Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Pencarian (3)


__ADS_3

Kami menunggu Tante Sita untuk berbicara, tetapi dia tak kunjung mengucapkan sesuatu.


"Ayolah, Ta. Kalau ngomong jangan menggantung, kami menunggu," ucap Clara.


"Selama ini, tiap pagi di depan pintu rumahku selalu ada karangan bunga yang di letakkan di lantai. Tetapi aku tidak pernah tahu siapa pengirimnya," ucap Tante Sita.


"Jangan-jangan...." ucap Clara.


"Ya, mungkin si Boby," ucap Tante Sita.


Kami pun sembari menunggu Tante Sita makan, kami ingin mengajak Tante Sita kerumahnya. Tetapi itu di tolaknya, karena dia merasa kalau si Om Boby sekarang berada di sana.


****


Sehingga kami memutuskan untuk mencari keberadaan Om Hendra.


"Kita cari Hendra ke mana?" tanya Om Deni.


"Kamu kan punya nomor istrinya," jawab Ayah.


"Tapi, aku takut kalau nomor ponsel Istrinya juga di alih tangan ke Boby," ucap Om Deni.


"Cari ke orang terdekatnya saja," sahut Ibu.


"Kita cari informasi di sekitar rumahnya," ucap Ayah.


Setelah itu, kami pun berangkat. Kami pergi ke rumah Om Hendra, rumah Om Hendra itu beda kota dengan tempat Ayah bekerja.


Terpaksa hari ini juga kami harus mengorek informasi itu, agar cepat selesai masalah ini. Perjalanan yang cukup melelahkan, kami butuh waktu hampir dua jam untuk sampai.


Om Hendra pun di kota ini sebagai perantau, beliau bekerja di kantor ini, juga tidur di mess yang sama dengan Ayah. Beliau juga selalu pulang selama seminggu sekali seperti ayah.


Karena perjalanan cukup lama, sehingga kami tiba di kota Om Hendra menjelang senja. Kami tak tahu pasti di mana rumahnya, kami hanya tahu nama desanya saja. Sehingga itu membuat pencarian kami semakin terhambat.


Kami dari awal sampai di desa ini, kami tanya ke sana kemari tetapi tak satupun yang mengenal Om Hendra. Kami pun tak tahu siapa nama istrinya.


Saat kami baru sampai di sini, kami melihat segerombolan anak muda lagi berkumpul di pos ronda. Kami hampiri mereka hanya untuk sekedar bertanya. Pak Budi parkirkan mobilnya di sisi jalan dekat dengan pos ronda, lalu ayah turun untuk bertanya.


"Sore, Dek. Numpang tanya, di mana ya rumahnya Hendra?" tanya Ayah saat pertama kami datang di desa ini.


"Hendra? Hendra yang mana ya, Pak?" tanya salah satu anak muda yang berada di sana.


"Itu, dia bekerja di (Menyebut nama perusahaan), Apa kalian ada yang kenal?" tanya Ayah lagi.


"Saya kurang paham. bentar Pak, saya coba tanya ke teman saya dulu," jawab pemuda itu lagi.

__ADS_1


"Hendra nu mana? Anjeun ngartos? (Hendra yang mana? Apa kamu mengerti?)," tanya pemuda itu ke salah satu temannya.


"Abdi henteu terang. Duka nu sanes mah, kumaha? (Aku tidak tahu. entah yang lain, bagaimana?)," jawab temannya, sembari menepuk tangan yang lain.


"Abdi henteu terang ogé, (Aku juga tidak tahu)," jawab yang lain hampir bersamaan.


Ayahku terlihat bengong ketika mendengar para pemuda itu saling berbicara, aku mengerti bahwa beliau tak paham bahasanya.


"Maaf, Pak. Kami tidak ada yang mengerti, coba tanya ke yang lain saja," jawab pemuda tadi.


"Oh, iya. Makasih ya, Dek," ucap Ayah sembari masuk kembali ke dalam mobil.


"Iya, Pak. Sama-sama," jawab mereka semua.


Pak Budi pun kembali melajukan mobilnya lebih jauh di desa ini.


"Ke mana lagi, Pak?" tanya Pak Budi.


"Kita cari-cari dulu ya, Pak. Nggak mungkin satu desa nggak ada yang ngerti," ucap Ayah.


Kami pun tetap kekeh mencarinya. Tetapi tetap sama, dari awal tidak ada satu pun yang mengenali yang namanya Hendra.


