
Aku menganggukan kepala, setelah itu ayah kembali menyalakan mobilnya. Ayah secara perlahan kembali melajukan mobilnya. Saat ini tak tahu apa yang aku rasakan, perasaan tak sabar ingin mengungkap kejahatan wanita judes itu.
Aku memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhku tanpa memindah kaki yang masih menggantung dalam posisi duduk.
"Dek, ibu bantu pindahin posisi kakimu, ya," ibu menawari.
"Iya, Bu," jawabku.
__________
Dengan cepat ibu mencoba membantu merubah posisi kakiku. Lalu beliau kembali duduk dan memangku kepalaku. Aku mencoba memejamkan mata sejenak agar lelahku tak terasa. Ibu secara lembut mengelus rambutku, namun tangan yang terasa hangat tiba-tiba menjadi dingin seperti es.
Aku menggerakkan tangan, mencoba menyentuh tangan ibu. Tetapi tetap dengan mata yang masih tertutup. Tangan ibu terasa asing saat aku pegang, jari terasa lentik dan panjang.
"Bu, kok tangan Ibu dingin banget ya," ujarku.
Namun di dalam mobil tak ada satu pun yang menjawab, begitu hening suasana saat ini.
"Bu." Panggilku lagi.
Perlahan aku membuka mataku, mendapati sosok pucat, berpakaian putih kumal yang sedang memangku kepalaku. Tatapan yang terus menghadap ke depan, rambut terurai berantakan, tetapi tangan tetap dengan lembut mengelus kepalaku.
Dag dig dug ....
Jantung mendadak berdegup kencang. Aku melirik ke arah kursi bagian depan. Lagi-lagi hanya sosok makhluk yang asing bagiku.
Bagian kursi kemudi, seorang pria berbadan gemuk, berambut ikal, berpakaian lengan pendek berwarna navy. Darah segar mengucur di pelipisnya, kulit hitam menambah seram penampilannya.
Begitu pun di kursi samping kemudi, sosok wanita berkonde, berpakaian atasan kebayak dan bawahannya menggunakan kain jarik. Namun bagian samping kanan perutnya terlihat pisau yang tertancap di sana, darah segar pun tak berhenti mengucur di sana.
Dalam batinku berkata, ya allah ini nyata apa halusinasi? Ke mana keluargaku?
Tiba-tiba secara bersamaan, tiga sosok yang berada di mobil ini menatap ke arahku dengan tajam. Kedua sosok yang berada di depan memutar kepalanya 180° hingga menghadap ke arahku, dalam posisi badan tetap menghadap ke depan.
Wanita yang memangku kepalaku, menatap dengan mata yang seolah-olah ingin keluar dari wajahnya. Setelah itu, aku sontak memejamkan mataku. Aku tak ingin menanggapi mereka semua.
"Hai manis, kenapa tutup mata? Lihatlah kami, kau akan jadi bagian dari kami," ujar salah satu makhluk itu.
Namun aku tak tahu, tetapi yang jelas salah satu dari dua sosok wanita yang berada di mobil ini. Terasa keringatku mengalir dari celah-celah jilbab yang aku kenakan, aku ingin bangun pun terasa tak bisa karena mungkin terlalu lemas badanku melihat situasi yang seperti ini.
Tanganku yang semula ada di atas dadaku, tiba-tiba terasa di cengkeram dengan kuat oleh tangan yang terasa dingin.
"Lepaskan!" ucapku sembari mencoba melepaskan tanganku.
__ADS_1
Tetapi malah suara tertawa menggema begitu keras di telingaku, dari ketiga sosok makhluk ini. Tangan yang semula mengelus rambutku, kini memutari pipiku. Jantungku terasa berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Wajah yang cantik, pas untuk menggantikan wajahku," ujar salah satu sosok itu.
"Tidak mau! Lepaskan!" bentakku lagi.
"Diam!" teriak suara besar dan menggema.
Sesaat aku pun hanya terdiam, aku merasa takut, bergemetar seluruh tubuhku. Lagi-lagi dalam batinku berkata, Ya allah bantu hambamu ini. Jauhkan mereka dari sekeliling hamba, hamba saat ini dalam posisi selemah-lemahnya, hanya padamu hamba meminta pertolongan.
