
Kami berjalan perlahan-lahan, karena kami merasa lelah. Apalagi keadaan kami lagi puasa, ini juga masih pagi baru saja selesai sahur.
"Godaan orang puasa, sungguh beratnya cobaan ini," ucap Selly.
"Pahala... pahala, I'm coming," ucapku
"Kita pagi-pagi lomba lari maraton, ada yang ngetawain pula," sahut Dinar.
"Iya, enggak ada akhlak sama sekali itu setan hahaha," ucapku sembari tertawa.
Kami berlima pun tertawa terbahak-bahak. Sesampainya di dekat jalan menuju gang rumahku, Selly dan Bella hendak mengambil sepedanya terlebih dahulu.
"Aku sama Selly ngambil sepeda dulu, kalian tunggu sini saja," kata Bella.
"Iya," jawab Dewi.
"Awas loh ya, kalau ditinggal," sahut Selly.
"Buruan, kita tunggu di sini," ucap Dinar.
Mereka pun bergegas untuk segera mengambil sepedanya yang sedari tadi di taruh di depan emperan toko.
Setelah mengambil sepeda, mereka kembali menghampiri kami.
"Ayo, ke rumah Keyla saja," ucap Bella.
"Oke," kataku.
Kami pun berjalan menuju rumahku. Di gang perumahan kami memang terlihat lebih ramai, walaupun di sini tergolong perumahan elit, tetapi orangnya masih banyak melakukan kegiatan di sekitaran rumah.
Kami bercerita-cerita apa saja yang ada di pikiran kami. Kami punya keinginan liburan ketika lagi libur sekolah seperti ini.
Tapi kami sadar, orang tua kami tak akan mengizinkannya. Karena kami tergolong anak kecil, tidak akan berani liburan jauh tanpa di dampingi orang tua.
"Pengen liburan gitu ke mana enaknya? Kita berlima saja," ucap Dewi.
"Mau liburan ke mana? Enggak jadi liburan yang ada kita hilang, enggak tahu tujuannya ke mana," ucapku.
"Ya itu, kita masih harus ada orang tua buat buat mendampingi," ucap Dewi lagi.
Saking asyiknya kita mengobrol, hingga kami tidak menyadari kalau rumahku sudah dekat. Sesampainya di depan gerbang rumahku, kita langsung masuk karena gerbangnya tidak di kunci sama ibu.
Kami berlima berjalan memasuki pintu gerbang, sebelum masuk rumah Bella dan Selly memarkirkan sepedanya di depan garasi.
Aku, Dinar dan Dewi jalan terlebih dahulu menuju pintu rumah.
Tok tok tok...
Aku mengetuk pintu.
"Assalamualaikum." ucap kamu hampir bersamaan.
"Waalaikum salam." Dari dalam terdengar suara Ibu menjawab.
Tak begitu lama, ibu pun membukakan pintu.
"Loh, kalian semua, mari masuk," ucap Ibu.
Kami semua pun bergegas masuk ke dalam rumah.
"Kita main di dalam kamarku saja ya," ucapku.
Teman-temanku mengiyakan ajakanku.
"Bu, kami semua main di dalam kamarku saja ya," ucapku.
"Iya Nak, istirahat semua biar puasanya full," jawab Ibu.
__ADS_1
Kami mulai melangkahkan kaki menuju kamarku. Sesampainya di kamar, teman-temanku mulai mencari tempat sendiri-sendiri.
Sedangkan aku berbaring di kasur kesayanganku bersama Dinar dan Bella. Selly dan Dewi berbaring di karpet.
Di atas lemari seperti biasa aku melihat Esther duduk di sana sembari mengayunkan kakinya secara bergantian.
Esther mulai mendekati aku.
"Key, mereka siapa?" tanya Esther.
Aku sengaja tak menjawabnya karena takut semua temanku jadi ketakutan karena adanya Esther.
"Keyla, mereka teman kamu?" tanya Esther lagi.
Aku pun tak langsung menjawabnya, aku mulai bangun dari tidur mengambil posisi duduk.
Kami berlima ngobrol-ngobrol seperti biasa, sedangkan Esther yang ingin tahu teman-temanku terus bertanya.
"keyla, semua temanmu?" tanya Esther lagi.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya.
"Enak ya, banyak temannya," ucap Esther.
Aku kembali mengangguk karena tidak ingin temanku tahu aku sedang berkomunikasi dengan dia.
"Mereka memangnya tidak ada yang bisa melihatku?" tanya Esther.
Aku menggelengkan kepalaku. Ternyata Dinar menyadari tingkah lakuku.
"Kenapa Key?" tanya Dinar.
"Oh, tidak apa-apa Din, leherku rada pegel ini kayanya semalam aku salah tidur," ucapku memberi alasan.
"Oh, ku kira kenapa tadi," ucap Dinar lagi.
Sekarang tinggal aku dan Dinar yang berada di kamarku.
"Jadi sepi mereka semua pulang," ucapku.
"Iya, aku mau pulang masih males Key," ucap Dinar.
Aku berpikiran untuk mengenalkan si Esther ke Dinar, walaupun tidak bisa melihatnya.
"Din, kalau aku punya teman makhluk tak kasat mata kira-kira kamu takut enggak?" tanyaku.
"Tergantung sih Key, kalau wajahnya serem ya takut," jawab Dinar.
"Memangnya kamu punya teman tak kasat mata?" tanya Dinar.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Loh beneran?" tanya Dinar mencoba memastikan.
"Iya beneran, itu dia di sana," ucapku sembari menunjuk ke arah lemari.
"Lemari?" tanya Dinar.
"Dia di atas lemari tuh," jawabku.
Dinar mencoba melihat ke atas lemariku.
"Serem enggak?" tanya Dinar lagi.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Dia cantik kok, panggil saja dia Esteh," ucapku.
__ADS_1
Esther yang mendengar ucapanku segera protes karena aku selalu menyebutnya dengan panggilan itu.
"Aku Esther lah," ucapnya sembari cemberut.
"Kok Esteh?" tanya Dinar.
"Iya, jadi dia itu namanya Esther, aku enggak mau mulutku dibuat ribet karena menyebutnya jadi ku panggil Esteh saja lebih mudah," ucapku.
"Ada-ada saja kamu," ucap Dinar.
Esther mendekat ke arahku. Dia mencoba menanyakan nama si Dinar.
"Kenalin ini Dinar, dia teman baikku dari kecil," ucapku ke Esther.
"Dia seberapa Key?" tanya Dinar penasaran.
"Dia sudah dewasa, dia bahkan sudah mau menikah," ucapku.
Aku melihat Esther tampak tersenyum.
"Oh iya hantu satu ini suka bunga matahari, nanti bantuin minta di rumah depan itu ya Din?" tanyaku.
"Iya, sekarang aja kita minta bunganya," ucap Dinar.
Aku dan Dinar beranjak dari tempat duduk kami menuju keluar kamar. Sebelum ke rumah depan, kami tidak lupa berpamitan dulu ke ibu.
"Bu, mau minta bunga ke rumah Bu Fitri," ucapku.
Ibuku yang berada di ruang cuci pun menjawab.
"Iya, kalau di rumah orang yang sopan," nasihat Ibu.
Kami berdua bergegas keluar rumah menuju rumah tetanggaku yang ada bunga matahari nya.
Ting tung....
Kami memencet bel.
Tak begitu lama, asisten rumah tangganya pun keluar.
"Mari Non Keyla, Nyonya fitri lagi ada di dalam kok," ucap Bibi Asisten rumah tangga.
Setelah gerbang di buka, kami tunggu di teras rumah sampai Bu Fitri keluar menemui kami. Sembari menunggu pemilik rumah, si Esther kembali mendekati bunga matahari kesukaannya.
Aku melihat senyuman merekah di wajah cantik si Esther. Tak butuh waktu lama, Bu Fitri datang dan menyalami kami berdua.
"Ayo, masuk Key," ajak Bu Fitri.
"Tidak usah Bu, saya ke sini hanya ingin meminta bunga mataharinya saja," kataku.
"Oh, kalau kamu mau silakan ambil saja," ucap Bu Fitri.
Kami segera mengambil tiga tangkai bunga matahari. Sebelum pulang tak lupa kami berpamitan.
"Mari Bu, terima kasih," ucapku.
Bu Fitri hanya tersenyum ke arah kami. Setelah itu, kami bergegas pulang dan masuk lagi ke kamarku.
Saat itu juga aku melihat si Esther wajahnya memunculkan senyuman bahagia karena sudah mendapatkan yang dia ingin.
Dia memeluk bunga matahari itu. Dinar yang melihat bunga matahari melayang.
"Esteh di situ?" tanya Dinar.
"Iya, dia lagi memeluk bunga itu, dia suka banget," ucapku.
__ADS_1
Jika Dinar bisa mengetahui Esther dia juga pasti merasakan kebahagiaannya.