
"Esteh, itu Tantemu ada di sana," ucapku sembari menunjuk ke arah tangga.
Aku memalingkan wajahku dari makhluk itu. Setelah aku berhenti berbicara, si Esther seketika melihat ke arah yg ku tunjuk.
"Keyla gitu ih," ucapnya Kesal.
"Sana ajak main suruh pergi," ucapku.
"Lumayanlah ada temen ngobrol," kata Esther sembari berlalu pergi.
Setelah perginya Esther, aku pun memutuskan untuk melihat ke arah tangga tadi. Di sana sudah tidak kutemui makhluk itu.
Serasa lega makhluk itu pergi, aku merebahkan tubuhku di atas sofa sembari berucap, "Kira-kira dua makhluk itu pergi ke mana ya? Apa iya dua wanita makhluk halus itu mau ngerumpi? hahahaha."
Aku pun tertawa terbahak-bahak sendirian, pikiranku melayang memikirkan aktivitas yang mungkin sedang dilakukan dua hantu itu.
Selain itu, aku heran dengan rumah ini. Rumah sebesar ini hanya cewek itu yang menempati, tidak ada seorang pun kecuali dia.
Aku pun beranjak dari sofa, aku melangkahkan kaki ke setiap ruangan di rumah ini. Barangkali ada satu pintu yang bisa aku buat kabur. Serasa sepi, tak ada aktifitas di rumah ini.
Aku tak mendengar aktivitas cewek itu, dia setelah masuk kamar tidak ada keluar sama sekali. Aku mulai menaiki tangga satu persatu secara perlahan. Tiba-tiba waktu sampai tengah-tengah anak tangga ada yang memanggilku.
"Keyla, mau ke mana kamu?" panggilnya.
Aku pun berhenti, sontak menoleh kebelakang karena merasa heran bagaimana cewek itu tahu namaku.
"Kak Airin?" ucapku.
"Iya, aku Airin, kamu mau ke mana?" tanya dia.
"Aku mau cari udara saja Kak, mau ke atas siapa tahu balkonnya bisa buat tempat aku cari udara segar," jawabku.
"Sama aku, nanti kamu kabur," ucap Kak Airin.
Aku pun kembali menaiki anak tangga, sedangkan Kak Airin terus mengekor di belakangku. Aku rasa dia perlu teman mengobrol hingga dia memberi alasan untuk mengikutiku.
Sesampainya di balkon, aku duduk di depan pintu yang menghubungkan kamar dan balkon. Aku nikmati udara pagi ini yang sangat sejuk, di pikiranku pun tersirat kata-kata, aku di culik kenapa bisa sesantai ini? Ya Allah mulai erorkah diriku ini?
"Keyla, tanganmu masih sakit?" tanya Kak Airin.
Aku melihat ke arah tanganku sembari mengangkatnya. Aku pun mengangguk secara perlahan.
"Keyla takut nggak sama aku?" tanya Kak Airin lagi.
Sebelum menjawab pertanyaannya, Aku menatap matanya di sana tampak kesedihan yang mendalam.
"Iya," jawabku singkat sembari menundukkan kepalaku.
"Aku pengen pulang Kak, ini puasa terakhir kasihan Ibuku sendirian di rumah," ucapku memohon.
"Maaf Key, aku tidak bisa menuruti kemauanmu, aku masih butuh kamu," jawabnya.
Rasa kesal di dada semakin memuncak kala mendengar jawabannya, aku beranjak berdiri dari tempat dudukku.
"Kenapa kamu egois sih jadi orang? Apa kamu nggak memikirkan orang yang sedang menangis mencari keberadaan ku!" ucapku dengan nada sedikit teriak.
"Kamu tahu apa soal egois? Kamu masih kecil belom tahu apa-apa," jawabnya dengan nada yang tinggi juga.
__ADS_1
"Memang aku belom tahu apa-apa, tapi apa kamu tidak pernah memikirkan seseorang yang benar-benar menyayangiku sedang mencari aku!" ucapku sembari deraian air mataku bercucuran.
"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang, kenapa aku harus mengasihani kamu hahaha," ucapnya sambil tertawa.
Dia berlalu pergi meninggalkan aku sendirian, sebelum dia pergi aku melihat tetesan air mata jatuh di pipinya, tetapi kesedihan itu mencoba ia sembunyikan dengan tawa.
Aku kembali duduk, dari atas aku melihat Kak Airin memasuki mobilnya. Kemudian dia melajukan mobil itu entah pergi ke mana.
Aku yang melihat kepergiannya, bergegas lari untuk menuruni tangga.
"Keyla," panggil seseorang.
Aku menoleh, ternyata Esther yang memanggilku.
"Ayo kabur dari sini," ucapku.
"Ayolah," jawabnya.
Aku mencoba membuka pintu, ternyata semua pintu terkunci. Aku pun patah semangat, karena mungkin dengan kejadian ini aku tidak aku bisa ikut salat idul fitri besok.