Setelah itu, aku dengan sekuat tenagaku mencoba melantunkan ayat kursi dengan keras. Terdengar teriakan demi teriakan dari ketiga makhluk itu, mereka terdengar begitu kesakitan. Perlahan terasa kembali tangan yang hangat dan lembut mengelus kepalaku.
"Keyla, bangun, Nak. Ada apa?" terdengar suara ibu dengan jelas mencoba membangunkanku.
Perlahan kembali aku membuka mata, aku tak langsung menjawabnya. Aku melihat ke arah ibu, nenek dan ayah, yang sebelumnya tempat mereka di gunakan ketiga sosok makhluk yang menyeramkan.
Mereka dalam posisi masing-masing sebelum aku memejamkan mata. Mungkin melihat tingkahku ibu merasa bingung, sehingga beliau kembali mempertanyakan apa yang terjadi kepadaku.
"Dek, kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya ibu.
Terasa tanganku begitu dingin karena keringatku.
"Mimpi? Aku merasa belum tidur loh, Bu," jawabku.
"Ya sudah, Dedek cerita kenapa?" tanya ibu lagi.
"Aku melihat di mobil ini bukan kalian, tetapi tiga sosok makhluk yang mengerikan," jawabku.
"Tadi tidur nggak berdoa, ya?" ujar nenek.
Aku hanya tersenyum saat mendengar ucapan nenek, memang benar aku tak berdoa. Tetapi aku merasa memang belum tidur, karena elusan dari tangan hangat ibu ke tangan dingin itu aku rasakan dengan nyata.
"Tapi aku merasa belum tidur, Bu," ujarku.
Mereka tak ada yang menjawabnya, hanya tersenyum ke arahku. Perjalanan yang ku kira bakalan lama, ternyata lebih cepat dari sebelumnya.
Aku memutuskan untuk duduk lagi.
"Ternyata lebih cepat ya, Ya? Ku kira bakalan lama," celetukku.
"Ini lama loh, Dek," jawab ayah.
"Benarkah?" tanyaku tampak kebingungan.
__ADS_1
Sebab ku kira lebih cepat, tetapi ayah berkata lama.
"Apa aku tadi beneran tertidur ya, Yah? Tetapi kenapa terasa nyata?" tanyaku lagi.
"Ya kita nggak ada yang tahu, Dek. Yang terpenting jangan lupa berdoa saat hendak tidur, atau mau apapun itu," ujar ayah mengingatkan.
Aku pun mengiyakan ucapan ayah, walaupun aku masih nggak habis pikir. Semua terasa nyata, tetapi kenapa bisa itu hanya mimpi?
__________
Tak berselang lama kami pun sampai di rumah Nenek Rahmah. Saat mobil berhenti tepat depan rumahnya, Tante Santi dan Jeje segera keluar dari dalam rumah.
Mereka berdua berjalan cepat ke arah kami, membantu kami untuk membawa semua barang. Satu persatu dari mereka turun, ibu mengambilkan kursi roda, sedangkan ayah ke arahku hendak memindahkan aku.
"Hai, Key." Sapa Jeje.
Ayah memindahkan aku di kursi roda.
"Hai, Je." Jawabku.
"Om, Jeje aja ya yang dorong Keyla," ujar Jeje.
Ayah tersenyum lalu berkata, "Iya, silahkan."
Jeje dengan perlahan mendorongku menuju ke dalam rumah.
"Keyla, cepet sembuh, ya. Biar kita bisa jalan-jalan lagi, kemaren waktu aku ke sana kamu masih tidur terus," ujarnya.
Aku menoleh ke arah Jeje.
"Doain aku cepat sembuh dong, Je. Biar bisa kaya dulu lagi," kataku.
"Pasti dong," jawabnya dengan senyum merekah di bibirnya.
Jeje mengajakku di depan televisi, seperti biasa saat aku berada di sini.
"Aku bakalan tinggal di sini loh," ujarku memberitahu.
Walaupun hatiku terasa berat, tetapi mau bagaimana lagi aku hanya bisa menuruti semua yang diucapkan kedua orang tuaku.
"Iya, aku sudah tahu kok," jawab Jeje.
Yang awalnya ku kira bakal jadi kejutan buat Jeje, ternyata dia tahu terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung ....