Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Pengumuman kelulusan


__ADS_3

Beberapa hati terlewati, tepat hari ini sabtu pagi. Dinar bersiap-siap ke sekolah untuk melihat pengumuman kelulusan itu.


"Din, ayo berangkat. Sudah belum?" teriak Kak Dita dari ruang makan yang kebetulan dekat dengan kamar Dinar.


"Sudah, Kak. Bentar, masih pakai sepatu," jawab Dinar.


"Oke, buruan sarapan dulu. Biar kuat menghadapi kenyataan hidup yang pahit kadang manis juga," ejek Kak Dita lagi-lagi.


Dinar meraih tasnya dan berjalan keluar kamarnya, menghampiri keluarganya yang sudah berada di ruang makan.


Dinar meletakkan tasnya di kursi, lalu duduk. "Halah, bisa aja Kakak, nih. Anterin aku ya, Kak Andre.


"Iya, nanti sekalian. Kalau pulang, Kakak nggak bisa jemput, mungkin kamu nanti puang duluan," jawab Andre.


"Iya, sih. Ya sudah, aku naik sepeda aja kalau begitu." Dinar berubah pikiran.


Selesainya makan, Dinar berpamitan dan bergegas berangkat sekolah. Dia mengayuh sepeda, saat sampai di depan rumah lama Keyla, terlihat aktivitas dari pemilik barunya. 'Kangen manggil kamu dari sini, Key.'


"Kakak," sapa anak kecil yang berada di halaman rumah itu.


Dinar menyempatkan turun dan menghampirinya, walaupun di luar pagar.


"Halo," sapa Dinar.


"Kakak, sekolah?" tanya anak kecil itu.


"Iya. Kakak, berangkat dulu, ya. Bye-bye." Dinar melemparkan senyumannya.


"Bye-bye, Kakak." Anak kecil itu melambaikan tangannya.


Dinar kembali ke sepedanya dan mengayuh hingga sampai ke sekolahan. Sejak rumah Keyla di tinggal pergi pemiliknya, Dinar tak ingin menatap ke arah rumah itu. Banyak kenangan yang mereka lalui, sehingga tak bisa di pungkiri jika Dinar susah untuk melupakan kenangan itu.


Hari ini, pertama kali dia sanggup menatap. Dia baru menyadari, jika anak kecil di rumah itu. 'Key, baik-baik di sana, ya. Rumahmu akan selalu bahagia, sebab ada anak kecil di dalamnya. Senyum yang ia perlihatkan, menyimbolkan kehidupan yang bahagia dalam keluarganya. Tenang di sana ya, Key.'


"Dinar!" teriak suara yang sangat ia kenal.


Dinar pun tersenyum, lalu menoleh ke arah sumber suara itu.


"Dandi." Dinar tersenyum merekah.


Dinar menghentikan sepedanya, untuk menunggu Dandi menghampirinya.

__ADS_1


"Kau ada di sini?" tanya Dinar.


Dandi pun menganggukkan kepalanya. "Pagi ini, aku datang untuk melihat pengumuman itu. Untung tetanggaku minjamin sepedanya untukku. Apa kabar?"


"Baik-baik, kamu? Bagaimana lingkunganmu di sana?" tanya Dinar.


"Hem, Baik, kok. Butuh adaptasi aja, sepertinya memang aku yang sulit untuk menyesuaikannya. Mungkin, siang nanti aku kembali." Dandi meraih yang ada dalam saku bajunya. "Ini untuk kamu, aku punya satu, kamu juga. Biar kamu selalu mengingatku."


Dandi memberikan gantungan kunci yang berbentuk merpati. Satu diberikan ke Dinar dan yang satu lagi sengaja untuk dirinya sendiri.


"Bagus banget, makasih, ya," ujar Dinar.


"Ayo, berangkat. Nanti telat, loh," ujar Dandi.


Perasaan bahagia Dinar pagi ini, dihiasi oleh kehadiran anak kecil di rumah Keyla dan Dandi. Mereka becanda dan saling bertukar cerita hingga sampai di depan sekolah Dinar.


"Din, nanti aku hubungin kamu, ya. Kita pulang bareng, bisa?" tanya Dandi.


Dinar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Duluan, ya." Dandi mengayuh sepedanya menjauh dari Dinar. Senyuman Dandi membuat Dinar terpesona kepadanya. Senyum simpul Dinar kala masuk ke dalam kelas, membuat tanya bertanya-tanya.


"Jangan-jangan kesambet itu anak. Gawat!" Dewi berlari lalu merengkuh tubuh Dinar dengan kuat.


"Din, sadar Din," ujar Dinar.


"Dewi, apa-apaan, sih?" Dinar bingung dengan sikap mereka.


"Panggilkan Pak Andi, ni anak kerasukan. Buruan, aku nggak sanggup memegangi dia terus menerus," ujar Dewi.


Dinar melepaskan pelukan Dewi, lalu menatap ke arahnya. Aku hantu penunggu pohon salak. Aku mau ganggu Dewi.


"Selly, Bella, bantuin aku!" teriak Dewi. Dia melangkahkan kaki mundur, hingga badannya terbentur dengan tembok. Sedangkan Selly dan Bella hanya menatap mereka sembari tertawa terbahak-bahak.


"Aku mau mata kamu, hidung kamu, Dewi." Dinar menakut-nakuti Dewi.


"Tolong!" teriak Dewi.


Dinar menarik tangan Dewi. "Dahlah, siapa juga yang kerasukan. Ayo, duduk. Di dengar yang lain nggak enak nanti."


"Kamu nggak kerasukan?" tanya Dewi masih tampak bingung.

__ADS_1


"Ya enggaklah. Kamu sih, ada-ada saja." Dinar mengajak Dewi untuk duduk di dekatnya.


"Boleh duduk di sini?" tanya Dewi.


Dinar pun menganggukkan kepala. Lalu memberitahukan jika besok dia akan pindah tempat ikut ayahnya. Hal itu, membuat semua temannya syok.


"Kamu ninggalin kita, Din?" tanya Bella.


"Halah, pindah kota saja. Kita masih bisa bertemu," jawab Dinar.


"Lalu, kenapa kau bahagia banget, saat ninggalin kita? Kau tak sayang kita?" tanya Dewi.


Dinar memegang kening Dewi. "Kamu hangat pagi ini, Wi. Belum juga selesai cerita, ada-ada aja kami tuh."


Kemudian, Dinar menceritakan perihal Dandi kepadanya. Saat bercerita, menunjukan senyum merekah kembali di wajah Dinar.


"Kamu beneran suka, ya?" ujar Bella.


"Lihat merpatinya?" pinta Dewi.


Dinar pun mengeluarkan dari dalam sakunya, lalu diberikan ke mereka.


"Bagusnya di kasih warna ini," usul Dewi lagi.


"Kau suka dengannya?" tanya Bella lagi.


"Eh, apaan sih. Enggak, kok. Kita cuma temenan, masih kecil suka-sukaan," jawab Dinar tersipu malu.


Saat mereka asik berbincang, dari luar kelas terdengar jika anak-anak di suruh untuk berkumpul. Dinar dengan sigap meraih merpati itu agar tak ketinggalan. Dia sengaja meletakkan itu di dalam tasnya.


Mereka berkumpul bersama di lapangan sembari menunggu guru memberikan pengumuman. Mereka di berikan satu amplop berwarna putih yang berisikan hasil ujian kemarin. Mereka deg-degan dan harap-harap cemas dengan apa yang akan dilihatnya.


"Sekarang, bisa kalian buka." Saat semua sudah menerima, saat itu guru mempersilahkan mereka membukanya. Tangis harus biru saat ini, perasaan bahagia yang tak terhingga ia rasakan. Terutama Dinar, pikirannya kembali melayang. Tak bisa di pungkiri, hari yang bahagia ini harusnya ia lalui dengan sahabatnya itu. 'Key, andai kamu di sini. Kamu juga merasakan bahagia bersama kami. Key, aku janji akan bawa hasil ini ke pusaran makam kamu nanti. Aku akan berbagi kebahagiaan ini untuk kamu.'


Dinar, Dewi, Bella dan Selly saling berpelukan, tapi ada satu tempat di mana dekat Dewi dan Dinar di biarkan kosong dan dia seakan-akan merengkuh satu orang yang ada di sana.


"Kita seharusnya bahagia berlima dan saling berpelukan seperti ini." Dewi menangis.


"Key, kami berikan satu tempat untuk kamu. Kita bahagia bersama, ya. Kita sahabat selamanya!" teriak Dinar.


Sontak mereka berempat menjadi perhatian satu sekolahan. Semua orang ikut terharu dan menitikkan air mata kala melihat mereka seperti itu. Mereka tahu, kenapa mereka berempat seperti itu. Satu tempat yang tak akan mampu digantikan siapa pun.

__ADS_1


__ADS_2