Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Foto jenazah


__ADS_3

Ayah mempersilakan Resi dan mamanya untuk duduk.


"Tidak perlu, bilang sama anak Bapak jangan pernah menyuruh peliharaannya untuk nakut-nakutin anak saya!" kata Mama Resi dengan suara lantang.


"Mari duduk dulu Bu, biar kami tahu maksud Ibu seperti apa?" sahut Ibu.


Resi dan Mamanya pun duduk.


"Bicara perlahan ya Bu, ada apa? mengapa Anda marah-marah ketika datang ke rumah kami?" tanya Ibuku.


Mama Resi terus melihatku dengan tatapan benci. Aku sedari tadi tidak paham maksudnya hanya bisa diam saja.


"Anak Bapak sama Ibu kurang lebih tiga hari yang lalu nyumpahin anak saya, biar bertemu sama setan," jawab Mama Resi dengan suara yang masih lantang.


Ayah dan ibu secara bersamaan melihat ke arahku.


"Sebentar Tante, saya tidak pernah nyumpahin Resi, Dia yang dari awal selalu membuly saya dengan sebutan anak aneh dan anak pembawa sial," jawabku.


"Emang kamu anak pembawa sial, setiap ada kamu pasti ada masalah yang datang, termasuk Dimas kesurupan waktu itu," Ucap resi sembari tangannya menunjuk ke arahku.


Aku melihat ke arah ibuku, aku lihat beliau menahan amarahnya.


"Maaf ya Bu, kalau bisa anak Ibu di ajarin sopan santun untuk tata bicaranya, biar tidak menyakiti hati orang lain," sahut Ibu dengan wajahnya yang memerah menahan amarah.


"Maaf Tante, selama ini Resi selalu semena-mena mengatai saya dengan sebutan itu, saya bukan menyumpahi tetapi hanya memberitahu, Dia tidak pernah melihat hantu mengapa harus Dia menyalahkan saya yang jelas-jelas melihatnya," kataku dengan nada sedikit aku tinggikan.


"Tetapi tidak seharusnya kamu menyumpahi anak saya dengan seperti itu," Kata Mama Resi lagi.


"Maaf ya Bu, mungkin kalau selama ini anak Ibu bisa menjaga ucapannya kejadian seperti hari ini tidak akan pernah terjadi," ucap Ayah.


"Sekarang Ibu bisa menilai dari segi mana yang salah, saya tidak membela siapapun jika sekarang anak Ibu pernah diperlihatkan wujud setan itu karena memang mereka ada di sekitar kita," Ucap Ayah lagi.


Mama Resi seketika melihat anaknya.


Dengan wajah yang menahan malu, Mama Resi menarik anaknya keluar rumah kami.


"Mari saya pamit pulang," kata Mama Resi terburu.


Dari kejauhan aku melihat Resi di marahin mamanya.


"Orang aneh, bertamu tidak salam dan pulang pun main nyelonong saja tidak bersalaman," Ucap Ibuku.


Ibu meninggalkan aku dan ayah yang masih duduk di ruang tamu.


"Biar tahu rasa dia Yah, selama ini selalu memanggilku dengan julukan yang menyakiti hati," kataku.


"Tidak boleh dendam ke orang lain Dek, Allah maha melihat yang dilakukan umatnya, dia berlaku buruk pasti dapat hukumannya, begitu pun sebaliknya," Ayah menasehati ku.


Aku pun jalan menuju kamarku untuk beristirahat. Entah mengapa aku mendengar ucapan Mama Resi kalau Resi melihat hantu hatiku terasa bahagia.


Orang yang selama ini selalu menilaiku dengan ucapannya yang buruk akhirnya dapat balasannya. Memang dari segi manapun aku terlihat jahat karena merasa bahagia. Masa bodolah aku, dia juga jahat ke aku.

__ADS_1


Hari ini aku hanya menemani ayahku sebelum ditinggal kerja lagi. Hari pun berganti menjadi esok, ayahku berangkat kembali ke perantauan.


Aku pun bergegas berangkat sekolah untuk menanyakan pelajaran yang 3 hari aku tinggal.


Sesampainya di kelas aku melihat ke tiga temanku, Dinar, selly dan Bella.


"Hai teman-teman," Ucapku sambil duduk di bangku ku.


"Ada tugas apa saja kemarin, nanti aku pinjam catatannya ya buat aku salin," Ucapku lagi.


"Kapan kamu datang dari rumah Budemu Key?" Ucap Bella.


"Kemarin Bell, oiya mau cerita nih kemarin aku baru sampai rumah, eh Resi dan Mamanya datang memaki-makiku," jawabku.


"Kok bisa, memang salahmu apa?" tanya Selly.


"Yang aku ceritain tempo hari itu lho, kalau Resi menghentikan ku di depan kelas hanya untuk membuly aku," jawabku


"Dia di marahin Ayah dan Ibuku sampai mamanya malu dan menariknya pergi dari rumahku," Ucapku lagi.


"Biar tahu rasa dia, jahat banget sih jadi orang," kata Dinar.


Aku bercerita sambil menyalin tulisan teman-temanku. Ditengah percakapan kami, aku baru sadar kalau tidak melihat Dewi.


"Dewi ke mana kok belum datang?" tanyaku.


"Belum dengar soal Dewi kamu Key?" Ucap Selly.


"Kabar apa? Mau dengar bagaimana aku saja tidak di beri ponsel sama orang tuaku," jawabku.


