
Aku dan Dinar masih tetap bergandengan tangan, kami ketakutan. Karena di rumah ini tidak ada orang satu pun yang menemani kecuali kami berdua.
"Din, ambil batunya," ucapku menyuruh.
"Ayo sama kamu," kata Dinar.
Perlahan-lahan kami mulai mendekati batu, tangan Dinar berusaha untuk mengambilnya. Dengan cepat Dinar mengambilnya. Di batu terdapat tulisan dari cat.
Saat kami melihat, sontak kami berdua pun membaca secara bersamaan.
"Jauhi Andre."
Setelah membaca itu, tanpa sengaja kami saling memandang dengan penuh pertanyaan.
"Kak Dita," ucapku.
"Iya, sepertinya ini teror di tujukan ke dia," kata Dinar.
Dinar bergegas berjalan menuju telepon rumahnya, dia mulai menekan tombol telepon yang akan di tuju. Aku hanya menunggu tanpa bertanya.
"Halo," ucap wanita di seberang telepon.
"Halo, Kak Dita lagi di mana? Sama Ibu?" tanya Dinar tampak khawatir.
Ternyata si Dinar menghubungi kakaknya.
"Iya Din, ada apa?" tanya Kak Dita.
"Buruan pulang Kak, penting!" jawab Dinar.
"Ada apa sih? Bilang saja, jangan buat Kakak bingung," ucap Kak Dita.
"Kenapa, Dit? Ada apa dengan Dinar?" terdengar suara orang yang mengajak ngobrol kak Dita, suara itu terdengar seperti Ibu Dinar.
"Halo Dinar, ada apa, Nak?" terdengar suara Ibu Dinar dari seberang telepon.
"Cepat pulang Bu, aku takut," ucap Dinar.
Di raut wajahnya Dinar terlihat dia sangat ketakutan, wajahnya yang ceria sekarang tampak pucat.
"Bukannya tadi pagi kamu ke rumah Keyla? Kamu sekarang sendirian di rumah ya Nak, tunggu Ibu dan kakak pulang," kata Ibu Dinar.
"Iya Bu, tapi aku sudah pulang dan saat ini aku di rumah sama Keyla, tapi kami takut," kata Dinar tampak gelisah.
Sesekali dia tampak menoleh ke arah pintu depan.
"Kunci yang rapat semua pintunya Nak, kamu baik-baik di rumah, ini Ibu dan Kakak sudah perjalanan pulang," pesan Ibu Dinar.
Aku pun khawatir dengan situasi ini, apalagi kita hanya berdua.
"Esteh, kamu di mana?" aku mencoba memanggil Esther dengan nada berbisik.
__ADS_1
Kami berdua tetap berada di sebelah meja tempat telepon. Kami berdua hanya bisa sesekali bertatap mata, karena tidak berani untuk becanda.
"Halo Dinar, jangan di matiin teleponnya agar kita bisa saling terhubung," terdengar suara Kak Dita.
"Iya Kak," jawab Dinar.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras di depan rumah, suaranya seperti barang yang di lempar dan mengenai lantai depan rumah.
Braaaak....
Aku dan Dinar langsung saling berpelukan. Dengan itu Dinar tak sengaja membuang teleponnya yang masih terhubung dengan Kakak dan Ibunya.
"Halo Dek, Dinar," panggil Kak Dita.
Dinar mencoba meraih kembali teleponnya.
"Cepat pulang Kak, aku takut," Dinar bersuara gemetar.
"Dit, tadi handphone kamu yang satunya bukannya ketinggalan, mereka suruh ambil handphone nya, lalu biar sembunyi yang lebih aman," Terdengar suara Ibu Dinar mencoba mengajak Kak Dita bicara.
"Kalian pindah kamar Kakak, di meja rias Kakak ada handphone, nanti Kakak telepon ke nomor itu," Kak Dita memberitahu.
Dinar pun menutup teleponnya. Kami berdua mulai menaiki anak tangga, karena kamar Kak Dita ada di lantai atas.
Sesampainya di kamar kami mencoba mencari handphone nya Kak Dita.
"Ini Key," ucap Dinar sembari memperlihatkan handphone nya ke arahku.
Handphone mulai berdering, dengan cepat Dinar mengangkatnya.
"Halo, kamu sekarang sama Keyla di kamar Kakak saja," kata Kak Dita.
