
Perjalan yang kami tempuh cukup jauh dan memakan waktu yang lama.
"Masih lama, Yah?" tanyaku.
"Kurang lebih begitu, Dek. Kenapa? Kamu capek?" tanya Ayah.
Aku hanya menganggukan kepalaku.
"Buat berbaring saja, Dek," sahut ibu.
Mobil pun berhenti di lampu merah, namu saat aku hendak berbaring tiba-tiba mataku tertuju ke orang yang menaiki mobil tepat di samping kami.
Kaca pintu mobil bagian pengemudi terbuka, terlihat seorang pria muda di sana. Raut wajahnya tampak gelisah. Namun yang menjadi perhatianku bukan pria itu, namu makhluk yang berada tepat di belakangnya.
Sosok wanita berambut panjang hingga menutupi bagian mukanya, berbaju putih lusuh dan di tangannya seperti membawa sebilah parang. Tangan sosok wanita itu yang membawa parang seakan-akan hendak di tancapkan menuju tengkuk pria itu.
"Nek, pria itu ...," ucapku menggantung.
Nenekku berada di sebelah kiriku dan mobil itu juga berada di sebelah kiri pas bagian pengemudinya, sehingga kursi kemudi itu terlihat olehku.
"Kenapa, Key?" tanya ibu.
Mobil kami pun kembali melaju karena lampu sudah kembali hijau. Aku menoleh ke arah mobil yang tadi aku lihat, pria yang mengemudikan mobil itu membawanya dengan perlahan namun terlihat seleotan.
"Lihat deh, Bu." Aku menunjuk ke mobil yang sekarang tepat di belakang kami.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu lagi.
"Ada makhluk jahat di dalamnya, sosoknya perempuan namun seakan-akan ingin membunuh pengemudinya," ujarku dengan suara panik.
"Nggak usah aneh-aneh, fokus kesembuhanmu saja," tegur ayah.
Aku pun terdiam, aku tak ingin melawan ayah. Mungkin saat ini mereka tak ingin aku melakukan hal yang berbau mistis, sebab bisa jadi mereka menyelakaiku juga.
"Dek, kami tahu kamu anak baik. Tapi sekarang nggak perlu lah membantu orang yang berhubungan dengan hal mistis. Kami khawatir dengan keadaanmu," ucap ibu.
"Benar, Nak. Fokus kesehatanmu saja, apa perlu Nenek bantu tutup mata batinmu biar kamu tidak merasa terganggu dengan kedatangan mereka," ujar Nenek.
Aku menatap ke arah ibu. Aku tak ingin kelebihanku di tutup begitu saja, mungkin aku akan merasa aneh jika tak memiliki kelebihan ini.
"Nggak perlu lah, Bu. Biar dia memiliki kemampuan ini, tapi ya kita batasi tingkah laku Keyla yang berhubungan dengan hal-hal gaib," sahut ayah.
Aku memeluk ibu dengan kuat, ternyata ayah mengerti dengan perasaanku. Saat kita asik berbincang, tiba-tiba dari arah belakang ada mobil melaju dengan kencang mencoba mendahului mobil yang kami kendarai.
__ADS_1
Mobil itu terlalu mepet dengan mobil kami, jantung terasa berdegub kencang saat mobil itu mendahului, tepat berlawanan arah ada sepeda motor yang melaju cukup kencang juga.
Brakk!!
Tabrakan tak terelakan antara sepeda motor dan mobil itu. Ayah dengan sigap mengerem mobil kami agar tak terjadi tabrakan beruntun.
Pengendara motor saat bertabrakan terpental jauh karena mereka saling melaju dengan kencang.
"Astagfirullah." Ujar kami bersamaan saat kami melihat tabrakan itu tepat di depan mata.
"Mobil yang kamu maksud tadi kan itu, Dek," ujar ibu.
Aku mengangguk secara perlahan, aku tertegun melihatnya. Ayah membuka melihat situasi belakang kami, mungkin ayah hendak keluar dari mobil.
"Ayah jangan turun," cegahku.
"Dengerin Keyla dulu, Yah. Kasian dia, mungkin dia syok melihat tabrakan itu," ujar ibu.
