
Hari sudah mulai sore, ketukan pintu terdengar di telingaku.
Tok tok tok...
"Keyla, Jeje ayo bangun Nak sudah sore," kata Ibu di balik pintu.
Kami yang masih terbuai dalam mimpi pun belum menyahutnya.
"Keyla, Jeje bangun Nak," kata Ibu lagi.
"Iya Tante, ini sudah bangun," Jeje menjawab terlebih dahulu.
"Keyla minta tolong di bangunin ya," Ibu menyuruh Jeje.
"Key, Keyla bangun sudah sore, kebo banget kamu," Jeje membangunkan ku.
"Iya-iya ini bangun, jam berapa sih?" tanyaku.
"Itu di tembok lihat aja," jawab Jeje.
"Ngomong mengapa Je, belum ke kumpul ini nyawa lihat belum jelas hahaha," jawabku.
"Dasar kamu Key, sudah pukul 4 itu ayo bangun, aku tinggalin kamu ngorok lagi pasti," kata Jeje berlalu keluar kamar.
Aku pun terbangun, melihat jam menunjukan pukul 4.
Aku keluar kamar memanggil Ibu.
"Ibu," aku memanggil.
"Di dapur ini Ibumu Nak," Nenek yang menjawab.
Aku menghampiri ke dapur.
"Sore Nek," Sapaku ke Nenek.
"Sore juga gadis, baru bangun? kecapekan ya sayang," jawab Nenek.
"Iya Nek lumayan capek, ini sudah enggak kok kan sudah bobok cantik," kataku.
Nenek tersenyum kearahku. Di dapur ada Nenek, Tante Santi dan Ibu.
Oh iya hampir lupa, Kakekku sudah meninggal dari aku masih kecil makanya Tante Santi menemani Nenek di rumah ini.
Aku berlalu pergi ke kamar mandi yang tidak jauh dari dapur.
Aku bergegas mandi lalu salat.
Setelah itu aku hampiri Jeje yang duduk di depan televisi terlebih dahulu.
"Jeje, kamu sudah di sini saja," ucapku.
"Iya Key, tadi aku hampiri kamu ke kamar tetapi kamu masih salat, ya aku ke sini nonton tv dulu," jawab Jeje.
Aku dan Jeje nonton kartun sore kesukaan kami berdua.
Ibu, Nenek dan Tante yang sudah selesai melakukan aktivitas pun ikut kumpul bersama kami.
Kami merasakan kehangatan di ketika berkumpul karena kami jarang bertemu.
Nenek selalu mendambakan kami semua berkumpul satu keluarga penuh.
tetapi karena kesibukan masing-masing jadi semua terhambat untuk berkumpul.
"Nenek, Tante besok ke pantai yuk?" aku memulai percakapan.
"Kamu tidak capek Key, kalau besok sudah ke pantai?" tanya Tante Santi.
"Enggak Tante, aku kepengen banget ke sana nanti ke buru di jemput Ayah gagal ke pantai aku," Jawabku.
"Oke-oke, besok ke pantai," Ucap Nenek.
Aku dan Jeje mendengar ucapan Nenek pun bersorai kegirangan.
Dari rumah Nenek pantai tidak terlalu jauh, Cukup kurang lebih 45 menit sampai tujuan.
tetapi harus melewati jalan yang di sampingnya ada perbukitan.
Aku dan Jeje antusias menyiapkan peralatan piknik untuk bekal besok.
"Jangan banyak-banyak ya sayang sebagian besok beli di sana," Ucap Tante santi.
"Siap Tante," Ucapku tanda mengerti.
Sore berganti malam, malam pun berganti pagi yang di tandai dengan kokokkan ayam.
"Jeje ayo bangun," Aku membangunkan Jeje.
"Ehmm.. Masih ngantuk aku Key, sebentar lagi lah," jawab Jeje.
"Iya tidur sana biar nanti aku bilang ke Mama kamu kalau kamu tidak jadi ikut week," Ejek ku ke Jeje.
Aku keluar kamar sembari berlari kecil.
"Tante Santi, Jeje nya belum mau bangun dia tidak jadi ikut, mau tidur aja katanya," kataku berteriak dari depan kamar.
Aku lihat Jeje yang langsung bergegas untuk bangun. Dan jalan menghampiriku.
"Resek kamu Key," kata Jeje menggerutu.