"Iya," jawab Dinar singkat.
Ketika Dinar sedang mengobrol dengan Kakaknya melalui telepon, aku mencoba berjalan menuju jendela kamar Kak Dita.
Jendela itu langsung mengarah ke jalan. Walaupun aku takut, tetapi aku juga penasaran. Aku jalan semakin mendekat ke jendela.
Dag dig dug....
Suara jantungku berdetak lebih cepat.
Entah kenapa kaki terasa berat untuk melangkah, terasa seperti ada beban yang beratnya sepuluh kilogram yang di gantung di kakiku. Karena rasa takutku lebih mendominasi.
"Keyla," panggil Dinar yang membuat aku terperanjat kaget.
"Kamu mau apa?" tanya Dinar yang sekarang mengekor di belakangku, masih dengan handphone di genggamannya.
"Lihat keluar rumah, nanti siapa tahu kita bisa lihat siapa yang buat ulah," kataku.
Dinar pun mengangguk, dia menggandeng tanganku. Terasa dingin tangannya, mungkin keringat dingin yang keluar dari dalam tubuh Dinar.
"Key," panggil Dinar lagi.
__ADS_1
"Hmmm, bentar Din," ucapku masih dengan melangkahkan kaki secara mengendap-ngendap.
"Ini kerjaan hantu bukan sih?" tanya Dinar.
Aku mendengarnya pun langsung menghentikan langkahku. Aku melihat kearah dia, tanpa sengaja aku menoyor kepalanya.
"Enggak ada setan macam ini, ini kayanya ulah manusia berhati iblis," kataku.
"Key," panggil Dinar.
Aku tak menghiraukan ucapannya. Aku semakin dekat dengan jendela, dengan hati-hati aku mencoba melihat ke arah luar rumah. Di sana aku tidak menemukan siapa pun.
Dinar yang berada di belakangku tak berani melihat. Dia hanya sesekali menarik bajuku, terkadang aku pun menepisnya karena merasa risih.
"Ada siapa?" tanya Dinar ingin tahu.
"Lihat deh tidak ada siapa-siapa, tadi depan rumahmu kita ke sini tidak ada taburan bunga di depan gerbang kan?" tanyaku.
"Enggak kok," jawab Dinar.
Aku melihat taburan bunga yang biasa untuk menaburi di atas kuburan. Aku merasa semakin aneh dengan situasi ini.
Ini benar-benar teror yang penuh teka-teki, di depan rumah juga aku melihat ada kotak persegi yang tergeletak. Mungkin terdapat sesuatu di dalamnya.
"Din, Kak Dita sudah sampai mana?" tanyaku.
Dinar pun kembali menaruh handphone nya ke telinga.
"Halo, Kak Dita sampai mana?" tanya Dinar.
"Ini Kakak sudah belok ke jalanan masuk gang perumahan kita, tunggu sebentar," jawab Kak Dita.
Kami masih menunggu di belakang jendela sembari terus melihat ke arah jalan. Tak begitu lama terlihat mobil Ibu Dinar dari kejauhan.
"Ibu," ucap Dinar.
Kami berdua lekas berlari hendak menghampiri mereka. Kami turunin anak tangga satu persatu. Sedari tadi hati terasa gelisah, ketika melihat mobil Ibunya Dinar langsung sedikit lega.
Ketika sudah di dekat pintu, kami tak langsung membukanya. Entah kenapa perasaan ragu masih menyelimuti kita berdua.
"Tunggu Ibumu membunyikan klakson mobilnya deh Din," ucapku memberi saran.
Dinar terlihat sangat canggung untuk membuka pintunya, wajah yang masih terlihat takut yang diperlihatkan.
Tot tot ...
Terdengar suara klakson mobil (Maaf Author nya enggak paham suara klaksonnya gimana🙏🏻).
Aku dan Dinar pun bertatapan muka sebelum Dinar membuka pintu.
"Ibu," ucap Dinar sembari berlari ke arah pintu gerbang.
Dinar dengan cepat membukakan pintu gerbang untuk Ibunya. Aku pun mendekat ke arah Dinar, karena aku sengaja untuk melibat taburan bunga yang ada di depan gerbang.
__ADS_1
Mobil pun berhenti di depan pintu garasi, terlihat Ibu Dinar turun dari pintu kursi kemudi. Setelah itu disusul Kak Dita.