
Aku memutuskan hanya diam saja, tak ingin memperkeruh suasana. Namun itu membuat kedua orang tuaku merasa heran.
"Kenapa lagi, Dek?" tanya ayah.
"Nggak apa-apa, Yah," jawabku.
Ibu merengkuh tubuhku kepelukannya, sembari mengelus kepalaku.
"Ibu tahu, kalau kamu sedang memikirkan Kevin. Bantu dia doa, ya. Kasihan dia," ujar ibu.
Aku hanya menatapnya sembari mengangguk. Aku memutuskan untuk memejamkan mataku sebentar, tetapi malah terbuai ke alam mimpiku.
***********
Aku termenung sebentar di teras rumah nenek. Menatap seksama ke arah sosok wanita yang biasa ada di jendela atas rumah tetangga nenekku.
Namun, bukan wanita yang menyeramkan tetapi wanita yang cantik, berkulit putih, berpakaian dress selutut dan rambut terurai. Dia menatap ke arah sekelilingnya dengan seksama.
Tiba-tiba terlihat dari arah belakang, ada seorang pria menarik rambutnya hingga dia terjengkang. Wanita itu terlihat memegangi rambutnya, sembari menahan sakit yang tengah ia rasakan. Tak terlihat dia mengelak atau pun membalasnya.
Aku hanya menggelengkan kepala kala melihat perlakuan orang itu. Saat aku mengalihkan pandanganku, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari lantai atas itu.
Sontak aku yang mendengarnya terperanjat kaget kala mendengarnya. Aku berdiri dan memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah rumah itu.
Pertama-tama, aku mencoba membuka pintu gerbangnya. Ternyata pintu itu tanpa di kunci yang mempermudahkan aku untuk masuk.
Aku mengendap-ngendap, mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Saat aku hendak masuk pintu depan, ternyata kali ini terkunci. Aku mengurungkan niatku untuk melihat, namun saat baru melangkah tiba-tiba suara teriakan itu kembali terdengar.
"Aaaa. Ampun," terdengar suara wanita itu.
"Nggak ada kata ampun bagimu," jawab pria tersebut.
Kali ini aku mencoba berpikir bagaimana caranya untuk dapat masuk dan menolong wanita itu. Aku berjalan mengendap-ngendap ke samping rumah dan beruntungnya aku, jendela kamar lantai bawah ada yang terbuka. Kemudian aku memutuskan untuk masuk ke dalam.
Terlihat sepi dan hening di rumah ini. Namun, sesekali hanya terdengar teriakan dan rintihan dari wanita itu.
"Kau tega!" teriak wanita itu.
"Kau lebih tega dengan aku. Apa kau nggak ingat bagaimana kau mengkhianati aku, hah?" gertak pria itu.
"Ampun! Aku berkali-kali meminta maaf, tapi kenapa kau tega perlakukan aku seperti ini?" ujar wanita itu.
Aku semakin merasa penasaran, memutuskan untuk naik ke lantai atas. Tetapi langkah kakiku malah terdengar oleh pria itu.
"Siapa, itu?" tanya pria tersebut.
__ADS_1
Aku segera berlari, mencari tempat sembunyi yang menurutku mudah. Tak jauh dari tangga terlihat ada lemari kecil tepat di samping meja.
Aku mencoba membukanya, namun saat membuka terlihat jelas ada wanita paruh baya ada di dalamnya dan terlihat panik. Napas yang memburu dan keringat yang mengucur membuktikkan dia sedang ketakutan.
Aku berlari ketempat lain, mencoba cari tempat sembunyi yang lebih aman. Saat aku baru masuk kolong meja di dapur tiba-tiba terdengar suara jeritan yang tak jauh dari lokasiku saat ini.
"Wanita tadi?" ujarku berbisik.
"Ampun, Tuan. Saya akan bungkam, tapi kasihanilah saya," ujar wanita yang bersembunyi tadi.
"Baik, segera beresin pakaianmu. Kemudian kamu pergi dan berikan alasan ke oran lain kalau kamu berurusan apa gitu di kampung. Jangan sampai ada yang mengetahuinya, jika ini bocor kau akan mati!" gertak pria itu.
Aku saat percakapan itu mencoba menyingkap tirai meja yang ada. Tetapi naasnya aku, pandangan pria itu tepat tertuju dengan mataku.
