
Ayah dan ibu saling menatap, tetapi mereka tak memberikan respon apapun dengan ucapanku. Aku ingin membantu Levin, tetapi sepertinya orang tuaku tak menghendakinya.
"Yah." Panggilku.
"Nggak boleh, kamu tidur saja. Ayah dan ibu juga mau istirahat," ucap ayah.
Setelah perkataan itu, secara bersamaan mereka segera duduk di kasur lantai yang biasa digunakan.
Makhluk yang menggantung di pojokan, saat ini muncul kembali. Dia menampakan wajah yang sendu dan sedih.
"Nggak apa-apa, terimakasih," terdengar suara berkata seperti itu.
"Esteh." Aku mencoba memanggil Esther dalam hati.
Aku menoleh ke arah Esther, di masih terlihat sedih. Esther mendekat denganku.
"Iya, Key," ucap Esther.
"Itu suara dia?" tanyaku.
Esther hanya mengangguk, lalu dia perlahan menghampiriku. Yang biasanya Esther pecicilan, namun hari ini terlihat beda. Dia tampak bersedih.
"Keyla." Ucap Esther sembari memegang tanganku.
Sentuhan lembut dari jemarinya mulai terasa. Esther yang biasanya tak bisa memegangku, entah kenapa saat ini bisa. Aku terkejut saat Esther benar-benar menggenggam tanganku.
"Esteh," ucapku.
Aku menatap ke arah matanya dan saat itu juga Esther hanya mengangguk.
"Kok bisa?" ucapku lirih.
Esther saat ini semakin menundukkan pandangannya, dia terlihat sedih.
"Kenapa?" tanyaku lirih.
Setelah itu itu dia menatapku, lalu mencoba memelukku. Terasa dingin tubuhnya, aku masih tak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba melihat hantu yang berada di pojokan kamar ini, dia sudah tak nampak lagi.
"Esteh, kenapa? Gara-gara makhluk itu?" tanyaku.
Saat ini suaraku terdengar lebih keras dari sebelumnya,sehingga orang tuaku mendengarnya.
"Apa, Dek?" terdengar suara ibu yang bertanya.
"Enggak apa-apa, Bu. Aku lagi bicara dengan Esteh kok," jawabku.
Setelah itu ibu kembali terdiam, Esther yang masih memelukku seolah-olah tak ingin melepaskanku.
"Key, seandainya aku pergi bagaimana?" tanya Esther.
Aku terperangah kala mendengar ucapan Esther, aku bergegas melepas pelukannya.
"Kata kamu, mau berteman denganku. Kenapa saat ini hendak pergi?" tanyaku.
Dia tak bergegas menjawabnya, isak tangis saat ini terdengar dari mulur Esther. Dia menangis tersedu-sedu layaknya anak masih kecil, walaupun dia lebih dewasa.
"Aku tak selamanya di dunia ini, aku pasti ada waktunya untuk pergi," ucapnya.
Aku bingung dengan kalimat yang baru saja ia utarakan. Aku tak paham apa yang ia maksud. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya besar.
"Aku nggak paham," ucapku.
__ADS_1
Esther lagi-lagi kembali memelukku, dia memelukku dengan erat. Seakan-akan dia tak mau berpisah denganku.
Pelukan yang terasa erat, tapi lama kelamaan terasa lemah. Walaupun Esther tak bergerak sedikit pun, tetapi seakan-akan tubuhnya memudar. Dia melepaskan pelukannya, menatapku dengan wajah sendu.
Sesekali dia menatap ke arah telapak tangannya. Tubuh Esther terlihat mengeluarkan cahaya dan kian lama semakin memudar.
"Esteh, kenapa? Kok kamu tak memudar?" tanyaku.
Esther mencoba meraih tanganku.
"Aku harus pergi, kamu cepat sembuh. Semoga kebaikan selalu berada di sisimu," ucapnya.
Kian lama, kian menghilang tubuhnya. Dengan hilangnya tubuh Esther, seperti muncul cahaya berwarna biru seakan-akan jatuh tepat di tanganku.
"Esteh." Panggilku.
Aku celingukan mencoba mencarinya.
"Esteh, ini nggak lucu!" ucapku.
Cahaya biru itu pun ikut sirna. Terasa sepi dan beda kala tak melihat Esther. Perasaan was-was dan khawatir dengan hantu cantik itu.
"Esteh ...Esteh," aku tetap kekeh mencoba memanggilnya.
Namun yang muncul ayah dan ibuku, mereka berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa, Dek?" tanya ayah.
Mungkin saat ini, beliau sedang menatapku kebingungan.
"Esteh, hilang Yah. Esteh ke mana?" ucapku panik.
Aku tetap menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencarinya, namun setiap sudut yang dapat aku jangkau, tak menemui sosoknya.
Ayah dan ibu mencoba memelukku yang saat ini semakin histeris.
"Dek, mungkin Esteh sedang bermain. Tunggu saja, ya," sahut ibu.
Aku merasa ucapan ibu salah, sebab Esther tubuhnya memudar sebelum benar-benar menghilang.
"Tapi, Bu. Aku melihat Esteh tubuhnya memudar sebelum dia benar-benar menghilang. Bahkan aku lihat seberkas cahaya biru saat dia hilang," jelasku.
Ayah terasa mengelus kepalaku.
"Dek, berdoa semoga Esteh tenang di alam sana," ucap ayah.
"Tapi, Yah. Siapa yang akan bergegas menolongku?" ucapku.
Ayah melepaskan pelukannya, lalu diikuti ibu juga melepas pelukannya.
"Dek, ingat Allah yang Maha Kuasa yang membantu kita, jangan lupa berdoa," nasihat ayah.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan ibu. Aku tak tahu harus bagaimana, memang wajar sih kalau Esther pergi. Sebab memang kami beda dunia.
"Sudahlah, nanti juga dia kembali lagi, Bu," ucapku.
Dulu Esther juga pernah menghilang seperti ini kala aku membutuhkannya. Dalam jatiku berkata, kenapa aku harus bersedih? Dia aja pernah ninggalin aku waktu kejadian Om Boby.
****
Malam setelah kepergian Esther, aku melihat jam sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Ibu dan ayahku sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Aku yang awalnya sudah terlelap, saat ini bangun. Terasa haus tenggorokanku, aku tak ingin membangunkan kedua orang tuaku, sehingga mencoba meraih air putih yang berada di atas meja tepat di samping kasur yang aku gunakan.
Aku mencoba meraihnya, tangan aku ulurkan namun tak tergapai. Aku tetap kekeh mencoba, aku tak ingin selalu merepotkan kedua orang tuaku.
Tiba-tiba saat aku tetap kekeh mencoba berusaha, terdengar teriakan yang keras. Suara itu melengking di telingaku.
"Aaaaaaaaaaaaaa." Terdengar suara teriakan itu.
"Bu, Ayah. Bangun, Bu," ucapku.
Namun kedua orang tuaku tak mendengarnya.
"Orang di kamar sebelah kali, ya," ucapku mencoba tetap tenang.
Kreett!
Terdengar pintu ruanganku berderit saat akan di buka. Dalam pikiranku, tumben malam-malam ada pemeriksaan?
Namun pintu ruanganku tak kunjung terbuka lebar, suara berderit itu tetap terdengar di telingaku. Kalau dokter nggak mungkin lama membuka pintunya, seakan-akan seperti anak kecil di balik pintu itu memainkannya.
"Siapa, ya?" teriakku, mencoba ingin tahu siapa malam-malam seperti ini memainkan pintu.
Kreett!
Suara itu terdengar berulang kali, sehingga aku merasa terganggu di buatnya.
"Bu, tolong lihat. Siapa sih yang mainin pintu malam-malam?" aku mencoba membangunkan ibu.
Namun setelah aku berhenti bicara, saat itu juga pintu terbuka lebar. Aku tak melihat siapapun di sana, dinginnya angin malam terasa menusuk sampai ke tulang saat pintu terbuka.
"Anginnya kenceng banget. Bu, pintunya terbuka," ucapku mencoba membangunkan ibu.
Tetapi ayah dan ibu tak kunjung bangun, walaupun aku berbicara menggunakan nada keras.
"Ibu." Panggilku.
Terlihat di depan pintu seperti bayangan yang lewat dengan cepat. Mataku kembali tertuju ke arah pintu.
"Siapa?" teriakku.
Namun lagi-lagi tak ada jawaban.
"Malam-malam jangan mainin pintu orang dong, waktunya istirahat ini," aku mencoba menegurnya.
Namun suasana yang hening menunjukan tak ada siapapun di sana. Aku mencoba kembali mengalihkan pandanganku, tiba- tiba terlihat seperti orang yang akan masuk ke ruanganku.
Dia dengan rambut panjang terurai menutupi wajahnya, berjalan dengan menundukkan kepalanya. Aku melihat dia perlahan menghampiriku.
"Siapa?" tanyaku.
Dia tak menjawab, tetapi terus berjalan menghampiriku. Bulu kudukku tiba-tiba merinding karena dinginnya angin malam dan orang ini.
"Siapa?" tanyaku tetapi dengan suara yang bergetar.
Tiba-tiba orang itu menunjukan wajahnya. Terlihat wajah pucat dan penuh darah di mana-mana.
"Pergi!" ucapku.
Aku mencoba memejamkan mata, agar makhluk itu tak terlihat lagi. Namun, makhluk itu saat ini berhasil memegang tanganku.
__ADS_1
Bersambung....