"Biarin, siapa suruh ngebo," jawabku mengejek Jeje lagi.
Aku hampiri Ibu, Tante dan Nenek yang sudah berada di dapur.
Aku mencium bau masakan yang begitu lezat.
"Masak apa Tante? kelihatannya enak banget!" jawab Tante Santi.
"Masak ayam rica-rica ini Key," jawab Tante Santi.
"Aku mendadak lapar ini, mau makan deh," kataku.
"Dedek salat dulu," ucap Ibu.
"Siap Ibu," kataku.
__ADS_1
Jeje yang sudah duduk di meja makan terlebih dahulu dia tersenyum mengejekku.
Aku bergegas ke kamar mandi sekalian Mandi lalu salat.
Aku kembali hampiri mereka yang berada di dapur.
"Waktunya makan," kataku.
"Nanti, ini di bawa juga tidak Tante lauknya?" tanyaku.
"Kalau mau di bawa ya di bawa saja Key, nanti sekalian bawa nasi nya juga," jawab Tante Santi.
"Bawa kulkasnya sekalian Ma, nanti Keyla yang lain piknik suruh dia jualan hahaha," kata Jeje.
Aku memanyunkan mulutku ke arah Jeje. Dia balas dengan tertawa yang mengejek.
"Sudah-sudah, ayo makan dulu," Kata Nenek.
Kami berlima pun memulai makan sembari menunggu hari mulai terang.
Selesai makan aku dan Jeje keluar berada di teras rumah Nenek.
"Eh Je, itu Seberang jalan rumahnya kosong kah?" Tanyaku ke Jeje.
"Enggak kok, mereka lagi pulang kampung katanya ada keluarga yang sakit, mengapa?" tanya Jeje penasaran.
"Tidak ada apa-apa kok, cuma kok sepi gitu makanya aku tanya," jawabku.
Aku yang berada tepat di seberang rumah itu sebenarnya melihat di lantai 2 ada seseorang di balik jendela, lampunya semua di padamkan kecuali di teras rumah.
Aku yang merasa heran makanya aku beranikan untuk bertanya ke Jeje rumah itu kosong apa tidak.
Nenek keluar rumah menghampiri kami berdua.
"Keyla dan Jeje ngapain duduk di luar? kan masih dingin, ayo masuk!" Nenek mengajak kami masuk rumah.
Aku berjalan hendak masuk tetapi mataku masih tertuju dengan yang aku lihat di rumah itu.
"Lihatin apa Key?" tanya Nenek.
Jeje yang masuk terlebih dahulu, aku beranikan untuk bicara ke Nenek.
"Itu Nek, kata Jeje rumah seberang jalan itu kosong, tetapi mengapa aku lihat di lantai atas ada orang ya di balik jendela?" kataku menjelaskan.
"Biarin saja, mungkin itu penunggu rumah itu,"
"Kita semua tidak bisa menghindari sayang kalau semua rumah pasti ada penunggunya, hanya saja mereka mengganggu atau tidak begitu saja," kata Nenek berbicara kepadaku dengan lemah lembut menjelaskannya.
Aku dan Nenek berjalan menghampiri Tante dan Ibu menyiapkan bekal yang aku pinta.
"Jeje, mana Bu?" tanyaku ke Ibu.
"Ke toilet Dek," jawab Ibu sembari tangan Ibu memasukan jajanan ke dalam tas.
"Ngomongin apa sih Bu, si Keyla kok kelihatan dia serius banget tadi?" tanya Ibuku ke Nenek.
"Keyla itu tanya rumah di seberang jalan itu lho Al," jawab Nenek.
"Sayang, kita ke sini liburan ya jangan aneh-aneh dulu, kita senang-senang dulu," kata Ibu.
"Memangnya kenapa Al? kan si Keyla cuma bertanya saja tidak aneh-aneh," tanya Tante Santi ke Ibu.
"Anak itu kak kalau sudah bertanya, pasti di rumah itu ada apa-apanya, tidak mungkin kalai dia tidak melihat sesuatu kok bertanya," jawab Ibu.
"Oh iya ya Keyla kan punya kemampuan khusus, di pergunakan dengan baik ya Key," Ucap Tante Santi sambil menasehati.
"Siap tante," jawabku singkat.
