaon anjeun peryogi, Sabaraha urang? (Ada perlu apa ya, kok banyak orang?)," Wanita itu terlihat gugup.


Kami semua yang tak mengerti bahasanya, cuma celingukan. Terkadang sesekali kami saling bertatap mata satu sama lain.


"Maaf, kami tidak ada yang mengerti bahasa sunda," ucap Ibu.


"Oh, iya maaf. mari masuk dulu," ajak wanita itu.


Kami pun segera duduk satu persatu.


"Sebentar ya, saya buatkan minum dulu," ucap wanita itu sembari melangkahkan kaki hendak menuju kebelakang.


"Tidak usah, Kak. Kami hanya sebentar," ucap istri Om Doni.


Wanita itu pun kembali, lalu ikut duduk bersama kami.


"Ada apa, ya?" tanya wanita itu masih tampak bingung.


Ayah di sini mulai memperkenalkan kami satu persatu, dan wanita itu juga memperkenalkan dirinya. Dia bernama Hany, beliau berkata bahwa dia adalah adik dari Om Hendra.


"Ada perlu apa, ya?" tanya Tante Hany.


"Kami mencari Hendra, soalnya sudah lama tidak masuk kerja," jawab Ayah.

__ADS_1


"Loh, Kak Hendra dan Kak Tiwi beserta anaknya, sudah kembali ke kota dari kemarin," ucap Tante Hany.


Di sini dari perkataan Tante Hany, kami mendapatkan satu nama lagi yaitu Tiwi istri dari Om Hendra. Tante Hany berkata jika Om Hendra sengaja membawa istri dan anaknya ke kota, hanya untuk berlibur saja.


Tapi entah saat ini, kami tidak mendapatkan kabar satu pun dari mereka. Bahkan mereka saat dihubungi hanya memutuskan panggilannya. Sejak saat itu, di kira Tante Hany, Om Hendra bersama istri tidak akan pernah pulang. Karena sudah merasakan enaknya hidup di kota.


Sehingga, rumah ini sengaja di tempati sementara oleh Tante Hany, beliau berkata hanya untuk merawat rumahnya biar nggak kosong lagi. Kami tidak mendapatkan informasi apapun saat ini, sehingga kami putuskan untuk kembali ke mushola lagi.


****


Sampai sini pun, kami belum mendapatkan titik terang permasalahan ini. Kami sudah merasa putus asa, tidak tahu harus bagaimana.


Dari pihak yang berwajib pun, belum memberikan kabar tentang hasilnya.


"Yah, ayo pulang. Dedek mau hidup tenanglah, nggak mondar-mandir," ucapku dengan nada memelas.


Ayah hanya mengelus kepalaku.


"Bentar lagi ya, Nak. Maafin Ayah, kalau kamu ikut dalam masalah ini," ucap Ayah.


Aku dan Ibu pun saling berpelukan. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Mau pulang terlebih dahulu, kami khawatir dengan keadaan ayah nantinya.


"Kenapa Tante Sita, nggak menghubungi orang yang kirim pesan singkat itu lagi," ucapku.


Tante Sita membalas pesan itu. Beliau hanya bertanya dia siapa, tetapi lagi-lagi dia hanya menulis, "Kekasih Abadimu."


Kami berinisiatif untuk menjebaknya, dengan cara menyuruh Tante Sita mendesak untuk mengetahui siapa orang itu.


Tante Sita juga mengirimkan pesan, jika memang itu benar Om Boby, beliau mau menerimanya dalam kehidupannya.


Orang itu membenarkan perkataan Tante Sita, lalu kami mengatur rencana pertemuan itu. Tidak lupa, kami sudah terlebih dahulu memberitahukan pihak yang berwajib juga.


***


Malam ini kami memutuskan untuk mengantarkan Tante Sita terlebih dahulu untuk pulang ke rumah orang tuanya. Kami kembali menempuh perjalan yang cukup panjang.


Namun, perjalanan terlihat cukup lenggang saat kami lalui. Kami di dalam mobil mengatur strategi untuk hari esok saat akan bertemu Om Boby.


Malam itu, kami putuskan untuk menginap di rumah Tante Sita. Dan Pak Budi harus pulang, karena istri dan anaknya mungkin sudah menunggunya.


****


Hari esok pun sudah tiba, seperti rencana kita. Kita pergi ke satu taman yang tak jauh dari rumah Tante Sita.


Kami suruh beliau berangkat terlebih dahulu, sedangkan kami menyusulnya dengan menaiki mobil dari tetangga Tante Sita.

__ADS_1


Dari kejauhan aku melihat Tante Sita dan Om Boby sudah duduk di bangku taman, tetapi mereka terlihat canggung dan duduk berjauhan. Aku melihat Tante Sita tertunduk enggan menatap wajah Om Boby.


Dari kejauhan aku mendengar Om Boby mengucapkan kata maaf, tak dapat dihitung berapa banyak jumlahnya, karena beliau setiap kata pasti ada ucapan maaf darinya.


_______


Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi yang semakin mendekat. Mobil polisi berhenti tepat di depan taman, tetapi sepertinya Om Boby tak menyadari jika polisi sudah mengincarnya, sehingga beliau enggan pergi dari tempat duduknya.


Doooor!


Suara dari tembakan peringatan pihak polisi.


Polisi segera menangkap Om Boby, beliau meronta-ronta ingin melepaskan diri. Kami yang melihatnya, seketika turun dari dalam mobil.


"Apa ini, Pak? Salah saya apa?" tanya Om Boby.


Semakin mendekat, aku melihat deraian air mata yang jatuh membasahi pipi Tante Sita. Beliau tertunduk, lalu ibu menghampirinya.


Om Boby saat itu melihat ke arah Om Deni dan ayahku. Sorot mata yang tajam beliau perlihatkan ke mereka.


"Kalian, bangs*t!" makian kembali di lontarkan dari mulut Om Boby.


"Ikut kami, semua jelaskan di kantor," ucap salah satu dari pihak kepolisian.


"Sita, aku sayang kamu. Maafkan aku," ucap Om Boby sebelum memasuki mobil polisi.


Di sini, tangis Tante Sita semakin pecah. Beliau memeluk ibukku semakin Erat. Clara sebagai sahabatnya datang menghampiri.


"Ta, yang sabar ya. Besok kita jenguk dia, sekarang kita pulang, ya," ajak Clara.


Tante Sita melepaskan pelukan ibuku, lalu melihat ke arah Clara. Terlihat sendu yang tampak di wajahnya, mata yang dulunya terliha besar membulat, saat ini terlihat sayu.


Ayah dan Om Deni beserta istrinya pergi ke kantor polisi. Sedangkan kami semua yaitu ibu, aku, Clara dan Tante Sita pergi ke rumah Tante Sita.


Kami berjalan kaki, karena mobil digunakan ayah. Diperjalanan Tante Sita tak henti-hentinya meneteskan air mata, tetapi saat ini beliau tampak lebih tenang.


"Sabar ya, Ta. Aku pun tidak pernah menyangka, kalau si Boby jadi orang yang sadis seperti itu," ucap Clara.


Bersambung....


Sembari nunggu lanjutan ceritanya, mampir yuk ke cerita barunya Author.



Semoga suka😍😍

__ADS_1


__ADS_2