Saat di depan kamarnya, aku mencoba membuka pintunya. Ternyata tidak di kunci, aku pun bisa masuk. Di tembok kamarnya, tertempel foto dia dan Kak Andre.
"Esteh, kamu dulu kalau suka sama seseorang juga seperti ini kah?" tanyaku ke Esther.
"Enggak, aku yang penting ada satu fotonya sudah cukup," jawab Esther.
Aku kembali menaiki anak tangga berharap ada orang berjalan melewati rumah ini dan aku meminta pertolongan.
Dari kejauhan aku melihat anak kecil, yang sepertinya dulu kala aku masih kecil pun pernah melihatnya tapi di mana itu lupa. Anak itu melihat ke arahku.
"Esteh, dia itu setan kan?" tanyaku.
"Panggil suruh sini lah Esteh," ucapku.
Esther pun segera menuruti perintahku. Hantu kecil itu di panggilnya. Dia tertunduk malu.
"Halo, aku Keyla," ucapku.
"Aku Esther," sahut Esther.
Anak itu tetap tertunduk.
"Nama kamu siapa?" tanyaku kembali.
(Sumber: google)
"Jordy Arka Pratama, panggil aja Jordy" jawabnya dengan nama lengkap.
Aku pun mengajaknya mengobrol, mungkin dia dapat membantuku kabur dari rumah ini. Dia bercerita kalau kembarannya bisa melihatnya.
Aku meminta pertolongan ke Jordy untuk bicara sama kembarannya untuk membantuku pergi dari tempat ini. Jordy pun mengiyakan permohonanku untuk meminta pertolongannya. Tetapi dia ada satu permintaan untuk menolong dia.
Jordy pergi meninggalkan kami, tak berselang lama ada mobil terparkir di depan pintu gerbang rumah Kak Airin. Pengemudi mobil itu turun, dia cowok yang sangat tampan dan saat ini berusaha membuka pintu gerbang.
Dengan mudah, dia membukanya karena Kak Airin tidak menguncinya. Cowok itu melihat ke arah balkon dan berteriak.
__ADS_1
"Turun, tunggu di depan pintu utama," ucapnya.
"Iya," jawabku.
Aku pun berlari ke arah lantai dasar, berharap cowok itu bisa menyelamatkan aku. Dia mencoba mendobrak pintu itu, tetapi beberapa kali tak dapat membukanya.
"Bagaimana Kak?" tanyaku dari dalam rumah.
"Di dalam tidak ada tali buat kamu turun dari atas balkon?" tanya cowok itu.
"Nggak tahu Kak, cepetan terburu yang punya rumah datang," ucapku semakin panik.
"Keluar lewat jendela bisa nggak?" tanya Dia.
"Nggak bisa Kak, semua jendelanya ada besi yang menutupi," jawabku.
Aku membuka jendela dekat pintu utama.
"Oke sebentar kamu tunggu ya, aku ambil tali di mobilku nanti aku kasihkan kamu lewat jendela ini," ucapnya sembari melangkahkan kaki menuju mobil.
Dengan cepat dia mengambilkan tali itu terus di berikan ke aku.
"Kamu turun dari balkon pakai tali ini, ikat yang kuat, aku akan jaga dari bawah," ucapnya.
Aku pun menuruti perintahnya, segera aku kembali lari ke lantai atas menuju balkon. Aku ikatkan tali itu di pagar balkon dengan kuat.
"Kak, aku turun nih," ucapku dengan nada ragu.
Aku takut untuk turun, tapi dengan terpaksa aku tetap menuruni tali itu. Cowok itu menungguku di bawah dengan menengadahkan tangannya ke arahku. Dia berjaga-jaga jika sewaktu-waktu aku jatuh.
Akhirnya aku sampai di bawah, Aku menatap wajahnya yang tampan. Dia pun menatapku, dengan segera menggandengku menuju ke mobilnya. Aku duduk di kursi dekat kemudi.
Dia melajukan mobilnya, aku pandang wajah dia ketika mengemudikan mobil. Wajah ini tidak asing bagiku, baru ku sadari yang menyelamatkan aku seorang artis terkenal.
Dia adalah Jerry Aksa Pratama, Idol boyband internasional, Rapper di Number One. Dia artis di cerita Linanda Anggen yang berjudul Perfect Idol.
"Rumah kamu mana?" tanya Kak Jerry.
Aku memberitahukan alamatku, dia dengan cepat melajukan mobilnya. Aku pun sepertinya pernah bertemu dengan Kak Jerry ini waktu aku masih berusia delapan tahun dan dia kala itu berusia sepuluh tahun.
Tapi sepertinya Kak Jerry tak mengenaliku.
Bersambung....
Ingin tahu cerita tentang artis terkenal bernama Jerry Aksa Pratama ini. Kunjungi novel teman Author.
Perfect Idol by: Linanda Anggen
Genre: Teen, Romantis.
Sinopsis:
__ADS_1
Tunggu kisah selanjutnya tentang Keyla ya.
>>>Next Episode