Perlahan dia menghampiri dan saat itu juga aku keluar dari sana. Kukira dia semakin mengejarku.
*********
"Aaaaaa," teriakku.
"Dek, bangun," ujar ibuku.
Perlahan aku membuka mata dan terasa keringat dingin bercucuran. Ibu mendekap tubuhku agar lebih terasa tenang.
"Enggak apa-apa, Bu," ujarku.
Aku memilih untuk bungkam, aku hanya tak ingin memperkeruh suasana. Masalah Kevin saja belum terselesaikan hingga saat ini, aku tak ingin menambah dengan yang lain.
Tak berselang lama, kami pun sampai di depan rumah. Ayah membuka pintu gerbang dan saat itu juga aku melihat pria yang sama persis dengan mimpiku berada di depan rumah sedang memperhatikan kami.
"Mari, Pak," sapa ibu ke pria itu.
"Iya, Al. Gimana anaknya? Udah sembuh?" tanya pria itu.
"Alhamdulillah, banyak perkembangan, Pak. Semoga cepat ketemu ya, istrinya," ujar ibu.
"Nggak berharap saya, Al. Sudah terlalu lama, tak ada perkembangan sama sekali dari pihak kepolisian," ujar pria tersebut sembari menundukkan kepala.
"Sabar ya, Pak. Ya sudah, Pak. Mari," ujar ibu sembari membungkukkan badannya.
Saat menatapnya entah kenapa di hatiku merasa ragu dengan kesedihannya, lalu aku mencoba menepisnya. Aku tak ingin gara-gara mimpi buruk, menjadikan aku berprasangka buruk ke orang lain.
"Ayo, Dek. Coba jalan aja, ya," ujar ayah.
Aku menganggukkan kepala. Ayah meraih tanganku dan mencoba aku untuk berdiri lagi.
__ADS_1
"Coba jalan. Soalnya kamu berdiri sudah nggak goyah, Dek," ujar ayah.
Aku melangkahkan kakiku secara perlahan. Saat ini sudah terasa lebih ringan dan mudah.
"Yah, pengen loncat-loncat rasanya. Aku bahagia banget," ujarku.
Perkataanku malah membuat ayah dan ibu tertawa terbahak-bahak.
"Malah diketawain," ujarku sambil manyun.
"Ayo, jalan lagi. Nggak usah lompat," ejek ayah.
Aku hanya cemberut sembari memalingkan wajahku dari ayah, saat bersamaan terlihat nenek dan Tante santi keluar dari balik pintu. Mereka terlihat celingukkan mencari sesuatu.
"Apa, Nek? Kok sampai segitunya celingukkan," ujarku.
"Kevin mana, Key?" tanya nenek.
Aku malah berhenti dan menunduk, kembali teringat keadaan dia. Ibu yang melihatku, memutuskan untuk menjawabnya.
"Kevin sedang kritis, Bu. Dia di rumah sakit di tunggu papanya," ujar ibu.
"Kok bisa? Ayo, masuk dulu," ajak nenek.
Ayah kembali menggandengku menuju ke dalam rumah. Aku tak dapat membendung air mataku, kali ini kembali menetes. Semua yang aku lakukan malah menjadi malapetaka untuk Keluarga Kevin.
Ayah membawaku duduk di sofa ruang tamu, di sana ibu merengkuh tubuhku dan mengerti apa yang aku pikirkan saat ini.
"Jangan berpikir ini semua salahmu, Dek. Berdoa saja, semoga diberi yang terbaik untuk Kevin," ujar ibu saat menenangkanku.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Tante Santi.
"Mama tiri Kevin mencoba membunuhnya dengan menusukkan pisau ke perutnya," jawab ibu.
"Lalu, Mama tirinya sekarang gimana?" sahut nenek merasa penasaran.
"Mama tirinya meninggal, arwah Mamanya Kevin balas dendam dengan membawa itu wanita terbang kemudian di lempar hingga lantai dasar. Dan lebih naasnya, saat terjatuh kepalanya mengenai anak tangga," ujar ibu.
"Wah, hancur dong jadinya," sahut Jeje yang baru datang dari arah kamarnya.
Sontak kami yang tak menyadari kedatangan Jeje terperanjat kaget.
"Astagfirullah, Jeje. Mengagetkan saja," ujar Tante Santi.
Bersambung ....
__ADS_1