"Yah, kalau ada mushola, kita mampir dulu ya. Pengen buang air," ucapku.


"Iya, Dek," Pak Budi dengan cepat menjawabnya.


Kami pun memohon, agar kami dipermudahkan dalam segala urusan. Termasuk masalah ini.


Setelah kami salat, kami sengaja beristirahat di teras masjid ini. Cukup lama kami menggunakan waktu untuk bersantai, hingga ada orang yang menghampiri. Mungkin waktu kami dari mulai selesai salat maghrib hingga menjelang isya'.


"Permisi," ucap bapak-bapak mungkin seumuran dengan Ayah.


"Iya, silakan," jawab Ayah.


"Mau ke mana ini, kok ramai-ramai?" tanya bapak itu dengan ramah.


Bapak itu pun duduk di dekat kami.


"Niatnya mau cari alamat teman kerja kami, tapi sedari tadi orang se-desa ini tidak ada yang mengerti," jawab Om Deni.


"Loh, emang namanya siapa?" tanya Bapak itu dengan ekspresi yang penasaran.


"Namanya Hendra, Pak," jawab Ayah.


"Hendra? Hendra, Saha (Siapa)?" tanya Bapak itu.

__ADS_1


Kami semua celingukan ketika bapak itu menggunakan bahasa sunda. Salah satu dari kami pun tidak ada yang mengerti.


"Maaf, kalian tidak mengerti, ya? Maksud saya Hendra siapa?" bapak itu mengulang pertanyaannya.


"Nama lengkapnya, Hendra Kendrik Setyawan," jawab Ayah.


"Oalah, si Kendrik? Di sini panggilannya Kendrik, kalau kalian tanya namanya Hendra tidak ada satu pun yang mengerti," jelas bapak itu.


"Ya Allah, kenapa sedari tadi nggak nyebut nama aslinya, ya?" sahut Ibu.


Bapak itu pun memberitahukan alamat rumahnya. Beliau mengantar kami hingga di depan pintu. Beliau pun bercerita, jika mereka berdua berteman sedari kecil.


Rumah Om Hendra ini cukup Besar. Saat kami datang, rumahnya terlihat sepi. Tetapi beberapa kali mengetuk pintunya, ada seorang wanita paruh baya datang menghampiri kami.


"Saha anu anjeun pilari? Hedra teu aya (cari siapa ya? Hendranya tidak ada)," ucap wanita itu.


"Maaf, Bu. Kami tidak ada yang mengerti bahasa sunda. Apa Ibu bisa, bahasa indonesia?" ucap Istri Om Deni.


"Maaf ya, Nak? Ku kira kalian bisa," ucap wanita itu.


Wanita paruh baya itu, terlebih dahulu mengajak kami pergi kerumahnya. Kebetulan rumahnya berdampingan rumah Om Hendra. Dan wanita ini juga adalah ibu dari Om Hendra.


Beliau menjelaskan jika, anak dan menantunya pergi ke kota tempat Om Hendra berkerja. Awalnya mereka sering menelpon dan memberi kabar, atau cuma sekedar mengingatkan untuk meminum obat wanita paruh baya itu.


"Mereka bilang, tinggal di mana, Bu?" tanya Ayah memastikan.


"Bilangnya sih, menginap di salah satu Hotel. Dan kebetulan hotel itu tidak jauh dari tempatnya kerja," ucap Ibu Om Hendra.


Aku yang mendengar seketika jantungku berdegup kencang Aku takut jika Om Hendra jadi salah satu korban dari Om Boby.


"Yah, bagaimana dengan kejadian Om Boby," ucapku.


Drrrt....


Tersengar hanphone bergetar.


Ternyata suara itu dari ponsel Tante Sita. Beliau nampak kebingungan ketika melihat layar handphonenya. Beliau menatap kami, bola matanya pun melihat kami dengan tatapan yang tajam.


"Kenapa?" tanya Ibu.


Tante Sita menunjukan isi pesan tersebut.


"Pujaanku, kamu di mana? Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak tahu arah jalan hidupku. Kamu bintang hatiku, Kau yang selalu menyinari hari-hariku. Jangan pernah kau menjauh dari dalam hidupku," Kira-kira seperti ini isi pesan itu.


Dan di pojok bawah isi surat itu terdapat tulisan yang berbunyi, "Kekasih abadimu."

__ADS_1


Bersambung....


>>>Next Episode.


__ADS_2