Mungkin ibu merasakan tanganku yang saat ini berubah dingin dan bergemetar. Perasaan takut tiba-tiba menerpaku, sebab sebelum kejadian ini aku kan melihat sosok wanita jahat yang ada di mobil itu.
Jalanan mulai macet karena kendaraan tak dapat bergerak sedikit pun, tepat di depan kami ada truk yang juga berhenti, sebab terhalang mobil yang kecelakaan tadi dalam posisi melintang.
Orang-orang sekitar dan pengendara yang lain mulai berkerumun melihat kecelakaan itu. Sedangkan kami tetap berada di dalam mobil, sembari menunggu jalanan kembali normal.
"Gimana Pak, keadaannya korban?" tanya ayah.
"Meninggal semua, Pak. Apalagi yang sepeda motor, kepalanya hancur sebab terpental itu," jelas pria itu.
Kami semua yang ada di mobil sontak berkata, "Innalillahi waina ilaihi rojiun."
"Loh, yang mengendarai mobil juga meninggal?" tanya ayah lagi.
"Iya, Pak," jawab pria itu.
"Oh, iya sudah, Pak. Makasih," ucap ayah.
Pria itu bergegas pergi setelah memberikan informasi. Orang berlalulalang melihat kecelakaan itu, bahkan dari kejauhan juga terlihat orang-orang yang sengaja mengabadikan kecelakaan itu, tanpa membantu mengevakuasinya.
"Heran aku, Yah. Kenapa orang-orang nggak membantu menolong, eh malah difoto-foto!" ucapku dengan ketus.
"Ya begitulah, Dek. Nanti kalau di tegur bilangnya nggak berani menolong sebelum polisi datang," jawab ayah.
Aku menarik napas dalam karena merasa heran dengan orang-orang itu.
__ADS_1
"Kalau nggak bisa menolong, ya paling tidak nggak perlu di foto kan, Yah," ujarku.
"Kadang lebih parahnya mereka-mereka itu ada yang meng- upload ke media sosialnya," sahut ibu.
"Nggak boleh loh seperti itu, dari pihak keluarga kan juga nggak ingin korban dalam keadaan yang seburuk-buruknya. Bahkan pasti setiap kecelakaan pasti ada aja yang menyalahkan salah satunya, itu termasuk aib loh, nggak boleh diabadikan apalagi sampai di sebar luaskan," ujar nenek menasehati.
Aku menatap nenek.
"Aib, Nek?" tanyaku.
"Iya, Keyla. Kan kita nggak tahu keadaan korban seperti apa, aurat mereka di abadikan, bahkan dalam keadaan seperti ini. Kita sesama manusia harus memiliki empati dan toleransi," ucap nenek lagi.
Aku menganggukan kepalaku secara perlahan.
"Bukannya dalam hadist ada ya Bu, soal hadist menjaga aib sesama manusia?" tanya ibu.
"Iya, Nak. Ini hadistny
مَنْ سَتَرَ مُسْلمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنيا وَالآخِرَة
Barangsiapa menutup (aib/cacat) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. (HR Muslim), Keyla ngerti kan, Nak?" tanya nenek.
Aku tersenyum ke arah nenek. Aku merasa beruntung kala mempunyai orang-orang yang mau mengingatkan dan membagi pengetahuannya ke aku.
"Kayanya bakalan lama ini, Yah," ucap ibu.
"Aku capek, Yah," ujarku.
"Nenek pindak ke depan, ya. Keyla berbaring saja," ujar nenek sembari keluar dari mobil menuju kursi depan.
Aku melihat ayah mengambil ponselnya, lalu menelpon entah siapa. Ayah keluar dari mobil, masih mencoba menelepon.
"Ayah telepon siapa, Bu?" tanyaku.
Ibu hanya mengedikan bahunya. Ibu menggeser posisi duduknya, lalu menyuruhku berbaring. Namun bagian pinggul ke bawah masih berat untuk ku gerakan sendiri.
Ibu dengan sabar mengangkat dan membantu meluruskan kakiku.
"Makasih ya, Bu," ujarku.
"Iya, Dek. Kepalanya Ibu pangku, ya," ujar ibu sembari memindah kepalaku ke pangkuannya.
Tak berselang lama, ayah pun kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung ....