
***
Aku kembali memejamkan mataku, agar tubuh ini tak merasakan kelelahan yang sedang menerpaku. Berharap aku segara pergi ke alam mimpiku.
Walaupun mata ini terpejam, tetapi telingaku dapat mendengar di sekitarku. Suaranya terdengar riuh tidak seperti ketika aku baru sadar tadi.
Aku mencoba membuka mataku secara perlahan, tepat di sekelilingku aku melihat tiga sosok berjubah putih tapi tidak jelas mukanya. Karena aku sedang berbaring, mereka terlalu tinggi hingga tak terjangkau oleh penglihatanku.
Tiba-tiba mereka semua berubah menjadi makhluk yang mengerikan, bertubuh besar dan mempunyai taring.
Aku pun mencoba berteriak agar ada yang mendengarku, tetapi usahaku sia-sia karena sekuat aku mencoba berteriak, kukira suaraku tak pernah keluar sama sekali.
***
"Keyla.... Keyla, bangun Nak," terdengar suara seperti suara Ibu.
Aku kembali membuka mataku secara perlahan, aku kembali celingukkan. Aku ingin memastikan yang aku lihat tidak ada saat ini.
"Minum dulu, Dek," kata Ibu sembari memberikan air minum.
Aku segera mengambil air minum dari genggaman tangan ibuku.
"Dedek, barusan kamu mimpi buruk ya?" tanya Ibu.
Aku tak langsung merespon ibu karena aku bingung. Yang aku rasakan aku tidak tidur tapi kenapa bisa ada kejadian aneh.
"Keyla," panggil Ibu sembari memegang tanganku.
Aku yang lagi bengong sontak kaget saat ibu memegang tanganku.
"Iya Bu," jawabku.
Ibu mengelus kepalaku dengan lembut.
"Ayo pulang sayang, Dedek sudah di perbolehin pulang kok tapi tadi Ibu sengaja nunggu kamu sampai bangun tidur," ucap Ibu.
Aku mengangguk, lalu beranjak dari tempat tidur. Aku mulai melangkahkan kaki keluar kamar. Sebelum aku benar-benar sampai di luar, aku menoleh ke belakang.
Tepat di samping tempat tidur, aku melihat tiga makhluk yang aku lihat di mimpi tadi. Mereka terlihat menyeramkan.
"Ibu," ucapku dengan memeluk Ibu.
"Iya, sudahlah jangan dihiraukan yang kamu lihat, kita pulang dulu istirahat," jawab Ibu.
"Keluarganya Dinar ke mana, Bu?" tanyaku.
"Mereka menunggu di depan," jawab Ibu.
Aku dan ibu melangkah menghampiri keluarga Dinar. Di depan rumah sakit terlihat Kak Dita sedang marah dengan seseorang.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanyaku.
"Tidak tahu, Dek," jawab Ibu dengan terus melangkahkan kaki ke mereka.
Ketika kita berada di dekat keluarga Dinar ini, Ibu hanya menegur tanpa ikut campur urusannya.
"Apa apa ini? Ini rumah sakit, jadi selesaikan masalahnya jangan di sini, tidak enak sama yang lain," ucap Ibu.
Cewek yang bertengkar dengan Kak Dita pun melenggang pergi tanpa berkata apapun.
"Ada apa, Dit?" tanya Ibuku.
"Jadi itu cewek, dari dulu sampai sekarang menyukai Andre, Tante," jawab Kak Dita.
"Terus kenapa kalian sampai bertengkar kalau hanya kebetulan ketemu di sini?" tanya Ibu lagi.
"Dia mengolok-ngoloku Tante, aku nggak suka," jawab Kak Dita.
"Andre kamu pulang duluan ya Nak, nanti kami pulang ikut mobil Ibunya Keyla saja," sahut Ibunya Dinar memberitahu Kak Andre.
"Iya, Ibu dan yang lain hati-hati ya, saya pulang duluan, tadi masih ada sedikit kerjaan yang saya tinggal," jawab Kak Andre sembari berpamitan ke kami dengan berjabat tangan.
Kami masih berjalan bersama menuju parkiran. Kak Andre masuk ke dalam mobilnya, sedangkan kami semua ikut dengan mobil Ibu.
Sebelum pergi kak Andre melambaikan tangan ke arah kami.
"Semuanya, saya duluan," ucap Kak Andre.
Kami masuk mobil satu persatu, aku, Dinar dan Ibu berada di kursi belakang. Aku di tengah-tengah ibu dan Dinar.
"Kak Dita maaf, kenapa tadi kok bisa berantem sampai segitunya?" tanyaku.
Sembari bertanya itu, aku melihat ke arah seberang jalan rumah sakit. Di sana aku melihat seorang cewek yang mukanya tidak asing bagiku. Tatapannya tajam ke arah mobil ini, tetapi aku lupa cewek itu siapa.