"Itu anak cukup nekat Kak, kemarin aja bantu arwah orang yan sudah meninggal yang menghampirinya lewat mimpi,"
"Kalau dia belum nemuin jawabannya dia itu pasti cari tau meski membahayakan dirinya sendiri," cerita Ibuku.
"Iyakah? Sudah ceritanya nanti saja ayo berkemas di taruh ke mobil, sambil di cek lagi takut ada yang kelupaan," kata nenekku.
Jeje yang baru keluar toilet menghampiri kami. Dia mulai membantu memasukan barang bawaan ke dalam mobil.
Semua sudah siap, tidak lupa Nenek mengunci pintu rumah.
Kami pum berangkat.
Aku yang mendambakan ke pantai lagi merasa senang sekali akan perjalanan kali ini.
kami semua di dalam mobil becanda-canda.
Mobil di kemudikan oleh tante Santi.
Tidak jauh dari rumah kami berhenti di supermarket terdekat untuk membeli minuman dan buah, kebetulan di rumah Nenek stoknya lagi habis.
Setelah itu kita lanjutkan perjalanan dengan riang gembira.
Tiba-tiba di pikiranku terlintas bukit yang longsor. Aku awalnya diam saja mungkin hanya Pikiranku.
Aku teringat kalau kita akan melewati jalan yang berbukit. Aku pun meminta tolong Tante Santi untuk menghentikan mobilnya.
"Stop, Tante stop!" Kataku menyuruh.
Tante mulai jalan menepi lalu menghentikan mobilnya.
"Kenapa Key? mau ke toilet kamu?" Tanya Tante Santi.
"Ke pantai lain kali saja deh Tante, ayo pulang saja," aku hanya mengucapkan itu.
"Mengapa? kan sudah sampai sini Key, bentar lagi juga sampai," Ucap Keyla.
"Ayo pulang saja Tante, kurang enak badan aku," kataku memberi alasan.
Nenek yang berada di samping ku langsung memegang keningku.
"Tidak panas? kamu mengapa Key?" tanya Nenek.
"Sudah kita turutin saja kemauan dia, takut terjadi apa-apa mending kita balik ke rumah saja," kata Ibuku yang mungkin sudah mengerti maksudku.
Tante Santi mulai memutar balik ke arah jalan pulang. Aku yang semula riang jadi pendiam.
Ibuku yang mengerti aku tidak menanyakan hal-hal di perjalanan pulang.
__ADS_1
Di sepanjang jalan aku sandarkan kepalaku ke Nenek.
"Nanti kita berhenti ke Klinik dulu ya San, periksakan saja Keyla," Kata Nenekku.
"Tidak Usah Bu, tanya aja Keyla dapat penglihatan apa makanya ngajak balik ke rumah," jawab Ibu.
"Lihat apa kamu Key? Lihat hantu kah? mengapa tidak memberitahu aku sih," Tanya Jeje.
"Bukan hantu sih, tetapi aku melihat bukit yang longsor, tiba-tiba aku teringat kalau sebelum sampai pantai kita melewati jalan yang berbukit," ucapku menjelaskan.
"Loh iyakah Key?" tanya Jeje lagi.
"Kalau cuma sekadar melihat hantu ya tidak ngajak pulang aku, dari tadi aja sudah melihat mereka," jawabku lagi.
Tidak terasa kita sudah sampai di depan rumah lagi.
Kami pun turun satu persatu dari mobil.
Ada tetangga Nenekku melewati rumah Nenek melihat kita kembali dia mulai bertanya.
"Lo Bu, kok balik lagi? Ada yang kelupaan?" tanya Tante itu.
"Tidak kok, mungkin belom waktunya kita ke sana lain kali saja," jawab Nenek.
Jeje yang sifatnya suka ngomong ceplas-ceplos pun menyampaikan ke Tante itu.
"Ini sepupuku punya indra ke-enam dia lihat Bukitnya longsor katanya," kata Jeje memberitahu.
"Lo masak iya, ada-ada saja tadi sebelah rumah saya juga lagi perjalanan di daerah dekat pantai otomatis melewatinya, nanti saya tanya saja ke dia," ucap Tante itu.
Tante itu pun pergi, Aku dan keluargaku mulai memasuki rumah dengan membawa bekal yang tadi sudah di persiapkan.
Setelah selesai kami semua kumpul di depan tv.
"Keyla, sering gitu ya?" tanya Tante Santi.