"Katanya ada sepeda motor yang terlibat kecelakaan dengan truk, naasnya pengendara sepeda motor meninggal di tempat, lah ketika ada ambulans Dewi dan Mamanya mendekat untuk memfoto jenazah itu," Ucap Selly lagi.


"Terus apa hubungannya dengan Dewi tidak masuk sekolah?" tanyaku lagi.


"Dengan kejadian itu katanya, Dewi dan Mamanya merasa kalau ada penumpang lain di mobilnya," sahut Bella.


"Oiya besoknya Dewi dan Mamanya mendatangi rumahmu katanya minta bantuan, tetapi kamu tidak ada jadi mereka tanya ke rumahku dan bercerita," Sahut Dinar.


Aku masih bingung apa hubungannya foto dengan penumpang tak kasat mata.


"Perasaan mereka mungkin, mereka keinget jenazah makanya terlalu parno," jawabku.


"Tidak Key, katanya lagi si Dewi malamnya berteriak histeris di tanya mamanya katanya melihat hantu jenazah tersebut,"Ucap Selly.


"Terus apa yang mereka lakuin?" tanyaku lagi.


"Ayah Dewi pulanglah, katanya Mamanya itu meminta tolong ke Ayah Dewi untuk mengantar ke rumah jenazah itu karena lancang memfotonya," Ucap Selly lagi.


"Kok tau alamatnya?"tanyaku kesekian kali.


"Kan di angkat di kabar berita Key, mereka datangi alamat yang tertera di surat kabar itu, mereka meminta maaf kepada keluarganya dan Mamanya resi mengadakan pengajian beberapa hari di rumah Dewi," Ucap Bella.

__ADS_1


"Dengan kejadian itu si Dewi shock dan sekaran dirawat di rumah sakit karena badannya panas," Ucap Bella lagi.


Siang sepulang kami sekolah, kami menjenguk Dewi dan diantarkan oleh Kakak Dinar.


Aku lihat kondisi Dewi mulai membaik.


"Tante maaf, kalau boleh tau kejadian sebenarnya seperti apa?" tanyaku.


"Jadi begini Nak Key, sepulang kami dari rumah kamu, kami masih pergi ke swalayan untuk belanja,"


"Waktu perjalanan itu ada kecelakaan, entah mengapa tante tertarik untuk melihatnya, ternyata di luar dugaan Tante si Dewi memfoto jenazah itu," jawab Mama Dewi.


"Kok Dewi bisa tahu kalau hantu yang menggangunya itu jenazah tersebut Tante?" tanyaku lagi.


"Di sana ada banyak wartawan, ketika jenazah hendak di masukan ambulans penutup jenazah sengaja di buka, maka dari itu kami bisa lihat detail seperti apa hancurnya," jawab Mama Dewi.


"Sepertinya Dewi sudah membaik ya Tante, semoga lekas pulih dan bisa cepat sekolah lagi," Sahut Kakak Dinar.


Kami menjenguk Dewi tidak terlalu lama, kami memutuskan untuk segera kembali pulang.


Kami satu persatu berpamitan.


Keesokan hari, aku berangkat sekolah seperti biasa.


Aku lihat Dewi ternyata sudah masuk sekolah.


"Hai Wi, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyaku.


"Alhamdulillah Key, sudah membaik aku," jawabnya.


"Kamu melihat sosok itu seperti apa wi?"sahut Dinar.


"Malamnya sehabis aku foto itu, waktu aku mau tidur, aku memejamkan mataku terasa ada orang lain duduk di sebelahku aku berteriak memanggil mamaku,"


"Di kira Mamaku juga aku hanya halusinasi, jadi Mamaku masih membiarkan aku tidur sendiri, setelah itu aku usahakan untuk tidur kembali, tidak berselang lama aku merasa mukaku dielus sama tangan yang kasar banget terasa kaya ada pasirnya yang menempel di wajahku," jawab Dewi.


Aku lihat Dewi masih menyiapkan mentalnya untuk kembali bercerita.


"Sudahlah Wi, tidak usah di teruskan takutnya kamu tidak kuat," Ucapku.


"Tidak apa-apa Key, setelah mengelus wajahku tangan itu memegang tanganku dan disaat itu aku berteriak sekencang-kencangnya,"


"Ternyata bukan hanya aku yang didatangi, tetapi Mamaku juga, aku mendengar cerita Mama ketika ngobrol dengan Ayahku," Ucap Dewi.


"Tetapi setelah kami meminta maaf keluarganya, dan mengadakan pengajian di rumahku lama kelamaan gangguan itu alhamdulillah hilang," ucap Dewi lagi.


"Apa kamu masih menyimpan fotonya?" tanya Selly.


"Tidak, ketika di rumah korban seketika aku menghapus foto jenazah tersebut," ucap Dewi.


"Sudah ceritanya, takut emosimu terganggu lagi Wi," ucapku.

__ADS_1


Dari kejadian tersebut aku hanya menyimpulkan mungkin arwah jenazah tidak mau ada orang lain menyimpan kejadian naas tersebut dan mungkin saja arwah tersebut tidak terima sehingga menghantui siapa saja yang mengambil fotonya.


Agar arwah tersebut bisa tenang menuju ke alamnya. Kita harus saling menghormati sekalipun dengan orang yang sudah meninggal, itu privasi bagi mereka tidak untuk ditontonkan ke publik. Memfoto hanya tempat kejadian dan kendaraan saja tidak perlu beserta korbannya.


__ADS_2