"Jadi, cewek itu teman aku dan Andre ketika kami SMA dari dulu dia suka sama Andre, tetapi Andre malah sukanya sama aku, cewek itu berubah benci banget sama hubungan kita berdua," jawab Kak Dita.
"Bagaimana cara Kak Dita tahu, kalau cewek itu benci sama hubungan kalian?" tanyaku penasaran.
"Dia beberapa kali ingin memisahkan kita, mulai dari fitnah salah satu dari kita selingkuh, sampai dia buat chat seolah-olah memang itu percakapanku dengan cowok lain," jawab Kak Dita.
"Sampai pernah dia bekerja sama dengan cowok yang dulunya suka sama aku, dia nyuruh cowok itu buat tanya-tanya gitu ke aku, nah pas cowok itu dengan sengaja merangkul bahuku si cewek yang tadi memoto kami dari kejauhan," ucap Kak Dita lagi.
"Jangan-jangan yang meneror kita tadi, dia?" sahut Dinar.
Mendengar ucapan Dinar seketika ibuku melihat ke arahku.
"Teror?" tanya Ibu.
"Iya Tante, tadi kami sempat di teror seseorang, sampai aku dan Keyla ketakutan," jawab Dinar.
__ADS_1
"Emang di teror waktu di mana? Tapi kalian berdua tidak apa-apa kan?" tanya Ibuku dengan penuh rasa khawatir.
"Oke. Aku cerita ya Tante," ucap Dinar.
Dinar mulai bercerita dan kami semua mendengarkan. (Pengen tahu terornya, baca part teror 1 sama teror 2)
"Kenapa kalian berdua tidak menelepon Ibu?" tanya Ibuku.
"Kami takut, yang neror berbuat jahat ke ibu," jawabku.
"Iya Tante, lagian aku juga tidak kepikiran sampai situ, aku terlalu panik," sahut Dinar.
"Bagaimana kalau malam ini kalian semua tidur di rumahku? Takut yang teror berbuat nekat," Ibu menawari.
Aku melihat ke arah keluarganya Dinar satu persatu. Mereka tampak memikirkannya. Ketika melihat ke arah Dinar, dia mengangguk tanda mengiyakan.
"Iya Bu, kita tidur di rumah Keyla saja," ucap Dinar.
"Takut merepotkan Bu," ucap Ibunya Dinar.
"Tidak, keselamatan kalian lebih penting," ucap Ibuku.
"Bener ucapan Ibunya Keyla, Bu," sahut Kak Dita.
"Baiklah, kita ambil beberapa pakaian dulu di rumah," ucap Ibunya Dinar.
Aku melihat sekeliling mobil, aku takut kalau ada yang mengikuti kami.
"Kak, sepertinya kita harus waspada deh, takut ada yang sengaja ngikutin kita," ucapku.
"Iya Key, nanti kita ke rumahku dulu langsung, setelah mengambil pakaian kita kecoh jika ada yang sengaja mengikuti," jawab Kak Dita.
Kak Dita tetap melajukan mobilnya ke arah rumahnya, tentu saja itu melewati rumahku. Sesampainya di rumah, yang turun hanya ibunya untuk mengambil beberapa pakaian.
Karena dari kejauhan kaya ada mobil yang sengaja mengikuti kami, dari Kak Dita dan Ibunya Dinar tidak ada yang mengenali. Nomor kendaraannya sengaja di tutupin.
Ketika kami menunggu di dalam mobil, Kak Dita memberikan siasatnya untuk kami lakukan.
"Jadi begini, orang itu tujuannya mengikuti aku, nanti aku kemudikan mobil ini lewat gang sebelah, aku berhenti di salah satu rumah sepertinya belakang rumah itu menghubungkan ke arah perumahan kita," ucap Kak Dita.
"Terus?" tanya Dinar.
"Nah kebetulan rumah temanku itu di sana nanti aku berhenti di depan rumah dia, aku sudah menghubunginya mengajak bekerjasama," ucap Kak Dita.
"Nanti, aku masuk ke dalam rumah itu, langsung pergi keluar lewat pintu belakang rumahnya menuju rumahmu Key," ucap Kak Dita lagi.
"Oke Kak, sepertinya orang itu tidak mungkin berani melakukan hal-hal di rumah orang lain, dan kemungkinan dia juga hanya mengawasi dari kejauhan," ucapku.
Kami semua setuju yang di ucapkan Kak Dita. Kami menunggu Ibunya Dinar, terlihat dari kejauhan beliau memasukkan mobilnya yang sedari tadi berada di depan garasi. Setelah semua yang dilakuan selesai, beliau kembali menghampiri kami dengan menenteng tas berisikan baju.
__ADS_1
Bersambung....
>>>Next Episode