"Enggak kok ya kebetulan saja tadi," kata Ibuku.
"Maaf ya Semuanya, gara-gara aku tidak jadi pergi, betul kata-kata temenku deh Bu kalau aku pembawa sial pasti ada saja kejadiannya, aku beda sama mereka!" kataku sambil tertunduk lesu.
"Tidak usah di dengerin mereka tidak paham saja, justru harusnya berterimakasih sama kamu Key karena mereka bisa terhindar dari marabahaya," kata Nenek mencoba menyemangati ku.
"Dengerin itu Dek kata Nenek, jangan gampang nyalahin diri sendiri itu anugerah buat kamu belum tentu mereka seberuntung kamu," kata Ibu.
"Ya memang kamu beda Key karena kamu spesial, justru yang spesial dan langka kayak gini harus di budidaya dan di lestarikan," kata Jeje mulai mengajakku becanda.
Aku mulai tersenyum mendengar kata-kata mereka, sedikit demi sedikit kata-kata mereka mulai membuat aku menerima kenyataanku.
Aku dengar ramai-ramai di depan jalan.
Kami sekeluarga pun keluar.
"Ada apa ini Bu, kok ramai ?" tanya Ibu ke Nenek.
"Tidak tahu coba kamu tanyakan ke orang yang lewat berlalu lalang," jawab Nenek.
Ibuku melangkahkan kaki ke jalan.
Aku lihat ibu mulai ngobrol dengan salah satu warga di sini.
Ibuku segera kembali menghampiri kami.
"Bu, ternyata Pak Ahmad yang rumahnya di ujung meninggal tertimpa longsoran di jalan menuju arah pantai tadi," Ibu memberitahu.
"Innalillahi wainailaihiroji'un, nanti Ibu dan Kakak menyelawat ke sana, kamu jaga anak-anak di rumah ya," ucap Nenekku.
Kami kembali memasuki rumah aku duduk kembali ke depan tv yang siarannya sekarang berita.
di berita di tayangkan longsoran di jalan ke arah pantai dan di beri tahu berapa banyak orang meninggal di sana.
"Alhamdulillah, kita beruntung mempunyai kamu Key," ucap nenek sambil memelukku.
Jeje pun ikut memelukku.
Keluargaku terlihat bahagia karena aku berbeda dari yang lain.
Dari sini aku mantapkan hatiku kalau berbeda bukan berarti suatu kejelekan, bukan berarti suatu kesialan tetapi justru sebaliknya ini Anugerah yang harus di syukuri.
Aku mulai tersenyum karena di sekitarku banyak orang masih mau berada di sampingku karena aku berbeda.
Ibu mulai memelukku.
"Sepertinya kamu mulai mengerti ya Dek?"kata Ibu.
"Ibu, tahu saja apa yang Dedek rasakan," kataku.
"Kamu belahan jiwa dan tubuh Ibu jadi Ibu paham apa yang kamu rasakan," jawab Ibu.
Aku lewati beberapa hari di rumah Nenek dengan penuh kebahagiaan.
Waktu sehari sebelum pulang waktu siang aku dan Jeje mau tidur siang.
"Kamu mengapa tidak di sini lebih lama Key? aku masih pengen main sama kamu, cerita sama kamu," tanya Jeje.
"Aku juga Je, tetapi Ayahku besok sudah jemput aku dan Ibuku, kamu sam keluargamu saja yang gantian datang ke rumahku," kataku ke Jeje.
"Iya Key, nanti kalau Ayah dan Kakakku pulang di rumah agak lama pasti aku ajakin menginap ke rumah kamu deh," jawab Jeje.
Hari terakhir di rumah nenek aku lewati dengan kegembiraan.
Keesokan harinya.
"Assalamualaikum," ucap Ayahku.
"Waalaikumsalam, kaya suara Ayah deh Bu," kataku yang lagi sarapan.
Ibu menghampiri Ayah ke depan.
Lalu Ayah dan Ibu bersamaan menuju ke dapur.
"Bu Aku mau pamit pulang dulu ya Ayahnya Keyla sudah datang," Ibu berpamitan.
Aku memasukan barang bawaanku ke dalam mobil Ayah.
Aku berpamitan ke Nenek dan Tante.
__ADS_1
Aku lambaikan tanganku. Ayah melajukan mobilnya menuju jalan pulang.